Biografi-Nabi-Muhammad-Paling-Otentik-Sejak-900-Tahun-Lalu

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

SAHIH SHIFA

KESEMBUHAN

SIAPA HAKIM IYAD DAN PENDAHULUAN SHIFA

DISARIKAN DARI

Karya

Hakim Agung Abulfadl Iyad,

Wafat (1123 M / 544 H)

 

Periwayat Hadis

Muhaddis Agung Hafiz Abdullah Bin Siddiq

 

Perevisi

 Muhaddis Abdullah Talidi

Adaptasi

Oleh

 

Abdi Hadis Syaikh Ahmad Ghmari Junior(Arab/ Inggris)

Anne Khadeijah (Inggris)

Siti Nadriyah (Indonesia)

 

 

@ Mengenal Hakim Iyad, penyusun buku Shifa

Hakim Iyad, penulis dan penyusun Shifa, yang tenar dengan nama Abulfadl Iyad, adalah hakim Mahkamah Agung yang termasyhur di Spanyol dan Maroko.

Garis keturunan:

Muhammad, putra Hakim Iyad, berkata, "Leluhur kami adalah orang Arab yang berasal dari Andalusia, Spanyol, lalu pindah di kota Faz, Maroko, dan kemudian menjadi penduduk Qoirowan. Kakek kami Amrun kemudian memutuskan untuk meninggalkan Fez dan menetap di Sabta.

Kedudukan Hakim Iyad:

Hakim Iyad adalah seorang pemuka agama Islam yang tidak hanya mahir dalam ilmu Kutipan Kenabian (hadis), tetapi juga dalam penafsiran Al-Quran. Beliau ahli dalam prinsip-prinsip agama, bahasa Arab beserta kesusastraannya, syair-syair, dan silsilah orang-orang Arab. Hakim Iyad telah diakui sebagai pakar fikih di Lembaga Fikih Imam Malik. Sebagai tambahan atas prestasinya, beliau dikenal sebagai pribadi yang sabar, baik hati dan ramah, serta masyhur sebagai ahli pidato yang hebat. Selain murah hati dan dermawan, beliau juga sosok yang bisa dipercaya dan selalu konsisten pada kebenaran serta tekun menghasilkan berbagai karya.

Pencarian ilmu pada guru besar di zamannya:

Hakim Iyad mulai melangkah mencari pengetahuan dengan meninggalkan rumah dan pergi ke Andalusia. Disana beliau mengawali belajarnya dibawah bimbingan hakim agung serta seratus orang syekh besar dizaman itu. Dari mereka, Hakim Iyad sukses meraih banyak Sertifikat Tradisional Keislaman (Ijaza).

Selama masa pencarian ilmu, beliau berhasil mengumpulkan sejumlah besar kutipan kenabian (hadis), yang kemudian beliau tulis kembali dengan tangan serta dihafalkannya. Ketika kembali dari Andalusia sekitar tiga puluh tahun kemudian, para ulama di Sabta menyambutnya dan mengundangnya untuk memimpin diskusi mengenai ilmu fikih "mudawana (kitab fikih terbesar karya Imam Malik)". Tidak lama setelah kedatangannya, beliau menjadi anggota Dewan Kepenasehatan, lalu menjadi hakim di provinsi tersebut selama beberapa tahun. Sesudah itu beliau dilantik sebagai Hakim di Granada sehingga meninggalkan Sabta. Beberapa lama kemudian, beliau kembali lagi ke Sabta dan melanjutkan jabatannya sebagai hakim.

Perluasan Masjid Kordoba:

Hakim Iyad telah membangun perluasan sebelah barat Masjid Agung Kordoba. Setelah itu, mendirikan sebuah bangunan di pegunungan yang kemudian menjadi pusat pengajaran terkemuka.

Akhir hidupnya:

Setelah adanya pergantian pemerintahan, Hakim Iyad pindah ke Marakish, dan disanalah beliau meninggal dunia, yaitu pada tahun 544 Hijriyah atau 1123 Masehi, hampir 900 tahun yang lalu. Marakish adalah sebuah kota yang dikenal sebagai kota tujuh auliya’ (tujuh orang yang dekat dengan Allah dan Rasul-Nya). Hakim Iyad termasuk salah satu dari tujuh orang auliya tersebut, dan beliau dikebumikan di area pemakaman yang sama dengan mereka. Makam Hakim Iyad telah diziarahi banyak orang dari seluruh Maroko maupun negara-negara lainnya.

Karya-karyanya:

Hakim Iyad telah menulis lebih dari sepuluh buku, diantaranya adalah penjelasan (syarah) himpunan Kutipan Kenabian (hadis) sahih susunan Imam Muslim. Puncak karya besar hakim Iyad, terukir pada buku "Ash Shifa" yang mengupas biografi indah Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya. Bukunya ini telah bertahan menempati posisi teratas selama hampir 900 tahun.

Dalam karya ini, kecakapan hebat hakim Iyad dalam meneliti dan mengumpulkan materi sangat nampak, sehingga mendapat pengakuan dan sambutan hangat dari masyarakat, yang mengenali berkah yang besar didalam karya beliau, mereka lantas memuji beliau dalam berbagai tulisan dan syair mereka.

Disepanjang masa, tidak ada yang mampu melebihi karya besar ini, sampai sekarang permintaan akan salinan karyanya terus mengalir. Puji syukur karena kini tersedia dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Dalam karya Hakim Iyad ini, terdapat beberapa kutipan kenabian (hadis) yang diantaranya masih belum dibuktikan kesahihannya, pada masa tersebut tidak memungkinkan untuk membuktikan kesahihannya karena tersebar dibanyak negara (sarana dan prasarana pada zaman tersebut sangat terbatas).

Namun untunglah, di masa sekarang, seorang ulama besar dan Pakar Kutipan Kenabian (Muhaddis) Syekh Sayid Talidi dari Tanjir, Maroko, yang diberkati dengan kemampuan meneliti dan menentukan kesahihan hadis, dan sudah mengumpulkan semua hadis di seluruh dunia, telah menentukan kesahihan hadis-hadis yang terdapat didalam karya "Ash Shifa", jadi hadis-hadis yang tidak sahih ditiadakan. Inilah edisi yang dirilis dalam penerjemahan kami.

Biografi (versi talidi) sekarang menjadi sangat akurat, dan ini yang menjadi maksud ketika merujuk terjemahan sebagai ringkasan dan adaptasi.

Hakim Iyad berkomentar mengenai bukunya, "Kami tidak menyusun biografi ini untuk orang-orang yang menyangkal adanya pangkat kenabian serta meragukan mukjizat Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, namun untuk orang-orang yang beriman sehingga bisa lebih mengenal Nabi mereka. Kami sajikan karya ini untuk orang-orang yang mempercayai Nabi Muhammad, yang menerima ajakannya menuju jalan Allah, dan jauh dilubuk hati mereka mempercayai kenabiannya, sehingga kecintaan mereka kokoh, dan semakin meningkat perbuatan baik serta keimanan mereka."

Pembahasan tulisan Hakim Iyad pada unit keempat, berkaitan dengan orang-orang munafik dan orang-orang yang menghina Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan para Sahabatnya. Itulah sebabnya kami menyendirikan unit tersebut dari unit sebelumnya. Ini semua demi kenyamanan anda ketika menikmati karya ini, apalagi sifat karya hakim Iyad terkenal membela kenabian. Namun jika membutuhkan unit tersebut, sebagai bahan untuk mempertahankan kenabian dari gempuran orang-orang munafik, kami persilahkan untuk mengakses unit keempat.

Jadi pantas sekali, hakim Iyad meletakkan doa untuk orang-orang beriman, sebagai penutup karyanya, diakhir unit ketiga, sebelum unit keempat unit yang terakhir.

@ Kata Pengantar Penulis

Kata Pengantar Penulis

Catatan:

(Baca: Salla Allahu alaihi wa sallam)

Arti dari kalimat tersebut adalah, "Semoga Allah senantiasa memuji dan melimpahkan kesejahteraan kepada Nabi Muhammad."

Kata Pengantar Pengarang, Hakim Agung Abulfadl Iyad

Dengan Nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

ASH-SHIFA

Kesembuhan (pembaca) dengan melukiskan hak-hak Nabi Terpilih

Pujian dan kesejahteraan atasnya

(untuk kata pengantar dan latar belakang penulis, silakan menuju  bab ke 113 dan 114 diakhir buku ini)

 

@ BAB 1 - ALLAH MEMUJI NABI MUHAMMAD

1. BAB: Pujian Allah untuk Nabi-Nya Muhammad, dan derajat agung baginda dalam ucapan dan perbuatannya.

Seorang pakar hukum Islam dan ulama besar dizamannya, Imam Al-Hafiz Abulfadl Iyad, semoga Allah meridhainya, membuka karya besar biografi Nabi Muhammad ini dengan sebuah kata pengantar, dan berkata:

Segala puji bagi Allah, Yang Maha Esa, mempunyai Nama-nama Terbagus, Pemilik perlindungan megah.

Pujian bagi Allah, Yang Maha Sempurna, Yang sendirian memiliki Nama-nama yang agung, menguasai kekuatan dahsyat, tidak berawal dan tidak berakhir.

Allah nyata adanya, tidak muncul dari imajinasi atau dugaan.

Allah Maha Tersembunyi sebab kesucian-Nya, bukan karena ketiadaannya. Dia meliputi segala sesuatu dalam kasih sayang dan pengetahuan-Nya.

Allah memberi karunia yang melimpah kepada mereka yang dibimbing-Nya (Para Kekasih/Pecinta-Nya). Dia telah mengutus pada mereka seorang Utusan (yaitu Nabi Muhammad) dari keturunan Arab asli, yang terbaik diantara penduduk Arab dan selain Arab, serta paling bagus garis keturunan dan masa pertumbuhannya.

Kecerdasan dan kesabaran Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, melebihi semua manusia. Pengetahuan dan pemahaman baginda kokoh teratas mengungguli siapapun. Baginda mempunyai keyakinan yang sangat teguh dan tekad yang sangat kuat. Baginda adalah insan yang paling belas kasih dan pemurah dari seluruh makhluk yang ada dimuka bumi.

Allah telah mensucikan jiwa raga baginda, dan melindunginya dari berbagai cela dan ketidak sempurnaan, serta menganugerahkan hikmah dan kebijaksanaan kepadanya. Melalui Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, Allah membuka mata yang buta, hati yang tertutup dan telinga yang tuli, serta membuat manusia beriman (percaya) kepada-Nya.

Oleh karena itu, mereka yang memuliakan dan menolong Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, adalah mereka yang telah ditetapkan bahagia oleh Allah, namun bagi yang telah ditetapkan celaka, merekapun mendustakan dan berpaling dari baginda. Allah berfirman, "Dan barangsiapa yang di (dunia)ini buta (kepercayaan), maka ia di akhirat akan buta dan lebih tersesat jalan." (Al-Isro'-17:72).

Semoga Allah senantiasa memuji Rasul-Nya dengan pujian yang meningkat terus menerus, dan semoga Dia juga menganugerahkan kesejahteraan kepada keluarga dan para Sahabat baginda.

(Setelah beberapa kalimat diatas, Imam Abulfadl Iyad berdoa):

"Semoga Allah menerangi hatiku dan hatimu dengan cahaya keyakinan. Mudah mudahan Dia menganugerahi kita kelembutan, sebagaimana yang Dia anugerahkan kepada para kekasih-Nya (auliya') ialah mereka yang sangat takut kepada Allah, yang telah mendapat anugerah kesucian dari-Nya. Kalbu mereka kosong tidak butuh pada manusia, karena itulah mereka mendapat karunia pengetahuan sempurna dari Allah, dan nikmat bisa menyaksikan aneka keajaiban dalam kerajaan dan kekuasaan-Nya. Hingga hati mereka dipenuhi rasa takjub dan pikiran mereka berkelana di alam kebesaran Allah."

Mereka menjadikan diri mereka selalu fokus kepada Allah semata, dan senantiasa bersaksi untuk Allah dalam kehidupan didunia. Kelak di Kehidupan Abadi (akhirat), mereka diberkati bisa melihat keindahan dan keagungan Raja semesta alam, dan bebas pergi kesana kemari menikmati bentangan Kekuasaan dan Kebesaran-Nya. Para kekasih benar-benar puas membenamkan diri tenggelam dalam pengabdian dan ketergantungan kepada Allah. Mereka mempraktikkan untuk diri mereka perkataan Allah dalam ayat ini, "Katakan 'Allah' kemudian tinggalkan mereka bermain-main dalam penyelaman mereka." (Al-An'am-6: 91)

Karya ini merupakan jawaban atas permintaan masyarakat supaya menulis buku yang mengupas perihal kedudukan manusia terpilih, Nabi Muhammad - semoga Allah senantiasa memuji dan memuliakan serta melimpahkan kesejahteraan kepada baginda - dan menggambarkan betapa sepatutnya bagi umat manusia untuk menghormati dan memuliakan baginda, serta putusan bagi orang-orang yang tidak menghormati baginda maupun mereka yang menyepelekan dalam menghargai keunggulan pangkat baginda meski hanya dengan sepotong kecil kuku. Aku juga telah diminta untuk mengumpulkan pernyataan para pemimpin dan pemuka Islam pendahulu kita tentang kebesaran baginda, dan aku mendukung perkataan mereka disertai ayat-ayat Al-Quran dan beberapa contoh.

Sadarilah saudaraku - semoga Allah memberkatimu - menyusun karya ini adalah pekerjaan berat yang teramat sulit, tetapi penting sekali pelaksanaannya meski karenanya telah memenuhi hatiku dengan ketakutan.

Dalam menyusun karya ini, perlu bagiku mengevaluasi sumber-sumber utama, dan mengoreksi data-data yang mendukungnya, serta melakukan riset yang mendalam dan detail, tentang segala pengetahuan yang berhubungan dengan Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, yang wajib, mustahil maupun yang diperbolehkan atas baginda. Demikian pula perlu bagiku mendalami pengetahuan tentang Kenabian, Kerasulan, Risalah Kenabian, Cinta dan Persahabatan sejati, serta keistimewaan pangkat baginda yang sangat tinggi.

Saya  seolah-olah menemukan gurun pasir terpencil yang terbentang luas, yang bahkan burung paling cerdas sekalipun takkan mampu melintasinya, dan langkah siapapun tak akan bisa mencapai tujuan akhir penjelajahan. Seakan-akan aku berada ditempat-tempat yang tak dikenal dalam pikiran, yang jika tidak dibimbing pengetahuan yang tepat dan kejernihan pikiran, tentu akan tersesat. Aku bagai menemukan lereng licin yang menyebabkan kaki tergelincir bila tidak bergantung pada pertolongan dan dukungan dari Allah.

Bagaimanapun, melalui penyusunan buku ini, aku berharap semoga kita mendapatkan ridho dan pahala dari Allah, dengan mengenal kebesaran kedudukan Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan kemuliaan budi pekerti baginda, serta menerangkan kepribadian dan sifat-sifat baginda yang belum pernah dibukukan oleh seorang pun sebelumnya.

Kini aku mengutip firman Allah, "Supaya menjadi yakin orang-orang yang diberi Al Kitab dan meningkat keimanan mereka yang beriman." (Al-Muddatstsir,74: 31).

Mereka yang diberi Al Kitab telah diwajibkan oleh Allah : "(demi Allah) kamu menerangkannya kepada manusia dan tidak merahasiakannya." (Ali Imran,3: 187)

Untuk melengkapi uraian ini, aku sertakan hadis riwayat Abu Hurairah, semoga Allah meridhainya, yang memberitahu bahwa Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, bersabda: "Barangsiapa ditanya tentang pengetahuan agama namun ia menyembunyikannya, maka Allah akan mengekangnya dengan tali kekang dari Api neraka pada Hari Kiamat." Lantaran inilah, aku bergegas dalam penelitian untuk menemukan beberapa keterangan yang jelas, supaya tercapai obyek sasaran tujuan, dan demi untuk memenuhi suatu kewajiban.

Sebagaimana diketahui, dalam kehidupan ini, tubuh dan pikiran seseorang biasanya disibukkan dengan berbagai cobaan dan beraneka perkara yang menguji. Tak diragukan lagi, hal-hal semacam ini dapat dengan mudah mengalihkan perhatian dari berbagai kewajiban dan hal penting lainnya, dan menjadi penyebab seseorang merosot ke tingkat yang lebih rendah.

Ketika Allah memilihkan yang terbaik untuk seseorang, Dia secara total akan menenggelamkannya tanpa batas dalam kesibukan yang hanya tertuju kepada-Nya, yang mana akan dipuji dimasa sekarang maupun di Kehidupan Abadi (akhirat).

Pada Hari Pembalasan (Kiamat) kelak, hanya akan ada kebahagiaan diSurga, atau hukuman di Neraka. Karenanya, manusia yang mencari keselamatan bagi dirinya, wajib memperhatikan segala hal yang menjadikan ruhnya berada dalam petunjuk kebenaran. Memperbanyak amal kebaikan, serta menambah ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain.

Semoga Allah memperbaiki hati kita yang retak, mengampuni dosa-dosa kita yang banyak, menjadikan kita selalu bersiap-siap untuk kembali kepada-Nya, dan menganugerahi kesempatan luas untuk selalu melakukan kebaikan, yang membawa pada keselamatan dan kedekatan kepada-Nya, menjadikan kita diberkati dengan anugerah, kemurahan dan belas kasih-Nya.

Demikianlah menjadi niatku melakukan pekerjaan penting (amalan) ini. Aku harus mengorganisasikan bahan  menyusunnya, serta mengurai bab dan segala isi tulisan.

Aku menamakan karya ini: Ash-Shifa Bita'rif Huquq Al-Musthofa “Kesembuhan dengan Melukiskan Hak-hak Nabi Terpilih - Pujian dan kesejahteraan atasnya.”

Penanda tangan: Hakim Agung Abulfadl Iyad

 

SAHIH SHIFA

KESEMBUHAN

 

Seri ke-2

 

ALLAH MEMUJI NABI MUHAMMAD

 

Karya

Hakim Agung Abulfadl Iyad

wafat tahun 1123M / 544H

 

Periwayat Hadis

Muhaddis Agung Hafiz Abdullah Bin Siddiq

 

Perevisi

 Muhaddis Abdullah Talidi

 

 

diadaptasi

oleh

Abdi Hadis Syaikh Ahmad Darwish (Arab/ Inggris)

Anne Khadeijah (Inggris)

Siti Nadriyah (Indonesia)

 

Copyright © 1984-2013 Allah.com Muhammad.com. Hak Cipta dilindungi.

 

 

Surah An-Najm (bintang) dan keistimewaannya

Allah berfirman, "Demi bintang tatkala terbenam; kawanmu tidak sesat dan tidak keliru; dan tidak berucap menurut hawa nafsu; ucapannya tiada lain adalah wahyu yang diwahyukan; diajarkan kepadanya oleh yang sangat kuat; yang mempunyai keperkasaan, berdiri kokoh; dan dia (Jibril) berada di ufuk tertinggi; Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat; menjadi berjarak dua ujung busur panah atau lebih dekat; maka (Allah) mewahyukan kepada penyembah-Nya (Jibril) apa yang Dia wahyukan (kepada Nabi Muhammad);

Hati tidak berdusta apa yang dia lihat; apakah kamu membantahnya atas apa yang dia lihat; dan dia benar-benar melihatnya pada pendaratan lain; disisi Sidratulmuntaha; di dekatnya ada Surga tempat tinggal; saat Sidratulmuntaha diselubungi apa yang menyelubungi; pandangannya tidak membelok dan tidak melampaui; dia benar-benar telah melihat sebagian tanda-tanda terbesar Penguasanya." (An-Najm, 53:1-18.)

Terdapat perbedaan pendapat mengenai kata "bintang". Sebagian ulama mengatakan makna katanya tetap yaitu: bintang. Sementara lainnya berkata maknanya adalah: (penurunan) Al-Qur'an (secara berangsur-angsur).

Jelas sekali Allah telah bersumpah untuk bimbingan-Nya kepada Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan kebenaran baginda dalam pelantunan Al-Quran, yang mana diturunkan bersama malaikat Jibril yang kuat dan perkasa, kepada baginda secara langsung dari Allah, dan bahwa baginda bebas total dari segala keinginan diri, yakni tidak pernah menuruti hawa nafsu.

Lalu, Allah menyatakan lagi keunggulan Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, dalam berbagai peristiwa di Malam Isra' Mi'raj, dan memberitahu pencapaian baginda di Sidratul Muntaha (Pohon Lote) dekat Surga tempat tinggal, serta kepastian pandangan baginda yang tidak menyimpang saat melihat sebagian dari tanda-tanda terbesar Penguasanya. Allah juga memberitahu kita peristiwa agung ini dalam ayat-ayat pembuka surah "Al-Isro' (Perjalanan Malam)."

Allah telah menyingkap kepada Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, kerajaan gaib-Nya yang agung, sehingga pandangan baginda bisa menembus keajaiban alam malaikat, suatu keajaiban besar yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata, serta tidak terjangkau akal manusia, meskipun hanya sekecil atom.

Tentang ayat, "Maka (Allah) mewahyukan kepada penyembah-Nya (Muhammad) apa yang Dia wahyukan." Ulama mempunyai pandangan, ayat ini mengandung sebuah pertanda anugerah dari Allah untuk Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan suatu penghargaan yang mengesankan (yang berupa wahyu).

Allah berfirman, "dia benar-benar telah melihat sebagian tanda-tanda terbesar Penguasanya." Pemahaman manusia yang terbatas tidak mampu menyerap rincian apa yang sebenarnya diwahyukan, dan akhirnya setiap usaha untuk menggambarkan tanda-tanda terbesar menemukan jalan buntu.

Allah telah menyebutkan status Nabi Muhammad yang memang benar-benar suci, dan perlindungan yang didapatkan baginda selama Perjalanan di Malam Isro' Mi'roj.

Berkenaan dengan hati baginda, Allah berfirman, "Hatinya tidak berdusta apa yang dia lihat". Allah juga berfirman tentang lisan baginda, "dan tidak berucap menurut hawa nafsu", dan berfirman tentang pandangan baginda, "Pandangannya tidak membelok dan tidak melampaui."

Sumpah Allah demi bintang, demi malam, dan demi pagi bahwa Al-Qur'an adalah wahyu dari Allah dan dibawa oleh Malaikat Jibril dan bahwa Nabi-Nya tidak gila

Allah berfirman, "Sungguh, Aku bersumpah demi bintang-bintang; yang beredar dan terbenam; demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya; dan demi subuh apabila fajar mulai menyingsing; sungguh itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) Utusan Mulia (Jibril); yang mempunyai kekuatan, berkedudukan tinggi di sisi Pemilik Singgasana; dipatuhi di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya; Temanmu (Muhammad) bukanlah orang gila; Benar-benar dia telah melihatnya di ufuk yang nyata; dan dia (Muhammad) tidak menahan (dalam menerangkan) atas yang gaib; dan itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk." (At-Takwir, 81:15-25).

Para ulama' menjelaskan makna ayat-ayat itu tertuju pada Malaikat Jibril, yaitu ketika Allah bersumpah dengan kalimat "Utusan Mulia". Malaikat Jibril memiliki pangkat yang tinggi disisi Allah dan telah diberi kekuatan untuk mengirimkan Wahyu.

Kedudukan Malaikat Jibril aman dan kokoh disisi Penguasanya. Malaikat Jibril "dipatuhi" di langit, dan "dipercaya" untuk mengirimkan Wahyu. Ini merupakan beberapa kelebihan Malaikat Jibril.

"dia telah melihatnya" berarti Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, melihat Malaikat Jibril dalam rupa yang sebenarnya.

Ayat selanjutnya, "dan dia (Muhammad) tidak menahan (dalam menerangkan) atas yang gaib." Jadi Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, tidak meragukan hal-hal yang gaib. Ulama lainnya bilang baginda tidak menahan diri dalam berdoa kepada Allah.

Allah bersumpah demi Pena bahwa baginda mempunyai akal pikiran yang sehat dan pahala tak terbatas disisi Penguasanya, serta berbudi pekerti paling luhur.

Sumpah besar lainnya ditemukan didalam surah "Al-Qalam (Pena)", dimana Allah memulai dengan huruf "Nun" yang misterius maknanya. "Nun; demi pena dan apa yang mereka tulis; berkat nikmat Penguasamu, engkau bukanlah orang gila; dan sungguh bagimu benar-benar pahala yang tiada putus-putusnya; dan sungguh engkau (Muhammad) benar-benar diatas budi pekerti yang luhur." (Al-Qalam,68:1-4).

Orang-orang kafir memandang rendah pada baginda, pujian dan kesejahteraan atasnya. Mereka berpaling dari baginda dan menyerangnya dengan banyak kebohongan. Dalam ayat tersebut, Allah bersumpah dengan sumpah yang besar bahwa Nabi pilihan-Nya, bebas dari segala kecaman mereka.

Allah menyenangkan hati baginda, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan meningkatkan harapan baginda, ketika secara lembut menyamankan baginda seraya berfirman, "Berkat nikmat Penguasamu, engkau bukanlah orang gila." Ayat ini memperlihatkan perkataan yang penuh sopan santun dan mengandung suatu penghargaan tinggi.

Allah memberitahu baginda, pujian dan kesejahteraan atasnya, "dan sungguh bagimu benar-benar pahala yang tiada putus-putusnya." Allah telah menganugerahkan keberkatan dan kenikmatan abadi kepada baginda. Pahala yang tiada putus-putusnya dan tak terhitung banyaknya diberikan kepada baginda, dan Allah tidak mengungkit-ungkit segala pemberian-Nya kepada baginda.

Ayat selanjutnya memperlihatkan pengesahan besar dari Allah yang menguntai sifat-sifat terpuji baginda, "dan sungguh engkau (Muhammad) benar-benar diatas akhlak yang luhur." Terlepas dari makna aslinya, para ulama memberitahu, akhlak yang luhur berarti akhlak Al-Qur'an, akhlak Islam, tabiat yang mulia dan tidak ada yang lebih penting bagi Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, selain Allah semata.

Allah memuji Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, yang telah menerima secara mutlak segala keberkatan yang diberikan kepadanya, serta memberinya keutamaan dengan menghiasi baginda karakter yang agung tersebut.

"Maha Suci Allah, Yang lemah lembut lagi Maha Mulia, Yang Maha Membaguskan, Maha Dermawan lagi Maha Terpuji, yang memudahkan dan membimbing manusia berbuat kebajikan. Dia memuji dan memberi pahala siapapun yang melakukan kebaikan. Maha Suci Allah! berkat, nikmat dan karunia-Nya melimpah ruah!".

Hati baginda, pujian dan kesejahteraan atasnya, terhibur, ditengah ancaman dan gangguan yang tiada hentinya menimpanya, dengan firman Allah berikut, "Maka kelak kamu akan melihat dan mereka pun akan melihat; siapa di antara kamu yang gila; sungguh Penguasamu, Dia lebih Mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya; dan Dia lebih Mengetahui orang-orang yang terbimbing. (Al-Qalam, 68:5-7)

Setelah memuji Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, Allah menyingkap kedok orang-orang yang memusuhi baginda dengan mewahyukan kehinaan perangai mereka dan kejahatan mereka melalui penyebutan sepuluh atau lebih sifat-sifat buruk mereka.

Allah berfirman, "Janganlah mematuhi orang-orang yang mendustakan; mereka menginginkan supaya kamu berkompromi maka mereka berkompromi; dan janganlah mematuhi setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina; pencela berjalan dengan menghasud; menghalangi pada kebaikan, yang melampaui batas lagi banyak dosa; yang kaku, sesudah itu terkenal jahat; karena ia mempunyai harta dan anak-anak; apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: 'dongengan orang-orang dahulu kala'." (Al-Qalam, 68:8-15).

Ayat berikut ini memberitakan bahwa hukuman dan kehancuran mereka akan segera datang.

"Kelak Kami menandainya diatas belalai." (Al-Qalam,68:16).

Firman Allah ini jauh lebih efektif daripada apapun yang akan diucapkan dan dilakukan Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, disamping juga membingungkan orang-orang yang memusuhi baginda. Jadi kemenangan yang diberikan Allah kepada baginda, jauh lebih tinggi daripada kemenangan yang bisa diperoleh dengan usaha baginda sendiri.

Firman Allah tentang sifat nabi Muhammad

 yang penuh belas kasih dan murah hati

 

Allah berfirman, "ToHa; Kami tidak menurunkan Al-Qur'an kepadamu untuk menyengsarakan." (Toha,20:1-2) Kata "ToHa" huruf-hurufnya terpisah ('To' dan 'Ha'). Tafsir yang akurat mengungkap makna "Toha" yaitu "Wahai lelaki", pendapat ini diriwayatkan oleh ulama generasi setelah Sahabat (Tabi'in) serta ulama besar Jarir At-Tobari, gurunya para ahli tafsir.

Dalam surah yang lain, Allah berfirman tentang Nabi-Nya, pujian dan kesejahteraan atasnya,

"Maka barangkali kamu akan membinasakan dirimu dengan duka cita atas berpalingnya mereka sekiranya mereka tidak beriman dengan keterangan ini (Al Qur'an)." (Al-Kahf,18:6).

"Barangkali kamu akan membinasakan dirimu bilamana mereka bukan orang-orang yang beriman; Jika Kami kehendaki, niscaya menurunkan atas mereka pertanda dari langit, maka senantiasa batang leher mereka tunduk kepadanya." (Asy-Syu'ara,26:3-4).

Allah juga berfirman, "Maka sampaikanlah terang-terangan apa yang diperintahkan dan berpalinglah dari orang-orang musyrik; Sungguh Kami mencukupimu dari orang-orang yang mengejek; mereka yang menjadikan tuhan yang lain bersama Allah, maka kelak mereka mengetahui; dan sungguh Kami mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit sebab apa yang mereka ucapkan." (Al-Hijr,15:94-97).

"Dan sesungguhnya telah diperolok-olokkan beberapa rasul sebelum kamu, maka Aku beri tahu kepada orang-orang yang kafir itu kemudian Aku binasakan mereka. Alangkah hebatnya hukuman-Ku itu." (Ar-Ra'd,13:32)

Makki menjelaskan, "Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, menderita disebabkan orang-orang kafir, maka Allah menurunkan ayat-ayat tersebut untuk menghiburnya, sehingga menjadi mudah untuknya, dan pada saat yang sama Dia memberitahu akibat bagi mereka yang keras kepala.

Hiburan serupa terdapat dalam firman Allah berikut ini:

"Dan jika mereka mendustakanmu, maka sungguh telah didustakan rasul-rasul sebelum kamu, dan kepada Allah segala urusan dikembalikan." (Fatir, 35:4).

"Demikianlah, tidak datang seorang rasul kepada orang-orang sebelum mereka, melainkan mereka berkata, 'ia seorang penyihir, atau orang gila!" (Az-Zariyat, 51:52)

Selain sebagai pelipur bagi baginda, ayat tersebut sekaligus memberitahu bahwa para nabi dan rasul sebelumnya juga mengalami hal yang sama.

Adapun untuk orang-orang yang keras kepala, Allah telah menjadikan perkara itu mudah bagi Nabi-Nya, dengan berfirman, "Berpalinglah dari mereka, maka kamu tidak disalahkan." (Adz-Dzariyat, 51:54). Dengan kata lain, Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, telah mengirimkan Pesan Allah (Risalah), berarti telah menjalankan tanggung jawabnya maka tidak disalahkan.

Belas kasih Allah selanjutnya dinyatakan dalam ayat berikut, sebagaimana tampak pada beberapa ayat lainnya, "Dan bersabarlah pada ketetapan Penguasamu, sungguh kamu dibawah Pandangan Kami." (At-Tur, 52:48).

Ayat ini memperlihatkan bahwa baginda secara terus menerus berada dibawah penglihatan dan perlindungan Allah, dan hendaknya tetap sabar dengan kezaliman yang mereka lakukan. Allah menghibur Nabi-Nya dengan cara yang sama di banyak ayat lainnya.

 

Kedudukan Nabi Muhammad yang melebihi nabi mulia lainnya

Pujian dan kesejahteraan atas semua nabi Allah

 

Allah berfirman, "Dan ketika Allah mengambil perjanjian para nabi, 'Manakala Aku telah memberikanmu Kitab dan Hikmah. Kemudian datang kepadamu seorang rasul (Muhammad) membenarkan pada apa yang bersamamu, kamu benar-benar akan beriman dengannya dan benar-benar menolongnya. Dia berfirman: 'Apakah kamu setuju dan mengambil perjanjian-Ku atas yang demikian itu?' Mereka menjawab: 'Kami setuju'. Dia berfirman: 'Maka bersaksilah dan Aku menyertaimu diantara yang bersaksi'." (Ali-Imran,3:81).

Abul Hasan Al-Qobisi menarik perhatian kita pada kenyataan, bahwa dalam ayat ini, Allah memilih Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, melebihi semua nabi dan rasul mulia yang lain, keunggulan ini tidak diberikan pada selain baginda.

Para ahli tafsir mengatakan, Allah mengambil perjanjian dengan wahyu. Sebelum mengutus seorang nabi maupun rasul bagi umat, Allah telah menyebut tentang Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan sifat-sifatnya, serta mengambil perjanjian dari setiap nabi maupun rasul agar jika mendapatinya, mereka beriman kepadanya.

Juga dikatakan, para nabi dan rasul supaya menjelaskan pada umatnya masing-masing, dan mengambil perjanjian umat mereka agar menjelaskan pula pada generasi setelahnya.

Kalimat, "Kemudian datang kepadamu seorang rasul" ditujukan kepada Ahli Kitab yaitu orang-orang Yahudi dan Nasrani / Kristen yang sezaman dengan Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan dizaman sesudahnya.

Ali bin Abi Talib dan sahabat lainnya menambahkan, sejak masa Nabi Adam, Allah telah membuat perjanjian dengan setiap nabi dan rasul, agar beriman dan membantu Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, jika muncul selama masa mereka. Ini berarti mereka pun berkewajiban mengambil perjanjian dengan umat mereka masing-masing.

As-Suddi dan Qotada menuturkan: beberapa ayat yang lain juga menggambarkan keutamaan baginda dengan cara yang serupa lebih dari satu kali.

Allah berfirman, "Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil dari para nabi perjanjian mereka dan dari kamu (Muhammad) dan dari Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa putra Maryam, dan Kami mengambil dari mereka perjanjian yang teguh." (Al-Ahzab, 33:7).

Dan, "Sungguh Kami telah mewahyukan kepadamu sebagaimana Kami mewahyukan kepada Nuh dan para nabi sesudahnya, dan Kami mewahyukan (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya'kub dan suku bangsanya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. dan Kami memberikan Dawud Kitab Zabur; dan para rasul, Kami telah mengisahkan mereka kepadamu sebelumnya, dan (sebagian) para rasul tidak Kami kisahkan mereka kepadamu. Dan Allah telah berfirman kepada Musa dengan pembicaraan (firman yang langsung didengarnya). Allah telah mengutus para rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan supaya tidak ada bagi manusia alasan untuk membantah Allah, setelah (pengutusan) rasul-rasul itu (yang mengenalkan mereka kepada Allah). Dan Allah Maha Perkasa lagi, Maha Bijaksana; akan tetapi Allah bersaksi pada apa yang Dia turunkan kepadamu. Dia telah menurunkannya dengan Ilmu-Nya, dan para malaikat menjadi saksi. dan cukuplah Allah sebagai saksi." (Al-Maidah, 4:163-166).

Allah memberi keutamaan yang lebih pada sebagian para rasul, sebagaimana nampak dalam ayat, "Rasul-rasul itu, Kami melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain, diantara mereka yang Allah telah berbicara dan meninggikan derajat beberapa mereka." (Al-Baqarah, 2:253).

Ayat tersebut merujuk pada Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, karena baginda diutus untuk seluruh umat manusia. Allah juga menghalalkan rampasan perang bagi baginda (yang mana dilarang pada nabi-nabi sebelumnya) serta memberikan aneka mukjizat yang mengagumkan.

Tak ada seorang nabi pun yang diberi keutamaan dan kemuliaan selain Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, diberikan yang setara atau lebih tinggi. Allah telah menyebut nama baginda didalam Al-Qur'an memakai gelar seperti, 'Wahai Nabi', 'Wahai Rasul', sedang Dia menyebut para nabi mulia lainnya dengan nama mereka.

Umat manusia diperintah memuji Nabi Muhammad

dan penangguhan hukuman disebabkan olehnya

 

Pada periode ketika baginda tinggal di Mekah, Allah telah berfirman, "Dan tidaklah Allah menghukum mereka sementara kamu di tengah-tengah mereka ..." (Al-Anfal, 8:33).

Ketika baginda telah berhijrah (berimigrasi) dari Mekah ke Madinah, sebagian muslim masih tinggal di Mekah, maka bunyi firman selanjutnya adalah, "...dan tidaklah Allah menghukum mereka sedang mereka (masih) memohon ampunan." (Al-'Anfal, 8:33).

Beberapa tahun setelah hijrah, baginda memimpin para pengikutnya dalam perjalanan haji dari Madinah ke Mekah. Mereka berangkat tanpa bersenjata. Namun sebelum sampai di Mekah, mereka menghadapi perlawanan dari orang-orang kafir Mekah, dan dihalang-halangi masuk Mekah.

Umat Islam di Madinah tidak tahu kalau masih ada orang Islam yang tertinggal di Mekah, dan karena mereka, Allah menurunkan ayat, "Dan kalau bukanlah karena ada beberapa orang beriman laki-laki dan perempuan yang tidak kamu ketahui tentulah kamu akan membunuh mereka, yang menyebabkan kamu ditimpa kesusahan tanpa kamu sadari." (Al-Fath, 48:25)

Dari ayat-ayat ini, posisi terhormat Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, bisa diketahui dengan jelas. Jika bukan karena baginda, hukuman benar-benar segera turun pada penduduk Mekah, sebab Allah telah berfirman, "dan mengapa Allah tidak menghukum mereka." (Al-Anfal, 8:34). Hukuman mereka ditunda karena keberadaan baginda di tengah-tengah mereka, dan sebab keberadaan para pengikut baginda.

Setelah semua orang Islam berhijrah ke Madinah sebelum Mekah dibuka, yang tersisa di Mekah hanyalah orang-orang kafir, namun pada pembukaan kota Mekah, kaum muslimin meraih kejayaan, sedang orang-orang kafir dihukum dengan harus menerima kekalahan. Saat itulah, harta kekayaan milik orang-orang Islam, yang dulunya disita orang-orang kafir, dikembalikan lagi pada mereka.

Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, bersabda, "Aku adalah pengaman bagi para Sahabatku." Ini berarti pengaman dari bid'ah (inovasi), dan dari perselisihan serta kekacauan (fitnah).

Rasulullah adalah jaminan keamanan terbesar selama masa hidup baginda dan selama jalannya (sunnah) diikuti. Namun saat jalannya ditelantarkan dan ditinggalkan, maka akan datang bala bencana dan kekacauan (fitnah).

Dalam surah Al-Ahzab ("Kelompok-kelompok") terdapat ayat dimana Allah sendiri yang memperjelas nilai Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, dengan berfirman, "Sungguh Allah, dan para malaikat-Nya bersolawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersolawatlah kepadanya, dan lafalkan kesejahteraan yang melimpah ruah." (Al-Ahzab,33:56).

Perhatikan bagaimana Allah memulai ayat dengan pertama kali merujuk kepada diri-Nya sendiri, dalam bersolawat untuk Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, kemudian menunjukkan bahwa para malaikat juga melakukan hal yang sama.

Siapapun akan menyadari betapa agungnya perintah untuk semua orang yang beriman agar bersolawat kepada Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, yaitu memohon kepada Allah agar senantiasa melimpahkan pujian, kemuliaan dan kesejahteraan untuk baginda.

Nabi Muhammad bersabda, "Dijadikan kesejukan mataku didalam solat"

Abu Bakar bin Faurok menjelaskan: “Allah bersolawat untuk Nabi Muhammad,  demikian pula para malaikat-Nya, dan umat diperintahkan supaya bersolawat (berdoa memohon kepada Allah agar senantiasa melimpahkan pujian, kemuliaan dan kesejahteraan) kepada Nabi Muhammad sampai Hari Kiamat.”

Solawat dari para malaikat bermakna memohonkan ampunan (untuk umat baginda), sedang solawat dari umat baginda berarti mendoakan baginda, dan rahmat Allah diturunkan kepada umat baginda.

"Orang-orang beriman bersolawat" berarti memintakan keberkatan untuk baginda. Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, telah mengajarkan para Sahabatnya tata cara bersolawat kepadanya.

Ada perbedaan antara kata berbahasa Arab "solat" yang berarti beribadah kepada Allah, dengan membungkuk dan bersujud, dan "solat" bermakna solawat yaitu memohon kepada Allah agar senantiasa melimpahkan pujian, kemuliaan dan kesejahteraan kepada baginda.

Allah berfirman, "dan jika saling bantu membantu menghadapinya, maka sungguh Allah, Dia pelindungnya, dan Jibril, dan kaum mukminin yang saleh." (At-Tahrim,66:4). Kalimat, "kaum mukminin yang saleh", merujuk pada para nabi, para malaikat, Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali, sedang sisanya orang-orang beriman lainnya.

Kemuliaan Nabi Muhammad disebut didalam surah Al-Fath (Pembukaan)

Allah memulai surah "Pembukaan" dengan ayat-ayat,

"Sungguh, Kami telah membuka untukmu (Muhammad) pembukaan yang nyata; Allah mengampuni bagimu apa yang telah lalu dari dosamu dan apa yang akan datang, dan menyempurnakan nikmat-Nya atasmu, serta membimbingmu ke jalan yang lurus; dan Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat;

Dia yang telah menurunkan ketenangan didalam hati orang-orang beriman supaya bertambah keimanan bersama keimanan mereka, dan milik Allah bala tentara langit dan bumi, dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana; (karena rahmat-Nya) untuk memasukkan orang beriman laki-laki dan orang beriman perempuan kedalam taman-taman yang mengalir sungai-sungai dari bawahnya, mereka kekal di dalamnya, dan menutupi dari mereka kejelekan mereka.

Demikian itu kejayaan besar disisi Allah; dan mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang berprasangka terhadap Allah dengan sangkaan buruk, atas mereka giliran (nasib) buruk, dan Allah murka atas mereka dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka (neraka) Jahanam, seburuk-buruk tempat kembali; Milik Allah bala tentara langit dan bumi, dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana;

Sungguh Kami mengutusmu (Muhammad) sebagai saksi, dan pembawa berita gembira, dan pemberi peringatan; supaya kamu semua beriman kepada Allah dan rasul-Nya, menguatkannya, memuja-mujanya, dan bertasbihlah kepada-Nya pagi dan petang;

Orang-orang yang bersumpah setia kepadamu sesungguhnya mereka bersumpah setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka. Barangsiapa yang melanggar, sesungguhnya ia melanggar atas dirinya sendiri, dan barangsiapa memenuhi perjanjiannya dengan Allah, maka Dia akan memberinya pahala yang besar." (Al-Fath,48:1-10).

Ayat diatas tidak hanya memaparkan karunia, pujian dan kemuliaan martabat Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, tetapi juga mengupas keberkatan yang dianugerahkan Allah kepada baginda, meski hanya sekelumit saja yang mampu dipahami akal pikiran manusia.

Dalam pembukaan ayat, Allah memberitakan kepada Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, bahwa Dia akan membuat baginda meraih kejayaan atas musuh-musuhnya, serta meninggikan kalimat dan hukum-Nya.

Allah memberitahu kalau baginda menikmati status pengampunan serta status perlindungan dari perbuatan dosa, karenanya tidak akan diadakan perhitungan untuk segala tindakan baginda dimasa lampau maupun di masa yang akan datang.

Seorang cendekiawan Islam menjelaskan maksud ayat, "Allah mengampuni bagimu apa yang telah lalu dari dosamu dan apa yang akan datang," ialah Allah memberi status telah dimaafkan dan telah diampuni kepada baginda.

Status ini secara jelas ditujukan kepada Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, dengan mengampuni dosa-dosa baginda meskipun baginda tidak memiliki dosa besar maupun kecil, bahkan setan (jin kafir) yang mengikuti baginda ikut memeluk Islam.

(Syekh Darwish menambahkan: Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya tiada manusia dimuka bumi ini, kecuali didampingi oleh saudaranya (Qarin) dari bangsa jin, dan saudaranya dari bangsa malaikat. Mereka (para Sahabat) bertanya: “Dan engkau juga wahai Rasulullah?”. Baginda menjawab: “Dan aku juga, akan tetapi Allah membantuku untuk menaklukkan saudaraku dari bangsa  jin sehingga ia masuk Islam, dan sekarang ia hanya menyeru aku untuk melakukan kebaikan."

Dari hadis yang diriwayatkan Abdullah bin Mas’ud tersebut, bisa disimpulkan bahwa setiap manusia mempunyai saudara dari bangsa jin dan malaikat yang senantiasa mengikuti kemana saja manusia pergi. Saudara dari bangsa malaikat selalu mengajak pada kebaikan, sedangkan saudara dari bangsa jin selalu membisiki dan mengajak pada keburukan)

Penting sekali mempelajari status baginda yang telah dimaafkan dan status telah terlindungi yang saling bergabung satu sama lain. Perlu diingat, Allah melindungi baginda dari segala macam dosa besar atau kecil. Ini penting diketahui supaya tidak terjadi kesalahpahaman dalam memahami unsur yang sangat penting dari sifat baginda ini.

Baginda, pujian dan kesejahteraan atasnya, hanya memerintahkan dirinya untuk berbuat kebaikan, jadi bahasan mengenai pengampunan hanya secara abstrak (menikmati status pengampunan tanpa adanya dosa), bukan sebagai alasan memperbaiki kesalahan karena nyatanya baginda tak berdosa sedikitpun. Sebagai gantinya, pengampunan akan turun kepada para Sahabat dan para pengikut baginda.

Baginda memperoleh status pengampunan atas apa yang telah terjadi dan yang belum terjadi. Disisi lain, Makki berkomentar, "Allah memberi karunia dan menjadikannya sebagai sebab untuk status pengampunan baginda. Segala sesuatu adalah berasal dari-Nya, tidak ada tuhan selain Dia. Karunia yang satu mengiringi karunia yang lain, dan baginda mendapatkan anugerah diatas anugerah lainnya."

Ayat selanjutnya, "dan menyempurnakan nikmat-Nya atasmu".

Dalam ayat ini, Allah memberitahu sempurnanya kenikmatan yang dianugerahkan kepada baginda, dengan pembukaan dua kota terpenting yaitu Mekah dan Thaif. Juga dikatakan itu berarti status baginda di kehidupan dunia, pertolongan dan pengampunan dari Allah, semakin meningkat.

Allah memberitahu penyelesaian keberkatan-Nya dengan menghinakan musuh-musuh baginda yang arogan, dan pembukaan dua kota terpenting, Mekah dan Thaif, dengan demikian status baginda kian terangkat, sebab baginda mendapat hidayah jalan yang lurus, yang pada akhirnya menuju Surga dan kebahagiaan di Kehidupan Abadi (akhirat).

Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, selalu ditolong oleh Allah, namun pertolongan yang diterima baginda selama pembukaan kota Mekah dan Thaif jauh lebih hebat.

Orang-orang beriman mendapatkan karunia dari Allah, yang dengan rahmat-Nya, Dia menurunkan ketenangan dan ketentraman di hati mereka, sehingga semakin meningkatkan keimanan mereka.

Allah memberi kabar terbaik - berupa kejayaan dan kemenangan besar - bagi orang-orang beriman laki-laki maupun perempuan bahwa Allah mengampuni mereka dan menutupi dosa-dosa mereka, serta mengganjar mereka Surga yang mereka kelak akan hidup abadi didalamnya. Kemudian Allah membahas hukuman bagi orang-orang munafik dan orang-orang musyrik di dunia maupun di akhirat, mereka dilaknat dan jauh dari rahmat-Nya, dan tempat kembali mereka kelak adalah menempati tempat terburuk di Neraka.

Orang-orang munafik dan orang-orang musyrik akan mendapatkan hukuman di dunia dan di akhirat, mereka dilaknat dan jauh dari rahmat-Nya, dan tempat kembali mereka kelak adalah menempati tempat terburuk di Neraka.

Allah berfirman, "Sungguh Kami mengutusmu (Muhammad) sebagai saksi, dan pembawa berita gembira, dan pemberi peringatan." Dalam ayat ini, Allah menyebutkan keistimewaan dan karakter utama Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, yang kelak menjadi saksi menghadapi umatnya, karena baginda yang menyampaikan kepada mereka, risalah yang dipercayakan kepadanya oleh Allah.

Dikatakan bahwa baginda akan menjadi saksi bagi umatnya dalam pengesaaan Allah (tauhid), serta memberi kabar gembira pahala bagi umat baginda. Pengampunan bagi mereka yang teguh dalam kebaikan dan beriman kepada Allah, dan Nabi-Nya, pujian dan kesejahteraan atasnya, juga memperingatkan siksaan bagi musuh-musuh yang menentang baginda.

"Menguatkannya, memuja-mujanya," Kesepakatan ulama mengatakan kalimat ini tertuju pada Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan bahwa baginda hendaknya didukung dan dijunjung tinggi oleh umatnya. Kemudian firman Allah, "dan bertasbihlah kepada-Nya pagi dan petang" bermakna, bertasbih kepada Allah di waktu pagi dan petang hari.

Ibnu Atho' berkata, "Surah Al-Fath berisi keanekaragaman keberkatan untuk baginda."

Contohnya, "pembukaan yang nyata" merupakan suatu tanda jawaban, "Mengampuni" adalah indikasi kecintaan, berarti bebas dari segala cacat dan cela; "Menyempurnakan nikmat" menjadi pertanda terpilihnya baginda dan keberkatan telah mencapai tingkat kesempurnaan; "Membimbingmu" yaitu sebuah indikasi persahabatan Allah dengan baginda, dan ajakan persaksian.

Ja'far bin Muhammad menjelaskan, termasuk keberkatan sempurna untuk Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, adalah bahwa Allah menjadikan baginda sebagai kekasih-Nya. Allah juga bersumpah demi hidup baginda, penggantian hukum lainnya dengan yang dibawa baginda, dan mengangkat baginda pada derajat tertinggi.

Dan lagi, Allah telah melindungi baginda dalam Perjalanan Malam yang Menakjubkan (Isro' Mi'roj), sehingga pandangan baginda tidak menyimpang. Allah mengutus baginda untuk seluruh umat manusia, serta mengizinkan rampasan perang untuk umat baginda (yang mana sebelumnya dilarang untuk orang-orang Ahli kitab - Yahudi dan Nasrani).

Allah meninggikan baginda pada derajat dimana syafaatnya diterima, dan menjadikan baginda sebagai junjungan anak turun Nabi Adam, kedamaian kepadanya. Allah menempatkan nama Nabi Muhammad bersebelahan dengan Nama-Nya sendiri, dan keridhaan Allah terletak keridhaan Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya.  Allah menjadikan baginda sebagai salah satu dari dua rukun tauhid (Pengesaan Allah).

Ayat berikutnya, "bahwa orang-orang yang bersumpah setia kepadamu sesungguhnya mereka bersumpah setia kepada Allah." Ini merujuk pada mereka yang mengikrarkan kesetiaannya kepada baginda. Peristiwa ini dikenal dengan "Baiat Ar-Ridwan - keridhaan Allah. Ketika para Sahabat bersumpah setia kepada Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, maka mereka bersumpah setia kepada Allah - kesetiaan adalah untuk Allah. .

 

(Sisipan Syeikh Darwish: Ada 1400 Sahabat yang mengikrarkan kesetiaan mereka dibawah pohon di Hudaibiyah. Nabi Muhammad, pujian kedamaian kepadanya, bersabda bahwa mereka semua telah diampuni dan tidak akan masuk neraka)

Janji itu diikuti dengan pernyataan, "Tangan Allah di atas tangan mereka". Kata "Tangan" adalah metafora dan melambangkan kekuasaan Allah, pahala dan kenikmatan dari-Nya, serta ikatan-Nya. Kata-kata tersebut memperkuat ikatan baiat (sumpah setia) mereka kepada baginda sekaligus menunjukkan keagungan orang yang mereka berbaiat dan memberikan kesetiaan kepadanya.

Dalam surah Al-Anfal "Harta rampasan perang" ayat 17 ada kemiripan kata-kata, "Maka bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, akan tetapi Allah yang melempar." Terdapat majas metafora pada ayat tersebut, dimana terdapat kebenaran yang sesungguhnya, karena yang membunuh maupun yang melempar sebenarnya adalah Allah.

Allah adalah pencipta segala tindakan, dengan demikian Dia yang telah melempar, karena telah memberikan kekuasaan dan keputusan untuk melempar.

Tak seorangpun memiliki kekuasaan untuk melempar sedemikian rupa, sampai-sampai mata para musuh semuanya dipenuhi debu. Sehingga secara hakikat, yang membunuh mereka adalah para malaikat.

Ada yang menjelaskan makna ayat adalah kaum muslimin (orang-orang Islam) tidak membunuh mereka maupun melemparkan batu-batu atau pasir ke wajah mereka, namun Allah yang telah melemparkan ketakutan di hati mereka.

Ini berarti, keuntungan tindakan datang secara langsung dari tindakan Allah, dan pada hakikatnya Allah yang membunuh dan melempar, sedang para Sahabat sebagai pelaku dalam nama.

Allah memperlihatkan kemuliaan Nabi Muhammad didalam Al-Qur'an

serta memperjelas kedudukan dan kehormatan baginda disisi Allah.

 

Termasuk bagian dari kemuliaan yang Allah curahkan kepada Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, ditemukan dalam surah ke-17 (Al-Isro' - Perjalanan Malam yang Menakjubkan) dan surah ke-53 (An-Najm - bintang).

Dalam kedua surah itu, terlihat jelas keagungan kedudukan baginda, pangkatnya yang tak tertandingi, dan kedekatannya pada Allah, serta persaksiannya atas berbagai keajaiban.

Dalam ayat-ayat berikut ini, juga nampak jelas curahan perlindungan Allah kepada baginda

"Dan Allah melindungimu dari orang-orang." (Al-Maidah,5:67).

"Dan ketika orang-orang yang kafir merencanakan tipu daya menghadapimu (Muhammad), untuk menawanmu atau membunuhmu atau mengusirmu, dan mereka merencanakan tipu daya, sedang Allah menggagalkan tipu daya. Dan Allah sebaik-sebaik pengatur tipu daya." (Al-Anfal,8:30).

Saat Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan Abu Bakar beristirahat di sebuah gua di lereng curam Gunung Tsur, Allah membantunya dengan bala tentara yang tak terlihat.

Allah berfirman,"Jika kamu (kaum Mukminin) tidak membantunya (Nabi Muhammad), maka sungguh, Allah menolongnya, ketika orang-orang yang kafir mengeluarkannya, sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada didalam gua, di waktu itu dia berkata kepada temannya (Abu Bakar), 'jangan bersedih, sungguh Allah bersama kita', kemudian Allah menurunkan ketenangan(sakinah)-Nya kepadanya, serta membantunya dengan bala tentara (para malaikat) yang tak terlihat, dan menjadikan kalimat mereka yang kafir menjadi rendah, dan kalimat Allah adalah yang tertinggi. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (At-Taubah,9:40).

Allah telah menghindarkan baginda dari tipu daya orang-orang kafir yang berkomplot dan berencana untuk menghancurkannya, sehingga baginda selamat dalam urusannya. Allah juga mencegah musuh-musuh yang hendak membahayakan baginda, dengan menarik penglihatan mereka, dan meloloskan baginda melewati tengah-tengah mereka dengan tak terlihat.

Sekali lagi, Allah menjadikan orang-orang kafir kebingungan ketika tengah mencari-cari baginda, dan mencegah mereka melihat dibawah kaki mereka, yang terdapat gua dimana baginda sedang berada di dalamnya. Allah telah menurunkan ketenangan kepada baginda, diantaranya bisa ditemukan dalam kisah Suroqoh Ibnu Malik.

Tidak hanya anugerah ketenangan yang dilimpahkan kepada baginda tetapi mukjizat-mukjizat lain juga terjadi selama perjalanan hijrah baginda, dari Mekah ke Madinah.

Dalam upaya mencegah baginda sampai ke Madinah, orang-orang Quraisy berangkat mengejar ketika baginda baru berangkat berhijrah. Mereka mencari jejak baginda disekitar gua-gua yang ada di pegunungan.

Sementara itu, baginda dan Abu Bakar, tengah beristirahat di sebuah gua di lereng curam Gunung Thur. Allah telah membekali baginda dengan tentara gaib.

Sambil berteriak-teriak, orang-orang Quraisy mulai mendaki gunung. Derap suara langkah mereka terdengar jelas dan semakin mendekati gua. Abu Bakar menjadi cemas dan khawatir mereka menemukan Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, lalu Abu Bakar berbisik kepada baginda, "Jika mereka sampai menoleh ke bawah, maka akan menemukan kita."

Allah telah menurunkan ketenangan kepada baginda. Dengan lembut baginda menentramkan hati Abu Bakar dan menghiburnya serta berkata, "Apa pendapatmu tentang dua orang, yang mempunyai Allah bersama mereka sebagai yang ketiga?" Ketika Abu Bakar mendengar kata-kata ini, kedamaian menghampiri hatinya, dan ketakutannya pun lenyap.

Tak lama kemudian, satu diantara orang-orang kafir itu memandang ke gua tempat baginda dan Abu Bakar berada, tepat di bawah kaki dimana orang itu berdiri, lalu ia mengamati dengan seksama, yang lain juga ikut mengamati. Namun mereka memutuskan tidak memeriksa kedalamnya.

Kisah-kisah tersebut telah didokumentasikan dengan baik dalam kutipan kenabian (hadis), yang menceritakan aneka peristiwa selama hijrah baginda ke Madinah.

Surah Al-Kawtsar "Sungai Kelimpahan" berbunyi, "Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) Al Kawtsar (Kelimpahan sungai, kolam dan mata airnya); maka solatlah untuk Penguasamu dan berkorbanlah; sungguh orang yang membencimu dialah yang paling terputus." (Al-Kausar,108:1-4).

Dalam surah yang singkat tersebut, Allah memberitahu bahwa Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, telah diberi Kausar yaitu sungai yang memiliki sebuah telaga (telaga itu kelak terlihat dari mimbar baginda di Raudah).

Dikatakan bahwa Al-Kawtsar adalah sebuah sungai (didalam) Surga, keberkatan yang besar, syafaat, mukjizat yang diberikan kepada baginda, kenabian dan pengetahuan sempurna.

Adapun ayat, "Sungguh, orang yang membencimu dialah yang paling terputus." tertuju pada orang-orang yang memusuhi baginda dan yang membenci baginda. "Paling terputus" berarti hina, nista, tertinggal, dan seseorang yang tidak ada kebaikan sama sekali dalam dirinya.

Allah memberitahu Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, dengan berfirman, "Dan sungguh, Kami telah memberikan engkau tujuh yang rangkap dan Al-Qur'an yang agung." (Al-Hijr, 15:87)

Ada beberapa penjelasan untuk ayat ini. "Tujuh yang rangkap (yang diulang-ulang)" merujuk pada tujuh surah permulaan yang terpanjang, sedang "Al-Qur'an yang agung" tertuju pada surah pertama yaitu Al-Fatihah "Pembuka".

Ada yang berkata, "tujuh yang rangkap" yaitu induk Al-Qur'an atau surah Al-Fatihah. Sedang "Al-Qur'an yang agung" yaitu semua surah dalam Al-Qur'an setelah surah Al-Fatihah. Dikatakan juga, "tujuh yang rangkap" merujuk pada perintah, larangan, kabar gembira dan peringatan, yang terdapat dalam Al-Qur'an.

"Induk Al-Quran", dikatakan sebagai "tujuh yang rangkap", karena dibaca minimal dua kali dalam setiap shalat.

Dikatakan bahwa Allah menganugerahkan Al-Fatihah hanya kepada Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan tidak memberikannya kepada nabi-nabi mulia yang lain, dan Allah menyebut Al-Qur'an "tujuh yang rangkap", sebab pengulangan kisah-kisahnya.

Dikatakan pula, "tujuh rangkap", berarti bahwa Allah memuliakan baginda dengan tujuh kemuliaan: petunjuk, kenabian, rahmat, syafaat, persahabatan, keagungan, dan ketenangan.

Allah berfirman kepada baginda, "Dan Kami turunkan kepadamu Ingatan (Al-Qur'an) agar menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka, dan supaya mereka memikirkan." (An-Nahl,16:44).

"Dan Kami tidak mengutusmu (Muhammad) melainkan untuk seluruh umat manusia, sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan." (Saba',34:28).

"Katakanlah, 'wahai manusia, sungguh aku Utusan Allah kepadamu semuanya.'" (Al-A'raf,7:158).

Diantara keutamaan baginda, tampak dalam firman Allah berikut ini,

"Dan Kami tidak mengutus seorang rasul melainkan dalam lisan kaumnya, untuk menjelaskan kepada mereka." (Ibrahim,14:4). Ayat ini menerangkan bahwa tiap rasul diutus pada suatu umat yang khusus dan suku bangsa tertentu, sedang Nabi Muhammad diutus untuk seluruh umat manusia. Baginda bersabda, "Aku diutus untuk semua ras, yang terang dan gelap."

(Sisipan Syeikh Darwish: Dimasa berikutnya, Risalah yang dibawa baginda, tersebar hingga melintasi perbatasan, diberbagai negeri dan bangsa lainnya yang berlainan bahasa mereka. Mereka mengecek kebenaran ajaran Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan banyak yang beralih masuk agama Islam. Kemudian mereka mempelajari bahasa Arab. Inilah realisasi dari sabda Nabi, "Aku dikirim untuk semua ras yang terang dan gelap)

"Nabi lebih utama bagi orang-orang beriman dari diri mereka sendiri, dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka." (Al-Ahzab,33:6).

Ahli tafsir menjelaskan kata-kata "lebih utama bagi orang-orang beriman dari diri mereka sendiri", yaitu adanya kewajiban atas semua orang beriman untuk mematuhi perintah baginda, seperti halnya seorang pelayan yang harus mematuhi perintah tuannya.

Mentaati perintah Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, ialah jauh lebih baik daripada mengikuti penilaian diri sendiri yang merupakan obyek sasaran hawa nafsu dan kelemahan serta kesalahan.

"Istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka". Orang-orang beriman harus menghormati istri-istri baginda sebagaimana mereka menghormati ibu-ibu mereka sendiri, untuk alasan inilah, istri-istri baginda tidak diizinkan menikah dengan siapapun setelah wafatnya baginda - sebagai bentuk penghormatan kepada baginda. Ini termasuk pertanda kemuliaan baginda disisi Allah. Kelak, mereka akan kembali menjadi istri-istri baginda di Kehidupan Abadi (akhirat).

Allah berfirman, "Dan Allah telah menurunkan kepadamu Kitab dan Hikmah, dan mengajarkanmu apa yang tidak kamu ketahui. Dan adanya anugerah Allah atasmu sangat besar." (An-Nisa,4:113). Anugerah Allah yang sangat besar merujuk pada kenabian baginda, atau apa yang telah diberikan kepada baginda di masa pra-keabadian (di dunia).

 

SAHIH SHIFA

KESEMBUHAN

 

Seri ke-3

 

KESEMPURNAAN FISIK DAN PERILAKU

SERTA KEBERKATAN NABI MUHAMMAD

 

Karya

Hakim Agung Abulfadl Iyad

wafat tahun 1123M / 544H

 

Periwayat Hadis

Muhaddis Agung Hafiz Abdullah Bin Siddiq

 

Perevisi

 Muhaddis Abdullah Talidi

 

Adaptasi oleh

Abdi Hadis Syekh Ahmad Darwish (Arab)

Anne Khadeijah (Inggris)

Siti Nadriyah (Indonesia)

 

 

Copyright © 1984-2013 Allah.com Muhammad.com. Hak Cipta dilindungi.

KESEMPURNAAN FISIK DAN PERILAKU BAGINDA

 

Allah menjadikan sempurna fisik bagus baginda, perilaku dan keberadaannya serta memberkatinya dengan segala kebajikan dalam dunia dan agama. Mereka yang mencintai Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan mencari pengetahuan rincian harta karun bernilai sangat besar tentang kenyataan hidup baginda, terlebih dahulu yang harus diketahui adalah perangai keagungan dan kesempurnaan fitrah baginda sebagai manusia. Yakni terdapat dalam dua kategori:

 

Kategori pertama:

Merupakan kategori sifat bawaan, misalnya apa saja yang diperlukan dalam urusan-urusan duniawi, serta hal-hal yang berkaitan dengan segala yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari manusia.

 

Kategori kedua:

Merupakan kategori yang berkaitan dengan agama, yang membawa manusia lebih dekat dengan Allah. Mencakup sifat-sifat yang terpuji.

 

Sifat-sifat tersebut terbagi menjadi dua macam, baik itu sifat bawaan ataupun sifat-sifat yang didapatkan dengan berjuang (berusaha) untuk memperolehnya atau gabungan dari keduanya.

 

Sehubungan dengan sifat-sifat bawaan, seperti sifat-sifat yang tidak bisa dielakkan adanya. Misalnya, fisik yang bagus, keindahan rupa, kekuatan daya pikir, pemahaman sempurna, kefasihan lidah , ketajaman panca indera, kekuatan jasmani, kemuliaan nasab, pengaruh sanak kerabat dan kehormatan bangsa seseorang.

 

Sifat bawaan mempunyai hubungan dengan hal-hal yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari seseorang, misalnya, makan, tidur, pakaian, rumah, perkawinan, harta kekayaan atau pengaruh dalam masyarakat.

 

Sifat bawaan dan kebutuhan harian dapat dihubungkan dengan urusan akhirat, jika memang berniat takut kepada Allah (takwa), dan mendidik tubuh supaya menuju jalan Allah, dimana semuanya itu telah ditentukan dan digariskan dalam agama Islam, serta merupakan kebutuhan dalam ajaran Islam.

 

Sifat yang diperoleh dengan bekerja keras dan berkaitan dengan akhirat, serta termasuk akhlak yang luhur dan tata krama dalam ajaran Islam, diantaranya adalah mengamalkan ajaran agama, berilmu pengetahuan, toleransi, sabar, bersyukur, adil, mengendalikan diri, rendah hati, suka memaafkan, menjaga harga diri, dermawan, pemberani, sederhana, menahan amarah, pendiam, suka merenung, ramah dan bersahabat, rahmat (berbelas kasih), dan yang semacamnya, dimana kesemuanya itu merupakan akhlak dan karakter yang baik.

 

Sebagian manusia memiliki karakter tersebut sebagai pembawaan alaminya, dan sebagian yang lain tidak memilikinya. Karena itu mereka harus berjuang untuk mendapatkannya, namun ada beberapa karakter yang harus ada untuk membentuk dasar sifat seseorang, Insya Allah hal ini akan dijelaskan kemudian.

 

Para ulama' bersepakat bahwa akhlak dan karakter tersebut merupakan sifat yang baik dan luhur, bahkan (sekalipun) ketika niatnya bukan untuk Allah, dan akhirat.

 

Karakter kesempurnaan dan keindahan Nabi Muhammad

Pujian dan kesejahteraan atasnya

 

Hakim Iyad berkata, "Ketika seseorang diketahui telah diberkati dengan satu atau dua sifat mulia, tidak peduli apakah ia sudah meninggal dunia atau masih hidup, maka dianggap sebagai orang saleh yang mulia, sehingga dijadikan sebagai panutan karena sifat-sifat keteladanannya, dan karena itulah ia dihormati dan dimuliakan dalam masyarakat.

Ketika seseorang diberkati dengan kesempurnaan dan kemuliaan yang melimpah, maka mustahil bagi kita untuk mengungkapkan keutamaannya. Sifat-sifat tersebut merupakan anugerah istimewa yang datang dari Allah, Yang Maha Kuasa.

Karunia kesempurnaan dan kemuliaan yang melimpah telah dianugerahkan kepada Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, diantaranya adalah karunia kenabian, risalah (terpilih untuk menyampaikan Pesan Allah), Persahabatan karib dan mendapatkan kasih sayang Allah, serta karunia Isro’ Mi’roj dimana baginda diberkati dengan sebuah Penglihatan.

Termasuk juga karunia wahyu, syafaat, wasilah, kesempurnaan semua kebajikan, pangkat tinggi, tempat terpuji, mengendarai tunggangan bersayap Buroq, naik ke langit hingga mencapai sidratul muntaha, diutus untuk seluruh ras manusia, menjadi imam semua nabi mulia lainnya dalam solat dan menjadi saksi atas mereka dan umat-umat mereka, sebagai junjungan anak turun nabi Adam, sebagai pembawa Bendera Pujian, pembawa kabar gembira dan peringatan.

Karunia amanah, hidayah, rahmat bagi seluruh alam, penerima ridha Allah sehingga memungkinkan baginda untuk memohon kepada-Nya ketika semua makhluk terbungkam, telaga (dari sungai) Kawtsar, ucapan baginda didengar, kenikmatan yang sempurna, berada dalam status telah dimaafkan meliputi perlindungan dari tindakan-tindakan masa lalu maupun masa depan, pelapangan dada, peletakan beban, peninggian penyebutan baginda, ditolong dengan kemenangan yang besar, turunnya ketenangan, dukungan dari para malaikat, penyampaian Al Qur'an dan tujuh yang rangkap (Sab’ul Matsaanii), menyucikan dan mengajak umat menuju Allah serta karunia Hikmah kebijaksanaan (hadis).

Allah, dan para malaikat-Nya bersolawat untuk baginda, dan baginda bisa melihat sebagian ketetapan Allah, adalah diantara karunia untuk baginda.

Demikian pula karunia peletakan beban umat, Allah bersumpah dengan nama baginda, permohonan terkabul, benda mati dan hewan berbicara kepada baginda, orang mati dibangkitkan kembali sebab baginda, orang tuli bisa mendengar lagi, mukjizat air mengalir dari sela jari-jemari baginda, sesuatu yang sedikit menjadi banyak, pembelahan bulan, perubahan bentuk barang, pertolongan dengan menjadikan musuh ketakutan, pengetahuan tentang yang gaib, awan menaungi baginda, kerikil-kerikil bertasbih, mengobati penyakit, dan perlindungan dari musuh-musuh Islam.

Kenikmatan tersebut hanyalah sebagian kecil dari berbagai kenikmatan tak terhitung jumlahnya yang menghiasi Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya. Hanya orang yang diberi cahaya ilmu oleh Allah yang bisa mengetahui segala sifat bagus baginda, sebab Allah sendirian Yang Maha Pemberi, dan tidak ada tuhan selain Dia.

Selain itu, juga terdapat kedudukan mulia, derajat kesucian, kebahagiaan bertingkat-tingkat, keutamaan dan meningkatnya karunia Allah yang akan dianugerahkan kepada baginda di akhirat - yang tak terhitung jumlahnya, dan diluar jangkauan manusia, serta tak akan mampu dipahami siapapun.

Sekilas gambaran fisik Nabi Muhammad

Tidak samar bagi siapapun adanya fakta bahwa Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, adalah manusia berderajat tertinggi dan berkedudukan teragung, serta paling sempurna kebagusan dan keutamaannya dari semua manusia.

Di bagian ini, Hakim Iyad mulai memperinci kesempurnaan sifat-sifat fisik baginda seraya berdoa, "Semoga Allah menerangi hatiku dan hatimu, dan meningkatkan kecintaan kita kepada Nabi yang mulia, pujian dan kesejahteraan atasnya." Sang Pencipta telah menganugerahkan sifat-sifat alami yang sempurna kepada baginda.

Rupa dan pembagiannya

Keindahan fisik dan karakter baginda, telah dilaporkan oleh sebagian besar Sahabatnya, diantaranya adalah Ali, Anas bin Malik, Abu Hurairah, Baro' bin Azib, Ibnu Abi Halah, Abu Juhayfa, Jabir bin Samuroh , Ummu Ma'bad, Ibnu Abbas, Muarrid bin Muayqib, Abu Tufail, Idda' bin Kholid, Khuraim bin Fatik, dan Hakim bin Khizam.

Ketampanan baginda jauh melebihi nabi Yusuf, dimana para wanita dinegeri nabi Yusuf amat tertegun memandang beliau hingga tanpa sadar mereka memotong jari tangan mereka.

Tekstur kulit baginda berseri-seri, dengan bulu mata panjang dan hidung yang khas serta jarak antara gigi-gigi yang rata. Baginda berwajah bulat, berdahi lebar dan berjanggut tebal yang terjuntai hingga ke dada.

Dada dan perut baginda berukuran sama, dengan bahu lebar sebagaimana dadanya, serta mempunyai tulang-tulang dan lengan yang besar. Telapak tangan baginda tebal begitu juga telapak kakinya. Jari-jari baginda panjang, sedang warna kulitnya terang bercahaya.

Terdapat bulu-bulu halus diantara dada dan pusar baginda. Tinggi badan baginda sedang, namun ketika orang yang tinggi berjalan di samping baginda, pujian dan kesejahteraan atasnya, baginda terlihat lebih tinggi.

Rambut baginda tidak keriting dan tidak lurus. Ketika tertawa gigi baginda terlihat seperti kilatan petir, juga digambarkan putih giginya bagaikan hujan batu es. Leher baginda seimbang, tidak lebar dan tidak gemuk, sebagaimana seluruh tubuh baginda yang kukuh, padat dan tidak lembek.

Ketika Al Bara, salah satu Sahabat Nabi, melihat rambut baginda terjurai pada jubah merah, Al Bara berkomentar, "Belum pernah aku melihat orang dengan rambut yang lebih indah daripada yang terjurai pada jubah merah."

Abu Hurairah, berkata, "Aku belum pernah melihat orang yang lebih bagus daripada Rasulullah, seolah-olah matahari sedang bersinar didalam wajahnya. "

Seseorang menanyai Jabir bin Samuroh, "Apakah wajah baginda seperti sebilah pedang (yang berarti putih dan bersinar)?" Jabir menjawab, "Tidak, malahan seperti matahari dan bulan."

Masih banyak hadis masyhur yang menggambarkan pribadi Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya,  dan baru sebagian saja yang kami muat disini. Kami membatasi penyajiannya yang sekiranya mencukupi, dengan menghadirkan beberapa aspek penjabaran.

Insya Allah, kesimpulan bagian ini akan anda temukan pada halaman yang lain.

Kebersihan Nabi Muhammad

Pujian dan kesejahteraan atasnya

 

Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, sangat menjaga kebersihan tubuhnya. Keringat baginda berbau wangi sedang parfum baginda harum semerbak. Baginda bebas dari segala macam noda, kotoran dan kekurangan.

Itu semua merupakan kualitas istimewa yang dianugerahkan Allah kepada baginda. Kesempurnaan yang tidak pernah diberikan kepada selain baginda, dan kebersihan baginda benar-benar melebihi standar kebersihan yang berlaku saat itu.

Anas berkomentar, "Aku belum pernah mencium bau ambar, misk atau apapun yang lebih wangi daripada aroma Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya."

 

Ada sebuah kejadian ketika baginda mengusap pipi Jabir bin Samuroh, lalu Jabir berkata, "Aku merasakan sensasi dingin dan bau harum tangan baginda, seolah-olah baru dikeluarkan dari wadah penjual parfum.

Suatu hari baginda mengunjungi rumah sahabat Anas, kemudian baginda tidur sebentar sebagaimana kebiasaan baginda di siang hari, dan baginda berkeringat. Ketika ibu Anas melihat keringat baginda, beliau mengambil sebuah botol lantas mengumpulkan keringat yang menetes dari baginda. Lantas Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, bertanya tentang hal itu, dan ibu Anas menjawab, "Kami mencampurnya dengan parfum kami sehingga menjadi aroma terwangi."

Pada waktu baginda wafat, Imam Ali, semoga Allah meridhainya, membasuh jasad baginda dan berkata, "aku memandikan baginda dan berusaha mengamati perubahan yang lazim terjadi pada jasad orang yang meninggal dunia, namun aku tak mendapati sesuatupun, lalu aku berkata, 'Engkau bagus dan harum dalam kehidupan dan kematian.'"

Tatkala baginda meninggal dunia, Abu Bakar menciumnya, dan menyebut-nyebut aroma harum baginda.

Suatu ketika darah baginda mengucur, lalu Abdullah bin Zubair menelannya. Baginda tidak keberatan dengan apa yang telah dilakukannya, namun baginda bersabda, "Kamu akan diuji orang-orang dan orang-orang akan diuji olehmu."

Suatu hari, Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, menaruh mangkuk kayu di bawah tempat tidur baginda, dan memakainya untuk buang air kecil di malam hari. Pagi harinya, baginda melihat tidak ada air seni didalam mangkuk. Maka baginda bertanya pada Ummu Aiman (para ulama' berbeda pendapat apakah Ummu Aiman pembantu baginda ataukah tidak). Lantas Ummu Aiman menjawab, "Setelah bangun tidur, saya merasa haus, jadi saya meminumnya, saya tidak tahu kalau itu air seni."

Hendaknya dimengerti, orang biasa minum air maka membersihkan tubuh mereka, sehingga zat buangan mereka pun kotor. Namun untuk Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, zat cair buangan tubuhnya adalah bersih, karena kesucian tubuhnya, sehingga apapun yang berasal dari tubuhnya adalah suci serta penuh dengan berkah. Oleh karena itulah, zat cair buangan tubuh baginda terasa manis, dan orang yang meminumnya tidak merasakan seperti rasa air seni pada umumnya.

Dalam beberapa kesempatan, baginda bersabda kepada para Sahabatnya, "Allah telah memberiku makan dan minum." Makanan tersebut benar-benar suci dan penuh berkah, maka menyebabkan darah dan air seni menjadi suci, dan keringat baginda pun menjadi seperti kasturi."

Ibnu Abbas mengatakan bahwa ketika baginda sedang tidur, terdengar olehnya suara tarikan napas yang dalam, kemudian baginda bangun lalu shalat dan tidak berwudhu. Ikrima berkomentar, "Ini karena baginda dilindungi oleh Allah."

(Sisipan Syeikh Darwish: Ketika tidur, mata baginda terpejam, tetapi hati dan batin baginda tidak dalam keadaan tidur yakni tetap terjaga, karena itulah baginda berwudhu hanya ketika dibutuhkan. Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, bersabda, "Mataku tidur tetapi hatiku tidak.")

Kecerdasan, kefasihan dan kecerdikan Nabi Muhammad

Pujian dan kesejahteraan atasnya

 

Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, telah dianugerahi otak yang paling cerdas oleh Allah, juga kecerdikan, ketajaman panca indera, dan kefasihan dalam berbicara. Selain itu, baginda dianugerahi gerak-gerik yang menawan dan daya pikir yang mengagumkan. Tidak ada keraguan bahwa kelebihan baginda ini tidak ada yang mampu menandinginya.

Keunggulan kecerdasan baginda serta pemahaman yang mendalam menjadi terbukti ketika mengamati cara baginda mengatur umatnya, menyangkut urusan dalam negeri maupun urusan luar negeri - tak pandang bulu apakah urusan orang biasa ataupun orang berpangkat.

Kemampuan baginda benar-benar mengagumkan, dan perilaku baginda merupakan teladan bagi siapapun. Pengetahuan yang mendalam mengalir dalam diri baginda, tanpa pengajaran, pengalaman, dan tanpa membaca kitab-kitab terdahulu. Baginda menempuh suatu cara yang telah diarahkan kepada baginda guna melaksanakan dan menegakkan Hukum Allah.

Tercatat dalam kitab Muwatto' bahwa Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, bersabda, "Sungguh aku dapat melihatmu ketika berada di belakang punggungku." Hal yang sama diriwayatkan sahabat Anas dalam Sahih Bukhari Muslim.

Bunda Siti Aisyah, semoga Allah meridhainya, melaporkan sesuatu yang serupa dengan menambahkan dalam penuturannya, "Itu merupakan tambahan keistimewaan yang Allah berikan sebagai hujjah (penguat) bagi baginda."

Ada yang meriwayatkan bahwa Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, bersabda, "Sungguh aku benar-benar melihat siapa yang dibelakangku sebagaimana aku melihat pada siapa yang diantara kedua tanganku (didepanku)."

Terdapat banyak kutipan kenabian (yakni hadits) sahih yang meriwayatkan tentang kemampuan baginda melihat para malaikat. Demikian pula kemampuan baginda melihat setan.

Meskipun berada jauh dari Yerusalem, baginda mampu melihat kota tersebut dan menjabarkannya pada orang-orang Quraisy.

Pada zaman Jahiliyyah (kebodohan), ada seorang lelaki bernama Abu Rukanah yang paling terkenal kekuatannya, bergelut tiga kali dengan Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan Abu Rukanah selalu kalah, lalu baginda mengajaknya masuk Islam.

Perihal cara berjalan baginda, Abu Hurairah berkata, "Aku tidak melihat seorangpun yang lebih cepat daripada Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, dalam berjalan. Seolah-olah bumi digulung untuk baginda, sungguh kami kepayahan, namun sama sekali tak ada tanda-tanda kelelahan pada diri baginda." Saat berjalan, baginda seolah-olah sedang menuruni lereng.

Tertawa baginda adalah dengan tersenyum lebar. Baginda menoleh pada seseorang dengan menghadapkan seluruh tubuh baginda secara langsung dan baginda seolah-olah sedang menuruni lereng saat berjalan

Kefasihan Nabi Muhammad

Banyak sekali laporan yang mengungkap penguasaan baginda dalam berbahasa Arab, serta kefasihan lisan dan kelancaran dalam berkata-kata.

Perkataan baginda ringkas namun mempunyai makna. Baginda sangat cekatan dalam berdiskusi dan mampu mengutarakan segala sesuatu secara jelas. Pidato baginda mengalir secara rapi, penuh arti dan tidak dibuat-buat. Ucapan baginda mengandung hikmah dan pengetahuan.

Baginda pandai dalam semua ragam dialok bahasa Arab, serta mampu berkomunikasi dengan setiap komunitas masyarakat memakai bahasa klasik mereka.

Ketika orang-orang Arab dari berbagai suku bercakap-cakap dengan baginda, baginda menjawab menggunakan ungkapan keseharian mereka, sehingga terkadang para Sahabat tidak memahami apa yang diucapkan baginda, jadi para Sahabat meminta baginda supaya menjelaskannya. Hal ini telah dibuktikan oleh siapapun yang mempelajari ilmu kutipan kenabian (hadis) dan sejarah hidup baginda.

Cara bicara baginda dengan orang-orang Quraisy Mekah dan kaum Ansor Madinah, atau penduduk Hijaz dan Najd, berbeda dengan cara bicara baginda dengan Dzul Misy'ar, Hamdani, Tohfah An-Nahdi, Qoton bin Haritsa Al-Ulaimi, Asy'ats bin Qois, Wail bin Hujr Al-Kindi dan kepala suku-suku Hadramaut lainnya serta raja-raja Yaman.

Baginda ahli dalam pemilihan kata-kata. Kefasihan pidato baginda yang tak tertandingi, tampak dalam contoh berikut:

"Orang Islam sebanding darah mereka, yang paling rendah pun dapat mewakili mereka, dan mereka bersatu padu menghadapi selain mereka."

"Seseorang itu bersama siapa yang dia cintai (di Surga)"

"Manusia bagaikan barang tambang. Yang terbaik darimu di 'Zaman Jahiliyyah' adalah yang terbaik darimu dalam Islam jika memahami Hukum Islam."

"Tidaklah hancur seseorang yang mengetahui kadar nilai dirinya."

"Masuk Islam lah, engkau akan selamat, Allah akan memberimu pahala dua kali."

"Yang paling kucintai diantaramu dan paling dekat tempat duduknya denganku pada Hari Kiamat, adalah yang paling bagus akhlaknya, yang merendahkan hati, dan yang saling mengasihi."

"Orang berwajah dua tidak memiliki status (kedudukan) disisi Allah."

"Bergosip adalah dilarang, begitu pula terlalu banyak bertanya, menghambur-hamburkan harta, menolak secara berlebihan dan terlalu banyak menginginkan, durhaka kepada ibu dan mengubur bayi perempuan hidup-hidup."

"Takutlah kepada Allah dimanapun engkau berada. Ikutilah keburukan dengan kebaikan maka akan  menghapusnya (keburukan), dan perlakukan manusia berdasarkan akhlak yang bagus."

"Cintailah orang yang kau sayangi sekadarnya barangkali dia akan menjadi orang yang membencimu suatu hari nanti."

"Kezaliman itu kegelapan pada hari kiamat."

Di antara doa yang diucapkan baginda adalah, "Ya Allah, saya memohon rahmat-Mu, yang dengannya membimbing hatiku, menghimpun dan mengoreksi segala urusanku, memperbaiki mereka yang tak hadir, meninggikan derajat mereka yang hadir, dan menyucikan amal sehingga saya benar-benar berada dalam bimbingan, serta mengembalikan keakraban dan membentengi dari segala kejahatan. Ya Allah, saya memohon kemenangan dalam takdir, tempat kediaman para syuhada, kehidupan bahagia dan penaklukan atas musuh."

Masih terdapat banyak riwayat lainnya (lebih dari 12.000 pernyataan akurat) yang menyampaikan tentang kedudukan, perkataan, pidato, doa, percakapan dan hubungan sosial kemasyarakatan baginda. Tidak seorangpun yang menyangkal fakta bahwa baginda telah mencapai peringkat yang tiada bandingannya. Dan tiada pula yang dapat menyamai ketinggian derajat baginda.

Diantara kalimat yang baginda ucapkan,

"Tungku memanas (Pertempuran semakin sengit)."

"Orang beriman tidak disengat dari lubang batu dua kali."

"Orang beruntung siapa yang dinasehati dengan selainnya."

Terdapat banyak perkataan-perkataan serupa, yang akan menemukan kekaguman ketika memperhatikannya, dan menarik pemikiran untuk kedalaman isinya.

Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, bersabda kepada para sahabatnya, "Bagaimanapun, aku termasuk orang Quraisy, dan aku telah tumbuh di bani Sa'ad." Suku padang pasir Sa'ad sebagai warga pribumi asli terkenal dengan kemurnian bahasa Arabnya. Ditambah kondisi kebahasaan di Mekah yang tenar kefasihan serta keindahan kata-katanya. Semua elemen ini bergabung dengan dukungan ilahi, mendampingi Wahyu yang tidak bisa ditiru siapapun.

Kemuliaan nasab, tempat lahir, dan masa pertumbuhan Nabi Muhammad

Tidak ada orang yang meragukan kehormatan garis keturunan Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, kemuliaan tempat tinggal serta tempat dimana baginda tumbuh dan dibesarkan. Tidak membutuhkan pembuktian karena sangat jelas dan tidak samar.

Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, berasal dari anak-anak Hasyim yang terbaik, dan dari suku Quraisy yang paling berpengaruh. Baginda adalah keturunan orang Arab yang paling mulia dan disegani, tidak hanya dari nasab ayah tetapi juga dari nasab ibu, serta termasuk penduduk Mekah, tanah termulia dalam Pandangan Allah, juga termulia dalam pandangan para penyembah Allah.

Merujuk pada keberkatan kemuliaan baginda, Abu Hurairah meriwayatkan bahwa baginda bersabda, "Aku diutus dari generasi terbaik anak turun Adam, turun temurun, hingga aku muncul di generasi yang aku menjadi bagian darinya."

Abbas memberitahu bahwa baginda bersabda, "Sungguh Allah telah menciptakan semua makhluk, dan Dia menjadikan aku yang terbaik diantara mereka, dari keturunan yang terbaik. Kemudian Dia memilihkan suku bangsa, maka menjadikan aku dari suku bangsa terbaik, lalu memilihkan keluarga, maka menjadikan aku dari rumah tangga terbaik. Aku yang terbaik dari mereka secara pribadi dan dari rumah tangga yang terbaik."

Mengenai garis keturunannya, baginda telah bersabda, "Sungguh Allah telah memilih Ismail dari anak turun Ibrahim, dan memilih bani Kinanah dari anak turun Ismail, dan memilih kaum Quraisy dari bani Kinanah, dan memilih bani Hasyim dari Quraisy, dan memilihku dari bani Hasyim." Hadis ini diriwayatkan Watsilah bin Asqo'.

(Sisipan Syekh Darwish:

Nabi Ibrahim mempunyai dua istri, Siti Sarah dan Siti Hajar. Nabi Muhammad adalah keturunan Nabi Ibrahim dari perkawinannya dengan Siti Hajar.

Siti Hajar adalah anak perawan raja negeri Ain Syams di Mesir. Setelah kematian ayahnya, Siti Hajar tinggal di istana istri Firaun. Siti Hajar dikenal dengan kelembutan dan sifat yang mulia.

Siti Sarah telah dilindungi Allah dari niat jahat raja fir’aun Mesir, yang kemudian menyadari Siti Sarah adalah seorang wanita yang mulia serta berpikir bahwa Hajar akan menjadi teman yang sempurna untuk Sarah. Karena itulah, si perawan Hajar akhirnya tinggal sebagai pendamping Sarah dalam rumah tangga Ibrahim.

Siti Hajar seorang wanita manis berhati mulia dan beliau menyayangi Siti Sarah. Persahabatan sangat istimewa terjalin diantara mereka.)

Kehidupan sehari-hari Nabi Muhammad

Pujian dan kesejahteraan atasnya

 

Tingkat keutamaan dalam kebutuhan harian seseorang dapat dikategorikan dalam tiga macam:

1. Utama dalam jumlah yang sedikit

2. Utama dalam jumlah yang besar

3. Bervariasi sesuai dengan situasi

Dalam ajaran Islam maupun dalam kehidupan bermasyarakat, bagaimanapun keadaannya, bila merasa puas dengan yang sedikit, maka kebutuhan pokok sehari-sehari seperti makan, minum, dsb, akan dianggap sebagai hal yang layak dipuji dan merupakan kesempurnaan yang lebih besar. Tidak hanya orang-orang arab, orang-orang bijak pun memuji dengan sedikit tersebut, dan mengkritik jika berlebihan.

Memanjakan diri dengan banyak makan dan minum, merupakan tanda keserakahan, ketamakan, rakus serta menuruti hawa nafsu. Berlebih-lebihan dalam hal tersebut tidak hanya merugikan didunia tetapi juga di akhirat. Mengakibatkan penyakit hati dan jasmani serta kebekuan pikiran. Ketika seseorang merasa puas dengan yang sedikit, itulah pertanda kesenangan sejati dan pengendalian diri.

Hal yang sama juga berlaku untuk tidur berlebihan. Tidur berlebihan ialah pertanda kelemahan yang bisa mengurangi kecerdasan dan kepandaian, serta berujung pada kemalasan, kegagalan, tersia-sianya kehidupan dalam kegiatan tak berguna, dan menyebabkan keras hati, kelalaian, serta kematian hati seseorang.

Buktinya banyak ditemukan didalam beragam perkataan yang ditularkan orang-orang bijak dan bangsa-bangsa zaman dahulu, yang kemudian menjadi bahan rujukan dalam cerita dan puisi orang Arab. Bukti juga ditemukan didalam hadis sahih, dan perkataan para Sahabat Nabi, Tabi’in, dan Tabi’tabi’in (tiga generasi pertama Islam), yang sudah sering dikutip didalam berbagai buku. Bukti-bukti semacam itu tidak disebutkan secara penuh karena siapapun telah mengetahuinya, dan disini akan diuraikan secara ringkas.

Baginda selalu merasa puas dengan yang sedikit dan mendorong para pengikutnya supaya juga puas dengan yang sedikit. Miqdam bin Ma'dikarib melaporkan bahwa Nabi bersabda, "Anak cucu Adam tidak memenuhi wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Seyogyanya anak Adam makan yang sekiranya cukup untuk menegakkan tulang punggungnya. Bila harus lebih, maka sepertiga untuk makan, sepertiga untuk minum, dan sepertiga untuk napas." Akibat dari konsumsi makan dan minum berlebihan adalah tidur berlebihan.

Generasi awal Muslim lainnya menyarankan, "Jangan banyak makan sehingga banyak minum, banyak tidur, dan mengalami banyak kerugian."

Sahabat Anas bercerita tentang makanan kesukaan Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, "Baginda lebih menyukai makanan yang ada banyak tangan diatasnya."

Bunda Siti Aisyah, istri baginda, semoga Allah meridhainya, menggambarkan kebiasaan baginda seraya berkata, "Baginda tidak pernah mengisi rongga perut baginda hingga kenyang."

Suatu ketika terdengar baginda bertanya, "Bukankah aku melihat sebuah kuali dengan daging di dalamnya?" wajar baginda menanyakan hal ini, karena ada kesan orang-orang dalam rumah tangga baginda mengira daging itu tidak sepatutnya untuk baginda.

 (Sisipan syeikh Darwish: Karena yang diberikan kepada pembantu baginda adalah sedekah." Baginda menjelaskan hal tersebut seraya berkata, "Itu adalah sedekah baginya, dan menjadi sebuah hadiah (darinya) bagi kami.")

Baginda memberitahu para Sahabatnya, "Aku tidak makan sambil bersandar disatu sisi." Baginda makan dengan menegakkan badannya, tidak dengan posisi bersandar sebagaimana sikap orang sakit yang lemah badannya ketika makan. Makan sambil duduk dengan posisi bersandar semacam itu akan menyebabkan seseorang makan lebih banyak makanan.

Cara duduk baginda ketika makan adalah duduk posisi berjongkok, seolah-olah baginda akan bangun berdiri, sebagaimana kebiasaan orang Arab saat itu. Baginda bersabda, "Sesungguhnya aku seorang hamba, aku makan sebagaimana seorang hamba makan, dan duduk sebagaimana seorang hamba duduk."

Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, hanya sedikit tidur. Terdapat banyak laporan mengenai hal ini. Baginda bersabda, "Kedua mataku tidur sedang hatiku tidak tidur." Baginda tidur di sisi kanan, ini menunjukkan tidur yang sedikit dan tidak pulas ketika tidur. Tidur disisi kiri lebih mudah untuk jantung, dan lagi organ-organ tubuh lebih condong ke sisi kiri.

Ketika seseorang tidur di sisi kanan, ada kecenderungan bangun lebih cepat, dan tidak mengalami tidur yang nyenyak.

Pernikahan dan kehidupan keluarga Nabi Muhammad

Pujian dan kesejahteraan atasnya

 

Kategori kebutuhan kedua adalah sesuatu yang sangat baik dalam jumlah besar. Termasuk dalam kategori ini adalah hal-hal seperti pernikahan dan pengaruh.

Hukum Islam dan hukum adat telah bersepakat bahwa pernikahan adalah suatu keharusan. Pernikahan adalah bukti kesempurnaan dan kejantanan seseorang, yang dapat juga dijadikan alasan untuk membanggakan diri. Pernikahan sangat dipuji dalam hukum serta dianjurkan dalam risalah kenabian.

Ibnu Abbas berkata, "Yang terbaik dari umat ini adalah yang terbanyak istrinya." Ucapan Ibnu Abbas ini merujuk pada baginda.

Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, bersabda, "Menikahlah kalian dan berkembang biaklah, aku ingin membanggakanmu diatas umat-umat yang lain."

(Sisipan Syeikh Darwish: Anda mungkin penasaran mengapa Nabi Muhammad berharap memiliki umat yang lebih banyak jumlahnya. Yaitu agar lebih banyak orang yang menyembah dan memuji Allah sendirian. Baginda yang memegang peranan penting dalam membimbing umat, kelak akan memiliki lebih banyak orang yang menyembah dan memuji Allah sendirian. Di Malam Isro' Mi'roj, nabi Musa menangis karena umatnya yang menyembah dan memuji Allah sendirian lebih sedikit jumlahnya daripada umat Nabi Muhammad)

Baginda melarang membujang karena pernikahan melindungi nafsu dari kesesatan. Baginda bersabda, "Barangsiapa yang telah mampu, maka menikahlah, sungguh hal itu menundukkan pandangan dan membentengi kemaluan."

Karena alasan inilah, para ulama Islam mengatakan, bahwa pernikahan bukanlah hal yang akan mengurangi keutamaan menjauhi dunia atau zuhud.

Bagi para Sahabat, memiliki banyak istri termasuk menjauhi dunia (berzuhud). Sehingga mereka umumnya mempunyai banyak istri dan budak. Mereka tidak suka jika bertemu Allah dalam keadaan membujang (belum pernah menikah).

Ada yang mengajukan pertanyaan, "Bagaimana pernikahan bisa bernilai utama, sedangkan Allah telah memuji nabi Yahya, putra nabi Zakaria, yang tidak pernah menikah? Mengapa nabi Yahya dipuji sedangkan beliau tidak melakukan sesuatu yang dianggap sebagai keutamaan. Selain itu, nabi Isa putra Maryam juga membujang.

Allah memuji nabi Yahya yang membujang, tidak berarti beliau seorang yang lemah dan tidak jantan. Pernyataan bernada menghina tersebut telah ditolak oleh para ulama', dengan alasan bahwa dalam pernyataan itu tersirat adanya kekurangan dan aib, sedangkan hal itu adalah mustahil bagi para nabi Allah. Ini berarti nabi Yahya (dalam keadaan membujangnya) terlindung dari segala perbuatan dosa, seakan-akan beliau tidak dapat melakukan perbuatan dosa, berarti juga beliau terlepas dari semua keinginan jasmani dan syahwat terhadap wanita.

Pernikahan adalah perkara yang terpuji, dan suatu ketidaksempurnaan jika mampu menikah namun tidak melakukannya. Ketidakmampuan menikah bisa jadi akan mengurangi keutamaan berjuang melawan hawa nafsu (bermujahadah). Nabi Isa adalah orang yang sempurna dalam berjuang melawan hawa nafsunya. Dalam kasus Nabi Yahya, beliau telah diberi kecukupan oleh Allah.

Terlalu sering menikah dapat mengalihkan perhatian seseorang dari mengingat Allah dan melekatkan diri pada dunia.

Orang-orang yang menikah dan memenuhi kewajiban pernikahan tanpa melalaikan mereka dari mengingat Allah, mereka pun mencapai derajat yang tinggi. Derajat tinggi ini ditemukan dalam diri Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, yang mempunyai banyak istri, tetapi tidak pernah terganggu ibadahnya kepada Allah. Sebaliknya, ibadah baginda malah semakin meningkat, karena baginda melindungi istri-istrinya, menunaikan hak-hak mereka, menafkahi mereka, serta membimbing mereka dalam beribadah kepada Allah. Baginda telah bersabda bahwa hal-hal tersebut, tidak termasuk kehidupan duniawi baginya, namun bagi manusia lainnya, hal tersebut adalah bagian dari kehidupan duniawi.

Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, bersabda, "Dicintakan kepadaku di duniamu ini wanita dan wangi-wangian, dan dijadikan kesejukan mataku didalam shalat." Ini pertanda mencintai perempuan dan parfum adalah termasuk urusan duniawi bagi manusia lain, namun bagi baginda adalah termasuk urusan akhirat, karena baginda berhasrat memakai wangi-wangian ketika bertemu para malaikat.

Kecintaan besar yang sebenarnya bagi baginda yaitu ketika menyaksikan alam malaikat. Juga percakapan akrab baginda dengan Penguasanya. Itulah sebabnya, baginda membuat perbedaan antara dua kecintaan. Baginda telah memisahkan dua keadaan dalam sabda baginda diatas.

Nabi Yahya dan nabi Isa berada pada derajat yang sama dalam ujian perempuan.

Tambahan keutamaan pernikahan yaitu kepuasan bisa memuaskan kebutuhan seorang istri. Baginda telah diberi limpahan kemampuan untuk memuaskan para istrinya. Karenanya, baginda diperbolehkan memiliki lebih banyak istri daripada laki-laki lainnya.

Sahabat Anas berkata, "Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, mengunjungi istri-istrinya dalam satu jam, siang atau malam hari, dan mereka sebanyak sebelas orang."

Anas dan rekan-rekannya menyimpulkan, baginda telah diberi kekuatan tiga puluh orang. Abu Rofi' juga mengatakan hal yang sama.

Nabi Sulaiman berkata, "Sungguh aku mengelilingi dalam semalam, seratus atau sembilan puluh sembilan istri." Dari sini dapat dipahami, nabi Sulaiman juga memiliki kekuatan diatas rata-rata, sehingga mampu melayani para istrinya meski sangat banyak jumlahnya.

Nabi Daud adalah seorang yang zuhud (menjauhi dunia), dia makan dari kerja tangannya sendiri, dan dia juga memiliki sembilan puluh sembilan istri. Hal ini terdapat dalam kitab Allah,

Anas meriwayatkan bahwa Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, bersabda, "Aku lebih utama dari orang-orang dalam empat hal; kemurahan hati, keberanian, keintiman (dengan istri-istrinya) dan ketegasan dalam menghukum (untuk keridhaan Allah semata)."

(Sisipan Syeikh Darwish: Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, diutus dalam suatu masa dimana pada masa tersebut, memiliki empat puluh istri merupakan hal yang biasa. Hukum Islam mengurangi jumlah istri yang bisa dinikahi seorang laki-laki, yaitu maksimum empat istri, dengan persyaratan, ketika menikah lebih dari satu, wajib berlaku adil pada masing-masing istrinya, dan jika tidak mampu berbuat adil, seorang pria hendaknya hanya menikahi satu istri. Saat ini 99,99% perkawinan adalah monogami, sedangkan orang-orang Barat selama beberapa dekade terlibat dalam kencan, perselingkuhan dan seks bebas. Betapa menyedihkan, gaya hidup semacam itu ternyata telah diekspor ke internet untuk kalangan pemuda Muslim.)

Orang-orang cerdas biasanya memuji orang sesuai dengan pengaruhnya, dan lubuk hati mereka menghargai seseorang berdasarkan besarnya pengaruh mereka.

Di sisi lain, pengaruh juga menjadi penyebab banyak kemalangan, dan bagi sebagian manusia bisa membahayakan urusan akhiratnya. Karena alasan inilah, ada orang-orang yang mencela pengaruh dan memuji jika tidak mempunyai pengaruh. Hukum Islam lebih memuji orang yang tak mempunyai kedudukan daripada yang punya dan mencela orang-orang yang membanggakan diri di muka bumi.

 

Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, adalah pribadi yang penuh kesederhanaan. Cinta kepada baginda telah menembus jantung hati para Sahabat, serta meresap kedalam hati orang-orang lainnya, baik sebelum baginda menjadi nabi maupun sesudahnya, sekalipun dilubuk hati orang-orang yang mendustakan dan menyakiti baginda sekalipun dan kroni-kroni mereka serta siapapun yang mencoba membahayakan baginda secara sembunyi-sembunyi. Ketika baginda bertemu mereka, mereka menghormatinya, dan jika baginda meminta sesuatu, mereka memberikan permintaan baginda. Hadis yang berkaitan dengan fakta ini sudah diketahui umum.

Orang yang belum pernah melihat Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, akan tercengang dan terperanjat ketika pertama kali melihatnya. Hal serupa dilaporkan oleh Qaila, yang berkata bahwa ia mulai gemetar ketakutan ketika pertama kali melihat baginda, namun baginda segera menenangkannya dan secara lembut berkata, "Wahai wanita malang, kamu harus tenang."

Abi Mas'ud melaporkan, ada seorang laki-laki datang menghadap Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya. Ia mulai gemetaran dan baginda langsung membuatnya tenang serta berkata, "Tenanglah, sungguh aku bukanlah seorang raja."

Keberadaan Nabi Muhammad sebagai seorang nabi sungguh tak ternilai harganya, begitu pula kemuliaan kedudukan baginda yang menjadi seorang Utusan Allah. Semakin bertingkat-tingkat pangkat baginda dengan terpilih sebagai manusia terbaik dalam pandangan Allah, serta mendapat kemuliaan di dunia, sedang di akhirat menjadi junjungan semua anak turun nabi Adam.

 

 

SAHIH SHIFA

KESEMBUHAN

 

Seri ke-4

 

KESEMPURNAAN FISIK DAN PERILAKU

SERTA KEBERKATAN NABI MUHAMMAD

 

 

Karya

Hakim Agung Abulfadl Iyad

wafat tahun 1123M / 544H

 

Periwayat Hadis

Muhaddis Agung Hafiz Abdullah Bin Siddiq

 

Perevisi

 Muhaddis Abdullah Talidi

 

Adaptasi oleh

Abdi Hadis Syekh Ahmad Darwish (Arab)

Anne Khadeijah (Inggris)

Siti Nadriyah (Indonesia)

Zainab Haddad (Indonesia)

Copyright © 1984-2013 Allah.com Muhammad.com. Hak Cipta dilindungi.

 

Kebijakan Nabi Muhammad dalam berurusan dengan harta kekayaan

Kategori ketiga adalah yang bervariasi sesuai dengan situasi. Kebaikan dan keunggulannya berubah-ubah sesuai dengan keadaan, termasuk juga memiliki banyak kekayaan.

Orang yang berharta sering kali dipandang terhormat oleh orang-orang awam. Mereka mengira ia dapat memuaskan segala macam kebutuhan dan keinginan melalui kekayaannya itu. Padahal ini sebenarnya bukanlah suatu kebajikan.

Ketika seseorang memiliki kekayaan, dan menghabiskannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, serta menggunakannya untuk membantu orang-orang yang membutuhkan, maka pembelanjaan harta kekayaan tersebut membuatnya meraih kemuliaan, keutamaan dan patut untuk dipuji, hati manusia pun akan memandangnya sebagai kebaikan. Dengan begitu maka menjadi suatu kebajikan untuknya di mata orang-orang dunia.

Ketika seseorang menggunakan kekayaannya untuk urusan yang bermanfaat dalam agama, dan menghabiskan dalam amal guna mencari keridhaan Allah, dan untuk amal akhirat, maka menjadi sebuah kebajikan di mata setiap orang.

Adapun orang yang memilih untuk menahan kekayaannya, tidak peduli apakah itu sedikit atau banyak, menyalahgunakannya dan selalu ingin mendapatkan lebih banyak, maka hartanya telah menjadi penyebab aib, dan menjadi tak berharga, serta tak ada nilai kebajikannya. Ketika itu terjadi, kekayaan tidak membawa seseorang ke tingkat keselamatan, melainkan justru sebaliknya, menjadi sebuah keburukan dan akan melemparkan ke jurang kekikiran dan kehinaan.

Kekayaan dapat pula menjadi kebajikan yang patut dipuji. Tidak terletak pada berapa jumlahnya, melainkan terletak pada penggunaan yang tepat. Jika seseorang telah mengumpulkan banyak kekayaan, tetapi memanfaatkannya secara tidak benar, maka tidak patut disebut sebagai orang kaya, karenanya tidak sepantasnya memuji-muji orang tersebut. Para ulama menganggapnya sebagai orang melarat, dan tidak akan mampu menggapai harapan dan tujuan-tujuan hidupnya, karena tidak mampu mengendalikannya. Ia seperti petugas yang bertanggung jawab atas kekayaan milik orang lain, tapi ia sendiri tidak memiliki kekayaan, seolah-olah tidak memiliki apapun.

Mari melihat dari dekat cara Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, berhubungan dengan kekayaan. Ketika seseorang membaca kisah hidup baginda, terlihat bahwa baginda diberi harta karun dunia dan kunci perbendaharaan bumi.

Sebelum zaman baginda, harta rampasan perang telah diharamkan untuk para nabi mulia dan umat-umat mereka, namun Allah menghalalkan untuk Nabi Muhammad dan umatnya. Nabi Muhammad telah membuka Hijaz, Yaman, seluruh Arab serta daerah perbatasan Syria dan Irak. Baginda mengambil seperlima dari harta rampasan perang, zakat, serta pajak yang ditarik dari nonmuslim, dan raja-raja juga memberi baginda hadiah. Namun baginda tidak menyimpan kekayaan bagi dirinya sendiri, juga tidak menyimpan meski hanya satu koin untuk dirinya sendiri, baginda menghabiskan semuanya di jalan Allah. Baginda sangat murah hati dan telah memakmurkan masyarakat serta memperkuat umat Islam melalui pemanfaatan harta tersebut.

Baginda bersabda, "Aku merasa tidak senang jika ada dinar emas tersisa bersamaku semalaman, kecuali satu dinar yang kusisihkan untuk membayar hutang."

Mengenai hal-hal seperti pakaian, perumahan dan kesejahteraan, baginda sudah merasa puas dengan hanya sekedar yang diperlukan saja, dan tidak pernah meminta lebih. Baginda mengenakan pakaian apa saja yang ada, baik itu jubah, pakaian kasar, atau pakaian luar yang tebal. Ketika ada yang mengirimi jubah dari kain brokat atau kain bordiran, baginda bersedia memberikannya kepada siapapun yang ada di dekat baginda atau mengirimkannya kepada orang lain, karena bangga dan berhias bukanlah sifat orang-orang mulia dan terhormat yang dekat dengan Allah, akan tetapi termasuk diantara sifat-sifat perempuan.

Pakaian paling terpuji adalah yang bersih dan berkualitas sedang. Ketika seseorang memakai pakaian semacam itu, tidak akan mengurangi reputasinya, juga tidak menarik perhatian orang-orang, serta tidak dipermasalahkan dalam Hukum Islam. Penyebab utama orang suka bergaya adalah karena memamerkan kelebihan pakaian dan kekayaan mereka.

Demikian pula bangga dengan kemewahan, atau mempunyai rumah yang megah, atau memiliki banyak perabotan, pelayan dan hewan ternak. Namun, jika seseorang memiliki tanah, menanam dan memanennya, kemudian membatasi konsumsinya, serta membagi-bagikan keuntungannya kepada mereka yang membutuhkan, sebagai ungkapan rasa syukurnya kepada Sang Pencipta, maka orang itu telah memperoleh keutamaan dari harta miliknya. Sungguh terpuji perilaku berpaling dari kekayaan, begitu pula puas dengan yang sedikit, meskipun tidak ada yang tersisa setelah menghabiskan dengan cara yang benar.

Akhlak terpuji Nabi Muhammad

Pujian dan kesejahteraan atasnya

 

Beberapa sifat terpuji dan perilaku mulia bisa diperoleh dengan berusaha keras. Para ulama bersepakat bahwa orang yang memilikinya tentu berbudi luhur, meski hanya sedikit sifat dan perilaku terpuji yang dimilikinya akan menjadikannya sebagai orang yang layak dihormati. Hukum Islam memuji orang-orang tersebut, dan memerintah mereka tetap berperilaku terpuji serta menjanjikan mereka pahala dan kebahagiaan yang terus menerus. Beberapa sifat-sifat ini, digambarkan sebagai bagian dari sifat-sifat kenabian, namun umumnya dikenal sebagai "Akhlak yang baik". Akhlak yang baik terdiri dari kemampuan mengendalikan hawa nafsu dan tingkah laku yang seimbang, yang moderat dan tidak ekstrim.

Segala kesempurnaan akhlak terpuji telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya. Allah memuji kesempurnaan akhlak baginda dengan berfirman, "Dan sungguh engkau (Muhammad) benar-benar diatas budi pekerti yang luhur." (Al-Qalam,68:4).

Siti Aisyah, istri Nabi dan Ibu orang-orang beriman, semoga Allah meridhainya, menggambarkan akhlak terpuji Nabi seraya berkata, "Akhlak baginda adalah Al-Qur'an. Dia ridha dengan ridhanya Nabi dan marah dengan marahnya Nabi."

Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, bersabda, "Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia."

Sahabat Anas telah memperhatikan segala perilaku baginda dan berkata, "Rasulullah adalah manusia yang paling bagus akhlaknya." Ali bin Abi Thalib juga mengatakan hal yang sama.

Para ulama Islam bersepakat sifat-sifat mulia yang terdapat didalam diri baginda merupakan pembawaan asli sejak lahir. Tanpa berusaha dan tanpa belajar dari orang lain, baginda telah mempunyai sifat mulia tersebut. Baginda menerima karunia itu melalui kemurahan Penguasanya sebagai hadiah istimewa.

Sifat-sifat serupa juga ada pada diri nabi Isa, Musa, Yahya, Sulaiman, dan para nabi mulia lainnya. Telah muncul sifat-sifat mulia sejak masa kanak-kanak mereka, dan berlanjut serta bertambah kokoh pada masa kenabian mereka. Sifat-sifat mulia melekat dalam diri mereka sejak mereka diciptakan, dan mereka juga telah diberi pengetahuan dan kebijaksanaan.

Allah berbicara tentang Nabi Yahya seraya berfirman, "'Wahai Yahya, ambillah Al Kitab secara kuat dan Kami telah memberinya Hukum selagi masih kanak-kanak." (Maryam,19:12). Para ahli tafsir berkomentar, sejak kecil Nabi Yahya telah diberi ilmu pengetahuan tentang Kitab Allah Yang Maha Tinggi.

Allah berfirman, "yang membenarkan Kalimat dari Allah." (Ali-Imran,3:39)

Allah memberi Nabi Yahya pengetahuan tentang Kitab-Nya, semenjak beliau masih kanak-kanak.

Sewaktu masih dalam buaian ibunya, Nabi Isa telah berbicara dan berkata, "Sungguh aku penyembah Alllah. Dia memberiku Al-Kitab dan menjadikanku seorang nabi." (Maryam,19:30).

Tentang Nabi Sulaiman, Allah berfirman, "Maka Kami memahamkannya pada Sulaiman, dan masing-masing telah Kami berikan Hukum dan Pengetahuan." (Al-Anbiya',21:79).

Nabi Sulaiman telah dianugerahi kemampuan dalam bidang hukum, sejak beliau masih kanak-kanak. Menengok sejenak kisah terkenal seorang wanita yang hendak dirajam, serta kisah perebutan bayi, dimana Nabi Daud (ayah Nabi Sulaiman) sependapat dengan keputusan yang dibuat Nabi Sulaiman. Imam At-Tobari mengatakan Nabi Sulaiman berusia dua belas tahun ketika menjadi seorang raja.

Allah berfirman, "Kami benar-benar telah memberi Ibrahim kebenarannya dari sebelumnya, dan Kami mengetahui dia." (Al-Anbiya', 21:51). Mujahid dan para ahli tafsir menjelaskan bahwa Allah memberi petunjuk Nabi Ibrahim semenjak beliau masih sangat muda.

Saat masih kecil Nabi Yusuf dilemparkan ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya. Mengenai Nabi Yusuf, Allah berfirman, "Dan telah Kami wahyukan kepadanya, engkau benar-benar akan mengabari mereka dengan urusan mereka ini, sedang mereka tidak menyadari." (Yusuf,12:15)

Uraian diatas hanyalah sekelumit contoh, masih banyak contoh lainnya yang tidak dipaparkan.

Baginda bersabda, "Aku tidak tergoda dengan praktek-praktek yang ada di zaman jahiliyyah, kecuali pada  dua kesempatan, lalu Allah melindungiku dari keduanya, dan aku tidak pernah tergoda lagi. "

Semua nabi diberi kemampuan sempurna dalam mengendalikan urusan mereka. Keberkatan Allah meliputi mereka dan cahaya keimanan bersinar di hati mereka, sehingga memungkinkan mereka mencapai tujuan mereka. Mereka mampu menggapai tujuan, karena Allah telah memilih mereka untuk menjadi nabi-Nya, dan mengkaruniai mereka sifat-sifat mulia, yang mereka peroleh tanpa pengalaman atau latihan. Allah berfirman, "Dan ketika telah mencapai kedewasaannya dan matang pikiran, Kami memberinya Hukum dan Ilmu." (Al-Qasas,28:14).

Sebagian manusia, ada yang mempunyai pembawaan alami yang baik sejak lahir, namun biasanya hanya sedikit sifat mulia yang terdapat dalam dirinya. Orang yang terlahir dengan beberapa pembawaan yang baik, dengan mengharap pertolongan Allah, akan lebih mudah jika berusaha menyempurnakan sifat mulia tersebut. Bisa dilihat ada anak-anak yang diberi Allah bakat kepandaian, kejujuran, dan ada pula yang pemurah, dapat dipercaya, ataupun yang berperilaku bagus, namun juga ada yang memiliki sifat kebalikannya.

Dengan berusaha, berjuang keras dan berlatih secara langsung, akan dapat menutupi kekurangan seseorang, serta lebih menyempurnakan sifat-sifat mulianya. Ada perbedaan pendapat mengenai keadaan manusia yang biasanya lebih mudah kembali ke sifat aslinya. Para ulama generasi awal keislaman berbeda pendapat mengenai hal tersebut, apakah itu sifat yang melekat sejak lahir atau yang diperoleh dengan kerja keras. Imam Thobrooniy dan sebagian ulama lainnya berkata, "Akhlak yang baik itu melekat dan merupakan watak alami dalam diri para hamba Allah."

Sifat mulia dan akhlak terpuji sangat banyak macamnya. Yang dipaparkan disini hanyalah sebagian kecil saja, segala sifat yang mulia telah nyata terdapat didalam diri Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya.

Kecerdasan Nabi Muhammad ber akar dari etikanya yang mulia

Pengetahuan dalam segala bentuknya berasal pada akal pikiran. Akal pikiran merupakan sumber inti datangnya ilmu pengetahuan dan keimanan. Akal pikiran yang cerdas menghasilkan pemahaman yang tajam, persepsi yang jelas, pengamatan yang jeli, kebenaran pendapat, kesadaran untuk memilih yang terbaik, perjuangan keras melawan hawa nafsu, pengambilan keputusan yang tepat, pengaturan efektif, pencapaian kebajikan, dan pengelakan dari kejahatan.

Di bagian sebelumnya, telah nampak tanda-tanda kecerdasan dan kedalaman pengetahuan baginda yang luar biasa. Ilmu baginda tidak dimiliki manusia lainnya dan tidak akan ada yang pernah memilikinya. Siapapun yang memanfaatkan waktu guna meneliti sifat-sifat baginda, akan mengenali dan membuktikan betapa sempurna kebesaran pangkat baginda.

Umat manusia hendaknya bercermin pada kehidupan baginda, perkataan baginda yang penuh hikmah, dan pengetahuan baginda yang tidak hanya tentang isi Kitab Taurat, tetapi juga Kitab Injil yang diberikan kepada Nabi Isa yang telah hilang, pengetahuan tentang berbagai Kitab yang telah diwahyukan, kebijaksanaan orang-orang bijak, kemampuan membedakan kebenaran dari kepalsuan, sejarah bangsa-bangsa masa lampau serta pertempuran mereka, kemampuan menggunakan ungkapan sehari-hari yang beragam, kemampuan dalam administrasi, penetapan Hukum Islam, serta contoh sopan santun dan kebiasaan terpuji baginda yang tak tertandingi.

(Sisipan Syeikh Darwish: Silakan tarik perhatian anda pada fakta bahwa Perjanjian Baru yang ditemukan didalam kitab orang Kristen ternyata bukan kitab Injil yang telah diberikan Allah kepada Nabi Isa (Yesus), melainkan adalah ajaran Paul. Paul bukan murid maupun kawan Nabi Isa . Paul bertanggung jawab atas rusaknya kemurnian ajaran-ajaran Yesus yang mengajarkan bahwa Allah adalah Satu, Sendirian, Pencipta segala sesuatu, dan tidak mempunyai sekutu. Paul telah mengganti Keesaan Allah dengan konsep tiga tuhan dalam satu dan menyebutnya trinitas.)

Di berbagai cabang ilmu pengetahuan, para ulama meneladani perkataan dan apa yang dicontohkan Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, sebagai sebuah bukti, seperti dalam ilmu tafsir mimpi, ilmu pengobatan, tata cara pembagian warisan, garis keturunan, dan sebagainya. Insya Allah, lebih jelas lagi didalam bagian yang membahas mukjizat baginda.

Adalah sebuah fakta bahwa Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, tidak bisa baca tulis, sampai kemudian Allah melapangkan dada baginda, memudahkan urusan baginda dan memperjelas bukti-bukti kenabian baginda, serta mengajari dan membuat baginda mampu melantunkan Al-Qur'an padahal sebelumnya baginda tidak mengetahui hal tersebut.

Sifat kecerdasan terpuji baginda telah dicapai dengan tanpa pergi menuntut ilmu, juga tanpa belajar, berlatih, maupun membaca kitab-kitab yang terdahulu. Ketika seseorang membaca dan mempelajari sifat baginda secara mendalam, hingga pada bukti-bukti kenabian baginda, tak akan meragukan fakta tersebut.

Kecerdasan baginda menyebabkan baginda teguh dalam hal-hal yang diajarkan Allah kepada baginda. Baginda menjadi berpengetahuan luas tidak hanya tentang masa lalu, tetapi juga aneka peristiwa dimasanya maupun di masa depan, dan baginda menjadi tenggelam dalam kekaguman atas kekuasaan Allah dan kehebatan alam malaikat-Nya.

Allah berfirman, " Dan Allah telah menurunkan kepadamu Kitab dan Hikmah, dan mengajarkanmu apa yang tidak kamu ketahui. Dan adanya anugerah Allah atasmu sangat besar." (An-Nisa,4:113).

Ketika orang-orang cerdas berusaha mengamati luberan karunia yang dianugerahkan Allah kepada Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, sungguh membuat mereka terkagum-kagum. Lidah menjadi terdiam, tak mampu menggambarkannya apalagi memahaminya.

Kesantunan, kesabaran dan sikap pemaaf Nabi Muhammad

Pujian dan kesejahteraan atasnya

 

Diantara perilaku mulia baginda adalah santun, toleran, sabar dan pemaaf ketika diduga baginda akan menjatuhkan hukuman, serta kesabaran baginda menghadapi situasi yang sulit. Santun adalah kondisi ketenangan dan keteguhan hati ketika ada yang memprovokasi.

Toleran yaitu mampu memikul rasa sakit dan menahan diri ketika disakiti. Sedang sabar maknanya hampir sama. Sikap pemaaf berarti meninggalkan sikap menyalahkan dan mempertanyakan.

Semua sifat tersebut adalah karunia dari Allah kepada baginda. Allah berfirman, "Ambillah maaf, perintahkanlah kebiasaan baik, dan berpalinglah dari orang-orang bodoh." (Al-A'raf,7:199).

Ketika ayat ini diwahyukan kepada Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, baginda meminta kepada malaikat Jibril untuk menguraikan maknanya. Malaikat Jibril menjawab, "Tunggu sampai aku bertanya kepada Yang Maha mengetahui." Setelah kembali, Malaikat Jibril berkata, "Wahai Muhammad, sungguh Allah menyuruhmu agar memperbaiki hubungan dengan orang yang memisahkan diri darimu, dan memberi kepada orang yang antipati terhadapmu, serta memaafkan kepada orang yang berbuat dzalim kepadamu."

Allah juga menyampaikan kepada baginda seraya berfirman,

"Dan bersabarlah atas apa yang menimpamu, sungguh itu diantara penentuan hal." (Luqman,31:17).

"Maka bersabarlah sebagaimana para rasul yang mempunyai keteguhan hati telah bersabar dan janganlah meminta disegerakan bagi mereka. Pada hari mereka melihat apa yang dijanjikan seolah-olah mereka tidak tinggal melainkan sesaat pada siang hari. (Al-Qur’an ini) sebuah Penyampaian! maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik." (Al-Ahqof, 46:35)

"Dan hendaklah mereka memaafkan dan mengampuni, tidakkah kalian menyukai bahwa Allah mengampuni untuk kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (An-Nur,24:22).   

"Dan untuk siapa yang bersabar dan mengampuni, sungguh demikian itu benar-benar diantara penentuan hal." (Asy-Syura,42:43).

Manusia paling baik sekalipun pernah mengalami kekhilafan dalam hidupnya. Namun baginda tidak pernah mengalami kekhilafan. Kesabaran baginda didalam masa-masa yang sulit walaupun semakin menghebat, malah tampak makin jelas, dan ketika orang-orang yang ingkar mencoba segala cara untuk menyakiti dan membahayakan baginda, hanyalah meningkatkan kesabaran baginda.

Bunda Siti Aisyah, istri baginda sekaligus ibu orang-orang beriman, semoga Allah meridhainya, berkata, "Setiap kali Rasulullah diberi pilihan antara dua hal, baginda selalu memilih yang paling mudah dari keduanya, selagi itu bukan dosa. Jika itu adalah dosa, maka baginda adalah orang yang paling jauh dari dosa. Baginda tidak pernah membalas dendam, tetapi jika kehormatan Allah telah dilanggar, baginda akan membalas dendam demi Allah."

Ada suatu kejadian ketika gigi baginda patah dalam pertempuran Uhud. Cedera merambah hingga ke wajahnya. Para Sahabat benar-benar tak tahan melihat kondisi baginda, dan mereka berkata, "Seandainya saja engkau berdoa untuk melaknat mereka!" Namun Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, menjawab, "Sungguh aku tidak diutus untuk melaknat, akan tetapi aku diutus sebagai pengajak (kepada Allah) dan sebagai rahmat (belas kasih). Ya Allah! bimbinglah kaumku, sungguh mereka tidak tahu."

Berhenti sejenak dan perhatikanlah, kesempurnaan kasih sayang baginda, derajat penuh kebajikan (kesempurnaan luar dalam), keunggulan budi pekerti, kemurahan hati, kesabaran mutlak dan sikap toleran baginda dalam perkataan tersebut. Baginda menghadapi mereka tidak dengan kemarahan namun dengan memaafkan, menunjukkan kasih sayang dan belas kasih terhadap mereka, lalu mendoakan mereka dengan sebuah permohonan. Baginda memulai dengan kata-kata "bimbinglah", kemudian memberi maaf ketidaktahuan mereka dengan berkata, "sungguh, mereka tidak tahu."

Pada kesempatan yang lain, ada seorang lelaki menuduh baginda tidak adil dan berucap, "Berlaku adillah, ini adalah suatu pembagian yang tidak menghendaki Wajah Allah (ridho Allah)!" Jelas sekali ini pernyataan bernada provokasi, namun baginda menarik perhatian lelaki tersebut dalam cara yang sopan, dengan menegur dan mengingatkan seraya berkata, "Siapa yang akan adil jika aku tidak adil? sungguh aku akan gagal dan rugi jika tidak berlaku adil." Salah satu sahabat sangat marah dengan tuduhan orang itu, dan hendak memukulnya, tetapi Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, segera mencegah dan menghentikannya.

Ghourots bin Harits dan yang lainnya sedang membahas penyergapan di Dzaatur Riqo', dimana mereka berencana untuk membunuh Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya. Ketika mereka lewat dan menemukan baginda, mereka mendapati baginda sedang duduk di bawah sebuah pohon. Baginda tidak mencegah mereka semakin mendekat. Ghourots berdiri didepan baginda, dengan pedang terhunus di tangan, Ghourots berkata, "Siapa yang akan melindungimu dariku!" Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, menjawab, "Allah" lalu pedang terjatuh dari tangan Ghourots, kemudian Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, mengambilnya dan berkata, "Siapa yang akan melindungimu dariku?" Ghourots menjawab, "Hukumlah saya dengan cara yang baik", lalu Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, meninggalkannya dan telah memaafkannya. Ketika Ghouroth kembali ke sukunya, ia berseru, "Aku datang kepada kalian dari sisi manusia terbaik!"

Setelah penaklukan Khaibar, seorang wanita Yahudi meracuni daging yang telah ia siapkan untuk Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya. Daging tersebut kemudian berbicara kepada baginda dan memberitahu bahwa ada racun didalamnya. Wanita Yahudi itu akhirnya mengakui perbuatannya. Baginda memaafkan dan tidak menghukum wanita tersebut.

Seorang Yahudi yang pandai ilmu sihir bernama Labid bin A'som, telah didekati sesama orang Yahudi supaya meramu mantera yang mematikan guna membunuh Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya. Namun, para malaikat memberitahu baginda tindakannya tersebut, dan penyembuhan diturunkan kepada baginda. Setelah pulih dan kekuatan baginda telah kembali, Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, tidak menegur maupun menghukum Labid.

Abdullah bin Ubay termasuk di antara orang munafik Madinah, sepak terjangnya bersama orang munafik lainnya kerapkali merupakan pelanggaran yang serius, ditambah dengan hal-hal membahayakan yang mereka lakukan terhadap Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, namun baginda tidak mengambil tindakan menghadapi mereka. Bahkan ketika seorang Sahabat yang geram menyarankan, agar salah satu dari mereka hendaknya dihukum mati, baginda memandangnya seraya berkata, "Tidak, jangan sampai dikatakan bahwa Muhammad membunuh para Sahabatnya."

Sahabat Anas ingat suatu kejadian ketika beliau bepergian dengan Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya. Baginda tengah mengenakan mantel tebal ketika seorang Badui menunggang naik dan menarik keras-keras jubah baginda hingga meninggalkan tanda di leher samping baginda. Si Badui berkata, "Wahai Muhammad, aku akan memuati dua untaku ini dengan harta Allah yang ada padamu, sungguh engkau tidak memuatkan untukku dari hartamu dan harta ayahmu." Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, diam sejenak lalu berkata, "Ini adalah harta Allah dan aku hamba-Nya." Baginda melanjutkan, "dan dituntut daripadamu wahai Badui apa yang telah kau lakukan kepadaku." Badui berucap, "Tidak" lantas Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, bertanya "Kenapa tidak?" Badui menjawab, "Karena sungguh engkau tidak membalas perbuatan buruk dengan perbuatan buruk!" Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, tertawa, kemudian menyuruh agar unta yang satu dimuati dengan gandum, sedang yang lainnya dengan kurma.

Bunda Siti Aisyah berkata, "Saya sama sekali tidak pernah melihat Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, membalas ketidakadilan yang ditimpakan kepada baginda, selagi itu bukan termasuk melanggar kehormatan hak-hak Allah. Tangan baginda tidak pernah memukul sesuatu kecuali selama Perang Suci dijalan Allah, dan baginda tidak pernah memukul seorang pembantu maupun seorang wanita."

Suatu hari seorang laki-laki dibawa ke hadapan Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan baginda diberitahu, "Orang ini ingin membunuhmu!" Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, berkata kepadanya, "Janganlah takut! sekiranya kamu menginginkan itu, kamu tidak dikuasakan atasku."

Sebelum masuk Islam, Zaid bin Su'nah adalah seorang Yahudi. Ia pergi ke Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan menuntut pengembalian hutang. Zaid merenggut pakaian baginda dan menariknya dari bahu baginda, lalu menggeledah seluruh pakaian baginda serta berperilaku kasar kepada baginda, sambil mengatakan, "Wahai anak-anak Abdul Mutholib, kalian mengulur-ulur waktu!" Maka Umar bangkit dan mengusirnya sambil berbicara secara keras kepada Zaid. Baginda tersenyum dan berkata, "Wahai Umar, bukan sikap ini yang aku dan dia perlukan baik darimu. Suruhlah aku bagus dalam membayar dan suruhlah ia bagus dalam menagih." Kemudian baginda berkata, "Sisa hutangku kepadanya masih ada tiga." Dengan patuh dan hormat, Umar menyuruh bahwa Zaid hendaknya dilunasi dan ditambahkan kepadanya dua puluh takaran lebih disebabkan apa yang (kau lakukan tadi) telah menakutkannya. Karena inilah, Zaid lantas masuk Islam dan berkata, "Di antara tanda-tanda kenabian baginda, ada dua yang belum kulihat didalam diri baginda, yaitu bersikap santun ketika bertemu seseorang yang berwatak keras dan sikap bodoh (jahil) yang ditujukan kepada baginda malah lebih meningkatkan kesantunan baginda. Saya telah menguji baginda dalam dua hal tersebut, dan menemukan keduanya terdapat didalam diri baginda sebagaimana telah disifatkan didalam Kitab Taurat."

Uraian diatas hanyalah sebagian contoh dari sekian banyak perkataan kenabian yang menggambarkan sifat baginda yang toleran, sabar dan pemaaf. Bila ingin mempelajari lebih lanjut nilai-nilai mulia ini, bisa ditemukan didalam berbagai referensi yang mengupas perkataan kenabian (hadis) sahih beserta rantai perawinya (sanad). Semua menceritakan betapa dengan penuh kesabaran baginda menangani kekerasan, kesulitan dan cedera yang ditimpakan kepada baginda oleh orang-orang Quraisy, dalam masa yang dikenal sebagai "Zaman Jahiliyyah (Kebodohan)", dan kemudian Allah memberi baginda kekuasaan atas mereka, dengan membuat baginda meraih kemenangan.

Orang-orang Quraisy tetap keras kepala, meskipun menyadari mereka tidak akan menang, dan pemimpin mereka pun telah tiada. Namun Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, terus menerus memaafkan, dan mengabaikan tindakan jahat mereka. Baginda bertanya kepada mereka, "Apa yang kalian katakan tentang yang akan aku lakukan terhadap kalian sekarang?" Mereka menjawab, "Engkau baik hati, saudara yang mulia, dan sepupu yang mulia." Kemudian baginda berkata seraya mengutip ucapan Nabi Yusuf kepada saudara-saudaranya yang berbuat salah. ""Tidak ada celaan atas kalian hari ini." (Yusuf,12,92) Pergilah, kalian bebas."

Sahabat Anas bertutur, "Pada saat sholat Subuh, delapan orang dari Tan’im iasg berniat membunuh Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya. Mereka telah tertangkap tetapi Rasulullah membebaskan mereka. Allah menurunkan ayat, “dan Dia yang menahan tangan-tangan mereka darimu ….” (Al-Fath,48:24).

Abu Sufyan dan teman-temannya bertanggung jawab atas terbunuhnya Hamzah, paman Nabi, serta sejumlah banyak para Sahabat Nabi. Namun baginda memaafkannya. Kelembutan baginda tampak dalam kata-kata baginda ini,

“Wahai Abu Sufyan! Bukankah tiba waktunya bagimu mengetahui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah?” Abu Sufyan menjawab, “Demi ayahku, engkau, dan ibuku! Betapa toleran engkau, betapa engkau memelihara ikatan kekerabatan, betapa mulianya engkau!”

Fakta menunjukkan bahwa baginda adalah orang yang paling lambat marahnya dan paling cepat meridhai daripada semua manusia.

Kemurahan dan kedermawanan Nabi Muhammad

Pujian dan kesejahteraan atasnya

 

Kebajikan, kemuliaan, kedermawanan, dan toleransi mempunyai makna berdekatan, namun masing-masing memiliki makna lebih dalam dari yang terlihat, malah mungkin terbagi dalam beberapa cabang. Sebagai iasg, dikatakan bahwa kebajikan yaitu menginfakkan hal-hal yang penting dan berguna dengan senang hati, disebut juga keberanian, sedang kebalikannya adalah kehinaan. Adapun kemuliaan contohnya adalah dengan senang hati membebaskan orang dari hutang mereka, merupakan kebalikan dari kerendahan. Sedang kedermawanan adalah berinfak tanpa hitungan dan menjauhi memperoleh sesuatu yang tidak terpuji. Lawannya adalah kikir. Sifat-sifat mulia tersebut terdapat didalam diri Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya. Tidak ada seseorang dan tidak akan pernah ada seorang pun yang setara dengan baginda dalam sifat-sifat tersebut. Tak seorang pun yang pernah bertemu dengan baginda, kemudian ia menggambarkan baginda dalam sifat yang sebaliknya.

Jabir bin Abdullah berkata, “Tidak pernah baginda diminta sesuatu kemudian berkata ‘tidak’.”

Berkaitan dengan pemberian hadiah, Ibnu Abbas memberitahu bahwa baginda adalah manusia paling pemurah, dan kemurahan baginda semakin bertambah selama bulan Ramadhan. Ketika Malaikat Jibril menemui baginda, baginda menjadi lebih pemurah daripada angin yang bertiup.

Sahabat Anas berkisah tentang seorang laki-laki yang mendatangi baginda dan meminta baginda memberikan sesuatu kepadanya. Baginda memberikan kepadanya sekumpulan domba yang sedang merumput di antara dua gunung. Sekembalinya orang itu ke iasg halamannya, ia berseru, “Jadilah kalian orang Islam! Muhammad iasg hadiah orang yang tidak takut kemiskinan!”

Banyak orang yang telah baginda beri seratus unta. Untuk Sofwan, mula-mula baginda iasg seratus unta, kemudian memberinya lagi seratus. Sifat pemurah baginda sangat terkenal, bahkan sebelum diutus menjadi Nabi. Waroqoh bin Naufal berkata kepadanya, “Engkau menanggung orang yang tidak berdaya dan mengenyangkan fakir miskin.”

Setelah kekalahan suku Hawazin, baginda bukannya mempertahankan enam ribu tawanan (termasuk wanita dan anak-anak didalamnya), namun menyerahkan mereka semuanya ke suku mereka. Baginda iasg Abbas begitu banyak emas, sampai-sampai tidak ias dibawanya.

Suatu hari, seorang lelaki iasg dan meminta suatu pemberian dari baginda. Saat itu baginda tidak mempunyai sesuatu pun yang ias diberikan kepadanya, namun baginda tidak membiarkan lelaki itu kembali dengan tangan kosong dan berkata, “Tidak ada sesuatu pun disisiku, akan tetapi, belilah sesuatu atas namaku, aku akan membayarnya ketika telah mendapatkan uang.” Umar yang ada disitu berkata, “Allah tidak memaksa engkau melakukan apa yang engkau tidak kuasa atasnya.” Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, tidak condong pada ucapan Umar, lalu seorang laki-laki Ansor berkata, “Ya Rasulullah, infakkanlah! Jangan takut sebuah pengurangan dari Pemilik Singgasana!” Kemudian baginda tersenyum dan tampak kegembiraan di wajah baginda. Kemudian baginda berkata, “Dengan inilah aku telah diperintahkan.”

Anas menuturkan bahwa Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, tidak pernah menyimpan sesuatu untuk hari esok.

Berita tentang kemurahan dan kedermawanan baginda sangat banyak sekali. Baginda tidak pernah menolak permintaan siapapun, sampai tak ada lagi yang ias diberikan.

Keberanian dan kegagahan Nabi Muhammad

pujian dan kesejahteraan atasnya

 

Keberanian dan kegagahan adalah dua sifat utama yang tampak didalam diri Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya. Keberanian yaitu kebajikan yang dikendalikan oleh kecerdasan dan kebijaksanaan untuk melakukan hal yang benar tanpa takut akan hasilnya. Kegagahan adalah kekuatan mengatasi rasa takut saat menghadapi bahaya, dimana merupakan sebuah kebajikan terpuji. Contohnya orang yang tetap tak gentar menghadapi musuh yang lebih banyak jumlahnya dalam suatu peperangan, meskipun kemungkinan besar dirinya akan terbunuh.

Seseorang menanyai Baroo’, “Apakah ada diantara kalian yang lari dari Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, pada waktu perang Hunain?” Barro’ menjawab, “Tetapi Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, tidak lari. Saya melihat baginda di atas baghal putih sedang Abu Sufyan memegang tali kekangnya, dan Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, bersabda, ‘Aku nabi tidak berbohong, aku putra Abdul Mutholib’.”

Abbas terdengar mengatakan, “Ketika orang-orang Islam dan kafir berhadapan, kaum muslimin berbalik mundur. Aku berusaha mengerem tali kekang baghal baginda, supaya tidak tidak buru-buru ke depan, sementara Abu Sufyan berjalan cepat disisi pelana baginda, saat Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, berseru, ‘Wahai kaum Muslimin!”

(Sisipan Syeikh Darwish: Ada banyak sekali kejadian ketika Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, bertemu situasi yang berbahaya, bagaimanapun, baginda tidak pernah mundur, namun tetap teguh dalam berbagai keadaan, bahkan ketika para Sahabatnya yang paling pemberani dan ksatria sekalipun telah mundur. Sekali memutuskan maju, baginda tidak pernah terlihat mundur maupun goyah. Dalam sejarah umat manusia, tak pernah ada orang yang begitu pemberani seperti baginda)

Ibnu Umar berkata, “Aku belum pernah melihat ada yang lebih berani, dan lebih bergegas untuk melindungi, lebih pemurah, lebih mudah meridhai dan lebih baik daripada Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya.”

Ali berkata, “Kami ada disana, ketika ketakutan memuncak, dan keadaan sekeliling semakin mengganas, kami mengkhawatirkan Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, namun tidak ada seorangpun yang lebih dekat pada musuh daripada baginda. Kami telah melihat baginda pada waktu perang badar, saat kami berada dibelakang baginda. Baginda yang paling dekat dengan musuh, dan baginda lah yang paling pemberani pada saat itu.”

Anas berkata, “Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, adalah manusia yang paling bagus, paling dermawan dan paling pemberani.

Suatu malam, penghuni kota Madinah dicekam ketakutan. Sebagian penduduk lalu pergi mencari penyebab gangguan. Tetapi Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, sudah pergi dalam pencarian sebelum mereka diatas kuda Abu Tolchah yang tak berpelana untuk menemukan penyebab gangguan, dengan pedang yang melingkar di leher, kemudian baginda bertemu mereka dalam perjalanan kembali dan berkata, “Kalian tidak akan ketakutan.”

Ubay bin Kholaf menjadi tawanan pada Perang Badar, dan kemudian ditebus, tetapi bukannya bersyukur malah berhasrat membalas dendam. Dengan penuh kebencian ia mengancam Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, “Aku punya kuda yang tiap hari kuberi makan jagung yang cukup. Aku akan membunuhmu ketika menungganginya!” Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, menjawab, “Jika Allah menghendaki, aku akan membunuhmu.”

Pada perang Uhud, kesempatan muncul dengan sendirinya. Ubay berteriak, “Di mana Muhammad? Semoga aku tidak selamat jika dia selamat!” Ketika Ubay melihat Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, ia cepat-cepat memacu kudanya iasg baginda. Beberapa kaum Muslimin berusaha menghentikannya supaya tidak ias mendekati baginda, namun baginda berkata, “Biarkan dia”. Baginda mengambil tombak Harits, lalu menggoncang-goncangkan tombak tersebut dengan goncangan yang membuat para Sahabat disekitarnya berhamburan menjauh, seperti berhamburnya lalat dari punggung unta ketika berguncang. Baginda menghadapi Ubay dengan hanya sedikit menggores leher Ubay dengan ujung tombak tersebut. Ubay lalu kehilangan keseimbangan serta terpelanting dari kudanya. Baginda tidak mengambil tindakan lebih jauh. Ubay kembali menaiki kudanya menuju ke perkemahan sambil berteriak, “Muhammad telah membunuhku!” Mereka yang ada disekitarnya berkomentar, “Kamu terlihat baik-baik saja!” Ubay menjawab, “Seandainya semua manusia bersamaku, dia pun mampu membunuh mereka semua!” “Bukankah dia telah berkata, ‘Aku akan membunuhmu’” “Demi Allah, seandainya dia meludah ke arahku, air liurnya pun akan membunuhku.” Tak lama setelah Ubay kembali ke Mekah, ia meninggal dunia di suatu tempat bernama Sarif.

Sifat malu Nabi Muhammad serta penundukan pandangan

Baginda mempunyai sifat pemalu yang tiada tandingannya, ini merupakan salah satu akhlak sangat terpuji yang terdapat dalam diri baginda. Perasaan malu adalah hal yang menyebabkan seseorang menundukkan wajah dari suatu kejadian disaat sesuatu yang tidak disukai terjadi, atau membiarkan sesuatu terjadi ketika lebih baik untuk tidak menindaknya. Penundukan pandangan adalah menahan mata dari segala sesuatu yang tidak patut dipandang ataupun sesuatu yang menggoda.

Dari semua orang, baginda adalah orang yang paling unggul sifat malunya, dan selalu menahan mata dari memandang aurat orang lain. Allah berfirman, “Hal itu adalah menyakiti Nabi, maka dia merasa malu dari kalian. Sungguh Allah tidak malu dari kebenaran.” (Al-Azhab 33,53)

Mengomentari sifat pemalu baginda, Abu Said Al Khudri berkata, “Adalah Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, lebih besar perasaan malunya daripada perawan yang dipingit. Ketika baginda tidak menyukai sesuatu, kami ias mengenalinya di wajah baginda.”

Baginda mempunyai perasaan yang sangat halus dan sangat peka. Perasaan malu dan kemurahan hati baginda telah mencegah baginda untuk mengatakan atau memikirkan segala sesuatu yang tidak suka didengar orang.

Bunda Siti Aisyah, Ibu orang-orang beriman, semoga Allah meridhainya, berkata, “Ketika Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, mendengar sesuatu yang tidak disukainya tentang seseorang, baginda tidak mengatakan, ‘tidak sepatutnya fulan berkata seperti itu?’ tetapi, baginda berkata, ‘Tidak sepatutnya suatu kaum berbuat atau berkata seperti itu?’ baginda melarang menyebut nama orang yang telah melakukannya.”

Anas berkisah tentang suatu kejadian ketika seorang lelaki iasg kepada baginda. Ada bekas kekuning-kuningan pada lelaki itu, namun baginda tidak mengatakan sesuatu pun kepadanya, karena baginda tiada biasa mengucapkan sesuatu yang tidak disukainya. Ketika lelaki itu telah pergi, baginda meminta salah satu sahabatnya supaya meminta lelaki itu membasuhnya atau menghilangkannya.

Bunda Aisyah memberitahu bahwa baginda tidak kasar perangainya serta tidak kasar tutur katanya. Baginda tidak pernah berteriak di pasar, dan tidak pernah membalas keburukan dengan keburukan, namun memaafkan dan mengabaikannya.

Abdullah bin Salam dan Abdullah bin Amr, yang memiliki pengetahuan luas tentang kitab Taurat, berkomentar bahwa didalam Taurat disebutkan, sifat-sifat tersebut akan ditemukan dalam diri Nabi terakhir yang diutus (yaitu Nabi tercinta kita, Nabi Muhammad).

Persahabatan, pergaulan dan watak Nabi Muhammad yang bagus

Sopan santun baginda dalam pergaulan telah dilaporkan oleh banyak orang. Tata ias baginda yang sangat mengagumkan ditambah dengan wajah yang ceria pada setiap orang, adalah diantara kelebihan baginda.

Sahabat Ali mengomentari sifat Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, seraya berkata, “Baginda adalah manusia yang paling lapang dada, paling benar lisannya, paling halus wataknya, dan paling bagus dalam bergaul.

Allah berfirman,

“Maka dengan sebab rahmat dari Allah, engkau (Muhammad) berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Seandainya engkau kasar iasg hati, tentu mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Ali-Imran,3:159)

“Dan tidaklah sama kebaikan dan keburukan. Tolaklah dengan cara yang paling bagus.” (Fussilat,41:34).

Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, tidak pernah menolak permintaan seseorang. Walaupun hanya menerima hadiah sebuah kaki kambing, baginda tetap senantiasa bersyukur, dan baginda mendoakan si pemberi untuk membalas kebaikan tersebut.

Sahabat Anas berkata: “Aku telah mengabdi pada Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, selama sepuluh tahun. Baginda sama sekali tidak pernah berkata “Uh!” kepadaku. Ketika aku telah berbuat sesuatu hal, baginda tidak pernah mengatakan, “Mengapa kamu melakukannya?” sedang untuk sesuatu yang tidak kulakukan, baginda tidak pernah berkata, “Mengapa kamu tidak melakukannya?”

Jarir bin Abdullah berkisah tentang baginda, “Semenjak aku masuk Islam, Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, tidak pernah menjauhkan dirinya dariku, dan setiap kali melihatku baginda selalu tersenyum.”

Baginda berkumpul dan bersenda gurau dengan para Sahabatnya, serta bermain dengan anak-anak mereka. Baginda bahkan mengijinkan mereka masuk dan duduk di kamar baginda. Baginda memenuhi undangan siapapun, baik itu orang merdeka, pembantu laki-laki atau perempuan maupun orang miskin. Baginda menengok orang sakit, meski mereka tinggal di pinggiran kota, dan menerima iasg siapapun yang berhalangan melakukan sesuatu.

Anas berkata, “Setiap kali seseorang berbicara di telinga Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, baginda tidak pernah menggeserkan kepala baginda, sampai orang tersebut yang menggeserkan kepala lebih dulu. Ketika seseorang menjabat tangan baginda, baginda tidak pernah menjadi orang pertama yang melepaskan jabatan tangan tersebut.

Pada waktu berjumpa seseorang, baginda-lah yang lebih dahulu mengucapkan salam dan yang pertama kali menjabat tangan para Sahabatnya. Baginda memuliakan orang yang bertamu kepadanya, seringkali baginda membentangkan jubahnya serta menawarkan alas duduknya kepada tamunya, dan baginda bersikeras kepada tamunya jika tamunya merasa segan, supaya menerima ajakannya. Baginda iasg gelar yang indah kepada para Sahabatnya, dan memanggil dengan nama favorit mereka sebagai penghormatan pada mereka.

Abdullah bin Haris berkata: Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih murah senyum daripada Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya.

Sahabat Anas mengungkap kisah para pembawa air Madinah, untuk mencari keberkahan, mereka mendatangi Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, dengan wadah berisi air pada pagi hari, dan baginda mencelupkan tangan baginda ke dalam wadah mereka, meski saat itu cuaca sangat dingin.

 

SAHIH SHIFA

KESEMBUHAN

 

Seri ke-5

 

KESEMPURNAAN FISIK DAN PERILAKU

SERTA KEBERKATAN NABI MUHAMMAD

 

 

Karya

Hakim Agung Abulfadl Iyad

wafat tahun 1123M / 544H

 

Periwayat Hadis

Muhaddis Agung Hafiz Abdullah Bin Siddiq

 

Perevisi

 Muhaddis Abdullah Talidi

 

Adaptasi oleh

Abdi Hadis Syekh Ahmad Darwish (Arab)

Anne Khadeijah (Inggris)

Siti Nadriyah (Indonesia)

 

Copyright © 1984-2013 Allah.com Muhammad.com. Hak Cipta dilindungi.

Rahmat dan kasih iasg Nabi Muhammad

Pujian dan kesejahteraan atasnya

 

Allah berfirman, “Sungguh telah iasg kepadamu seorang Rasul (Utusan Allah) dari dirimu sendiri, menyedihkan atasnya apa yang kamu derita, sangat mencemaskan (keselamatan) atasmu, lemah lembut lagi penyayang pada orang-orang beriman.” (At-Taubah,9:128)

“Dan Kami tidak mengutusmu, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (Al-Anbiya’,21:107).

(Sisipan Syeikh Darwish: Allah telah membuat watak lemah lembut, kepedulian dan belas kasih Nabi Muhammad, meliputi setiap iasg ciptaan-Nya. Termasuk juga bagian dari keunggulan Nabi adalah bahwa Allah menghiasi baginda dengan dua dari Nama-nama Nya ketika Dia berfirman, “Paling belas kasih lagi penyayang.” (At-Taubah,9:128).)

Sofwan berkata, “Demi Allah, baginda telah memberiku apa yang baginda berikan kepadaku. Bagiku baginda adalah makhluk yang paling kubenci, tetapi baginda masih saja iasg kepadaku, sehingga baginda menjadi makhluk yang paling kucintai.”

Diantara rahmat dan kasih iasg baginda pada umat adalah selalu berusaha membuat segala sesuatu menjadi ringan dan mudah bagi mereka. Ketidaksukaan baginda pada sesuatu adalah karena baginda khawatir hal tersebut akan menjadi kewajiban bagi umat baginda. Seperti tampak dalam perkataan baginda ini, “Sekiranya bukan karena rasa kasihan pada umatku, sungguh aku akan memerintah mereka menggunakan siwak setiap kali mereka berwudhu.”

(Siwak disebut juga miswaak atau kayu siwak yaitu ranting pembersih gigi higenis dari pohon Arak, Peelu atau Persica Salvadora. Sekarang banyak tersedia di pasaran pasta gigi yang mengandung siwak tetapi kebanyakan dari mereka lupa mengatakan bahwa ide tentang siwak iasg dari  baginda, misalnya Perusahaan besar Eropa SIGNAL yang mengadoptasi siwak pada produk mereka tapi tidak iasg tanda jasa pada baginda).

Yang dimaksud dengan ‘umatku’ merujuk pada semua orang yang mengikuti Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, yang sezaman dengan baginda dan juga yang iasg setelah zaman baginda sampai Hari Kiamat.

Belas kasih dan kepedulian pada umat selanjutnya iasg pada jumlah waktu yang baginda habiskan disepanjang malam untuk beribadah, dan baginda juga melarang untuk berpuasa wishol (puasa terus menerus tanpa berbuka dan tanpa sahur). Adapun iasg baginda tidak menyukai masuk ke ruangan didalam Kabah adalah karena khawatir hal itu akan menjadi kewajiban atas umat sehingga melelahkan mereka.

Ketika mendengar seorang anak menangis tersedu-sedu, baginda pun mempersingkat solat dengan membaca-surah-surah yang pendek bacaannya.

Belas kasihnya yang penuh kelembutan, terlihat jelas ketika baginda berdoa kepada Allah seraya berucap, “Setiap kali ada seseorang yang kumaki dan kulaknat, jadikanlah hal itu baginya sebagai zakat, rahmat, doa, dan penyucian, serta sebagai kedekatan yang mendekatkannya kepada-Mu pada Hari Kiamat.”

Bahkan ketika orang-orang kafir mendustakan baginda, baginda tetap berbelas kasih kepada mereka, meski Malaikat Jibril iasg kepada baginda dan berkata, “Sungguh Allah telah mendengar ucapan kaummu kepadamu, dan penolakan mereka terhadapmu. Dia telah memerintahkan Malaikat Pegunungan supaya engkau menyuruhnya dengan apapun yang engkau kehendaki sehubungan dengan pendustaan mereka.” Kemudian Malaikat Pegunungan menyapa baginda dan berucap salam kepada baginda seraya berkata, “Suruhlah saya dengan apapun yang engkau kehendaki. Jika engkau menghendaki, saya akan menjepit mereka di antara dua gunung Mekah.” Dalam lemah lembut, baginda menjawab, “Yang aku harapkan adalah agar Allah mengeluarkan dari tulang punggung mereka, orang-orang yang menyembah Allah sendirian, dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.

Siti Aisyah, Ibu orang-orang beriman, semoga Allah meridhainya, menegaskan bahwa setiap kali diberi pilihan antara dua hal, baginda selalu memilih yang lebih mudah dari keduanya.

Ibnu Mas’ud berkomentar, “Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, sangat berhati-hati ketika memperingatkan kita, karena baginda khawatir hal tersebut mungkin melelahkan kita.”

Suatu hari, Siti Aisyah, semoga Allah meridhainya, menunggang unta yang membandel, lalu dengan lemah lembut Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, berkata kepadanya, “Engkau hendaknya berbelas kasih.” (supaya orang lain ikut berbelas kasih terhadap hewan)

Nabi Muhammad senantiasa memelihara janji dan tali silaturahmi

Sahabat Anas menceritakan tentang hadiah yang diberikan kepada Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan baginda berkata, “Pergilah dengan hadiah itu ke rumah fulanah, dia adalah teman Khodijah dan dia benar-benar mencintai Khodijah.”

Bunda Siti Aisyah, semoga Allah meridhainya, berkata, “Ketika Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, menyebut-nyebut Khodijah, aku merasa tidak ada satupun wanita pun yang lebih beruntung daripada dia. Apabila baginda menyembelih seekor domba, baginda mengirimi teman-teman Khodijah dan ketika saudarinya minta izin untuk masuk, baginda senang bertemu dengannya. Suatu hari seorang wanita iasg kepada baginda, baginda sangat bersuka cita menyambutnya, dan bertanya yang baik-baik tentang Khodijah, dan saat wanita itu telah pergi, baginda berkata, ‘ia sering iasg kepada kami ketika Khodijah masih hidup. Memelihara janji (yakni persahabatan, atau berbuat baik kepada orang-orang yang disayangi orangtua ataupun keluarga kita yang lain) ialah bagian dari keimanan’.”

Baginda berkata, “Sungguh keluarga bani fulan, bagiku mereka bukanlah orang-orang yang menolong, melainkan bahwasanya ada pertalian keluarga dengan mereka, jadi aku memeliharanya dengan bersilaturrahmi.”

Salah satu iasg baginda yang bernama Siti Zainab, mempunyai anak perempuan bernama Umamah. Baginda biasa memanggul Umamah diatas pundaknya. Pada saat bersujud baginda meletakkannya dan ketika berdiri baginda memanggulnya lagi.

Amr bin Sa’ib berkata, “Suatu hari, ketika Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, sedang duduk, ayah susu baginda iasg kepada baginda, lalu untuk dia baginda membeber sebagian pakaiannya, dan dia pun duduk diatasnya. Setelah itu, ibu susu baginda iasg, kemudian untuknya baginda membeber sisa sebagian pakaiannya disisi samping yang lain, jadi wanita tersebut duduk diatasnya. Sesudah itu, iasg saudara susu baginda, maka Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, berdiri lalu mempersilahkannya duduk didepan baginda.”

Setelah Malaikat Jibril membawakan Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, Wahyu pertama, baginda terguncang dan kembali kepada istrinya Siti Khodijah, semoga Allah meridhainya, yang segera menghibur baginda, dan iasg kesaksian untuk keluhuran budi pekerti baginda seraya berkata, “Berbahagialah! Demi Allah! Allah tidak akan membuatmu bersedih selamanya, sungguh engkau memelihara tali silaturahmi, meringankan beban orang yang butuh, membantu para fakir miskin, menjamu tamu, dan menolong orang untuk mendapatkan hak mereka.” (diriwayatkan didalam Sahih Muslim)

Kerendahan hati Nabi Muhammad

Pujian dan kesejahteraan atasnya

 

Meski Allah telah mengangkat baginda pada kedudukan dan derajat tertinggi, baginda tetap sangat rendah hati; sedikitpun tidak ada kebanggaan yang tampak didalam diri baginda. Buktinya adalah ketika ditawari pilihan antara menjadi seorang nabi dan raja, atau menjadi seorang nabi dan hamba, baginda memilih pilihan yang terakhir.

Kerendahan hati baginda semakin terlihat ketika bapak Umamah memberitahu, “Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, keluar dari kami dengan bertumpu pada sebuah tongkat, maka kami berdiri untuknya, tetapi baginda berkata, “Janganlah kalian berdiri sebagaimana orang-orang Persia dan Romawi berdiri karena mengagungkan sebagian mereka pada sebagian yang lain.”

Tentang dirinya, baginda berkata, “Aku seorang hamba. Aku makan sebagaimana seorang hamba makan, dan aku duduk sebagaimana seorang hamba duduk.”

Baginda tidak pernah merasa gengsi untuk mengunjungi para fakir miskin dan duduk bersama-sama mereka, dan tidak pernah enggan menerima ajakan seorang pembantu. Ketika tengah mengendarai keledai, baginda selalu siap sedia untuk berbagi tunggangan dengan orang lain, dan membonceng di belakang baginda. Baginda duduk dengan para Sahabatnya, berbaur dengan mereka, dan tidak pernah memilih-milih tempat dimana baginda duduk.

Umar memberitahu bahwa Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, bersabda, “Janganlah memuji berlebihan kepadaku sebagaimana orang-orang Nasrani memuji berlebihan putra Maryam. Sesungguhnya aku seorang penyembah, jadi kalian berkatalah, ‘penyembah Allah dan Utusan-Nya’.”

Baginda tidak pernah menghindari seseorang. Mengenai hal ini, Anas menceritakan kisah seorang wanita tidak waras, yang bertemu dengan baginda. Wanita itu berkata, “Aku butuh sesuatu darimu.” Baginda tidak berpaling darinya namun berkata, “Duduklah wahai ibu fulan di jalan kota mana saja yang anda kehendaki, aku akan duduk bersama anda sampai kebutuhan anda terpenuhi.” Anas meneruskan perkataannya bahwa baginda baru duduk setelah wanita itu duduk, dan tetap disana disana hingga wanita itu mendapatkan apa yang ia butuhkan.

Lebih lanjut Sahabat Anas mengungkap bahwa Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, tidak pernah merasa gengsi untuk mengendarai seekor keledai, dan menerima ajakan seorang hamba sahaya. Ketika terjadi konflik Quroizhoh, baginda sama sekali tidak merasa gengsi mengendarai seekor keledai dengan kekang yang terbuat dari serabut. Bahkan saat diundang untuk makan roti yang terbuat dari tepung gandum kasar dan mentega yang basi, baginda tidak pernah enggan dengan ajakan tersebut.

Sesudah Pembukaan kota Mekah, Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, pergi haji mengendarai tunggangan dengan sebuah pelana ias yang dilapisi kain kumal, yang nilainya tidak lebih dari empat dirham. Kemudian baginda berdoa, “Ya Allah, jadikanlah ini sebagai haji mabrur yang tanpa rasa pamer maupun keinginan memperoleh reputasi.” Selama haji ini, baginda berkurban seratus unta, untuk iasg makan semua orang di Kota.

Pada Pembukaan kota Mekah, ketika baginda memasuki kota dengan barisan para pengikutnya, baginda tidak membuatnya terlihat seperti kejayaan besar, namun baginda mengendarai kedelainya dengan penuh kerendahan hati kepada Allah, dan baginda menundukkan kepala begitu rendah sampai iasg menyentuh pelana.

Di antara banyak tanda-tanda kerendahan hati baginda adalah bahwa baginda bersabda, “Janganlah kalian lebih mengutamakan aku diatas Yunus putra Matta, dan janganlah saling mengunggulkan diantara para nabi, dan janganlah lebih memilihku melebihi Musa……dan seandainya aku mendekam di penjara seperti Yusuf, aku akan menjawab panggilan (untuk keluar dari penjara).” Seseorang berkata kepada baginda, “Wahai makhluk terbaik!” baginda menjawab, “Itu adalah Nabi Ibrahim”

Bunda Siti Aisyah menuturkan bahwa baginda melakukan pekerjaan rumah tangga sebagaimana anggota keluarganya yang lain, membersihkan pakaiannya sendiri, memerah air susu kambingnya, menambal pakaiannya dan menjahit terompahnya.”

Anas mengatakan bahwa wanita manapun yang melayani di rumah tangga baginda dapat memegang tangan baginda, dan mengajak baginda pergi kemanapun hingga baginda memuaskan keperluannya.

Seorang pria iasg kepada baginda dan ketika melihat baginda, ia mulai gemetaran disebabkan besarnya kewibawaan, lalu baginda segera menenangkannya dan berkata, “Tenanglah, aku bukan seorang raja, aku hanyalah anak lelaki seorang wanita dari suku Quraisy yang makan daging dendeng.”

Abu Hurairah meriwayatkan seraya berkata: “Aku dan baginda masuk ke pasar, lalu baginda membeli celana dan baginda berkata pada orang yang menimbang, “Timbang dan paskanlah.” Si penimbang segera meraih tangan baginda dan menciumnya, namun baginda menarik tangan baginda dan berkata, “Ini yang dilakukan orang selain Arab (Persia) dengan raja-raja mereka, dan aku bukan seorang raja, aku hanyalah seorang laki-laki diantaramu.” Ketika baginda mengambil celananya, aku menawarkan diri membawakan untuknya, tetapi baginda berkata, “Pemilik sesuatu lebih berhak untuk membawanya.”

Keadilan, amanah, kesopanan dan kejujuran Nabi Muhammad

Pujian dan kesejahteraan atasnya

 

Di tengah-tengah masyarakat, baginda telah dikenal sebagai manusia yang paling dapat dipercaya, paling adil, paling sopan dan paling jujur dari semua orang. Bahkan lawan dan musuh tidak menyangkal akhlak terpuji baginda ini. Sebelum diangkat menjadi nabi, semua orang memanggilnya “Al-Amin (yang dapat dipercaya)”. Ibnu Ishak menjelaskan baginda dipanggil “Al-Amin (yang dapat dipercaya)” sebab karunia Allah kepada baginda, yang mencurahkan semua akhlak terpuji didalam diri baginda.

Pada waktu renovasi Kabah, ketika tiba saatnya peletakan Hajar Aswad, terjadi perselisihan diantara suku-suku Quraisy. Masing-masing kepala suku Quraisy berharap mendapat kehormatan untuk meletakkan batu tersebut. Karena tak ada yang mengalah, maka pertengkaran tak dapat dielakkan, yang berlangsung terus menerus selama beberapa hari. Hingga akhirnya mereka bersepakat bahwa manusia pertama yang memasuki serambi Kabah, akan dijadikan sebagai Juri. Baginda adalah orang pertama yang masuk, serempak mereka pun berkata, “Inilah Muhammad yang dapat dipercaya. Kami rela dengannya.” Akhirnya sengketa diselesaikan dengan melegakan semua pihak.

Robi’ bin Khutsaim, memberitahu bahwa di zaman Jahiliyah sebelum adanya Islam, sewaktu ada perselisihan diantara dua pihak, Rasulullah dipanggil untuk memberikan keputusan dan semua orang menerima keputusannya.

Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, bersabda, “Demi Allah, sungguh aku terpercaya di langit dan terpercaya dibumi.”

Bahkan Abu Jahal yang sangat membenci baginda, diketahui telah berucap kepada baginda, “Sungguh kami tidak mendustakanmu, akan tetapi kami mendustakan apa yang kamu bawa.” Setelah itu, Allah menurunkan ayat, “Maka sungguh mereka tidak mendustakanmu, akan tetapi orang-orang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.” (Al-An’am,6: 33)

Heraclius, Kaisar Romawi, menanyai Abu Sufyan, tentang kebenaran Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, seraya berkata, “Apakah kamu pernah mencurigainya berdusta sebelum dia mengatakan apa yang telah dia iasg?” Abu Sufyan menjawab, “Tidak”

Dilaporkan didalam hadis bahwa baginda sama sekali tidak pernah menyentuh seorang wanita yang baginda tidak memiliki hak atasnya.

Sahabat Ali menggambarkan baginda seraya berkata, “Baginda adalah manusia yang paling jujur lisannya.”

Seseorang menghujat baginda tidak adil lalu baginda berkata kepadanya, “Semoga kamu dirahmati, siapakah yang akan adil jika aku tidak adil, aku gagal dan rugi jika tidak adil.”

Bunda SitiAisyah, Ibu orang-orang beriman, semoga Allah meridhainya, menegaskan setiap kali Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, diberi pilihan antara dua hal, baginda selalu memilih yang paling mudah dari keduanya, selagi itu bukan dosa. Jika itu adalah dosa, maka baginda adalah orang yang paling jauh dari dosa.

Imam Ali, semoga Allah meridhainya, mendengar Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, bersabda, “Tidak pernah terlintas dalam pikiranku, apa yang dilakukan orang di zaman Jahiliyah, kecuali pada dua kejadian, namun Allah telah menyelamatkanku pada dua kejadian tersebut. Sesudah itu, tidak pernah terlintas satupun perkara yang tidak patut dalam pikiranku, sampai Allah memuliakanku dengan Risalah-Nya. Suatu malam, aku meminta seorang pemuda yang menggembala domba bersamaku untuk memperhatikan domba-dombaku, sementara aku hendak pergi ke Mekah untuk menghabiskan malam sebagaimana anak-anak muda yang lain. Saat aku telah dekat, aku mendengar ada suara tabuhan rebana dan seruling iasg dari salah satu rumah di Mekah dalam perayaan pernikahan seseorang, lantas aku duduk untuk menyaksikan. Tiba-tiba, indera pendengaranku terhenti, lantas aku tertidur, dan tidak terbangun hingga matahari menyinariku. Akhirnya aku kembali tanpa ambil bagian dalam perayaan itu. Hal serupa terjadi diwaktu yang lain, dan sejak saat itu tidak pernah terlintas satupun sesuatu yang tidak patut dalam pikiranku.”

Kehalusan budi, ketenangan dan kebiasaan istimewa Nabi Muhammad

Pujian dan kesejahteraan atasnya

 

Abu Said Al Khudri meriwayatkan bahwa Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, duduk didalam suatu majelis dengan cara melingkarkan kedua tangan baginda pada kedua kaki baginda. Baginda sering duduk dengan cara tersebut pada berbagai kesempatan.

Kata Jabir bin Samuroh: baginda duduk bersila dan terkadang baginda duduk seperti berjongkok.

Mengenai cara berjalan, baginda berjalan tenang dengan badan condong ke depan, mirip cara berjalan seseorang ketika menuruni lereng gunung. Juga dilaporkan, baginda konsentrasi ketika berjalan, dan sedang langkah kaki baginda. Baginda tidak berjalan dengan tergesa-gesa juga tidak lambat.

Abdullah bin Mas’ud berkata, “Sebaik-baik bimbingan adalah bimbingan Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya.”

Jabir bin Abdullah menginformasikan, “Kata-kata Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, sangat elegan dalam susunannya, serta mengalir dengan mudah.”

Bunda Siti Aisyah, semoga Allah meridhainya, memberitahu bahwa ketika berbicara, baginda mengatakannya secara sedemikian rupa sehingga bila seseorang ingin niscaya akan dapat menghitung jumlah kata-kata baginda.

Baginda memakai wangi-wangian, dan dikenal menyukai aroma wangi dan parfum. Baginda sering memakai wewangian dan mendorong untuk menggunakan wangi-wangian. Baginda bersabda, “Dicintakan kepadaku di duniamu ini, wanita dan wangi-wangian, dan dijadikan kesejukan mataku didalam shalat.”

Baginda melarang manusia meniup diatas makanan dan minuman, dan menyuruh mereka untuk makan apa yang didekat mereka. Baginda merekomendasikan penggunaan siwak (kayu gosok gigi), membersihkan sela-sela jari tangan dan kaki, membersihkan tubuh serta mencukur bulu yang tumbuh di ketiak dan kemaluan.

Nabi Muhammad berzuhud (menahan diri dari hal-hal duniawi)

Banyak hadis telah disebutkan di bagian sebelumnya, yang menggambarkan gaya hidup sederhana baginda, ias dikatakan baginda selalu merasa puas dengan sesuatu yang sedikit, dan berpaling dari daya tarik duniawi. Di banyak kesempatan, baginda diberi kekayaan dunia, namun baginda tidak menyimpan melainkan segera membagi-bagikannya, dan ketika meninggal dunia, tidak ada yang baginda tinggalkan kecuali baju perang, yang telah baginda gadaikan kepada seorang Yahudi untuk iasg makan keluarga baginda. Baginda berdoa untuk keluarganya seraya berkata, “Ya Allah, jadikan rizki keluarga Muhammad tanpa berlebihan.”

Bunda Siti Aisyah, semoga Allah meridhainya, berkata: “Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, tidak pernah makan cukup roti selama tiga hari berturut-turut sampai akhir hayat baginda.”

Bunda Siti Aisyah, semoga Allah meridhainya, menegaskan, “Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, tidak meninggalkan sekeping dirham maupun dinar, maupun seekor domba maupun seekor unta.”

Amr bin Haris mengatakan “Tidak ada yang ditinggalkan baginda kecuali hanya baju perang, seekor baghal (hasil peranakan kuda dengan keledai), dan tanah yang telah baginda jadikan sebagai sedekah.”

Bunda Siti Aisyah, semoga Allah meridhainya, berkata, “Ketika baginda meninggal dunia, tidak ada sesuatupun di rumahku yang ias dimakan pemilik jantung kecuali beberapa biji gandum di salah satu rak.” Bunda juga berkata, “Kami keluarga Muhammad, kadang-kadang melewati satu bulan tanpa menyalakan api; tidak terdapat apa-apa kecuali kurma dan air.”

Kata Abdurrahman bin Auf: pada saat Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, wafat, baginda dan anggota rumah tangga baginda, tidak memiliki cukup roti gandum untuk ias mengisi perut mereka. Aisyah, Abi Umamah, dan Ibnu Abbas juga mengatakan hal yang sama.

Ibnu Abbas, memberitahu bahwa Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, dann keluarga baginda, tidak menemukan apa-apa untuk makan malam mereka pada banyak malam berturut-turut.

Sahabat Anas mengungkapkan kebiasaan makan Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya: Baginda tidak makan diatas meja maupun didalam piring, tidak ada roti lunak untuk baginda maupun rebusan daging domba.

Adapun tempat tidur Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, terbuat dari kulit hewan yang diisi dengan serat-serat palem. Juga dilaporkan kadang-kadang baginda tidur di ranjang yang terbuat dari serabut palem yang meninggalkan bekas setelah baginda berbaring diatasnya.

Ketakwaan, ketaatan dan ketekunan ibadah Nabi Muhammad

pujian dan kesejahteraan atasnya

 

Ketakwaan, ketaatan dan ketekunan ibadah baginda kepada Allah, bersumber dari pengetahuan baginda tentang Penguasanya. Abu Hurairah memberitahu bahwa Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, bersabda, “Seandainya kalian tahu apa yang aku ketahui, niscaya kalian benar-benar sedikit tertawa dan banyak menangis.”

Informasi lebih lanjut ditambahkan Abu Dzar yang  mengatakan bahwa Nabi telah bersabda, “Sungguh aku melihat apa yang tidak kalian lihat, dan mendengar apa yang tidak kalian dengar. Langit merintih, dan rintihannya adalah hak. Tidak ada satu tempat pun selebar empat jari dilangit, kecuali bertempat seorang malaikat yang dahinya bersujud kepada Allah Yang Maha Tinggi. Demi Allah, seandainya kalian tahu apa yang aku ketahui, niscaya kalian benar-benar sedikit tertawa dan banyak menangis, serta tidak akan dapat merasakan kelezatan wanita diatas tempat tidur, dan kalian akan pergi ke tempat-tempat tinggi menjerit kepada Allah.”…. Abu Dzar berkomentar, “Aku berharap agar menjadi pohon yang tumbang!”

Siti Aisyah, istri baginda serta ibu orang-orang beriman, dan beberapa sahabat, termasuk Abu Hurairah, mengatakan bahwa Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, berdiri dalam solat begitu lama hingga kedua kakinya menjadi bengkak. Ketika ditanya mengapa baginda membebani diri sedemikian rupa, padahal Allah telah iasg baginda status pengampunan untuk dosa-dosa masa lalu dan masa depan (melalui perlindungan dari dosa), baginda menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi penyembah yang bersyukur?”

Siti Aisyah, semoga Allah meridhainya, menyebutkan bahwa baginda senantiasa teguh dalam setiap hal yang baginda lakukan, dan bunda menanyai para Sahabat baginda, “Siapa di antara kalian yang dapat melakukan apa yang baginda lakukan?”

Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, sering berpuasa, dan Siti Aisyah, semoga Allah meridhainya, memberitahu, “Baginda berpuasa sampai-sampai kami berkata, ‘baginda tidak akan berhenti puasa!” dan baginda tidak berpuasa sampai-sampai kami berkata, ‘baginda tidak akan berpuasa.’”Ibnu Abbas dan Ummu Salamah juga mengatakan hal yang sama.

Anas berkata, “Bila engkau mengira tidak akan melihat baginda solat di separuh malam, engkau akan mendapati baginda sedang solat, dan saat engkau mengira baginda tidak sedang tidur, engkau akan mendapati baginda sedang tidur.”

Auf bin Malik bercerita: “Saya tengah bersama Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, yang mempersiapkan diri untuk solat. Baginda menggunakan siwak (kayu gosok gigi) terlebih dahulu, kemudian berwudhu dan melaksanakan solat. Lalu saya solat bersama baginda. Setelah mulai, baginda melantunkan surah Al-Baqoroh, setiap kali melewati ayat tentang rahmat, baginda berhenti dan berdoa dan setiap kali melewati ayat tentang hukuman, baginda berhenti untuk memohon perlindungan. Sesudah itu, baginda membungkuk (ruku’) yang lamanya seperti lamanya baginda berdiri dan baginda mengucap, ‘Maha Suci Pemilik kekuasaan, kerajaan terhebat, kebesaran dan keagungan.’ Kemudian saat bersujud, baginda mengucapkan hal yang sama. Setelah semuanya itu, baginda melantunkan surah Ali-Imran, surah demi surah, dan berbuat hal yang sama.

Hudzaifah mengatakan hal yang sama dan menambahkan, lamanya baginda sujud seperti lamanya baginda berdiri, dan lamanya baginda duduk diantara dua sujud juga seperti lamanya baginda berdiri. Baginda berdiri melantunkan surah Al-Baqoroh, Ali-Imron, An-Nisa’, dan Al-Maidah.

Siti Aisyah memberitahu bahwa Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, berdiri sepanjang malam melantunkan satu ayat Al-Qur’an.

Abdullah bin Syikhkhiir, semoga Allah meridhainya, bercerita: suatu hari beliau pergi hendak menemui Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan mendapati baginda sedang solat, beliau mendengar ada suara gemuruh (isakan tangis yang sangat) dari rongga dada baginda seperti suara didihan air didalam kuali.

Suatu hari baginda bersabda: “Sungguh aku memohon ampunan kepada Allah, dalam sehari seratus kali”. Dalam riwayat lain dilaporkan, tujuh puluh kali dalam sehari.

Sifat-sifat para nabi mulia

Pujian dan kesejahteraan atas semua nabi Allah

 

Setiap nabi dan rasul dikaruniai kepribadian yang sempurna. Selain tampan, mereka juga dari keturunan yang terhormat dan mulia. Mereka telah diciptakan sebagai makhluk sempurna yang bagus rupa fisik dan perilakunya. Dalam diri mereka terkumpul sifat-sifat terpuji dan budi pekerti yang luhur. Inilah sebabnya mereka semua memiliki sifat-sifat kesempurnaan sebagai manusia yang utuh lengkap tanpa cela.

Para nabi telah mendapat bimbingan yang sempurna hingga mencapai peringkat yang paling mulia, dan ditinggikan derajat mereka menjadi paling tinggi dari semua manusia. Lima orang rasul telah dilebihkan hingga mendapat predikat ‘Ulul Azmi (pemilik ketetapan hati) untuk beratnya ujian yang mereka alami dan keteguhan mereka menghadapinya yaitu nabi Nuh, nabi Ibrahim, nabi Musa, nabi Isa, dan nabi Muhammad yang termulia diantara mereka semua. Pujian dan kesejahteraan atas mereka semua para nabi dan utusan Allah.

Allah memberitahu bahwa Dia melebihkan sebagian nabi dan rasul-Nya atas sebagian yang lain, sebagaimana tampak dalam firman-Nya ini, “Itu para rasul, Kami telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain.” (Al-Baqoroh,2:253)

“Dan Kami telah memilih mereka, dengan pengetahuan diatas seluruh dunia (dimasa mereka)” (Ad-Dukhon,44:32).

Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, bersabda, “Rombongan pertama yang masuk ias akan terlihat seperti bulan pada malam purnama… setiap orang akan berbentuk seperti bapak mereka Adam, yang tingginya enam puluh hasta.”

Gambaran beberapa nabi telah dijadikan tahu kepada kita melalui Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, yang bersabda, “Aku melihat Musa, beliau ramping dengan rambut berombak (antara lurus dan keriting), dan berhidung mancung dengan sedikit timbul ditengah, beliau mirip orang dari kabilah Syanu’a (suku di Yaman). Dan aku melihat Isa, bertubuh sedang, berkulit kemerah-merahan seolah-olah habis mandi air panas.”

Mengenai dirinya sendiri baginda bersabda, “Diantara anak turun nabi Ibrahim, aku yang paling mirip beliau.”

Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, iasg informasi tambahan mengenai nabi Musa seraya bersabda, “Beliau bagaikan pria terbaik yang pernah kau lihat dengan kulit kecoklatan.”

Abu Hurairah memberitahu sabda baginda, “Sesudah nabi Luth, Allah Yang Maha Tinggi tidak mengutus seorang nabi pun, melainkan dari golongan paling elit kaumnya.”

Suatu ketika, Heraclius (Kaisar Romawi) bertanya tentang nabi Muhammad dengan berkata, “Aku menanyaimu tentang garis keturunannya dan kamu mengatakan dia berasal dari keturunan yang mulia, seperti itulah para rasul yang dulu diutus, semuanya dari keturunan yang mulia.”

Terdapat banyak referensi didalam Al-Qur’an mengenai para nabi dan rasul yang lebih diutamakan Allah, beberapa diantaranya disebutkan di bawah ini.

Tentang nabi Ayyub, Allah berfirman, “Kami dapati dia seorang yang sabar, sebaik-baik penyembah, sungguh dia orang yang patuh.” (Sad,38:44).

Tentang nabi Yahya, Allah berfirman, “’Wahai Yahya, berpegang teguhlah pada Kitab dan Kami telah memberinya Hukum sementara dia masih kanak-kanak; serta kelembutan dari sisi Kami, dan kesucian, dan dia seorang yang waspada; berbakti pada orang tuanya, dan dia tidak menjadi orang sombong maupun durhaka; kesejahteraan atasnya pada hari dia lahir, dan hari dia meninggal dunia, dan hari dia dibangkitkan hidup.” (Maryam,19:12-15).

Dia juga memberitahu tentang saat nabi Zakaria diberi kabar gembira seorang anak laki-laki, “bahwa Allah memberimu kabar gembira tentang Yahya, yang membenarkan Kalimat dari Allah, dan menjadi junjungan, suci (perjaka), seorang nabi, dari golongan orang saleh.” (Ali-Imran,3:39)

Allah berfirman, “Sungguh Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imron diatas seluruh alam.” (Ali-Imran,3:33-34).

Tentang nabi Nuh, Allah berfirman, “Sungguh dia adalah hamba yang benar-benar bersyukur.” (Al-‘Isra,17:3).

Tentang nabi Isa, Allah berfirman, “Ketika para malaikat berkata, ‘Wahai Maryam, sungguh Allah memberimu kabar gembira dengan Kalimat (Jadilah) dari-Nya, namanya Al-Masih, Isa putra Maryam, terhormat di dunia dan akhirat dan termasuk golongan orang yang dekat; dan dia akan berbicara pada manusia didalam buaian dan ketika dewasa, dan dari golongan orang saleh.” (Ali-Imran,3:45)

Firman Allah mengenai ucapan nabi Isa yang berkata, “Sungguh aku hamba Allah. Dia telah memberiku Kitab dan menjadikanku seorang nabi; dan menjadikanku diberkati dimana saja aku berada, dan telah memerintahkanku dengan solat dan zakat selama aku masih hidup.” (Maryam,19:30-31).

 

Mengenai nabi Musa, Allah berfirman, “Wahai orang-orang beriman, janganlah menjadi seperti mereka yang menyakiti Musa.” (Al-Ahzab,33:69).

Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, memberitahu bahwa nabi Musa adalah seorang pria pemalu yang menutupi dirinya. Tidak ada sesuatu dari tubuhnya yang terlihat disebabkan rasa malunya itu. Allah mengutip ucapan Musa yang berkata, “lalu Penguasaku memberikan kepadaku Hukum dan menjadikanku termasuk diantara para rasul.” (Asy-Syu’ara,26:21)

Beberapa para nabi telah disebut oleh Allah didalam Al-Qur’an sebagaimana perkataan mereka pada umatnya, “Sungguh aku bagimu seorang rasul yang jujur.” (Asy-Syu’ara,26:107).

Merujuk pada nabi Musa, Allah berfirman, “Salah seorang dari kedua wanita itu berkata, ‘Wahai ayahku! Jadikanlah dia sebagai pekerja, sungguh orang terbaik yang engkau ambil sebagai pekerja (pada kita) ialah yang kuat dan dapat dipercaya.” (Al-Qosos,28:26)

Mengenai kesabaran para rasul, Allah berfirman,

“Maka bersabarlah sebagaimana para rasul yang mempunyai keteguhan hati telah bersabar dan janganlah meminta disegerakan bagi mereka. Pada hari mereka melihat apa yang dijanjikan seolah-olah mereka tidak tinggal melainkan sesaat pada siang hari. (Al-Qur’an ini) sebuah Penyampaian! Maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik. (Al-Ahqof, 46:35).

Allah berfirman, “Dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya’kub kepadanya. Kepada masing-masing telah Kami beri bimbingan, dan sebelum itu Kami telah iasg petunjuk kepada Nuh, dan kepada sebagian dari keturunannya (Ibrahim) yaitu Dawud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Dan demikianlah Kami iasg balasan kepada orang-orang yang berbuat baik; dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang saleh; dan Isma’il, Ilyasa’, Yunus dan Luth. Masing-masing Kami lebihkan (derajatnya) diatas umat lain (pada masanya); (dan Kami lebihkan pula derajat) sebagian dari nenek moyang mereka, keturunan mereka, dan saudara-saudara mereka. Kami telah memilih mereka (menjadi nabi dan rasul) dan mereka Kami iasg ke jalan yang lurus; Itulah bimbingan Allah, dengan itu Dia membimbing kepada siapa saja diantara para penyembah-Nya yang Dia kehendaki. Sekiranya mereka mempersekutukan Allah, pasti lenyaplah amalan yang telah mereka kerjakan; Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan Kitab, hikmah, dan kenabian. Jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya, maka Kami akan menyerahkannya pada kaum yang tidak mengingkarinya; Mereka itulah (para nabi) yang telah dibimbing Allah, maka ikutilah bimbingan mereka, katakanlah (Muhammad), ‘Aku tidak meminta imbalan kepadamu dalam menyampaikan (Al-Qur’an).’ Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk (segala umat) seluruh alam.” (Al-An’am,6:84-90).

Allah menggambarkan para nabi dan rasul sebagai manusia pilihan yang mempunyai banyak sifat utama; berperilaku benar, dan diberi kemampuan menghukumi serta kemampuan memberitakan masa depan (nubuat kenabian).

Mengenai nabi Ishaq, Allah memberitahu bahwa Malaikat telah berkata kepada nabi Ibrahim, “’Janganlah takut’, dan mereka iasg kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishaq).” (Az-Zariyat,51:28). Mengenai nabi Ismail, putra pertama nabi Ibrahim, Allah berfirman, “Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat santun (Isma’il).” (As-Soffat,37:101).

Allah berfirman, “Sungguh Kami telah menguji kaum Fir’aun sebelum mereka, dan seorang rasul yang mulia telah iasg kepada mereka; (sambil berkata), ‘Patuhlah kepadaku wahai para hamba Allah, sungguh aku Utusan yang terpercaya untukmu.” (Ad-Dukhon,44:17-18).

Suatu ketika, Ibrahim hendak memenuhi instruksi Allah untuk mengorbankan Ismail, putra beliau, dan Ismail berkata kepada beliau, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu. Insya Allah, engkau akan mendapatiku diantara orang yang sabar.” (As-Soffat,37:102).

Tentang nabi Ismail, Allah berfirman, “Dan sebutkan Ismail didalam Kitab, sungguh dia seorang yang benar janjinya, dia adalah rasul dan nabi; dan dia menyuruh ahlinya supaya solat dan zakat, dan dia seorang yang diridhai disisi Penguasanya.” (Maryam,19:54 -55).

Allah memberitahu bahwa nabi Sulaiman adalah, “Sebaik-baik hamba, sungguh dia sangat taat.” (Sod,38:30).

Allah menyeru supaya kita mengingat, “Dan ingatlah para hamba Kami Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub yang mempunyai kekuatan-kekuatan yang besar dan ilmu-ilmu (yang tinggi); Sungguh, Kami telah menyucikan mereka dengan (menganugerahkan) akhlak yang tinggi kepadanya yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat; Dan sungguh, disisi Kami mereka termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.” (Sod,38:45-47).

Tentang nabi Daud, Dia berfirman, “dan ingatlah akan hamba Kami Daud, yang mempunyai kekuatan, sungguh dia sangat taat (kepada Allah).” (Sod,38:17), dan “Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan hikmah kepadanya serta kebijaksanaan dalam memutuskan perkara.” (Sod,38:20).

Mengenai nabi Yusuf, Allah berfirman, “Dia (Yusuf) berkata, ‘Jadikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir), karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, dan berpengetahuan’.” (Yusuf,12:55).

Tentang nabi Musa, Allah berfirman, “Dia (Musa) berkata, ‘Insya Allah, akan engkau dapati aku orang yang sabar.’” (Al-Kahf,18:69).

Allah menyebutkan perkataan nabi Syuaib, “Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang baik.” (Al-Qosos, 28:27). Dan, “Aku tidak bermaksud menyalahi kamu terhadap apa yang aku larang darinya. Aku hanya bermaksud (mendatangkan) perbaikan selama aku masih sanggup.” (Hud,11:88).

Tentang nabi Luth, Allah memberitahu kita, “Dan kepada Luth, Kami berikan hikmah dan ilmu.” (Al-Anbiya’,21:74).

Allah berfirman, “Sungguh, mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (Al-Anbiya’,21:90).

Ada banyak hadis yang memperinci sifat dan karakteristik para nabi.

Nabi Muhammad, semoga Allah senantiasa melimpahkan pujian, keberkatan dan kesejahteraan kepada baginda, menggambarkan silsilah mulia nabi Yusuf dengan bersabda, “Anak laki-laki mulia seorang putra yang mulia, putra mulia dari seorang lelaki yang mulia, Yusuf putra Yakub putra Ishak putra Ibrahim sang nabi, putra seorang nabi, putra seorang nabi, putra seorang nabi.”

Baginda juga bersabda, “Mata para nabi tidur, tetapi hati mereka tidak tidur.”

Abu Hurairah memberitahu, suatu hari Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, bercerita mengenai nabi Daud. Dijadikan ringan untuk nabi Daud didalam pelantunan. Bahkan ketika sedang menunggu selesainya persiapan kendaraan untuk ditunggangi, beliau juga melantunkan kitab.

Nabi Daud hanya makan dari hasil kerja tangannya sendiri dan beliau berdoa kepada Allah memohon agar diberi rizki dari hasil keringatnya, sehingga tidak perlu mengambil sesuatupun dari perbendaharaan negeri. Allah memberitahu kita, “Dan Kami telah melunakkan besi untuknya, ‘buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya.’” (Saba’, 34:10-11).

Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, berkata kepada para Sahabatnya, “Solat yang paling dicintai Allah adalah solatnya nabi Daud, dan puasa yang paling dicintai Allah adalah puasanya nabi Daud. Nabi Daud tidur diseparoh malam, berdiri di sepertiga malam, dan tidur (lagi) di seperenam malam. Beliau berpuasa setiap selang hari. Beliau memakai pakaian wol (terbuat dari bulu domba) dan tidur diatas (kain terbuat dari) bulu. Beliau makan roti dari biji gandum dicampur dengan garam dan abu.”

Baginda membicarakan ujian terhadap para nabi sebelumnya seraya bersabda, “Beberapa dari para nabi sebelumku, telah diuji dengan kemiskinan… Mereka lebih suka cobaan seperti kamu menyukai hadiah.”

Semua laporan ini telah tercatat dan terbukti kebenarannya. Kesempurnaan sifat, budi pekerti, perilaku dan bentuk fisik para nabi dan rasul, sudah diketahui umum. Jika didalam buku lainnya, pengetahuan yang dipaparkan bertentangan dengan periwayatan ini, maka mereka tidak mendapatkan informasi secara benar.

Kita telah membahas beberapa sifat utama para nabi yang patut dipuji, kebajikan dan kepribadian mereka yang mengagumkan, serta membawakan bukti yang mencukupi melalui laporan yang dapat diandalkan, dimana semua sifat tersebut adalah benar. Namun hendaknya disadari laporan-laporan ini hanyalah sedikit contoh, masih banyak lagi yang ias dibahas, dikoleksi dan dipelajari.

SAHIH SHIFA

KESEMBUHAN

 

Seri ke-6

 

DESKRIPSI NABI MUHAMMAD

oleh Imam Tirmidzi

 

 

Karya

Hakim Agung Abulfadl Iyad

wafat tahun 1123M / 544H

 

Periwayat Hadis

Muhaddis Agung Hafiz Abdullah Bin Siddiq

 

Perevisi

 Muhaddis Abdullah Talidi

 

Adaptasi oleh

Abdi Hadis Syekh Ahmad Darwish (Arab)

Anne Khadeijah (Inggris)

Siti Nadriyah (Indonesia)

 

Copyright © 1984-2013 Allah.com Muhammad.com. Hak Cipta dilindungi

 

Gambaran Nabi Muhammad sebagaimana dijelaskan oleh Imam Tirmidzi

Pembahasan materi ini disarikan dari koleksi Kutipan Kenabian karya penulis dan perawi ternama, Imam Tirmidzi

SILSILAH NABI MUHAMMAD:

Bin artinya putra, sedang binti artinya putri

Ibunda baginda bernama Aminah binti Wahab, sedang ayahnya adalah Abdullooh bin Abdul Muththolib, bin Haasyim, bin Abdu Manaaf, bin Qushoy, bin Kilaab, bin Murroh, bin Ka'ab, bin Lu-ay, bin Ghoolib, bin Fihr, bin Maalik, bin Nadhor, bin Kinaanah, bin Khuzaimah, bin Mudrikah, bin Ilyaas, bin Mudhor, bin Nizaar, bin Ma'add, bin ‘Adnaan - dan seterusnya sampai dengan Nabi Ismail putra Nabi Ibrahim. Antara Nabi Ibrahim dan Nabi Adam terdapat sekitar 30 generasi nenek moyang. Banyak diantaranya yang merupakan para nabi. Kesejahteraan atas mereka semua.

RUPA FISIK YANG MENAWAN:

Tidak ada yang mampu mengungkap secara adil segenap keindahan rupa fisik baginda yang luar biasa. Bunda Siti Aisyah, semoga Allah meridhainya, menggambarkan bahwa baginda lebih tampan dari nabi Yusuf, padahal ketampanan nabi Yusuf telah membuat istri-istri para menteri Firaun terkesima saat mereka menatap beliau, sampai-sampai diwaktu makan, menyebabkan pisau mereka terselip dan melukai tangan mereka. Bunda berkata, "Andai teman-teman Zulaikha melihat wajah Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, yang diberkati, mereka akan memotong jantung mereka bukan tangan mereka!"

KEMIRIPAN DENGAN NABI IBRAHIM:

Baginda bersabda, "Para nabi diperlihatkan kepadaku. Aku melihat Musa, kesejahteraan atasnya, beliau bertubuh ramping, seperti orang dari suku Shanuah. Aku melihat Isa (Yesus), kesejahteraan atasnya, dari semua yang pernah kulihat, Urwah bin Mas'ud yang paling dekat dalam kemiripan dengan beliau. Aku melihat Ibrahim, kesejahteraan atasnya, dan dari semua yang kulihat aku yang paling mirip beliau. "

WAJAH:

Warna kulit baginda keputih-putihan dengan sedikit kemerah-merahan yang merona berseri-seri. Wajah baginda bercahaya, agak bundar tapi tidak terlalu bundar, seringkali dibandingkan dengan keindahan bulan purnama saat paling terang pancaran sinarnya.

Dahi baginda lebar dengan alis terpisah dan bulu alis tebal, lebat dan halus. Ketika sedang tidak gembira (yakni marah), pembuluh darah diantara alis baginda jadi membesar. Baginda mempunyai mata yang hitam legam dan bulu mata panjang. Baginda memakai celak terbuat dari itsmid yang baginda sapukan tiga kali untuk setiap mata sebelum tidur.

Hidung baginda mancung secara khas. Pipi baginda halus dan bagus, sementara mulut baginda sempurna dan sesuai, tidak besar dan tidak kecil. Gigi baginda cerah dan rata, dan jarak diantara gigi depan sedikit lebih lebar. Mengenai ketebalan janggut baginda yaitu lebat.

Rambut baginda sedikit berombak, terkadang dipotong pendek dan diwaktu yang lain terurai hampir sebahu. Ketika rambut baginda cenderung memiak sendiri ditengah baginda membiarkannya tertata seperti itu, jika tidak baginda tidak merapikan dengan pola tersebut. Baginda biasa memakai minyak rambut dan supaya tidak mengotori serban, baginda menaruh sepotong kain diantara serban dan rambut baginda. Saat menjalankan ibadah haji di Mekah, baginda mencukur rambut baginda.

Baginda merapikan rambut dan janggut baginda menggunakan tangan kanan. Bukan kebiasaan baginda menata rambut setiap hari, malah baginda melarangnya kecuali ada alasan yang berlaku. Baginda menata rambut setiap tiga hari sekali.

Setelah hidup beberapa lama, baginda memiliki beberapa rambut perak (uban) di kedua sisi kepala baginda. Dilaporkan kalau berkisar antara empat belas dan dua puluh helai. Keakuratan laporan-laporan ini sebanding keabsahannya saat laporan melintasi suatu periode waktu. Suatu hari, ketika Abu Bakar pertama kali memperhatikan rambut perak, beliau berkata, "Ya Rasulullah, engkau beranjak lanjut usia," kemudian baginda bersabda, "Pelantunan surah Hud, Waqi'ah, Mursolat, Amma dan Asy-Syams telah membuatku beruban." (sebab surat-surat itu berisi kabar tentang hari akhir dan keadaan neraka).

LEHER, BAHU, STEMPEL DAN BATANG TUBUH:

Bahu baginda lebar dan bagus, dan di antara kedua sisinya terletak Stempel Kenabian baginda. Stempel itu berupa sekerat daging timbul kira-kira seukuran telur burung merpati dikelilingi bulu-bulu halus.

Diantara dada yang lebar dan pusar baginda tumbuh deretan bulu-bulu halus, sedang tulang-tulang baginda besar dan sepadan. Baginda adalah pria bertubuh sedang, tidak kurus maupun gemuk.

KAKI:

Baginda memiliki telapak kaki yang padat dengan daging dan tumit yang ramping.

CARA BERJALAN:

Ada yang berpendapat kalau baginda berjalan dengan langkah teratur. Yang lain berkata badan baginda sedikit condong kedepan saat berjalan, pendapat ketiga mengatakan baginda mengangkat kaki secara tegap. Juga ada yang bilang baginda berjalan agak cepat dan mengambil langkah panjang daripada langkah pendek. Selain itu, baginda tidak pernah berjalan dengan tinggi hati sambil membusungkan dada disertai kebanggaan, juga tidak menggesekkan kaki saat berjalan.

CARA MEMANDANG:

Ada dua hadis, salah satunya mengungkap kebiasaan baginda yang selalu menundukkan pandangan kebawah, sedang yang lain mengatakan baginda menatap ke arah langit. Kutipan Kenabian tidak bertentangan satu sama lain, bilamana dalam urusan sehari-hari, baginda merendahkan hati dengan menundukkan pandangan ke bawah, adapun saat menunggu sebuah Wahyu baginda memandang ke arah langit. Tidak pernah sekalipun baginda membelalak pada sesuatu.

TINGGI BADAN:

Dilaporkan bahwa baginda sedikit lebih tinggi dari manusia rata-rata, namun ketika berada di kalangan orang-orang yang tinggi, secara ajaib tinggi badan baginda berubah menjadi lebih tinggi dibandingkan mereka yang sedang bersama baginda.

UMUR:

Mengenai usia baginda, para ulama Islam mempunyai perbedaan pendapat, ini karena beberapa sahabat tidak menghitung tahun baginda dilahirkan dan tahun baginda meninggal dunia, namun mereka bersepakat bahwa baginda wafat pada usia enam puluh tiga tahun.

ADAB KETIKA MANDI:

Tak seorang pun dari istri dan keluarga baginda, yang melihat aurat baginda, begitu pula baginda tidak pernah melihat aurat mereka.

KOMUNIKASI:

Baginda tidak berbicara sambil menoleh, namun saat berbicara pada seseorang, baginda menghadapkan seluruh tubuh baginda kearah orang tersebut. Baginda berbicara secara langsung pada seseorang dengan menghadapkan muka dan tubuh baginda kepadanya. Ini karena baginda bukan orang yang sombong.

Ketika sedang berbicara dengan siapa saja, baginda tidak pernah melirik ke samping. Baginda berbicara dengan perkataan yang terang dan jelas sehingga mereka yang sedang duduk dalam majelis baginda yang penuh berkah ingat akan apa yang baginda katakan. Ketika ingin menekankan sesuatu, baginda mengulangi kata-katanya tiga kali. Baginda tidak pernah berbicara sembrono.

ADAB BERSANDAR:

Baginda bersandar pada bantal yang diletakkan disamping kiri baginda, namun baginda tidak pernah makan sambil bersandar.

Selama sakit terakhir baginda, Fadl memasuki kamar baginda dan mendapati baginda memakai perban kuning disekeliling dahi baginda. Setelah saling berucap salam, baginda meminta Fadl mengencangkan perban di kepala baginda. Fadl melaksanakannya. Kemudian baginda duduk dan berdiri menyangga diri baginda pada bahu Fadl serta memasuki Masjid.

Ketika sedang sakit, Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya,  mengistirahatkan kepala baginda pada salah satu istri atau Sahabat baginda. Sewaktu meninggal dunia, kepala baginda tengah bersandar pada Siti Aisyah, semoga Allah meridhainya.

MAKAN DAN MINUM:

Baginda makan dengan tangan kanan, kemudian baginda menjilati jari-jemari baginda agar hanya sedikit air yang dipakai untuk  membersihkannya sebab jarang ada air. Terkadang baginda makan menggunakan tiga jari, disaat yang lain lima jari.

Baginda tidak pernah makan hidangan diatas meja maupun diatas piring, karena bukan budaya mereka, juga tidak makan roti pita (roti empuk yang biasa dimakan orang sekarang). Baginda makan dari kain kulit, dan tidak memotong daging yang hendak baginda makan dengan pisau, melainkan baginda gigit sekecap demi sekecap dan mengunyahnya.

Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, minum dari cangkir besar terbuat dari kayu yang didalamnya terdapat lapisan logam. Tempat air yang terbuat dari kulit dengan cerat yang bersih juga baginda pakai untuk minum.

Ketika minum air Zamzam, baginda berdiri. Namun baginda lebih sering minum sambil duduk. Baginda menganjurkan minum seteguk demi seteguk daripada meneguk seluruhnya sekaligus. Anjuran penuh berkah agar tidak minum seluruh minuman sekaligus dalam satu tegukan, sekarang terbukti karena membahayakan hati dan perut.

ROTI DAN MAKANAN:

Roti yang dimakan baginda, terbuat dari gandum utuh yang digiling atau dilumatkan dengan dua buah batu, sehingga menjadi tepung bertekstur kasar. Saringan tidak pernah digunakan untuk menyaring butiran-butiran tepung yang masih kasar sehingga seluruh tepung, yang kasar maupun halus, dipakai untuk membuat roti. Adapun jumlah roti, tidak pernah ada roti yang mencukupi sebagai pengisi perut didalam rumah tangga baginda.

Selama bermalam-malam, baginda dan keluarga baginda tidur tanpa menikmati makanan karena tidak ada makanan. Keluarga Suci ini biasa membagi-bagikan makanan mereka pada orang-orang yang membutuhkan, seraya mengharapkan pahala dari Allah Yang Maha Tinggi.

Baginda menganjurkan penggunaan minyak zaitun tidak hanya untuk memasak tapi juga untuk pijat. Baginda juga menggunakan cuka dan memakan daging unggas. Baginda makan madu, daging kambing dan domba, sedang kesukaan baginda adalah daging bahu domba.

Makanan lainnya yang dikonsumsi baginda adalah kurma. Suatu hari Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, menemukan beberapa kurma yang jatuh di tanah. Baginda memberitahu para Sahabatnya kalau tidak akan memakannya sebab merasa yakin itu adalah sedekah. Baginda dan keluarga baginda dilarang makan dari sedekah.

Baginda juga makan mentimun dan semangka dengan kurma. Kurma direndam dalam air untuk menghasilkan jus manis, namun tidak membiarkannya terendam terlalu lama untuk menghindari agar tidak mengalami fermentasi (peragian sehingga bisa berubah menjadi khomr / minuman keras).

Baginda minum air dan susu. Siti Aisyah, semoga Allah meridhainya, mengatakan bahwa baginda menyukai minuman yang dingin dan manis. Ketika diberi susu, baginda berdoa, "Ya Allah, berilah keberkahan didalam susu ini dan tingkatkanlah susu untuk kami." Baginda juga memberitahu para Sahabatnya bahwa susu dapat berfungsi sebagaimana air dan makanan.

Baginda biasa memberi makanan kepada para Sahabatnya sebelum baginda sendiri makan.

TATA KRAMA SEBELUM DAN SESUDAH MAKAN:

Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, senantiasa mengucapkan, "Bismillah" sebelum mengambil makanan. Baginda selalu makan dengan tangan kanan dan memakan hidangan yang ada di depan baginda. Setelah selesai makan baginda bersyukur kepada Allah seraya berkata, "Segala puji bagi Allah, yang memberi kami makan dan minum, serta menjadikan kami orang-orang Islam."

TIDUR:

Sebelum tidur, baginda berbaring disisi yang kanan dan berdoa, "Ya Allah, dengan Nama-Mu aku hidup dan mati." Saat bangun baginda berdoa, "Segala puji bagi Allah, yang menghidupkan kami kembali setelah mematikan kami dan kepada-Nya hendak dibangkitkan."

Bunda Siti Aisyah, semoga Allah meridhainya, meriwayatkan, sebelum tidur baginda menengadahkan kedua tangan dan meniupnya kemudian melantunkan surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas, setelah itu baginda usapkan tangan baginda pada segenap bagian tubuh yang bisa dijangkau baginda. Ini baginda lakukan tiga kali, dimulai dari kepala, lalu wajah, diikuti dengan tubuh bagian depan baginda.

TANGISAN:

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, segala yang diperbuat Nabi tercinta kita, pujian dan kesejahteraan atasnya, timbul dari kerendahan hati, ketulusan dan kecintaan kepada Allah, begitu pula pengharapan rahmat untuk umat serta tangisan baginda.

Suatu hari Abdullah bin Mas'ud diminta baginda melantunkan beberapa ayat Al Quran untuk baginda, maka Abdullah bertanya, "Ya Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, patutkah saya melantunkannya kepada engkau padahal Al-Qur’an telah diturunkan kepada engkau?" Baginda berkata, "Aku suka mendengarnya dari orang lain." jadi Abdullah mulai melantunkan surah "An-Nisa" Ketika sampai ayat 41 'Maka bagaimanakah ketika Kami mendatangkan dari setiap umat seorang saksi, dan mendatangkan engkau sebagai saksi atas mereka!" air mata mengalir dari kedua mata baginda.

Barokah (yakni Ummu Ayman), pembantu yang sudah lama ikut baginda, yang dulu mendampingi baginda sewaktu ibu baginda meninggal dunia, mulai menangis meraung-raung saat salah satu anak perempuan baginda meninggal dunia. Baginda mengingatkan Barokah bahwa menangis keras tak terkendali adalah dilarang. Lalu Barakah berkata, "Bukankah saya melihat engkau menangis?" baginda menjawab, "Menangis yang ini tidak dilarang, sebagai sebuah rahmat dari Allah." kemudian baginda bersabda, "Seorang muslim berada dalam kedamaian sepanjang waktu, bahkan ketika jiwanya sedang diambil, dia sibuk memanjatkan pujian kepada Allah."

KERENDAHAN HATI DAN KARAKTER PENUH BERKAT:

Allah sendiri memberi kesaksian untuk keluhuran akhlak baginda didalam surah "Al Qolam-(Pena)" ayat 4 "Dan sungguh engkau benar-benar diatas budi pekerti yang luhur."

Baginda tidak pernah meremehkan untuk menjenguk orang sakit, menghadiri pemakaman, maupun menunggang keledai. Baginda menerima undangan, meskipun undangan dari para pembantu, sebagaimana sikap baginda yang tak pernah menyebut mereka sebagai "budak" melainkan "pembantu" sehingga menenteramkan hati mereka.

Baginda tidak pernah ragu menerima undangan orang miskin, bahkan saat mereka menjamu dengan roti basi (yang sudah agak lama) sekalipun, baginda tidak menampik maupun menyinggung mereka.

Baginda tidak suka jika ada yang berdiri ketika baginda masuk.

Ketika masuk rumah, baginda membagi waktu baginda menjadi tiga bagian, satu bagian untuk Allah, satu lagi untuk keluarga baginda, dan sisanya untuk diri baginda sendiri. Tetapi dari bagian baginda sendiri, setengah waktu telah baginda sediakan bagi para Sahabat dekat yang mengunjungi baginda dan yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan, baginda juga menggunakan setengah waktu ini untuk menyampaikan pesan dan menjawab permintaan orang lain.

Kepada para Sahabat, baginda mengajarkan hal-hal yang bermanfaat untuk seluruh umat, serta menyuruh mereka supaya menyampaikan kepada orang lain apapun yang telah baginda ajarkan kepada mereka. Baginda mendorong mereka untuk bertanya dan baginda tidak pernah menahan jawaban. Baginda menganjurkan supaya mereka juga bertanya dalam rangka mewakili orang-orang yang tidak sanggup mengajukan pertanyaan mereka.

Baginda tidak pernah membuang waktu mendengarkan obrolan. Sebagai etika dalam pergaulan, baginda bergabung dalam percakapan para Sahabatnya, baik ketika mereka sedang membicarakan urusan agama atau urusan duniawi.

Bunda Siti Aisyah, semoga Allah meridhainya, menuturkan bahwa baginda tidak pernah memukul siapapun kecuali dalam Jihad dan tidak pernah memukul perempuan.

Baginda menghormati dan memuliakan orang-orang yang dihormati dan dimuliakan dinegeri mereka, dan baginda memperingatkan mereka hukuman dari Allah. Baginda telah menjadi penengah diantara orang-orang, serta memuji dan mendorong perbuatan baik.

Baginda menjelaskan akibat menyakitkan perkara yang buruk, kemudian baginda menghapus dan mencegah perkara tersebut.

Baginda memilih jalan tengah dalam segala hal dan tidak pernah lengah membimbing para pengikut baginda. Ucapan baginda selalu benar, dan saat berbicara pada siapapun, orang tersebut merasa paling dimuliakan.

Ketika diminta sesuatu, baginda tidak pernah menolak, dan bila tak ada yang bisa diberikan, baginda berucap dengan kata-kata yang baik pada si peminta. Baginda tak pernah menolak memberi orang yang sedang dalam perjalanan (musafir) dan baginda bersabda, "Ketika melihat seseorang yang membutuhkan, bantulah mereka."

Ketika seseorang bergabung dengan baginda untuk alasan apapun, baginda pun tetap duduk sampai orang tersebut pergi. Kasih sayang baginda tidak hanya untuk sebagian manusia, tetapi untuk semua orang, baginda seperti seorang ayah bagi mereka.

Baginda menambal pakaian sendiri dan membantu pekerjaan rumah tangga sehari-hari, juga selalu bersikap baik pada anak-anak dan memohon kepada Allah supaya memberkati mereka. Baginda tidak melibatkan diri dalam percakapan kosong dan tidak menyela orang yang sedang berbicara.

Majelis baginda penuh dengan pengetahuan, kerendahan hati, kesabaran dan kejujuran. Baginda tidak pernah merendahkan atau mempermalukan siapa saja. Jika ada orang yang telah berbuat dosa, tidak disebarkan kepada umum. Yang kecil dicintai, para fakir miskin didahulukan untuk diberi, sementara orang asing dan para musafir juga baginda perhatikan.

Orang-orang didalam rumah tangga baginda sangat menyayangi baginda. Tak sekalipun baginda menegur bila mereka tidak melakukan suatu hal tertentu, baginda juga tidak pernah bertanya jika mereka telah melakukan suatu hal tertentu.

Tidak pernah keluar kata-kata yang jorok dari lisan baginda. Baginda tidak pernah berteriak dan mengobrol di pasar. Baginda tidak pernah membalas perbuatan buruk dengan perbuatan serupa, malahan baginda memaafkan dan tidak menyebut-nyebut setelahnya. Baginda tidak pernah mencari-cari kesalahan orang lain. Setiap orang mendapatkan haknya, baik Muslim maupun non-Muslim. Bahkan orang-orang kafir Mekah memberikan kesaksian untuk kejujuran baginda.

Selain tidak mudah marah, baginda juga tidak pernah menghina siapapun. Baginda senantiasa mensyukuri segala kenikmatan dan karunia dari Allah, tak peduli apakah besar ataupun kecil.

Baginda tidak mengeluhkan hidangan yang baginda makan maupun memujinya secara berlebihan.

Baginda tidak pernah marah dalam soal kebendaan. Namun, bila seseorang melampaui batas dalam urusan agama atau menentang suatu kebenaran, baginda akan marah dengan cara yang tak seorang pun dapat membendung dan meredamnya. Baginda mengampuni pelaku pelanggaran atau tidak menghiraukannya.

Ketika sedang bahagia, kedua mata baginda seolah-olah hampir terpejam, sedang tawa baginda berupa senyum lebar dimana gigi depan baginda tampak gemerlap bagaikan kilauan butiran hujan salju.

Baginda mengisyaratkan sesuatu dengan menggunakan tangan tidak hanya menunjuk dengan satu jari. Para ulama mengungkap sisi lain kerendahan hati baginda, bahwa baginda mengangkat satu jari sebagai isyarat kepada Allah.

Saat dikejutkan sesuatu, baginda menggerakkan tangan baginda. Seringkali baginda menggerak-gerakkan tangan saat berbicara. Terkadang baginda memukul-mukulkan ibu jari kiri baginda pada telapak tangan kanan baginda.

Suatu hari para Sahabat datang kepada Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan menceritakan perihnya perut mereka karena sangat kelaparan, lalu mereka memperlihatkan kepada baginda batu yang diikatkan di perut mereka sebagai pengganjal perut dari keroncongan. Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, kemudian menunjukkan kepada mereka dua buah batu yang telah diikat di perut baginda.

Baginda bahkan mengunjungi orang munafik bernama Abdullah bin Ubay, yang sudah sejak lama menyimpang dari jalan yang benar dan berusaha merendahkan baginda. Kelembutan baginda jauh melebihi kemarahan baginda dan bila seseorang semakin bertindak bodoh terhadap baginda, baginda malah bertambah sabar.

TEMPAT TIDUR:

Baginda tidur di atas kasur kulit keras berisi serat pohon palem. Kasur itu begitu keras sehingga ketika baginda bangun, serat palem meninggalkan bekas bilur-bilur pada tubuh baginda.

SIKAT GIGI:

Baginda membersihkan gigi dengan ujung kayu siwak yang dimekarkan.

AROMA ALAMI DAN PENGGUNAAN PARFUM:

Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, diberkati dengan aroma alami yang sangat berbeda dengan yang ada di dunia. Digambarkan aroma baginda lebih harum daripada misik atau kasturi. Seperti itu pula keharuman baginda tatkala baginda berkeringat, sampai-sampai para istri baginda mengumpulkan keringat baginda dan memanfaatkannya sebagai parfum untuk diri mereka.

SEPATU:

Baginda memakai terompah dengan sol terbuat dari kulit disertai dua tali pengikat.

CINCIN:

Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, memiliki cincin perak dengan batu permata dari Abyssinia yang baginda gunakan sebagai segel/stempel.

Ketika Islam mulai menyebar, mulailah ditulis surat ajakan kepada Islam untuk Kaisar Romawi, Raja Persia, dan lain-lainnya. Baginda diberitahu bahwa para kepala negara hanya menerima surat yang ada segelnya. Cincin tersebut dibuat sekitar 6 atau 7 tahun setelah baginda hijrah ke Madinah.

Didalam cincin baginda, terukir tiga baris tulisan. Pada baris pertama tertulis kata "Muhammad", sedang kata "rasul" pada baris kedua, dan pada baris ketiga terukir kata "Allah".

PUASA:

Disamping puasa wajib di bulan Ramadan, baginda juga mengerjakan puasa sunah (sukarela). Bunda Siti Aisyah, semoga Allah meridhainya, memberitahu, setelah hijrah ke Madinah, Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, tidak berpuasa sebulan penuh kecuali dibulan Ramadan. Didalam hadis lainnya, bunda juga telah meriwayatkan bahwa baginda banyak berpuasa dibulan Sya'ban.

Baginda berpuasa beberapa hari dalam suatu bulan dan sama sekali tidak berpuasa dibulan yang lain. Baginda biasa berpuasa pada hari senin dan kamis, dimana mendapat perhatian khusus dari baginda. Siti ‘Aisyah meriwayatkan bahwa baginda bersabda, "Aku lahir pada hari Senin, dan penurunan Al-Quran dimulai pada hari Senin." Abu Hurairah memberitahu sabda baginda yang berbunyi, "Segala perbuatan dipersembahkan (kepada Allah Yang Maha Tinggi) pada hari Senin dan Kamis. Aku ingin perbuatanku dipersembahkan dikala sedang berpuasa."

Siti Aisyah, semoga Allah meridhainya, berkata, "Baginda berpuasa selama beberapa bulan pada hari sabtu, minggu dan senin, sedangkan pada bulan-bulan lainnya, baginda berpuasa pada hari selasa, rabu dan kamis." Siti Aisyah juga berkata kalau baginda tidak berpuasa pada hari-hari tertentu, tetapi setiap kali baginda merasa cocok. Abdullah bin Mas'ud melaporkan baginda jarang berpuasa pada hari Jumat.

Dipertengahan bulan-bulan Islam, baginda berpuasa 3 hari yaitu tanggal 13, 14 dan 15, demikian pula tanggal 10 Muharrom dan 10 Dzulhijjah.

Setelah berhijrah, baginda memperhatikan beberapa orang Yahudi menjalankan puasa tanggal sepuluh Muharrom, yang mana merupakan hari puasa Asyuro. Baginda bertanya mengapa mereka berpuasa pada hari itu dan diberitahu bahwa itulah hari dimana Allah Yang Maha Tinggi, menyelamatkan nabi Musa, kedamaian kepadanya, dari Firaun, dan itu juga adalah hari di mana Allah, Yang Maha Tinggi, menenggelamkan Firaun.

Mereka memberitahu baginda bahwa nabi Musa berpuasa pada hari itu sebagai ungkapan syukur dan kebahagiaan, dimana baginda, Nabi yang kita cintai, pujian dan kesejahteraan atasnya, bersabda, "Kami lebih berhak darimu untuk mengikuti Musa, kedamaian kepadanya." Setelah itu Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, menyuruh para pengikut baginda berpuasa pada hari tersebut. Puasa ini diwajibkan sebelum turun perintah berpuasa pada bulan Ramadan, kemudian baginda bersabda kalau puasa Asyuro hukumnya sunah (sukarela). Untuk membedakan puasa Islam Asyuro dari puasanya orang Yahudi, baginda berpuasa sehari sebelum atau sesudah Asyuro’.

IBADAH:

Apapun yang dikerjakan baginda, merupakan perbuatan ibadah. Berikut ini diantara contohnya.

Meskipun secara mutlak baginda tak mempunyai dosa, dan telah dijanjikan pangkat tertinggi di Surga, suatu pangkat yang tidak dicapai para nabi mulia lainnya, tidak menghalangi baginda untuk senantiasa mengerjakan solat-solat sunah. Baginda mengerjakan solat-solat sunah secara panjang dan lama hingga kaki baginda menjadi bengkak. Bunda Siti Aisyah bertanya mengapa baginda solat lama sekali padahal Allah telah mengampuni semua dosa baginda. Baginda menjawab, "Bukankah lebih utama jika aku menjadi penyembah yang bersyukur?"

Tidur setelah solat Isya merupakan kebiasaan baginda, ini untuk bagian pertama waktu malam, kemudian baginda bangun mengerjakan solat sunah sampai waktu sahur tiba. Pada waktu inilah, baginda mengerjakan solat malam yang terakhir yaitu solat Witir. Lalu baginda kembali ke ruangan baginda dan tidur hingga panggilan solat subuh berkumandang, lalu baginda mandi besar atau wudhu bersiap-siap untuk solat.

Solat sunah (sukarela) yang dikerjakan baginda dimalam hari diawali dengan dua rakaat solat pendek diikuti dengan solat-solat panjang yang jumlah rakaatnya bervariasi. Terkadang baginda mengerjakan sepuluh rakaat solat diikuti dengan solat Witir sehingga berjumlah tiga belas - tidak pernah melebihi jumlah ini - kemudian di waktu yang lain, mengerjakan solat delapan rakaat diikuti dengan solat Witir.

Bunda Siti Aisyah, semoga Allah meridhainya, berkata, setiap kali baginda berhalangan mengerjakan solat disepanjang malam, maka baginda mengerjakan solat dua belas rakaat sebelum tengah hari (solat dhuha). Bunda Aisyah juga mengatakan bahwa baginda mengerjakan solat-solat baginda dengan adab yang paling sempurna. Suatu hari bunda Aisyah bertanya, "Ya Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, apakah engkau tidur sebelum mengerjakan solat Witir?" Baginda menjawab, "Hai Aisyah, mataku tidur, tetapi hatiku tetap terjaga." Keadaan penuh berkat ini adalah karunia khusus yang dianugerahkan kepada para nabi.

Di bulan Ramadan baginda sering mengerjakan solat Tarawih di Masjid, dan memberitahu para Sahabat bahwa orang-orang yang berdiri dengan keimanan yang tulus dan berpengharapans didalam solat sepanjang Malam Lailatul Qodar, akan diampuni dosa-dosanya. Bila baginda tidak solat Tarawih berjamaah dimasjid, baginda mengerjakannya dirumah.

Ketika sakit, baginda mengerjakan solat sambil duduk, hingga tinggal tiga puluh sampai empat puluh ayat yang tersisa saat baginda bangkit dan melantunkannya sambil berdiri, lalu baginda rukuk dan sujud, serta melakukan hal yang sama pada rakaat kedua.

Umar, semoga Allah meridhainya, memberitahu, "Aku melakukan solat dua rakaat sebelum dan sesudah solat zuhur (solat tengah hari), dua rakaat sesudah solat magrib, serta dua rakaat setelah solat isya bersama Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya.

PELANTUNAN Al-QUR'AN KUDUS:

Bunda Ummu Salamah, semoga Allah meridhainya, berkata, "Baginda melantunkan tiap kata demi kata secara jelas." Bunda Salamah juga berkata, "Baginda melantunkan: 'Segala puji bagi Allah, Penguasa semesta alam' dan berhenti, kemudian melantunkan, 'Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang' dan berhenti. Baginda berhenti lagi setelah melantunkan 'Pemilik hari pembalasan'."

Ketika Bunda Siti Aisyah, semoga Allah meridhainya, ditanya apakah Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, melantunkan dengan suara lembut ataukah bisa kedengaran. Bunda menjawab, baginda melantunkan dengan keduanya-duanya. Suatu hari Ummu Hani yang tinggal di Mekah mengatakan beliau mendengar lantunan baginda dari atas atap rumah beliau. Para ulama berkomentar, ini karena dalam keheningan malam, suara terdengar lebih jelas.

Ketika membuka Mekah, baginda mengendarai unta milik baginda yang bernama Al-Qoshwa, seraya melantunkan ayat-ayat berikut berulang kali: "Sungguh Kami telah membuka bagimu pembukaan yang nyata; bahwa Allah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang, dan menyempurnakan nikmat-Nya atasmu, serta membimbingmu pada jalan yang lurus." Al-Fath-Pembukaan, surah ke-48 ayat 1-2. Menurut Muawiyah bin Qurroh, salah satu perawi hadis ini, jika bukan karena khawatir orang-orang akan berkerumun kepada baginda, baginda akan melantunkannya dengan bunyi suara yang sama.

Sahabat Qotadah menuturkan bahwa Allah menganugerahkan paras yang bagus dan suara yang merdu kepada setiap nabi-Nya, demikian pula baginda yang memiliki keduanya, paras dan suara yang indah, namun saat membaca Al Qur’an, baginda tidak melantunkan dengan bunyi berirama seperti kebiasaan para penyanyi.

KESIMPULAN:

Orang-orang yang mendapat anugerah bisa melihat Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, hanya dapat menggambarkan paras dan penampilan mulia baginda yang diberkati dengan mengatakan, "Aku tidak pernah melihat ada orang seperti Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, baik sebelum maupun sesudahnya." Maka tidak mungkin bagi kita dizaman sekarang ini dapat memahami secara lahir batin keindahan baginda yang tiada terkira.

Dengan meneladani jalan hidup baginda, insya Allah akan mendapatkan keberkahan yang luar biasa dan kaya pahala. Semoga Allah senantiasa memuji dan memberkati pujaan hati kita Nabi Muhammad, manusia terbaik ciptaan Allah.

 

SAHIH SHIFA

KESEMBUHAN

 

Seri ke-7

 

KEDUDUKAN AGUNG NABI MUHAMMAD

DI DUNIA DAN DI AKHIRAT

 

Karya

Hakim Agung Abulfadl Iyad

wafat tahun 1123M / 544H

 

Periwayat Hadis

Muhaddis Agung Hafiz Abdullah Bin Siddiq

 

 

Perevisi

 Muhaddis Abdullah Talidi

 

 

Diadaptasikan oleh

Abdi Hadis Syekh Ahmad Darwish (Arab)

Anne Khadeijah (Inggris)

Siti Nadriyah (Indonesia)

 

Copyright © 1984-2013 Allah.com Muhammad.com. Hak Cipta dilindungi

BERITA SAHIH DAN MASYHUR YANG MENGABARKAN KEAGUNGAN NILAI NABI MUHAMMAD DISISI ALLAH, BESERTA KEMULIAAN BAGINDA DI DUNIA DAN DI KEHIDUPAN ABADI.

 

Tidak ada yang membantah bahwa Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, adalah orang yang termulia di seluruh dunia, sekaligus junjungan anak turun nabi Adam. Baginda mempunyai derajat yang paling tinggi dan kedudukan yang paling utama disisi Allah, serta yang paling dekat dengan-Nya. Banyak sekali hadis yang mengungkap hal ini, disini kami hanya menguraikan sebagian saja diantara yang sahih dan masyhur.

Nabi Muhammad dalam pandangan Penguasanya

Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia, telah menjadikan Nabi Muhammad sebagai manusia pilihan-Nya, dan meninggikan penyebutan namanya, serta menjadikannya sebagai junjungan anak turun Nabi Adam. Baginda juga diberi kedudukan yang istimewa di dunia dan di akhirat serta nama-nama bagus yang penuh berkah.

Tatkala ditanya kapan kenabian dianugerahkan kepada baginda, Abu Hurairah memberitahu bahwa  baginda menjawab, "Ketika Adam antara ruh dan jasad."

Berkenaan kemuliaan garis keturunan baginda, Watslah bin Asqo' memberitahu bahwa Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, telah bersabda, "Sungguh Allah telah memilih Ismail dari keturunan Ibrahim, dan memilih bani Kinanah dari keturunan Ismail, dan memilih kaum Quraisy dari bani Kinanah, dan memilih bani Hasyim dari kaum Quraisy, dan memilihku dari bani Hasyim."

Anas mengungkap kedudukan terhormat Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, yang telah bersabda, "Aku keturunan Adam yang paling mulia dalam pandangan Penguasaku, dan aku tidak bangga." Kata Ibnu Abbas, Nabi telah bersabda Nabi, "Aku paling mulia dari yang awal sampai yang akhir, dan aku tidak bangga."

Bunda Siti Aisyah, Ibu orang-orang beriman, semoga Allah meridhainya, memberitahu bahwa Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, bersabda, “Malaikat Jibril, kesejahteraan atasnya, datang kepadaku kemudian berkata, 'Aku telah bolak balik ke timur dan barat bumi, namun tidak melihat seorangpun yang lebih baik daripada Muhammad, dan tidak melihat bani (anak turun) yang lebih baik daripada bani Hasyim.”

Pada "Perjalanan Malam (Isro' Mi'roj)", Buroq (tunggangan surgawi berwarna putih dan bersayap) didatangkan kepada Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, sebagai kendaraan baginda. Sahabat Anas memberitahu kita bahwa buroq menjadi lincah saat melihat baginda lalu Malaikat Jibril bilang pada Buroq, "Apakah kepada Muhammad kamu bertingkah demikian? tak seorangpun yang pernah menunggangimu lebih mulia disisi Allah daripada baginda." Setelah mendengar kata-kata Malaikat Jibril, bercucuran keringat Buroq.

(Sisipan Syeikh Darwish: Sudah umum diketahui bahwa Buroq adalah kendaraan surgawi para nabi, bagaimanapun, berabad-abad  telah berlalu sejak Buroq terakhir kali ditunggangi. Buroq juga telah menyadari pangkat terhormat Nabi Muhammad, dan ini yang membuat Buroq bertingkah lincah, jadi saat Malaikat Jibril berbicara kepadanya tentang hal itu, Buroq menjadi pecah keringatnya.)

Abu Hurairah, dan beberapa sahabat yang lain, menceritakan bahwa Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, telah bersabda, "Aku diberi lima perkara yang tidak diberikan kepada para nabi sebelumku: Aku dimenangkan melalui ketakutan yang dilontarkan kedalam hati musuh-musuhku sebulan sebelum aku tiba; Bumi telah dijadikan sebagai masjid bagiku dan tempat yang suci, sehingga manakala tiba waktu untuk solat, setiap orang dari umatku dapat melaksanakan solat; Telah dihalalkan harta rampasan perang untukku, yang mana tidak dihalalkan untuk para nabi sebelumku; Aku telah diutus untuk seluruh umat manusia; Aku telah diberi syafaat (menjadi perantara di Hari Kiamat)."

Berkaitan dengan seluruh dunia, baginda bersabda, "Aku diutus pada semua ras, yang terang dan yang gelap." Ada dua penjelasan untuk kalimat "yang terang dan yang gelap".

Pertama: "yang gelap" maknanya tertuju pada bangsa Arab, karena biasanya kulit mereka berwarna kehitam-hitaman. Kalimat "yang terang" merujuk pada selain bangsa Arab.

Kedua: "yang terang" berarti bangsa manusia sedang "yang gelap" berarti bangsa jin yang diciptakan dari api dan hidup di daerah terpencil tetapi ada juga yang hidup diantara manusia.

Abu Hurairah melaporkan sabda Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, "Aku dimenangkan melalui ketakutan yang dilontarkan kedalam hati musuh-musuhku, dan aku diberi kefasihan seluruh kata-kata. Disaat aku tidur, tiba-tiba didatangkan kunci harta karun bumi kepadaku, lalu diletakkan ditanganku. " Ulama lainnya menambahkan bahwa pangkat kenabian ditutup melalui baginda.

‘Uqbah bin Amir meriwayatkan bahwa Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, berkata, "Demi kalian, aku akan pergi lebih dahulu sebelum kalian, dan aku akan menjadi saksi atas kalian. Demi Allah, sungguh aku benar-benar sedang melihat telagaku, dan aku telah diberi kunci-kunci harta karun bumi. Demi Allah, aku tidak takut kalian mempersekutukan (yang lain dengan Allah) sesudahku, namun aku takut kalian berlomba-lomba memperoleh dunia."

Abdullah bin Amr memberitahu bahwa Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, bersabda, "Aku Muhammad seorang Nabi yang buta huruf, tidak ada nabi setelahku, dan aku telah diberi Jawami’Ul-Kalim (seluruh kata-kata fasih yang ringkas dan mengandung maksud yang luas)."

Baginda membicarakan akhir dunia, seraya bersabda, "Aku telah diutus tidak lama sebelum kedatangan kiamat." Perkataan baginda ini telah diriwayatkan oleh Ibnu Umar.

Abu Hurairah memberitahu kita sabda baginda yang membicarakan tanda-tanda kenabian yang diberikan kepada para nabi, "Setiap nabi diberi tanda-tanda dan yang menyerupainya sehingga orang-orang percaya kepadanya, dan sesungguhnya aku telah diberi wahyu yang diwahyukan Allah kepadaku, dan aku berharap mempunyai pengikut terbanyak pada hari kiamat."

Menurut para ulama, makna hadis diatas adalah bahwasanya Al-Qur'an, mukjizat terbesar yang diberikan kepada Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, akan tetap abadi selama masih ada kehidupan diatas dunia, sedangkan mukjizat para nabi lainnya telah hilang ditelan waktu. Mukjizat para nabi mulia sebelumnya tidak bisa disaksikan kecuali pada waktu munculnya saja dizaman mereka, sedangkan mukjizat Al-Qur'an tetap berdiri tegak dari generasi ke generasi hingga hari kiamat."

Insya Allah, uraian lebih terperinci terdapat pada bab yang berkaitan dengan mukjizat Al-Qur'an.

Imam Ali, semoga Allah meridhainya, memberitahu bahwa setiap nabi diberi tujuh orang mulia, para menteri, para sahabat dari umatnya, namun Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, diberi empat belas orang mulia diantaranya adalah Abu Bakar, Umar, Ibnu Mas'ud dan Ammar. Dalam riwayat lain disebutkan nama sahabat yang termasuk orang mulia yaitu: (Hamzah, Ja'far, Ali, Hasan, Husain, Miqdad, Abu Dzar, Hudzaifahh, Salman, dan Bilal).

Adapun sepuluh Sahabat Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, yang dijamin surga yaitu Abu Bakar, Umar, Usman bin Affan, Ali, Tolhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Abdul Rahman bin Auf, Sa'ad bin Abi Waqqas, Said bin Zaid, dan Abu Ubaidah Bin Jarrah.

Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, bersabda, "Allah telah melindungi kota Mekah dari gajah, serta memberi kepada rasul, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan orang-orang beriman kendali atas kota Mekah. Kendali tersebut tidak diizinkan untuk siapapun setelahku, dan itu dibuat halal bagiku hanya sesaat disiang hari."

(Sisipan Syeikh Darwish: Gajah-gajah tersebut telah dibawa ke Mekah oleh Abrahah untuk menghancurkan Kabah. Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, diizinkan berkelahi di tanah suci Mekah hanya selama sesaat saja pada hari baginda Membuka kota Mekah.)

(Syekh Ahmad Darwish menambahkan:

Irbad bin Sariyah meriwayatkan bahwa Rasulullah, sollallahu alaihi wa alihi wasallam, bersabda, "Sungguh aku hamba Allah dan penutup para nabi ketika Adam masih berupa tanah liat. Aku akan memberitahu kalian mengenai hal ini. Aku adalah doa ayahku Ibrahim, kabar gembira Isa, dan penglihatan ibuku, dan begitulah ibu para nabi melihat, dan sesungguhnya ibu Rasulullah, sollallahu alaihi wa alihi wasallam, telah melihat ketika melahirkan baginda, sebuah cahaya memancar dari beliau yang menerangi istana-istana Syam, hingga beliau telah melihatnya."

Diriwayatkan Imam Ahmad bin Hambal, Bazzar dan Baihaqi, yang menilai kesahihannya adalah Al-Hafiz Ibnu Hibban dan Al Hakim, kesahihannya telah diakui oleh Hafiz Ibnu Hajar. Al Hafiz Abdullah bin Siddiq Al-Ghumari juga telah meriwayatkan didalam karyanya "Hadis pilihan keutamaan Rasulullah". Semoga Allah merahmati mereka.

Hadis diatas menggugurkan pendapat orang-orang yang menganggap bunda Aminah termasuk Ahli Fitroh (orang-orang dengan keimanan yang lurus dan tidak menyembah berhala, yang hidup sebelum masa Nabi Muhammad dan sesudah masa Nabi Isma’il).

Terbukti bahwa bunda Aminah adalah wali pertama dalam Islam, dan nyonya besar sekaligus ibu termulia dalam keluarga rumah tangga Rasulullah, karena bunda Aminah telah melihat dengan mata wilayah (mata kewalian).

Bagaimana para kekasih Allah (auliya') melihat, telah dinyatakan didalam Hadis Qudsi (Hadis oleh Allah) "Aku menjadi penglihatannya yang dia melihat dengannya".

Jadi bunda Aminah melihat istana-istana Syam bukan dengan penglihatan mata biasa namun dengan cahaya baginda. Oleh karena itu, bunda Aminah menyuplai susu yang terbaik dan menimang baginda dengan kemuliaan, dan Rasulullah telah menerangi bunda Aminah (ketika didalam kandungan beliau) sebelum menerangi dunia.

Di permulaan hadis, baginda menyebut diri baginda dengan kata "aku", namun setelah menyebut sang ibu, demi untuk memuliakan beliau, baginda merubah penyebutan diri baginda menjadi "Rasulullah".

Baginda memberi kesaksian bahwa bunda Aminah telah menyaksikan cahaya secara lengkap dalam keadaan terjaga ketika melahirkan baginda, sedangkan orang-orang selain bunda Aminah hanya mendengar cahaya tersebut tanpa melihatnya.

Baginda sangat bangga dengan bunda Aminah dan menyebut beliau "Ibu Rasulullah".

Bunda Aminah mewariskan keutamaan, kemuliaan, cahaya dan kebahagiaan beliau kepada Sayyidah Khadijah Al-Kubro kemudian kepada Sayyidah Fatimah Az-Zahro’. Semoga Allah meridhai mereka.

Syekh Albani telah mengakui bahwa hadis tentang cahaya baginda Muhammad ketika didalam kandungan dan ketika dilahirkan adalah sahih. Syekh Albani menyebutkan hal itu didalam kitab Sahih Sirah karya Al Hafiz Ibnu Katsir yang telah beliau revisi. Dalam kitab yang sama, Syekh Albani juga mengakui berkah baginda Muhammad.

Syekh Albani mencap Tuwayjiriy dan Ibnu Baz telah menyerupakan Allah dengan makhluk ciptaan-Nya. Menyerupakan Allah dengan makhluk termasuk perbuatan kufur. Kata Syekh Albani, At-Tuwayjiriy dan Ibnu Baz belum memahami ilmu hadis secara mendalam. Syekh Albani memberitahu bahwa beliau telah mengajarkan ilmu kepada para muridnya namun tidak mengajari mereka adab.

Dalam ringkasan ini, Allah memberkati dengan menjadikan kami memahami hadis tersebut. Maka tak sepatutnya mempertimbangkan ucapan orang-orang yang mengatakan bahwa Jabir telah meriwayatkan sabda baginda yang berbunyi, "Wahai Jabir, pertama kali yang diciptakan Allah adalah cahaya Nabimu".

Mereka bilang perkataan itu adalah sabda baginda yang diriwayatkan Jabir dan terdapat didalam kitab Musonnaf Abdul Rozzaq padahal tidak demikian. Setelah melalui penelitian ilmiah yang mendalam dalam ilmu hadits, Al Hafiz Abdullah bin Siddiq Al Ghumari mengungkap didalam berbagai tulisannya bahwa perkataan tersebut adalah hadis palsu).

Ibnu Abbas berbicara kepada teman-teman beliau tentang kedudukan Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, seraya berkata, "Sungguh Allah melebihkan Muhammad atas para penghuni langit dan atas para nabi mulia, kesejahteraan atas mereka semuanya."

Teman-teman Ibnu Abbas lalu bertanya apa keunggulan baginda atas para penghuni langit. Ibnu Abbas lantas memberitahu mereka, bahwa Allah telah berfirman kepada para penghuni langit,

"Dan barangsiapa diantara mereka mengatakan, aku adalah tuhan selain Dia, maka yang demikian Kami hendak membalasnya (neraka) Jahannam. Seperti itu Kami membalas para pelaku kezaliman." (Al-Anbiya',21:29).  Sedangkan Dia berfirman kepada Muhammad,

"Sungguh, Kami telah membuka untukmu (Muhammad) pembukaan yang nyata; agar Allah mengampuni bagimu apa yang telah lalu dari dosamu dan apa yang akan datang, dan menyempurnakan nikmat-Nya atasmu, dan membimbingmu pada jalan yang lurus." (Al-Fath,48:1-2).

Mereka lantas menanyakan keunggulan baginda atas para nabi mulia, dan Ibnu Abbas mengingatkan mereka tentang firman Allah, "Dan tiada Kami mengutus seorang Rasul pun kecuali dengan lisan kaumnya agar menjelaskan kepada mereka. Kemudian Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan membimbing siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Ibrahim,14:4) Sedangkan Dia berfirman kepada Nabi Muhammad, "Dan Kami tidak mengutusmu (Muhammad) melainkan untuk seluruh umat manusia, sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan." (Saba',34:28).

Kholid bin Ma'dan adalah salah satu dari sekelompok Sahabat yang bertanya kepada Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, "Ya Rasulullah, ceritakan kepada kami tentang diri anda?" kemudian baginda bersabda, "Aku adalah doa leluhurku Ibrahim, ketika beliau berdoa "Wahai Penguasa kami, utuslah kepada mereka seorang rasul dari mereka." (Al-Baqoroh,2:129). Isa (Yesus) juga memberi kabar gembira tentang aku."

Baginda melanjutkan, "Ketika ibuku mengandung aku, beliau melihat cahaya keluar dari beliau yang menerangi gedung-gedung Bushro di tanah Syam."

Lalu baginda berbicara mengenai persusuannya seraya bersabda, " Tatkala aku bersama saudara angkatku dibelakang tenda kami tengah mengembala hewan kepunyaan kami, tiba-tiba dua orang lelaki yang mengenakan pakaian putih membawa bejana dari emas berisi salju datang kepadaku. Mereka membaringkan aku, kemudian membelah hati dan perutku, lalu membasuhnya dengan salju tersebut, hingga mereka telah membersihkannya lantas mengembalikannya seperti semula.

Sesudah itu, salah satunya berkata kepada temannya: 'Timbanglah baginda dengan sepuluh orang dari umatnya.' Maka aku ditimbang dengan sepuluh orang tersebut, namun aku lebih berat dari mereka.

Lalu dia berkata, 'Timbanglah baginda dengan seratus orang dari umatnya.'

Aku pun ditimbang dan masih lebih berat dari mereka.

Dia berkata lagi, 'Timbanglah baginda dengan seribu orang dari umatnya.' Setelah ditimbang, aku tetap lebih berat dari mereka." Lantas malaikat itu berkata, 'Jika engkau menimbangnya dengan seluruh umatnya, baginda tetap lebih berat dari mereka semua.'''

Anas berkata, "Malaikat Jibril datang kepada Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, yang saat itu tengah bermain dengan beberapa anak. Malaikat Jibril mengambil baginda dan kemudian membaringkan baginda. Dia membelah dada baginda, mengambil hati baginda dan membersihkannya.

Lalu Malaikat Jibril menghilangkan sebuah noda hitam dari baginda seraya berkata, 'Ini porsi (bagian) setan di dalammu.' Setelah itu, dia mencuci hati baginda dengan air Zam-Zam dari sebuah bejana emas, lalu menutupnya dan mengembalikan pada keadaan semula. Anak-anak pergi ke ibu susu mereka sambil berkata, "Muhammad telah dibunuh!" Tak lama kemudian, baginda kembali pada mereka dan mereka menyambut baginda, sementara raut muka baginda nampak pucat pasi." Anas menambahkan, "Aku melihat ada bekas jahitan di dada baginda."

Abdullah bin Mas'ud berkata, "Sungguh Allah memandang pada hati para hamba, kemudian memilih diantara mereka hati Muhammad. Dia memilih baginda untuk diri-Nya sendiri dan mengutus baginda dengan Risalah-Nya."

SAHIH SHIFA

KESEMBUHAN

 

Seri ke-8

 

ISRO’ MI’ROJ NABI MUHAMMAD

PUJIAN DAN KESEJAHTERAAN ATASNYA

 

 

Karya

Hakim Agung Abulfadl Iyad

wafat tahun 1123M / 544H

 

Periwayat Hadis

Muhaddis Agung Hafiz Abdullah Bin Siddiq

 

Perevisi

 Muhaddis Abdullah Talidi

 

 

Diadaptasikan oleh

Abdi Hadis Syekh Ahmad Darwish (Arab)

Anne Khadeijah (Inggris)

Siti Nadriyah (Indonesia)

 

Copyright © 1984-2013 Allah.com Muhammad.com. Hak Cipta dilindungi

 

Keajaiban Perjalanan Malam dan Kenaikan ke Langit (Isro' Mi'roj)

Allah menganugerahkan Nabi Muhammad mukjizat Perjalanan Malam dari Mekah ke Yerusalem dan kenaikan ke langit. Baginda menjadi imam para nabi didalam solat dan naik hingga mencapai Sidratul Muntaha (Pohon Lotte).

Baginda juga mendapat anugerah Percakapan dengan Sang Penguasa, melihat aneka hal-hal gaib, serta menyaksikan sebagian tanda-tanda terbesar keagungan Penguasa seluruh alam.

(Syekh Ahmad Darwish menambahkan: Hafiz Ibnu Hajar berkomentar mengenai tulisan Hakim Iyad terkait peristiwa Isro’ Mi’roj (Perjalanan Malam dan Kenaikan ke langit), dengan menghadirkan beragam pendapat berbobot yang beliau susun rapi dalam satu untaian. Beragam pendapat tersebut telah disepakati kebenarannya oleh para ulama’ dan telah turun temurun dari satu kelompok ulama’ ke kelompok ulama dimasa selanjutnya hingga kemudian sampai kepada Hafiz Ibnu Hajar.

Hakim Iyad dan para ulama’ besar yang mendalami sejarah Rasulullah berpendapat bahwa baginda mengalami mimpi terlebih dahulu, sehingga baginda siap untuk kenaikan menakjubkan yang sebenarnya dengan jiwa dan raga baginda. Ini adalah keadaan akhir yang dijadikan orang-orang kafir sebagai bahan pemicu perdebatan. Karena jika hanya sebuah mimpi, tentu mereka tidak memperdebatkan Isro’ Mi’roj yang terjadi dengan badan dan ruh baginda.

Hendaknya disadari, ketika beberapa hadis dilaporkan sepotong demi sepotong dengan sanad-sanad (rantai pelaporan) yang sahih, maka membutuhkan seseorang yang benar-benar ahli dalam ilmu hadis untuk mengatur dan mengurai untaian hadis tersebut. Jika tidak ada pakar hadis yang bisa dijadikan sandaran, untuk mereka yang tidak mempunyai pengetahuan mendalam dibidang hadis, kemungkinan akan mendapati adanya kontradiksi meski sebenarnya tidak ada.

Pakar hadis paling terkemuka, Hafiz bin Hajar, yang kedalaman ilmu pengetahuan serta pemahamannya telah diakui dunia, diberkati dengan kemampuan untuk mengatur untaian hadis seputar Isro’ Mi’roj dan persiapan sebelum terjadinya Isro’Mi’roj dari sumber riwayat yang sahih.

Dari penelitian Hafiz bin Hajar, kita jadi tahu bahwa pendahuluan peristiwa Isro’ Mi’roj terjadi pada malam hari di rumah Ummu Hani - berada di lembah Abu Thalib - dimana Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, kebetulan sedang beristirahat. Tiba-tiba, atap rumah Ummu Hani membelah terbuka, itulah sebuah rumah tertentu yang dimaksud oleh baginda ketika baginda berkata "suatu rumah" karena di sanalah saat itu baginda tinggal. Pada malam itu, Malaikat Jibril datang kepada baginda dan membawa baginda dari rumah tersebut menuju Masjidilharam. Baginda tengah beristirahat dalam keadaan antara tidur dan terjaga saat Malaikat Jibril muncul. Lalu Malaikat Jibril membawa baginda ke Hijr Ismail, dari sana mereka menuju pintu Masjidilharam, dan baginda kemudian menunggang Buroq, inilah awal mula terjadinya peristiwa Isro’ Mi’roj. Perjalanan Malam disebut Isro’ sedangkan kenaikan ke langit yang terjadi di Yerusalem disebut Mi’roj.

Hafiz bin Hajar juga telah menyusun rapi beragam laporan mengenai pembukaan dada baginda, dimana salah satunya adalah untuk persiapan Isro' dan Mi'roj. Peristiwa pertama menceritakan penghilangan sebuah titik hitam, sedang pembukaan lainnya hanya sekedar pencucian dengan air Zam-Zam dan pengisian hati dan dada baginda dengan keimanan)

Pada peristiwa Isro’ Mi’roj atau Perjalanan Malam yang Menakjubkan, Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya,  menjadi pemimpin solat semua nabi mulia; bercakap-cakap dengan Allah; melihat banyak  hal-hal yang gaib; dan naik sampai ke Sidratul Muntaha (Pohon Lote) yang dekat dengan Taman Pengayom (Jannatul Ma’wa), serta menyaksikan tanda-tanda paling besar keagungan Allah.

Dari peristiwa Isro’Mi’roj, dapat diketahui keunggulan dan ketinggian derajat Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya. Peristiwa menakjubkan ini juga telah disebutkan didalam Al-Qur'an dan penjelasan lebih rinci terdapat didalam kutipan kenabian (hadis) sahih.

Allah berfirman, "Maha Suci Dia yang telah memperjalankan penyembah-Nya (Muhammad) pada suatu malam dari Masjidil Haram (Mekah) sampai Masjidil Aqso (Yerusalem) yang Kami telah memberkati sekelilingnya untuk memperlihatkannya sebagian dari tanda-tanda Kami. Sungguh Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (Al-Isro',17:1)

Allah berfirman,

“1.  Demi bintang ketika terbenam.

2.  Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru.

3.  Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.

4.  Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).

5.  Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat.

6.  Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli.

7.  Sedang dia berada di ufuk yang Tinggi.

8.  Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi.

9.  Maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi).

10.  Lalu dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang Telah Allah wahyukan.

11.  Hatinya tidak mendustakan apa yang Telah dilihatnya.

12.  Maka apakah kaum (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang Telah dilihatnya?

13.  Dan Sesungguhnya Muhammad Telah melihatnya (yakni Jibril, dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain,

14.  (yaitu) di Sidratil Muntaha.

15.  Di dekatnya ada syurga tempat tinggal,

16.  (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.

17.  Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya.

18. Sesungguhnya dia Telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” (An-Najm, 53:1-18.)

Orang-orang Islam sama sekali tidak meragukan peristiwa besar yang menakjubkan ini, karena Allah telah memberi kesaksian didalam Al-Qur'an yang suci tentang peristiwa tersebut. Ada sejumlah besar kutipan kenabian (hadis) sahih yang menjelaskan serta menerangkan lebih terperinci berbagai keajaiban dan keistimewaannya. Insya Allah, beberapa informasi yang telah disampaikan dibagian sebelumnya, disambung informasi tambahan berikutnya, akan lebih mencerahkan pandangan umat manusia untuk nilai keagungan Isro’Mi’roj.

Anas bin Malik diberitahu Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, yang bersabda, "Buroq dibawa kepadaku, ia adalah hewan putih, lebih tinggi dari keledai, tetapi lebih kecil dari bagal (hasil peranakan kuda dengan keledai). Jarak langkah Buroq sejauh pandangan matanya. (Syekh Darwish menambahkan: ini berarti perjalanan dengan kecepatan cahaya). Aku mengendarainya hingga aku tiba di Baitul Muqoddas (Yerusalem). Lalu aku menambatkan Buroq pada ring yang biasa digunakan para nabi (untuk menambatkan kendaraan mereka). Sesudah itu aku memasuki masjid, dimana aku solat dua rakaat didalamnya. Ketika aku keluar, malaikat Jibril membawakanku dua ceret, yang satu berisi susu dan yang satunya berisi arak. Aku memilih bejana yang berisi susu dan Jibril berkata, 'Engkau telah memilih tabiat yang baik."

Kemudian kami naik bersama ke langit pertama, dan Jibril minta dibukakan. Sebuah suara bertanya, 'Siapa anda?' Dia menjawab, 'Jibril'. Lalu bertanya lagi, "Siapa yang bersama anda?" Jibril menjawab, 'Muhammad'. Dan bertanya lagi, 'Apakah dia telah diutus?' Jibril menjawab, 'Baginda telah diutus'. Kemudian pintu dibuka untuk kami.

Disana ada nabi Adam yang menyambutku, dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian kami naik bersama ke langit kedua, dan Jibril minta dibukakan. Sebuah suara bertanya, 'Siapa anda?' Dia menjawab, 'Jibril'. Lalu bertanya lagi, "Siapa yang bersama anda?" Jibril menjawab, 'Muhammad'. Dan bertanya lagi, 'Apakah dia telah diutus?' Jibril menjawab, 'Baginda telah diutus'. Kemudian pintu dibuka untuk kami.

Disana ada dua sepupu bersaudara, nabi Isa putra Maryam dan nabi Yahya putra Zakaria. Mereka menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian kami naik ke langit ketiga, maka hal yang sama terjadi dan pintu dibuka untuk kami. Aku bertemu nabi Yusuf yang telah diberi setengah dari seluruh ketampanan anak turun nabi Adam, dan beliau juga menyambutku serta mendoakan kebaikan untukku. Kemudian kami naik ke langit keempat, dan terjadi hal yang sama. Disana ada nabi Idris, beliau menyambutku serta mendoakan kebaikan untukku. Firman Allah tentang nabi Idris, "Dan Kami telah mengangkatnya pada tempat yang tinggi." (Maryam,19:57).

Setelah itu, kami naik ke langit kelima, dan terjadi hal yang sama. Nabi Harun ada disana, dan beliau menyambutku serta mendoakan kebaikan untukku. Kemudian, kami naik ke langit keenam, dan hal yang sama terjadi. Di sana ada nabi Musa, beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Setelah itu kami naik ke langit ketujuh, dan hal yang sama terjadi, dan aku melihat nabi Ibrahim bersandar di Baitul Ma’muur (Rumah Kerumunan) setiap hari ada tujuh puluh ribu malaikat tawaf disana, mereka masuk dan tidak keluar darinya.

Lalu Jibril pergi denganku ke Sidrotul Muntaha (Pohon Lote) yang daunnya seperti telinga gajah dan buah-buahannya seperti belanga. Ketika datang perintah dari Allah, Sidrotul Muntaha menjadi terselubungi dan berubah dalam suatu cara yang tak satupun makhluk yang mampu menggambarkannya disebabkan keindahan mutlaknya. Kemudian, Allah mewahyukan kepadaku apa yang Dia wahyukan, dan Dia mewajibkanku solat lima puluh kali tiap sehari semalam.

Sesudah itu, aku turun hingga sampai kepada Musa dan beliau menanyaiku, "Apa yang telah Penguasamu wajibkan kepada umatmu?" aku menjawab, "lima puluh solat" lantas Musa berkata, "Kembalilah kepada Penguasamu, dan mintalah keringanan kepada-Nya, umatmu tidak akan sanggup mengerjakan itu. Sungguh aku telah menguji Bani Israel, dan berpengalaman dengan mereka." Jadi aku kembali kepada Penguasaku dan meminta, "Wahai Penguasa, ringankanlah untuk umatku." Kemudian Dia menguranginya lima. Lalu aku kembali kepada Musa dan memberitahu, "Telah dikurangi lima untukku." Musa berkata, "Umatmu tidak akan sanggup mengerjakan itu, kembalilah kepada Penguasamu dan mintalah keringanan kepada-Nya."

Maka aku terus datang dan kembali antara Penguasaku, dan antara Musa, hingga Allah berfirman, "Wahai Muhammad, solat lima kali tiap sehari semalam, untuk tiap solat dihitung seperti sepuluh, jadi setara lima puluh kali solat. Barangsiapa   berniat melakukan perbuatan baik tetapi tidak melakukannya, ditulis baginya perbuatan baik. Jika melakukannya, ditulis sepuluh untuknya. Barangsiapa berniat melakukan perbuatan buruk tetapi tidak melakukannya, tidak ditulis sesuatupun. Jika melakukannya, ditulis satu keburukan." Kemudian aku turun dan sampai pada Musa serta mengabarinya, lalu beliau berkata, "Kembalilah kepada Penguasamu dan mintalah keringanan kepada-Nya." Lantas Rasulullah berkata: Aku telah berkali-kali kembali kepada Penguasaku hingga aku merasa malu kepada-Nya."

Penjelasan lebih rinci mengenai persiapan Isro’Mi’roj, diriwayatkan oleh Abu Dzar yang menuturkan bahwa Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, bersabda, "Atap rumahku membelah terbuka. Jibril turun dan membuka dadaku, kemudian mencucinya dengan air Zamzam. Lalu dia membawa sebuah bejana emas berisi hikmah dan keimanan, yang dituangkan ke dalam dadaku, sesudah itu menutupnya. Dia meraih tanganku, dan naik denganku ke langit."

(Sisipan Syeikh Darwish: Silakan lihat catatan pengantar bab ini yang berkaitan dengan: Hafiz Ibnu Hajar berkomentar mengenai tulisan Hakim Iyad terkait peristiwa Isro’ Mi’roj (Perjalanan Malam dan Kenaikan ke langit), dengan menghadirkan beragam pendapat berbobot yang beliau susun rapi dalam satu untaian. Banyak hadis sahih yang membahas peristiwa tersebut secara lebih terperinci, baik yang mengenai fase mimpi sebagai fase pengenalan maupun fase peristiwa yang sebenarnya. Hakim Iyad juga telah mengupas kejadian-kejadian yang berkenaan dengan Perjalanan Malam (Isro' Mi'roj) dengan menarik kita pada laporan dari beberapa Sahabat.)

Ibnu Syihab memberitahu sabda baginda, "Setiap nabi berucap kepadaku 'Selamat datang nabi yang saleh dan saudara yang saleh', kecuali nabi Adam dan nabi Ibrahim yang berucap, 'Anak laki-laki yang saleh'."

Hadis tersebut juga dilaporkan Ibnu Abbas yang menambahkan, "Lalu dia (Jibril) naik denganku hingga aku mencapai dataran tinggi, disana aku mendengar Goresan Pena."

Malik bin Sho'shoah memberitahu kita percakapan baginda dengan Musa, baginda bersabda, "Ketika aku melewati Musa, beliau menangis. Musa ditanya, 'Mengapa engkau menangis?' Musa menjawab, 'Penguasa, ini pemuda yang diutus sesudahku, umatnya yang masuk surga lebih banyak daripada umatku."

(Sisipan Syeikh Darwish: Anda mungkin ingin tahu mengapa nabi Musa menangis. Ini karena umat beliau yang terdiri dari orang-orang yang menyembah dan memuji Allah sendirian, jumlahnya lebih sedikit jika dibandingkan dengan umat Nabi Muhammad. Baginda bahagia memiliki lebih banyak penyembah yang memuji Allah sendirian, karena baginda berperan penting dalam membimbing mereka.)

Abu Hurairah memberitahu bahwa Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, bersabda, "Aku melihat diriku dalam kelompok para nabi, dan ketika waktu solat tiba, aku mengimami mereka. Ada yang berkata kepadaku, 'Wahai Muhammad! Ini malaikat malik, penjaga neraka, ucapkan salam kepadanya', lalu aku berbalik, tetapi dia menyalamiku lebih dulu."

Ibnu Mas'ud memaparkan bahwa baginda bersabda, "Dia (Jibril) membawaku hingga akhir Sidrotul Muntaha (Pohon Lote), yang berada di langit keenam. Apapun (perbuatan baik) yang naik dari bumi berakhir disana (di Sidratul Muntaha) kemudian diterima disana, dan apapun yang datang dari atas berakhir disana kemudian diterima disana. Allah berfirman, "Saat Sidratulmuntaha diselubungi apa yang menyelubungi." (An-Najm,53:16). Ibnu Mas’ud berkata, "Hamparan emas."

Dalam versi lain berbunyi, "Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, diberi tiga perkara. Diberi solat lima waktu, penutup surah Al-Baqoroh, dan pengampunan untuk siapapun yang berdosa besar dari umatnya yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun."

(Sisipan Syeikh Darwish: Manusia tidak dapat menembus keterbatasan mereka sebab mereka seolah-olah terhijab (terselubungi). Sang Pencipta tidak pernah absen, tapi pada saat yang sama Dia tidak bisa diakses melalui keterbatasan mata manusia, bagaimanapun, kelak di Surga mereka yang beriman akan bisa melihat-Nya)

Realitas Perjalanan Malam dan Kenaikan Nabi Muhammad ke langit

(Isro' Mi'roj) dengan jiwa dan raga, dan tidak dalam keadaan tidur.

 

Sebagian besar sahabat mempercayai bahwa baginda telah pergi pada Perjalanan Malam (Isro’ Mi’roj) dengan jiwa dan raga baginda serta dalam keadaan terjaga. Peristiwa tersebut benar-benar nyata, dan banyak Sahabat yang telah melaporkannya, diantaranya adalah Ibnu Abbas, Jabir, Anas, Hudzaifah, Umar, Abu Hurairah, Malik bin So'soa, Abu Habba AlBadri, Ibnu Mas'ud, Dohhak, Said bin Juber, Qotada, Ibnu Musayyab, Ibnu Shihab, Ibnu Zaid, Hasan, Ibrohim, Masruq, Mujahid, Ikrimah dan Ibnu Juraij.

Allah berfirman: "Maha Suci Dia yang telah memperjalankan penyembah-Nya (Muhammad) pada suatu malam dari Masjidil Haram (Mekah) sampai Masjidil Aqso (Yerusalem) yang Kami telah memberkati sekelilingnya untuk memperlihatkannya sebagian dari tanda-tanda Kami. Sungguh Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (Al-Isro',17:1)

Didalam ayat diatas terdapat kata "Hambahnya" (yakni jiwa dan raga). Andaikan (kata tersebut adalah) "ruh hambanya" berarti baginda dalam keadaan tidur. Maka menjadi jelas dan nyata bahwa baginda melakukan Perjalanan Malam dengan jiwa raga baginda serta dalam keadaan terjaga.

Bukti lainnya adalah Firman Allah dalam surah An-Najm (53) ayat 17, "Pandangannya tidak membelok dan tidak melampaui." Pandangan merupakan bagian dari tubuh manusia, bukan bagian dari jiwa.

Mengenai hal-hal tertentu yang ditanyakan kepada baginda, Abu Hurairah memberitahu bahwa baginda bersabda, "Orang-orang Quraisy menanyaiku tentang Perjalananku. Mereka menanyakan kepadaku perkara-perkara yang tidak kuingat, sehingga kesusahan menyelimutiku aku sama sekali tidak pernah sesusah itu, kemudian Allah mengangkatnya dihadapanku, jadi aku pun melihatnya." (maka baginda bisa menjawab pertanyaan mereka)."

Bantahan bagi yang mengatakan bahwa Isro’ Mi’roj hanya sebuah mimpi

(Sisipan Syeikh Darwish: Ada beberapa orang yang hidup berabad-abad setelah terjadinya Isro' Mi'roj, mengatakan bahwa peristiwa Isro' Mi'roj hanyalah mimpi. Untuk mendukung pendapatnya, mereka mengutip ayat, "Dan Kami tidak menjadikan penglihatan yang telah Kami perlihatkan kepadamu melainkan sebagai fitnah bagi manusia." (Al-Isro',17:60). Oleh karena itu, mereka menyebut Perjalanan Malam dan Pendakian (Isro' Mi'roj) sebagai sebuah mimpi, namun ayat pertama surah Al-Isro' telah menggugurkan pendapat mereka, sebab Allah berfirman, "Maha Suci Dia yang telah memperjalankan penyembah-Nya (Muhammad) pada suatu malam dari Masjidil Haram (Mekah) sampai Masjidil Aqso (Yerusalem) yang Kami telah memberkati sekelilingnya untuk memperlihatkannya sebagian dari tanda-tanda Kami. Sungguh Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (Al-Isro',17:1) Dari ayat ini maka tak seorangpun dapat mengucap bahwa Perjalanan Malam terjadi ketika baginda sedang tidur. Dan lagi, kata "fitnah" didalam surah Al Isro' ayat 60 juga membuktikan, apa yang dilihat oleh baginda akan menjadi fitnah (ujian) bagi manusia, sedang penglihatan mata dalam sebuah mimpi tidak akan menjadi fitnah. Tak ada seorang pun akan menyangkal sebuah mimpi tak peduli betapapun jauhnya suatu perjalanan!)

Allah berfirman, "Dan Kami tidak menjadikan penglihatan yang telah Kami perlihatkan kepadamu melainkan sebagai fitnah bagi manusia." (Al-Isro',17:60)

Tidak ada perbedaan pendapat diantara para ulama bahwa ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan keputusan yang diambil oleh Nabi Muhammad (setelah baginda bermimpi pergi ke Mekah) di suatu tempat bernama Hudaibiyah, dan berkaitan dengan kekecewaan kaum Muslimin yang dihalangi orang-orang Quraisy untuk menjalankan haji.

Orang-orang yang mengatakan bahwa Isro’ Mi’roj terjadi di alam mimpi, telah mengutip ayat diatas untuk mendukung pendapat mereka (padahal ayat diatas terkait dengan peristiwa Hudaibiyah, dan tidak berhubungan dengan Isro’ Mi’roj) dan mereka memilih untuk mengabaikan ayat pertama surah yang sama, yang secara jelas berbicara tentang Perjalanan Malam.

Allah Berfirman, "Maha Suci Dia yang telah memperjalankan penyembah-Nya (Muhammad) pada suatu malam dari Masjidil Haram (Mekah) sampai Masjidil Aqso (Yerusalem) yang Kami telah memberkati sekelilingnya untuk memperlihatkannya sebagian dari tanda-tanda Kami. Sungguh Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (Al-Isro',17:1)

Para pembantah yang mengatakan bahwa Isro’ Mi’roj tidak terjadi secara nyata melainkan hanya mimpi, juga mengabaikan fakta bahwa Abu Bakar, khalifah pertama, segera menerima peristiwa nyata tersebut dan tidak pernah menafsirkan sebaliknya.

Kata berbahasa Arab "ru'yah" bermakna: melihat secara nyata, dan bukan sebuah mimpi.

Di permulaan surah Al-Isro’ (Perjalanan Malam), Allah telah berfirman, "Maha Suci Dia yang telah memperjalankan penyembah-Nya (Muhammad) pada suatu malam." (Al Isro, 17:1) ayat ini telah menyangkal pendapat orang yang menganggap Isro’ Mi’roj sebagai mimpi, karena tak seorangpun akan mengatakan bahwa orang yang tidur dapat melakukan suatu perjalanan malam.

Sebagai kesimpulan, jika Isro’ Mi’roj terjadi didalam mimpi, orang-orang kafir tidak akan pernah menyanggahnya. Orang yang menganggap Isro’ Mi’roj terjadi didalam mimpi berarti mereka telah menggugurkan Prinsip Pokok Keislaman seperti kewajiban solat; pertemuan baginda dengan para nabi mulia yang sekaligus menjadi imam solat mereka; Malaikat Jibril yang datang dan membawa baginda naik menggunakan Buroq, yang juga dipakai oleh para nabi sebelumnya, dsb.

Apakah Nabi Muhammad telah melihat Sang Penguasa?

(Syekh Darwish menambahkan: Pernyataan Ibnu Abbas mengacu pada status Nabi yang dijamin masuk Surga dan juga telah memasuki Surga pada saat Isro' Mi'roj. Jadi, Nabi melihat-Nya dengan mata Surga seperti halnya ketika kelak di Kehidupan Abadi (akhirat) mereka yang masuk Surga akan melihat-Nya. Bunda Siti Aisyah, di sisi lain, mengambil sumber acuan yang sebaliknya. Nabi tidak melihat-Nya, karena tidak ada penampakan fisik seperti halnya orang-orang kafir Mekah melihat patung mereka, dan karena Allah tidak bertempat.

Allah berfirman, "maka diwahyukan kepada penyembah-Nya apa yang diwahyukan". Allah mewahyukan kepada Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, Kehebatan Kerajaan Gaib-Nya di mana baginda telah melihat dan menyaksikan kebesaran alam malaikat yang tidak dapat diungkapkan dalam kata-kata dan tidak mungkin bagi akal manusia untuk bertahan melihat atau mendengarnya, bahkan dalam atom terkecil sekalipun.

Hendaknya disadari bahwa Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, diberi kekuatan yang jauh melebihi kita. Misalnya baginda diberi kekuatan dan daya untuk menerima intensitas Wahyu, menyaksikan zikirnya para malaikat, Perjalanan Malam dari Mekah ke Yerusalem ketika baginda diangkut oleh Buroq dengan kecepatan cahaya dan sesudah itu baginda naik sampai ke langit hingga batas terjauh.

Mengenai kebutuhan sehari-hari, baginda memberitahu para Sahabatnya bahwa Allah telah memberinya makan dan minum, dan walaupun matanya tidur hatinya selalu terjaga, kesemuanya itu diluar jangkauan kita. Keberkatan luar biasa dari Allah ini berada jauh diluar jangkauan daya pemahaman kita, dan jika coba-coba memahaminya maka akal pikiran akan menjadi lumpuh. Fakta ini penting dipahami sebelum melangkah maju ke hadis riwayat bunda Siti Aisyah dan Ibnu Abbas sehubungan dengan melihat Penguasanya).

Pendapat generasi pertama umat Islam (para Sahabat) bervariasi, apakah Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, melihat Sang Penguasa, ataukah tidak. Diantara yang menyangkal adalah Bunda Siti Aisyah, semoga Allah meridhainya, ketika ditanya oleh Masruuq, "Wahai Ibu orang-orang beriman, apakah Muhammad melihat Penguasanya?" Bunda Aisyah menjawab, "Berdiri rambutku pada apa yang kamu katakan. Ada tiga perkara, barangsiapa mengabarimu ketiganya maka benar-benar telah berdusta. Barangsiapa mengabarimu bahwa Muhammad melihat Penguasanya maka benar-benar telah berdusta. Kemudian bunda membaca ayat, 'Tidak ada mata yang dapat melihat-Nya," (Al-An'am,6:103)...dst."

Ibnu Mas'ud juga mengatakan hal yang serupa dengan Bunda Siti Aisyah.

Sedangkan Sahabat lainnya memiliki pendapat yang berbeda.

Ibnu Abbas, semoga Allah meridhainya, menyatakan, "Baginda melihat Dia dengan mata kepala baginda." Pendapat Ibnu Abbas ini sangat terkenal dikalangan para ulama'.

(Pernyataan Ibnu Abbas dan Siti Aisyah tidak saling bertentangan, namun masing-masing memandang penglihatan tersebut dari aspek yang berbeda).

Pendapat yang paling diterima adalah bahwa Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, secara nyata memang telah melihat sang Penguasa dengan mata kepala baginda (berarti dengan Mata Surga). Banyak sekali riwayat yang menyebutkan pernyataan Ibnu Abbas.

Ibnu Abbas juga menarik perhatian kita dengan mengingatkan bahwa Allah mengistimewakan Nabi Musa, kesejahteraan atasnya, dengan pembicaraan (tanpa pendengaran maupun suara) dan Nabi Ibrahim, kesejahteraan atasnya, dengan Persahabatan dekat, sedangkan Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, terpilih untuk dapat melihat-Nya.

Bukti yang mendukung pendapat tersebut adalah, "Hatinya tidak mendustakan apa yang dilihatnya; apakah kamu hendak membantah apa yang telah dilihatnya; Sungguh dia telah melihatnya. (nya bisa merujuk pada Allah, bisa pula pada malaikat Jibril) pada pendaratan yang lain." (An-Najm, 53:11-13)

Abdur Rozzaq memberitahu kalau Hasan Basri bersumpah atas nama Allah bahwa Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, telah melihat Penguasanya. Ketika Abu Hurairah ditanya, "Apakah Nabi Muhammad melihat Penguasanya?" Abu Hurairah menjawab, "Ya."

Hadis sahih terkait dengan baginda melihat Penguasanya sangat banyak. An-Naqqosh memberitahu bahwa Imam Ahmad bin Hambal berkata, "Arti pernyataan Ibnu Abbas adalah bahwa baginda telah melihat-Nya dengan kedua mata baginda." Imam Ahmad bin Hambal mengulangi kalimatnya berkali-kali sampai hampir kehabisan nafas.

Sa’iid bin Jubair berkata, "Saya tidak mengatakan baginda telah melihat-Nya dan saya tidak mengatakan baginda tidak melihat-Nya."

 

Ibnu Abbas, Ikrima, Hasan AlBasri, Ibnu Mas’ud berbeda dalam penafsiran mereka. Ibnu Abbas dan Ikrimah berkata, "Baginda telah melihat-Nya dengan hati baginda." Sementara Hasan Al-Basri dan Ibnu Mas’uud berkata, "Baginda telah melihat Jibril." Abdullah bin Ahmad mengatakan bahwa ayahnya mengatakan, "Baginda telah melihat-Nya."

 

Ibnu Atho’ menarik perhatian kita pada ayat, "Bukankah Kami telah melapangkan dadamu untukmu." (Al-Insyiroh,94:1), dan mengatakan ini berarti bahwa Allah melapangkan dada baginda dalam rangka untuk melihat-Nya dan Dia melapangkan dada Musa untuk Pembicaraan.

 

Abu Hasan Al-Ashori dan kawan-kawan beliau berkomentar bahwa baginda telah melihat Allah dengan mata fisik baginda, dan mereka berkata, "Setiap nabi diberi tanda. Nabi kami juga diberi tanda. Baginda dipilih dari mereka semua dengan keistimewaan bisa melihat-Nya." Seorang ilmuwan Islam merasa segan berkenaan hal tersebut dan berkata, "Tidak ada bukti yang jelas baginda telah melihat-Nya, namun hal itu bisa saja terjadi."

 

Dalam kehidupan ini, sangat mungkin bagi baginda untuk melihat Allah, ini merupakan kebenaran yang tak terbantahkan. Secara akal, tidak ada yang membuatnya tidak mungkin (kecuali menjelaskan Allah secara fisik, dalam hal ini menjadi tidak mungkin).

Bukti pendukung bahwa baginda sangat mungkin melihat Allah, bisa diingat pada peristiwa Nabi Musa yang pernah meminta untuk melihat-Nya. Mustahil seorang nabi tidak tahu apa yang jaiz (boleh / wenang) untuk Allah, dan apa yang jaiz untuk dirinya. Nabi Musa tentunya hanya akan meminta sesuatu yang diperbolehkan, bukan sesuatu yang mustahil. Faktanya, perihal melihat Allah dan perihal nabi Musa menyaksikan Allah dianggap sebagai perkara gaib, dan tak seorang pun kecuali seseorang yang diajarkan oleh Allah memiliki pengetahuan semacam itu.

Allah memberitahu nabi Musa, "Kamu tidak akan melihat-Ku, akan tetapi lihatlah kepada gunung, jika tetap kokoh ditempatnya, maka kamu akan melihat-Ku." (Al-A'rof,7:143). Ini berarti Nabi Musa tidak akan sanggup melihat Allah. Lalu dibuatlah perumpamaan bagi beliau dengan menjadikan gunung yang secara fisik jauh lebih kokoh dan lebih kuat daripada nabi Musa, menjadi hancur lebur dan rata dengan tanah.

Mengenai ayat, "Tidak ada pandangan yang dapat mencapai-Nya." (Al-An'am,6:103)

Ibnu Abbas mengatakan bahwa (secara fisik) pandangan tidak akan mencapai-Nya.

Tidak ada ayat yang menyatakan mustahil bisa melihat-Nya. Meski ada beberapa penafsiran yang berbeda-beda tetap tidak mengungkap bahwa melihat Allah adalah hal yang mustahil.

Tidak peduli pendapat mana yang anda baca, hendaknya dimengerti, seperti semua Sahabat baginda, mereka tidak pernah mengkira-kirakan ukuran Allah. Para Sahabat tidak pernah mengatakan bahwa Allah mempunyai ukuran fisik, dimensi, lokasi, maupun berada pada suatu tempat dan waktu.

Kesimpulannya, tidak ada alasan bahwa tidak mungkin Nabi Muhammad melihat Allah dalam kehidupan ini, dan lagi tidak ada dalil yang membuktikan dan menyangkal hal itu terjadi pada baginda. Jadi yang terbaik adalah pasrah kepada Allah semata yang Maha Mengetahui segala sesuatu di dunia dan di akhirat.

Percakapan Nabi Muhammad dengan Allah Yang Maha Tinggi

Bahan rujukan untuk peristiwa menakjubkan sewaktu Isro’Mi’roj, tampak dalam ayat, "Maka (Allah) mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang Dia wahyukan." (An-Najm,53:10). Sebagian besar pakar keislaman mengatakan bahwa Allah mewahyukan kepada Malaikat Jibril. Dari Malaikat Jibril kemudian sampai kepada Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya.

Diperbolehkan untuk mengatakan bahwa Allah telah berbicara kepada Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya (tanpa perantaraan malaikat Jibril), karena dalam hukum Islam tidak ada yang secara pasti tidak memperkenankan hal tersebut terjadi kepada baginda maupun kepada para nabi terpilih lainnya. Jika ada hadis sahih yang tidak memperkenankan terjadinya pembicaraan tersebut, tentu akan dijadikan sebagai sandaran dan bahan rujukan.

Terdapat fakta bahwa Allah telah berbicara kepada Musa. Buktinya secara jelas ada didalam ayat yang berbunyi, "Dan Allah telah berbicara pada Musa dengan Pembicaraan." (An-Nisa', 4:164).

Allah mengangkat posisi Musa ke langit keenam, dengan sebab Pembicaraan dari Allah tersebut. Adapun Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, Allah mengangkat baginda melebihi posisi itu, hingga mencapai suatu tingkatan dimana baginda bisa mendengar Goresan Pena. Karenanya, bagaimana bisa seseorang menyatakan berbicara dengan Allah adalah hal yang mustahil, maupun menyatakan bahwa baginda tidak mungkin bisa mendengar Firman Allah? Maha Suci Dia yang mengkhususkan siapapun yang Dia pilih untuk apapun yang Dia kehendaki, dan mengangkat beberapa nabi diatas nabi yang lainnya!

Telah dekat dan kedekatan Nabi Muhammad

Pujian dan kesejahteraan atasnya

 

Ada beberapa penjelasan untuk berbagai riwayat dan kutipan kenabian terkait semakin dekatnya baginda dan dekatnya baginda selama Isro’ Mi’roj, dimana Allah berfirman, "Kemudian dia telah dekat, lalu bertambah dekat; maka menjadi dua ujung busur panah atau lebih dekat." (An-Najm,53:8-9). Sebagian besar ahli tafsir telah menjelaskan, ayat tersebut merujuk kepada Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, yang 'telah dekat' dan 'bertambah dekat' ke Malaikat Jibril atau sebaliknya, atau salah satu dari keduanya dekat ke Sidrotul Muntaha.

Rozi menceritakan bahwa Ibnu Abbas telah berkata: ''Baginda Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, telah dekat dan menjadi dekat dengan Penguasanya.''

Hendaknya dipahami bahwa 'Bertambah dekat' dan 'kedekatan', 'dari' atau 'kepada' Allah, bukanlah dekat seperti di alam manusia yang dibatasi tempat, ruang dan waktu, dan sama sekali tidak bisa dibandingkan.

Semakin dekatnya Nabi Muhammad kepada Penguasanya dan kedekatan kepada-Nya, mempunyai arti keagungan kedudukan baginda, kemuliaan peringkat baginda, kemegahan cahaya pengetahuan baginda yang telah menyaksikan rahasia alam gaib dan kekuasaan Allah, serta kebaikan, kesejukan dan kemurahan yang datang kepada baginda dari Allah.

Berkenaan dengan kata-kata Nabi, "Penguasa kami turun ke langit dunia" maka harus ditafsiri untuk bisa memahami perkataan tersebut. Salah satu pendapat mengatakan maknanya adalah penganugerahan karunia, keindahan, penerimaan dan kemurahan... dan demikian pula pada ayat yang berbunyi,

Pada bagian ayat yang berbunyi, "Maka adalah (jaraknya) seperti jarak dua ujung busur panah atau lebih dekat." Kesepakatan ulama adalah hal itu merujuk pada Malaikat Jibril, berarti secara lahiriah Nabi dekat pada Malaikat Jibril.

(Sisipan Syeikh Darwish: Lebih sedikit para ulama yang mengatakan kalau ayat tersebut merujuk kepada Allah, bagaimanapun, penafsiran mereka didasarkan pada pemahaman akan hadis Qudsi dimana Allah berfirman, "Barangsiapa datang mendekat kepada-Ku sejengkal, aku datang mendekat kepadanya sehasta." Ini berarti para ulama meniadakan jarak dan arah secara fisik dengan membuat contoh tersebut.)

Pada uraian sebelumnya, hadis yang diriwayatkan Ibnu Abbas mempunyai makna bahwa Nabi telah melihat Allah dengan mata Surga.

Adapun para Sahabat, mereka meyakini pernyataan Allah bahwa Dia tidak seperti makhluk manapun yang telah diciptakan-Nya. Tidak terlintas sedikitpun dibenak mereka bahwa Dia memiliki bagian tubuh yang dapat diperbandingkan dengan manusia. Mereka juga tidak berusaha menafsirkan Hadis Qudsi-Nya karena penjabaran tentang-Nya diluar jangkauan setiap manusia. Satu-satunya kesamaan hanyalah dalam pengucapan kata-kata saja bukan dalam artinya.

Di abad-abad selanjutnya, ketika para ulama berhadapan dengan peradaban yang berbeda di mana terdapat dewa-dewa yang lekat pada dimensi, waktu, lokasi dan sifat keduniawian lainnya, para ulama Muslim tidak goyah dalam keyakinan mereka bahwa tidak ada yang seperti Allah, juga tidak memperinci secara detail, tapi ketika situasi perlu untuk ditangani, mereka secara ringkas mengelakkan perkara-perkara semacam itu sebagai Sifat-sifat-Nya seperti Kekuasaan, Rahmat, Kebaikan dan sebagainya

Tidak ada kontradiksi dalam dua pernyataan antara Siti Aisyah dan Ibnu Abbas. Siti Aisyah mengacu pada fakta bahwa Nabi tidak melihat Allah di sebuah tempat dan arah, sedangkan Ibnu Abbas merujuk fakta bahwa Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, melihat-Nya melalui Mata Surga

Sebagai kesimpulan, ada dua mazhab (lembaga pemikiran), satu generasi awal yang membacanya dan memasrahkan maknanya kepada Allah, tidak mentakwilkannya serta tidak mempertanyakannya. Sedang generasi berikutnya menafsirkan sesuai dengan kemurnian Al Quran dan Hadis dalam rangka menyebarkan Islam diantara mereka yang belum mendengar ajaran Islam.

 

SAHIH SHIFA

KESEMBUHAN

 

Seri ke-9

 

SYAFAAT NABI MUHAMMAD

PUJIAN DAN KESEJAHTERAAN ATASNYA

 

 

Karya

Hakim Agung Abulfadl Iyad

wafat tahun 1123M / 544H

 

Periwayat Hadis

Muhaddis Agung Hafiz Abdullah Bin Siddiq

 

Perevisi

 Muhaddis Abdullah Talidi

 

 

Diadaptasikan oleh

Abdi Hadis Syekh Ahmad Darwish (Arab)

Anne Khadeijah (Inggris)

Siti Nadriyah (Indonesia)

 

Copyright © 1984-2013 Allah.com Muhammad.com. Hak Cipta dilindungi

 

Karunia untuk Nabi Muhammad pada Hari Kiamat

Pada Hari Kiamat, Nabi Muhammad akan diberi karunia sebelum orang-orang lainnya.

Banyak sekali Perkataan Kenabian (Hadis) sahih yang berkaitan dengan kemuliaan kedudukan Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, pada Hari Kiamat.

Anas memberitahu kita bahwa suatu hari Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, membicarakan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi pada Hari Kiamat. Baginda bersabda, "Aku adalah orang pertama yang muncul ketika manusia dibangkitkan, dan aku akan menjadi juru bicara mereka ketika mereka tiba. Aku akan memberi mereka berita baik ketika mereka putus asa. Bendera Pujian akan berada ditanganku. Aku adalah anak turun nabi Adam yang paling mulia dihadapan Penguasaku dan aku tidak bangga."

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, bersabda, "Aku adalah yang pertama ketika bumi membelah terbuka, kemudian aku akan dipakaikan pakaian kebesaran dari Surga. Aku akan berdiri dikanan Singgasana, dimana tidak ada satu makhluk pun yang berdiri ditempat itu selain aku."

Sekali lagi, Abu Hurairah meriwayatkan sabda baginda yang berbunyi, "Aku akan menjadi Junjungan anak turun nabi Adam pada Hari Kiamat, dan aku orang pertama yang kuburannya membelah terbuka, serta yang pertama mensyafaati, dan yang pertama syafaatnya diterima."

Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, berbicara tentang posisi semua nabi pada Hari Kiamat seraya bersabda, "Pada Hari Kiamat, aku akan menjadi Junjungan anak turun nabi Adam dan Bendera Pujian akan ada ditanganku dan aku tidak bangga. Pada Hari itu semua nabi sejak nabi Adam akan berada dibawah Benderaku, dan aku orang pertama saat bumi membelah terbuka, dan aku tidak bangga." Sabda baginda ini diriwayatkan oleh Abu Said Al-Khudri.

Ibnu Abbas memberitahu kita bahwa Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, telah berbicara tentang syafaatnya yang diterima dan pembukaan Gerbang Surga seraya bersabda, "Pada Hari Kiamat, aku akan menjadi pembawa Bendera Pujian, dan aku tidak bangga. Aku akan menjadi yang pertama mensyafaati dan yang pertama syafaatnya diterima, dan aku tidak bangga. Aku orang pertama yang mengetuk gelang pengetuk pintu di Gerbang Surga, dan akan dibuka untukku, lalu aku akan masuk ditemani orang-orang miskin yang beriman dan aku tidak bangga. Diantara yang pertama dan yang terakhir, aku akan menjadi yang paling mulia, dan aku tidak bangga."

Anas mendengar Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, bersabda, "Aku orang pertama yang akan mensyafaati di Surga, dan aku akan mempunyai pengikut yang paling banyak." Anas juga mendengar baginda bersabda, "Aku akan menjadi junjungan semua manusia pada Hari Kiamat. Apakah kalian tahu kenapa? Allah akan mengumpulkan yang pertama dan yang terakhir.."lanjutan hadis ini terdapat didalam hadis tentang syafaat.

Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, telah memberi pertanda bahwa pada Hari itu (Hari Kiamat), baginda sendirian yang akan diberi penguasaan dan syafaat. Ini karena umat manusia tidak akan menemukan tempat perlindungan pada nabi lainnya, dan mereka akan mencari perlindungan kepada baginda. Ketika sedang membutuhkan, seseorang mencari pertolongan dari seorang tuan, dan pada Hari itu, baginda sendirian diantara semua umat manusia yang akan diberi penguasaan. Tak ada seorang pun yang akan berbagi dengan baginda atau mengklaim dapat berbagi dengan baginda.

Allah berfirman, "Siapa Pemilik Kerajaan pada Hari ini? Milik Allah Yang Maha Esa, Maha Penakluk!" (Ghoofir,40:16). Dunia dan akhirat adalah kepunyaan Allah, dan mereka yang mengklaim kerajaan mereka akan terputus, dan tidak ada keraguan bahwa Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, akan diberi penguasaan atas semua orang di Kehidupan Abadi.

Anas mendengar Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, bersabda, "Pada Hari Kiamat, aku akan mendekati Gerbang Surga, lalu meminta agar dibuka. Penjaganya akan bertanya, 'Siapa anda?' dan aku akan menjawab 'Muhammad', lalu Penjaga itu berkata, 'aku diperintahkan supaya tidak membuka untuk siapapun sebelum anda.'"

 

Telaga Nabi Muhammad

Pujian dan kesejahteraan atasnya

 

Sejumlah hadis berikut ini menggambarkan Telaga Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya.

 

Abdullah bin Amr meriwayatkan bahwa baginda bersabda, "Telagaku mempunyai panjang dan lebar yang sama, yang jaraknya sejauh perjalanan sebulan. Airnya lebih putih dari perak, aromanya lebih harum dari kesturi, dan gayungnya bagaikan bintang-bintang di angkasa. Barangsiapa minum darinya tidak akan pernah haus selama-lamanya."

 

Kutipan yang serupa diriwayatkan oleh Abu Dzar, dengan disertai rincian bahwa panjang telaga baginda adalah antara Amman (ibukota Yordania) dan Ailah (kota diseberang lautan di Palestina). Dua pancuran air dari Surga mengalir ke dalam telaga (yang berasal dari sungai Kausar).

Tsauban juga meriwayatkan hadits yang sama, dan menambahkan, "Dua pancuran air itu, yang satu dari emas dan yang satunya dari perak."

Harisah bin wahab berkata, "Bisa juga, panjang telaga adalah antara Madinah dan Shon'a (ibukota Yaman)."

Anas dan Ibnu Umar juga telah meriwayatkan ukuran panjang telaga. Anas berkata, "Panjangnya ialah antara Ailah dan Sona'a." Sedang Ibnu Umar berkata, "Panjangnya ialah antara Kufah (sebuah kota di Irak) dan Batu Hitam / Hajar Aswad (di Mekah)."

Hadis tersbut juga diriwayatkan oleh Siti Aisyah, serta lebih dari tiga puluh Sahabat, semoga Allah meridhai mereka semua.

Persahabatan dan cinta dari Allah untuk Nabi Muhammad

Pujian dan kesejahteraan atasnya

 

Banyak hadis sahih yang membicarakan mengenai terpilihnya Nabi Muhammad melebihi semua ciptaan Allah sebagai "Kekasih Allah (Habibulloh)". Kaum Muslimin sering merujukkan gelar ini kepada baginda.

(Sisipan Syeikh Darwish: Ada perbedaan antara gelar agung 'teman dekat' dan 'kekasih'. Hal ini dijelaskan pada pembahasan selanjutnya)

Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, membicarakan kedekatan baginda dengan Abu Bakar seraya bersabda, "Seandainya aku mengambil teman dekat selain Penguasaku, niscaya aku mengambil Abu Bakar."

Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, juga bersabda, "Dan sungguh kawan kalian (menyebut dirinya sendiri) adalah teman dekat Allah." Hadis ini mengesahkan sabda baginda yang diriwayatkan Abdullah bin Mas'ud yang berbunyi, "Dan Allah benar-benar mengambil kawan kalian sebagai teman dekat."

Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, juga bersabda, "Dan sungguh kawan kalian (menyebut dirinya sendiri) adalah teman dekat Allah." Abdullah bin Mas'ud dalam laporannya menyampaikan sabda Nabi, "Dan Allah benar-benar mengambil kawan kalian sebagai teman dekat."

Para Sahabat sedang duduk menunggu Nabi, kata Ibnu Abbas, Ketika Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, hendak masuk, baginda mendengar percakapan para Sahabat yang sedang membicarakan derajat para nabi. Seorang dari mereka berkata, "Alangkah luar biasa, Allah telah mengambil nabi Ibrahim dari ciptaan-Nya sebagai teman dekat." Lainnya berkata, "Yang lebih luar biasa adalah Dia telah berbicara dengan nabi Musa." Lainnya lagi berujar, "Nabi Isa adalah roh ciptaan Allah." Yang lain menyahut, "Allah telah memilih nabi Adam." Kemudian Nabi Muhammad tiba dan menyalami mereka, lalu berkata, "Aku telah mendengar perkataan kalian dan ketakjuban kalian. Memang benar, Allah telah mengambil nabi Ibrahim sebagai teman dekat. Allah telah berbicara langsung dengan nabi Musa (Kalimulloh), ini juga benar. Nabi Isa adalah roh ciptaan Allah, ini memang benar. Dan memang demikian bahwa nabi Adam adalah pilihan Allah. Sedangkan aku adalah kekasih Allah, dan aku tidak bangga. Dari yang pertama sampai yang terakhir, aku yang termulia dari semuanya dan aku tidak bangga."

Kata "teman dekat" diatas, bahasa arabnya ialah "khullah". Terdapat perbedaan penafsiran mengenai kata "khullah" dan asal katanya. Ada yang mengatakan, "khulla" berasal dari kata "kholiil" maknanya adalah orang yang tidak pernah surut kecintaan dan pengabdiannya kepada Allah. Beberapa ulama lainnya mengungkap makna "kholil" adalah orang yang ahli dalam kecintaan dan pengabdian kepada Allah. Pendapat yang lain mengatakan asal kata "khulla" adalah "istisfa" bermakna sesuatu yang terpilih untuk disucikan.

Nabi Ibrahim disebut "kholilulloh (teman dekat Allah)", sebab beliau ramah terhadap orang-orang baik yang penyembah Allah namun bersikap tegas menghadapi orang-orang yang memusuhi Allah. Persahabatan Allah kepada nabi Ibrahim adalah dengan memberinya kemenangan dan menjadikannya sebagai panutan bagi generasi setelahnya.

Di sisi lain, ada ulama yang mengatakan bahwa asal kata "kholil" adalah "faqir" bermakna "orang yang selalu butuh", diambil dari kata "khulla" yang bermakna "butuh". Nabi Ibrahim dikenal dengan gelar ini, karena yang beliau butuhkan hanyalah Allah, yang hanya kepada-Nya beliau mengabdikan diri dan menggantungkan segala kebutuhan, serta tidak mengandalkan pada selain-Nya.

Nabi Ibrahim disebut "kholilulloh (teman dekat Allah)", karena beliau ramah terhadap orang-orang baik penyembah Allah namun bersikap tegas menghadapi orang-orang yang memusuhi Allah. Persahabatan Allah kepada Nabi Ibrahim adalah memberinya kemenangan dan menjadikannya sebagai panutan bagi generasi setelahnya.

Ada ulama yang mendefinisikan asal kata "kholil" adalah "faqir" bermakna "orang yang selalu butuh", diambil dari kata "khulla" yang berarti "butuh". Nabi Ibrahim dikenal dengan gelar ini, karena yang beliau butuhkan hanyalah Allah, yang hanya kepada-Nya beliau mengabdikan diri serta menggantungkan segala kebutuhan dan tidak mengandalkan pada selain-Nya.

Abu Bakr bin Furok mendefinisikan "khulla" seraya berkata: Cinta suci menjamin orang yang dicintai diberi rahasia-rahasia istimewa.

Juga dikatakan bahwa asal kata "khulla" adalah kecintaan, penggabungan kebaikan, bantuan, peninggian pangkat, dan perantaraan (syafaat). Hal ini ditemukan didalam ayat yang berbunyi, "Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan, 'Kami adalah anak-anak Allah dan para pencinta-Nya' Katakanlah (Muhammad), 'Mengapa kemudian Dia menghukum kamu untuk dosa-dosamu?" (Al-Maidah,5:18). Tak dapat dibayangkan kalau orang yang dicintai, hendak dihukum untuk dosa-dosanya!

(Sisipan Syeikh Darwish: Pangkat Kenabian memiliki perspektif antara orang-orang dan nabi, sedangkan persahabatan memiliki perspektif antara Allah dan Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, sehingga menjadi sangat istimewa)

"Khulla" lebih kuat daripada hubungan ayah-anak, karena terkadang ada permusuhan dalam hubungan ayah-anak, sebagaimana firman Allah, "Diantara istri-istrimu dan anak-anakmu adalah musuh bagimu, maka berhati-hatilah terhadap mereka." (At-Tagobun,64:14). Jadi, permusuhan tidak dapat dikaitkan dengan "khulla".

Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atas mereka, mendapat gelar "khulla (teman dekat)" disebabkan pengabdian mereka kepada Allah yang tak pernah surut sedikitpun, dan karena mereka hanya menggantungkan segala kebutuhan kepada Allah semata, serta memutuskan diri dari mengandalkan orang lain. Juga karena Allah telah menganugerahkan kepada mereka kebaikan agung yang tersembunyi dan pengetahuan rahasia Ilahi serta urusan gaib dan keimanan, yang tertanam didalam batin mereka, sehingga mereka meninggalkan segala jalan dan sebab selain Allah.

Hati mereka telah dimurnikan dari segala sesuatu selain Dia, sehingga cinta untuk hal lainnya tercegah dari mereka. Karena itulah, sebagian ulama berkata, "Kholil adalah orang yang hatinya tidak memiliki ruang untuk selain Allah." Ulama yang sama berpendapat bahwa inilah yang dimaksud Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, ketika bersabda, "Dan seandainya aku mengambil teman dekat, sungguh aku akan mengambil Abu Bakar sebagai teman dekat, namun ia adalah saudara dalam Islam."

Para ulama berbeda pendapat mengenai tingkatan hati: manakah yang lebih tinggi, derajat teman dekat atau derajat kecintaan? Disisi lain, ada yang menganggap kedua derajat tersebut adalah setara, dan mengatakan bahwa kekasih adalah teman dekat, dan teman dekat adalah kekasih. Nabi Ibrahim telah mendapat anugerah derajat "teman dekat", sedangkan Nabi Muhammad mendapatkan derajat "kekasih".

Untuk mendukung pendapat bahwa derajat teman dekat lebih tinggi, seorang ulama mengutip perkataan Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, yang berbunyi, "Seandainya aku mengambil teman dekat selain Penguasaku..." tetapi baginda tidak melakukan hal tersebut. Baginda memiliki cinta kasih kepada putrinya, Siti Fatimah dan putra-putranya, begitu pula cinta kasih pada Usamah dan yang lainnya.

Sebagian besar ulama bersepakat bahwa "kecintaan" adalah lebih tinggi daripada "persahabatan". Untuk menguatkan pendapat ini, bukti  yang mereka gunakan adalah bahwa Nabi Muhammad mendapat gelar "Kekasih", sedangkan Nabi Ibrahim mendapat gelar "Teman Dekat", pujian dan kesejahteraan atas mereka berdua.

Pangkal kecintaan adalah kecondongan pada apa yang menyenangkan si pencinta. Kecintaan terjadi karena adanya kebutuhan, keinginan serta penyaluran hasrat dan perasaan. Sedangkan kecintaan Pencipta alam bebas dari hal-hal tersebut. Kecintaan-Nya bagi para penyembah-Nya adalah dengan memperteguh kebahagiaan, perlindungan dan kesuksesan mereka, serta melimpahkan rahmat kepada mereka dan membuat mereka semakin dekat kepada-Nya.

Allah memberikan kecintaan yang paling besar dengan menyingkap selubung di hati si penyembah, sehingga si penyembah melihat Dia dengan hatinya, dan memandang Dia dengan mata batinnya. Hal ini sebagaimana yang terdapat didalam kutipan Ilahi (hadis Qudsi) yang memberitahu, "Ketika Aku (Allah) mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia mendengar dengannya, dan penglihatannya yang ia melihat dengannya, dan lidahnya yang ia berucap dengannya."

Dari sini dapat difahami bahwa tidak ada yang lebih baik bagi seorang penyembah selain menyepikan diri untuk Allah dan berbakti kepada-Nya, berpaling dari segala sesuatu yang selain Allah, membersihkan hati dan ikhlas dalam segala tindakan untuk Allah semata.

Bunda Siti Aisyah, semoga Allah meridhainya, ditanya tentang Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan menjawab, "Akhlak baginda adalah Al-Qur'an."

Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, telah diberkati dengan mendapatkan persahabatan dekat dan cinta yang istimewa dari Allah. Keterangan ini telah disampaikan oleh para Sahabat yang sudah terbukti kebenarannya dan telah diterima oleh kalangan umat Islam.

Ayat Allah berikut ini mencukupi untuk dijadikan sebagai dasar (dalil), 

"Katakanlah, 'Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu." (Ali-Imron,3:31).

Para ahli tafsir mengisahkan, ketika ayat itu turun, orang-orang kafir berkata, "Sesungguhnya Muhammad ingin agar kita memperlakukannya sebagai pujaan hati sebagaimana orang-orang Nasrani memperlakukan Isa putra Maryam." Maka Allah menurunkan kecaman atas ucapan mereka dan sindiran terhadap mereka menjadi jelas pada ayat, "Katakanlah, 'Taatilah Allah dan Rasul'." (Ali-Imron,3:32).

Dalam ayat itu, Allah menambah kemuliaan Nabi Muhammad dengan memerintah umat manusia agar mematuhi baginda, dan Allah telah membarengkan ketaatan kepada-Nya dengan ketaatan kepada Nabi Muhammad. Bagi orang-orang memilih untuk berpaling dari baginda, Allah memberi peringatan, pada ayat, "Lalu jika mereka berpaling, maka sungguh Allah tidak mencintai orang-orang kafir." (Ali-Imron,3:32)

Seorang ulama menjelaskan perbedaan antara derajat cinta Nabi Muhammad dan persahabatan dekat Nabi Ibrahim, yang mana Allah telah memperlihatkan perlainan antara keduanya. Allah menyebut tentang 'teman dekat' dengan mengutip ucapan Nabi Ibrahim, "Dan yang amat kuinginkan bahwa Dia akan mengampuni kesalahanku pada Hari Pembalasan." (Asy-Syuaro',26:82). Sebagai teman dekat, ada harapan yang kuat pada diri Nabi Ibrahim agar mendapatkan ampunan.

Sedang untuk Nabi Muhammad sebagai kekasih Allah, Dia berfirman, "Agar Allah mengampuni bagimu apa yang telah lalu dari dosamu dan apa yang akan datang." (Al-Fath,48:2). Dari ayat ini terlihat jelas adanya jaminan ampunan dari Allah untuk Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya.

Mengutip firman Allah ketika Nabi Ibrahim yang memiliki peringkat 'teman dekat' berucap, "Dan janganlah merendahkanku pada Hari mereka dibangkitkan." (Asy-Syu'aro', 26:87)

Sedang untuk Nabi Muhammad, telah difirmankan kepada baginda, "Pada Hari Allah tidak merendahkan Nabi." (At-Tahrim, 66:8) terlihat jelas bagaimana Allah telah memulai dengan kabar gembira sebelum Nabi memohon kepada-Nya.

Pada saat Nabi Ibrahim ditimpa cobaan dan ujian, beliau berucap, "Allah mencukupiku." (At-Taubah,9:129)  adapun Nabi Muhammad, sebagai Kekasih Allah, diberitahu, "Wahai Nabi, Allah mencukupimu dan siapa yang mengikutimu diantara orang-orang mukmin ." (Al-Anfal,8:64)

Nabi Ibrahim 'teman dekat' berkata, "dan jadikanlah aku lisan kebenaran bagi orang-orang (yang datang) kemudian." (Asy-Syu'aro,26:84). Nabi Muhammad, 'Sang Kekasih', telah diberi oleh Allah, dengan tanpa meminta, yang tampak dalam firman-Nya berikut, "dan Kami tinggikan untukmu penyebutanmu" (Al-Inshirah 94:4)

Nabi Ibrahim 'teman dekat' juga telah berkata, "jauhkanlah aku dan anak cucuku dari penyembahan berhala." (Ibrahim,14:35). Sedangkan 'Sang Kekasih' diberitahu, "Sesungguhnya Allah menghendaki agar dihilangkan kotoran Ahlulbait (Ahli Rumah) darimu." (Al-Ahzab,33:33).

Semoga informasi diatas mencukupi untuk memberi sekilas pandang cinta dan persahabatan dari Allah untuk Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya.

Allah berfirman, "Penguasamu lebih mengetahui siapa yang lebih terbimbing pada jalan." (Al-Isro',17:84).

Syafaat dan Pangkat Terpuji Nabi

Nabi Muhammad kelak diberi karunia syafaat yaitu perantaraan untuk menyampaikan permohonan (kepada Allah), dan Pangkat Terpuji. Mensyafaati berarti menjadi perantara untuk menyampaikan permohonan.

Allah berfirman kepada Nabi Muhammad, "Mudah-mudahan Penguasamu akan mengangkatmu pada tempat yang terpuji." (Al-Isro',17:79).

 Ibnu Umar berkata, "Pada Hari Kiamat, manusia akan datang dengan berlutut. Setiap umat akan mengikuti nabi mereka sambil berkata, 'Wahai fulan (orang ini dan ini yaitu nabi mereka), syafaatilah (jadilah perantara) kami! Wahai fulan, jadilah perantara kami!" hingga akhirnya mereka sampai kepada Nabi Muhammad, dan baginda mensyafaati mereka. Pada Hari itulah Allah akan mengangkat baginda pada tempat yang terpuji."

Ibnu Umar kembali berkata, "Baginda akan maju, hingga kemudian baginda mengetuk pegangan bundar di gerbang Surga. Pada hari itu, Allah membangkitkan Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, pada tempat terpuji yang telah dijanjikan."

Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, berbicara tentang pilihan yang diberikan kepadanya seraya bersabda, "Aku disuruh memilih antara separoh umatku masuk surga, atau dikabulkan doa syafaatku. Aku memilih syafaat, karena lebih menyeluruh. Syafaatku tidak hanya untuk orang-orang yang bertakwa kepada Allah, namun juga untuk orang-orang yang berdosa dan bersalah." Demikianlah kabar baik dari baginda yang diberitahukan Abu Musa kepada kita.

Ummu Habibah mendengar Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, bersabda, "Aku diperlihatkan oleh Allah apa yang akan terjadi pada umatku setelahku. Mereka menumpahkan darah satu sama lain, dan apa yang dialami mereka juga terjadi pada umat-umat sebelumnya. Karena itulah, demi umatku, aku memohon kepada Allah agar memberiku izin mensyafaati pada Hari Kiamat, dan ini telah Dia lakukan."

Hudzaifah memberitahu, "Allah akan mengumpulkan semua manusia di satu dataran tinggi, setelah mereka mendengar panggilan Pemanggil, dan pandangan mereka akan terbuka lebar. Mereka akan bertelanjang kaki dan tanpa pakaian seperti ketika mereka diciptakan. Mereka akan diam, dan tak satu pun akan berbicara kecuali dengan izin Allah. Akan ada sebuah panggilan, 'Muhammad!' dan baginda akan menjawab, 'Dengan senang hati mematuhi-Mu! Kebaikan adalah di Tangan-Mu, dan keburukan bukanlah kepada-Mu. Siapa yang Engkau bimbing maka terbimbing, penyembah-Mu dihadapan-Mu, milik-Mu dan kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan tempat aman kecuali kepada Engkau. Engkau Yang Memberkati dan Maha Tinggi, Maha Suci Engkau Penguasa Gedung." Hudzaifah juga berkata, "Itulah tempat terpuji yang telah disebutkan oleh Allah."

Jabir bin Abdullah menanyai Yazid Al-Faqir: "Apa engkau sudah mendengar pangkat yang akan dianugerahkan Allah kepada Nabi Muhammad?." Yazid menjawab: "Ya benar, sungguh itu adalah pangkat terpuji nabi Muhammad, sehingga Allah akan membebaskan dari Api (neraka) siapapun yang dikeluarkan dari Api." Hadis tentang syafaat juga membahas mengenai pembebasan orang-orang dari neraka.

Syafaat Nabi Muhammad pada Hari Kiamat

Anas serta beberapa Sahabat lainnya melaporkan bahwa Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, bersabda, "Allah akan mengumpulkan orang yang pertama hingga yang terakhir pada Hari Kiamat, dan mereka akan kalang kabut, hingga mereka akan berandai-andai seraya berkata, 'Seandainya saja ada yang menjadi perantara kita kepada Penguasa kita.'" Dalam riwayat lain dikatakan, "Lautan manusia saling mendesak-desak sebagian pada sebagian yang lain."

Didalam riwayat lain, baginda berbicara lebih detail mengenai rincian keadaan pada Hari Kiamat seraya bersabda, "Matahari menjadi sangat dekat pada manusia, hingga kesusahan menjadi tak tertahankan, yang tak sanggup mereka tanggung. Lalu mereka akan berkata satu sama lain, 'Tidakkah kalian melihat ada orang yang bisa menjadi perantara kalian?' maka mereka akan mendatangi nabi Adam dan berkata, 'Wahai Adam, engkau bapak manusia. Allah menciptakanmu dengan Tangan-Nya, dan meniupkan roh didalam dirimu, serta menempatkanmu tinggal di surga-Nya; memerintahkan para malaikat bersujud kearahmu, dan mengajarkanmu nama-nama segala sesuatu. Jadilah perantara bagi kami disisi Penguasamu, sehingga kami bisa beristirahat dari tempat kami! Tidakkah engkau melihat penderitaan yang menimpa kami?' nabi Adam akan berkata, 'Penguasaku benar-benar marah hari ini. Kemarahan yang Dia tidak pernah marah seperti ini sebelumnya, dan sesudahnya Dia tidak akan marah seperti ini lagi. Dia telah melarangku makan dari suatu pohon, namun aku melanggar-Nya. diriku sendiri, diriku sendiri. Pergilah kepada selainku. Pergilah kepada Nuh."

Kemudian mereka mendatangi nabi Nuh dan berkata, 'Wahai Nuh, engkau rasul pertama bagi orang-orang di dunia (setelah banjir besar / topan), dan Allah menyebutmu hamba yang bersyukur. Lihatlah kondisi kami, lihat apa yang menimpa kami. Bukankah engkau akan menjadi perantara bagi kami kepada Penguasamu?' nabi Nuh akan berkata, 'Penguasaku benar-benar marah hari ini. Kemarahan yang Dia tidak pernah marah seperti ini sebelumnya, dan sesudahnya Dia tidak akan marah seperti ini lagi. Diriku sendiri, diriku sendiri', dan beliau akan menyebut kekhilafan yang pernah beliau perbuat ketika beliau memohon kepada Allah dengan tanpa ilmu (riwayat lain menyebutkan beliau berkata: aku telah membuat doa yang melawan kaumku) - pergi ke selainku, pergilah ke Ibrahim, beliau adalah teman dekat Allah.

Mereka lalu pergi kepada nabi Ibrahim dan berkata, 'Wahai Ibrahim, engkau adalah Nabi Allah, dan teman dekat-Nya, terpilih dari seluruh penduduk bumi, jadilah perantara bagi kami kepada Penguasamu. Tidakkah engkau melihat keadaan kami ini!" nabi Ibrahim akan berkata kepada mereka, 'Penguasaku benar-benar marah hari ini. Kemarahan yang Dia tidak pernah marah seperti ini sebelumnya, dan sesudahnya Dia tidak akan marah seperti ini lagi'. Nabi Ibrahim lalu menyebut tiga kalimat rancu yang pernah beliau ucapkan. Diriku sendiri, diriku sendiri. Aku bukan untuk itu. Pergilah kepada nabi Musa, beliau adalah seorang penyembah yang telah diberi Allah kitab Taurat dan dianugerahi kedekatan dengan pembicaraan dengan-Nya.

Lantas mereka mendatangi nabi Musa, hingga beliau akan berkata, 'aku bukan untuk itu' - dan beliau akan menyebut-nyebut kesalahan beliau bahwa beliau pernah membunuh seseorang (meski terjadi tanpa kesengajaan). Diriku sendiri, diriku sendiri. Cobalah pergi ke nabi Isa, beliau adalah roh yang diciptakan Allah dan Kalimat ciptaan-Nya.

Setelah itu mereka akan pergi kepada nabi Isa dan beliau akan berkata, 'aku bukan untuk itu, tetapi kalian bisa pergi kepada Muhammad. Baginda adalah penyembah yang dosa-dosanya (dalam arti terlindungi dari dosa) dimasa lalu dan dimasa mendatang, (dalam status) telah diampuni.'

Kemudian mereka datang kepadaku dan aku akan berkata, 'aku (diizinkan) untuk itu (syafa’at)'. Maka aku pergi dan memohon izin kepada Penguasaku, dan Dia memberi izin untukku. Kemudian ketika aku melihat-Nya, aku jatuh bersujud di hadapan-Nya (baginda datang dibawah Singgasana lalu jatuh bersujud). Dalam riwayat lainnya, "Aku akan berdiri di hadapan-Nya, lalu memuji-Nya dengan pujian yang aku tidak bisa membuatnya, akan tetapi Allah memberiku sebagai ilham." Riwayat lain menerangkan bahwa baginda telah bersabda: Allah akan membuka pujian-pujian-Nya untukku, dan pujian yang mengagumkan, sesuatu yang tidak diberikan kepada siapapun sebelumku.

Sebagai tambahan, Abu Hurairah meriwayatkan, "Lalu dikatakan kepadaku, 'Wahai Muhammad, angkat kepalamu, mintalah, kamu akan diberikan, syafaatilah dan syafaatmu akan diterima.' Kemudian kuangkat kepalaku, lalu aku berucap, 'Wahai Penguasa! Umatku! Wahai Penguasa! Umatku!' dan Dia akan berkata : 'Masuklah orang-orang dari umatmu yang tidak ada perhitungan atas mereka, lewat gerbang kanan dari pintu-pintu surga, mereka boleh melewati pintu lainnya berbagi dengan orang-orang yang lain'."

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa baginda berkata: 'Wahai Penguasa! Umatku! Umatku!'.

Maka akan dikatakan : 'Pergilah, dan keluarkanlah (dari neraka) siapapun yang didalam hatinya ada keimanan walau seberat biji gandum atau seberat biji sawi'.

Aku akan berangkat dan melakukan, kemudian aku kembali kepada Penguasaku, dan memuji-Nya dengan pujian-pujian tersebut.

Kemudian dikatakan kepadaku : 'Angkat kepalamu, berdoalah maka akan dikabulkan, syafaatilah maka syafaatmu akan diterima, mintalah engkau akan diberikan'.

Lalu aku akan berkata : 'Wahai Penguasa! Berilah izin kepadaku bagi siapapun yang mengatakan "Tidak ada tuhan selain Allah"'.

Maka Dia akan berkata : “Itu bukan untukmu, tetapi demi Kekuasaan-Ku, Kebanggaan-Ku, Keagungan-Ku, dan Kehebatan-Ku, benar-benar akan dikeluarkan dari neraka siapapun yang mengatakan: Tidak ada tuhan selain Allah.”

Qotadah meriwayatkan bahwasanya baginda akan berkata : "Wahai Penguasa! tiada yang tersisa didalam Neraka kecuali mereka yang dihalangi oleh Al-Qur'an (yakni) yang tinggal selama-lamanya di Neraka."

Hudzaifah meriwayatkan, "Mereka akan mendatangi Muhammad, dan baginda akan mensyafaati. Kemudian Jembatan (Siroth) dibentangkan, dan mereka akan melewatinya. Yang pertama melintasi bagaikan kilat, selanjutnya bagaikan angin, berikutnya bagaikan burung, dan berikutnya seperti kecepatan unta; sementara Nabi kalian, pujian dan kesejahteraan atasnya, diatas Jembatan akan berdoa, 'Ya Allah, berilah keselamatan, berilah keselamatan!' hingga semua manusia melintasinya, dan yang terakhir dari mereka menyeberang."

Abu Hurairah mendengar baginda bersabda, "Aku akan menjadi pertama yang melintasi."

Kutipan kenabian (hadis) diatas hanya sebagian dari himpunan hadis tentang syafaat. Syafaat Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan tempat terpuji baginda terbentang dari pertama kali syafaat hingga yang terakhir. Ketika seluruh manusia telah dibangkitkan, mereka akan dikumpulkan untuk menunggu Perhitungan terakhir, hingga leher mereka kaku dan keringat bercucuran karena hebatnya panas matahari. Pada waktu itulah, baginda mensyafaati untuk mengistirahatkan manusia dari tempat mereka.

Kemudian Jembatan (Siroth) dibentangkan, dan diadakan Perhitungan (Hisab) untuk umat manusia - sebagaimana dalam hadis laporan Abu Hurairah dan Hudzaifahh - maka syafaat baginda akan mempercepat menuju surga bagi mereka dari kalangan umat baginda yang tidak kena perhitungan amal. Setelah itu, baginda akan mensyafaati orang-orang yang kena hukuman dan masuk neraka. Kemudian bagi siapapun yang mengatakan, "Tidak ada tuhan selain Allah". Pangkat ini tidak untuk selain baginda.

Dari kutipan kenabian yang sahih dan masyhur, kita mengetahui, "Setiap nabi mendapat jatah sebuah permohonan, yang mereka akan berdoa dengan permohonan tersebut. Aku menyimpan permohonanku, sebagai syafaat bagi umatku pada Hari Kiamat."

Perihal kutipan diatas, para ulama’ mengatakan bahwa permohonan para nabi pasti akan dikabulkan, dengan demikian harapan mereka telah mendapat jaminan. Doa Nabi Muhammad yang telah dikabulkan tak terhitung jumlahnya. Ketika para nabi mulia berdoa, mereka berguncang antara harapan dan ketakutan, meski permohonan telah dijamin untuk mereka, yang pasti akan dikabulkan.

Doa yang disimpan oleh Nabi Muhammad adalah dikhususkan untuk umat baginda, dan telah dijamin akan dikabulkan.

Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, memberi kabar bahwa baginda telah memohon untuk umat baginda perkara-perkara yang berkaitan dengan agama dan dunia, dimana sebagian telah terkabul, sedang sisanya telah baginda tahan.

Baginda menimbun doa tersebut untuk Hari Kemelaratan (Kiamat), Hari Pamungkas Cobaan, dan Hari Dahsyatnya Pertanyaan dan Ketakutan.

 

Semoga Allah melimpahkan pembayaran yang lebih baik kepada baginda daripada para nabi lainnya, yang dicurahkan kepada umat baginda. Semoga Allah senantiasa memberkati baginda, serta keluarga baginda, para Sahabat dan para pengikut baginda, dengan keberkatan yang melimpah dan selama-lamanya.

Surga melalui berkat syafaat Nabi Muhammad

Pujian dan kesejahteraan atasnya

 

Nabi Muhammad diberi anugerah Syafaat, Derajat Tinggi, Keutamaan dan Sungai Kenikmatan (Kausar) di Surga.

Abdullah bin Umar mendengar Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, bersabda, "Bila kalian mendengar orang azan, ucapkanlah seperti yang ia ucapkan, kemudian mintakan keberkatan untukku. Sesungguhnya orang yang memintakan keberkatan untukku sekali, Allah akan memberi keberkatan kepadanya sepuluh kali. Lalu mintakanlah untukku wasilah yaitu sebuah kedudukan di Surga, yang diberikan hanya kepada seorang saja dari seluruh para penyembah Allah, dan aku berharap menjadi orang yang menerimanya. Barangsiapa yang meminta kepada Allah, wasilah untukku, akan menerima syafaatku." Abu Hurairah melaporkan : Wasilah merupakan derajat paling tinggi di Surga.

Sekilas pandang tentang Sungai di Surga, ada laporan dari Anas, yang memberitahu bahwa Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, bersabda, "Ketika aku sedang bepergian di Surga, tiba-tiba sebuah sungai terlihat dihadapanku. Kedua tepinya adalah kubah mutiara. Aku bertanya kepada Jibril, 'Apa ini?' dia menjawab, 'Ini adalah Kausar yang diberikan Allah kepadamu.' Lalu dia memukulkan tangannya pada dasar sungai, dan keluarlah kesturi."

Bunda Siti Aisyah, semoga Allah meridhainya, meriwayatkan hal serupa, dengan tambahan, "Sungai itu mengalir diatas intan dan batu mirah, airnya lebih manis daripada madu dan lebih putih daripada salju." Baginda juga memberitahu, "Ketika mengalir, tidak mengikis dasar sungai dan disana ada telaga yang umatku akan mendatanginya...kutipan selanjutnya ada didalam hadis tentang Telaga."

Ibnu Abbas meriwayatkan kutipan serupa dengan menambahan, "Kausar merupakan kebaikan melimpah yang diberikan oleh Allah kepada baginda (Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya)."

Allah berfirman, "Dan kelak Penguasamu akan memberimu, maka kamu menjadi puas." (Ad-Duha,93:5). Ibnu Abbas memberitahu, yang kelak diberikan kepada baginda ialah seribu gedung dari mutiara, yang tanahnya adalah kesturi, dan berisi apa-apa yang membuatnya bagus. Juga ada istri-istri dan para pelayan baginda.

 

SAHIH SHIFA

KESEMBUHAN

 

Seri ke-10

 

KEISTIMEWAAN NAMA-NAMA

NABI MUHAMMAD

Pujian dan kesejahteraan atasnya

 

 

Karya

Hakim Agung Abulfadl Iyad

wafat tahun 1123M / 544H

 

Periwayat Hadis

Muhaddis Agung Hafiz Abdullah Bin Siddiq

 

Perevisi

 Muhaddis Abdullah Talidi

 

Diadaptasikan oleh

Abdi Hadis Syekh Ahmad Darwish (Arab)

Anne Khadeijah (Inggris)

Siti Nadriyah (Indonesia)

 

Copyright © 1984-2013 Allah.com Muhammad.com. Hak Cipta dilindungi

 

Larangan mengunggul-unggulkan Nabi Muhammad atas nabi mulia lainnya

Terdapat sejumlah hadis yang memaparkan larangan mengunggul-unggulkan Nabi Muhammad atas para nabi mulia lainnya.

Bukti bahwa Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, adalah manusia paling mulia dan terbaik dari semua para nabi telah kokoh dan terbukti jelas, baik didalam Al-Qur'an maupun didalam kutipan kenabian (hadis).

(Sisipan Syeikh Darwish: Etika dan keluhuran budi pekerti Nabi Muhammad tampak terang dan jelas terlebih lagi saat baginda menyebut sesama nabi mulia lainnya)

Muncul pertanyaan, mengenai makna dari hadis yang berbicara tentang larangan mengunggulkan nabi yang satu dengan yang lainnya. Seperti sabda Nabi yang dilaporkan Ibnu Abbas berikut ini, "Tidak patut bagi seorang hamba mengatakan aku lebih baik daripada Yunus putra Matta."

Abu Hurairah melaporkan suatu insiden: ada seorang Yahudi berucap, "Demi yang memilih Musa atas umat manusia." Lalu seorang lelaki dari golongan Anshoor menamparnya dan berkata, "Beraninya kamu mengatakan itu sedang Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, ada ditengah-tengah kita!" Hal tersebut sampai kepada Nabi Muhammad, kemudian baginda bersabda, "Janganlah saling mengunggulkan diantara para nabi."

Dalam riwayat lainnya,

"Janganlah lebih memilihku diatas Musa…."

"Dan aku tidak berucap: sesungguhnya ada seseorang yang lebih utama dari Yunus putra Matta."

Sekali lagi, Abu Hurairah melaporkan sabda baginda, "Barangsiapa bilang aku lebih baik daripada Yunus putra Matta, maka telah berbohong."

(Sisipan Syeikh Darwish: Ini karena tidak ada orang biasa, tanpa memandang pangkat atau kedalaman pengetahuannya, pantas untuk menilai para nabi yang jauh lebih tinggi kedudukannya daripada manusia biasa, pada segala aspek terutama dalam hal-hal yang gaib)

Suatu hari seorang laki-laki datang kepada Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan berkata kepada baginda, "Wahai makhluk terbaik!" Baginda lantas berkata, "Itu adalah Ibrahim."

Para ulama menjelaskan kutipan kenabian diatas, dalam beberapa arti.

Pertama: Pelarangan pengunggulan terjadi sebelum Nabi Muhammad diinformasikan bahwa baginda adalah junjungan anak turun nabi Adam, sehingga baginda melarang siapapun saling mengunggul-unggulkan derajat para nabi. Sebagaimana baginda pernah menuturkan, "Aku tidak mengatakan bahwa ada seseorang yang lebih utama dari beliau."

Kedua: Perkataan baginda tersebut semata-mata karena kerendahan hati baginda, dan dalam rangka membuang kebanggaan dan kesombongan.

Ketiga: Saling mengunggulkan diantara para nabi, bisa mengarah pada pengurangan atau perendahan kedudukan salah satu dari mereka, contohnya terutama pada apa yang Allah firmankan tentang Nabi Yunus. Para ulama menjelaskan, hadis diatas adalah untuk mencegah orang tak berpengetahuan supaya tidak meremehkan atau mengurangi pangkat para nabi, dan agar tidak salah paham dengan ayat, "ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu mengira bahwa Kami tidak berkuasa atasnya." (Al-Anbiya',21:87). Pada waktu membaca ayat tentang nabi Yunus tersebut, orang yang bodoh mungkin cenderung berpikir bahwa beliau lebih rendah pangkatnya.

Keempat: Pelarangan baginda itu adalah untuk mencegah adanya saling membeda-bedakan didalam hak kenabian dan penyampaian Wahyu, meskipun ada perbedaan derajat, keutamaan, mukjizat, posisi dan kelembutan, diantara para nabi.

Para nabi memiliki kesamaan didalam kenabian, tetapi berlainan tingkatan kedudukan mereka. Hal ini karena Allah menganugerahkan kelebihan sebagian mereka atas sebagian yang lain, misalnya ada rasul yang diutus untuk menyampaikan wahyu, dan rasul yang dikenal keteguhan dan ketetapan hatinya, seperti pada nabi Nuh, nabi Ibrahim, nabi Musa, nabi Isa dan nabi Muhammad;

ada pula yang diangkat pada tempat yang tinggi, seperti nabi Idris;

atau yang diberikan penghakiman ketika masih muda, misalnya nabi Yahya;

dan yang diberi kitab Zabur, yaitu nabi Daud;

sebagian para nabi telah diberi bukti-bukti nyata, misalnya nabi Isa;

dan juga yang Allah telah berbicara kepadanya, seperti nabi Musa; serta lain-lainnya yang ditinggikan derajatnya oleh Allah.

Allah berfirman, "Dan benar-benar telah Kami melebihkan sebagian para nabi atas sebagian yang lain." (Al-Isro',17:55). dan berfirman, "Itu para rasul, Kami melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain." (Al-Baqoroh,2:253).

Sebagian ulama Islam berkomentar: kata "melebihkan" diatas ditujukan bagi mereka di dunia, dimana mencakup tiga hal:

1. Adanya tanda-tanda dan mukjizat yang lebih hebat dan lebih tenar.

2. Adanya umat yang lebih menyucikan diri dan lebih banyak.

3. Adanya sifat dan karakter pribadi yang lebih baik dan lebih utama.

Semua nabi dianugerahi sifat dan karakter yang sangat bagus, namun sebagian mereka ada yang lebih sempurna dari sebagian yang lain. Mempunyai sifat dan karakter lebih sempurna juga merupakan kelebihan istimewa, sebagai karunia dari Allah kepada mereka. Demikian pula kemuliaan khusus seperti pembicaraan dengan Allah, persahabatan dekat, melihat Allah, dsb.

Perilaku para nabi senantiasa terjaga. Mereka bersih dari perkataan atau perbuatan yang dapat digunakan sebagai sumber kekacauan. Orang-orang yang meremehkan nabi Yunus telah mengabaikan kenyataan bahwa beliau berada di antara para nabi yang terpilih.

Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, bersabda, "Janganlah seorangpun dari kalian mengatakan aku lebih utama daripada Yunus putra Matta." Ulama mengatakan ini adalah tanda belas kasih baginda pada umat agar mereka tidak meremehkan kedudukan para nabi, dan lagi, nabi Yunus adalah salah satu nabi pilihan Allah.

Kelima: Kata "aku" dalam sabda baginda memiliki dua makna.

satu: kata "aku" merujuk pada baginda sendiri, jadi bunyi hadis sebagaimana yang diatas.

dua: kata "aku" merujuk pada siapa saja, maka bunyi hadis menjadi, "Janganlah seorangpun dari kalian mengatakan, 'aku lebih utama daripada Yunus putra Matta'." Tak sepatutnya seseorang mengira bisa mencapai tingkat terpelihara dari dosa, tingkat kecerdasan dan kesucian yang lebih baik daripada nabi Yunus. Derajat kenabian pastinya lebih tinggi dan lebih utama, dan kadar derajat mereka tidak akan merosot dan berkurang nilainya meskipun hanya sebesar atom.

Kesuksesan berasal dari Allah, Dialah Yang Maha Penolong - tidak ada tuhan selain Dia!

Keistimewaan nama-nama Nabi Muhammad

Pujian dan kesejahteraan atasnya

 

Nama-nama yang diberikan kepada Nabi Muhammad mempunyai keistimewaan tersendiri.

Jubair bin Muth'im memberitahu bahwa Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, bersabda, "Aku mempunyai lima nama, aku Muhammad; aku Ahmad; aku Al-Mahi (penghapus) yang melaluiku, Allah menghapuskan kekafiran; aku Al-Hasyir (penghimpun) yang manusia akan berhimpun diatas telapak kakiku; dan aku Al-Aqib (terakhir dalam suksesi kenabian)."

Salah satu karunia khusus yang diberikan kepada baginda, adalah fakta bahwa Allah telah menamai baginda dengan nama "Ahmad dan Muhammad", kata berbahasa Arab ini asal katanya mempunyai makna "memuji". Nama Muhammad mengandung arti "sasaran pujian bertubi-tubi.", sedangkan Ahmad mengandung arti "pujian bertubi-tubi."

Nama "Muhammad" dan "Ahmad" terdapat didalam Al Quran, dan kedua nama tersebut juga berasal dari asal yang sama dengan asal kata dari beberapa Nama-Nama Allah yang paling indah. Oleh karenanya, para makhluk memuji Penciptanya dengan Nama Terpuji Ketuhanan-Nya yang Terindah, serta memuliakan Nabi-Nya dengan pujian nama kenabiannya.

Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, adalah manusia terunggul sekaligus terbaik dari semua orang yang terpuji, serta yang paling dipuji diantara para makhluk.

Nabi Muhammad adalah orang yang disebut didalam Al-Qur’an dengan nama "Ahmad", nama ini telah diketahui oleh nabi Isa (Yesus) dan telah disebut didalam kitab Injil yang asli yang diberikan kepada beliau. Nama "Ahmad" berasal dari kata "pujian" sedangkan nama "Muhammad" mengandung arti limpahan pujian.

Pada hari kiamat, Nabi Muhammad akan datang sebagai pembawa Bendera Pujian, ini menjadi kesudahan kesempurnaan pujian untuk baginda, sehingga membuatnya semakin tenar dengan sifat terpuji. Pada hari itu, Allah akan mengangkat baginda pada tempat terpuji, sebagaimana yang dijanjikan-Nya, sehingga generasi pertama hingga yang terakhir, akan memuji baginda untuk syafaatnya bagi mereka, dan baginda akan memuji-muji Allah dengan suatu cara yang tidak diberikan kepada siapapun sebelumnya. Hal ini tampak dalam sabda baginda:

"Allah akan membukakan kepadaku pujian-pujian-Nya dan bagusnya sanjungan, sesuatu yang tidak diberikan kepada siapapun sebelumku."

Dalam kitab yang diberikan kepada para nabi sebelumnya, umat Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, disebut sebagai "para pemuji", oleh karena itu, sudah sepantasnya kalau baginda dinamakan Muhammad dan Ahmad. Didalam kedua nama tersebut, terdapat keajaiban dan tanda-tanda, diantaranya adalah Allah telah menjaga bahwa tidak ada seorangpun yang memiliki kedua nama tersebut sebelum tiba masa Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya.

Adapun nama Ahmad telah tertulis didalam kitab-kitab terdahulu, dimana para nabi sebelumnya telah mewartakan kabar baik tentang kedatangan baginda. Allah dalam kebijaksanaan-Nya mencegah siapapun dinamakan dengan nama itu, selain Nabi Muhammad saja, dan lagi, sebelum kedatangan baginda, tidak seorang pun yang memanggil orang lainnya dengan nama itu. Berkat ini merupakan perlindungan untuk umat manusia, sekaligus menghalau semua keraguan dan kebingungan mereka yang lemah keimanannya.

Demikian pula untuk nama Muhammad. Sebelum kedatangan baginda, tidak ada orang Arab maupun non-Arab, yang disebut dengan nama itu, hingga tak lama sebelum baginda lahir, orang-orang mendengar berita bahwa nabi yang akan diutus namanya adalah Muhammad. Maka ada beberapa orang Arab - sekitar enam orang - yang menamai putranya dengan nama Muhammad, mereka berharap kelak anaknya yang akan terpilih menjadi nabi.

Allah lebih mengetahui dimana Dia akan menempatkan Risalah-Nya. Allah telah mencegah mereka yang dinamai muhammad, mengaku sebagai nabi, dan juga tidak ada seorangpun yang menyebut dan memanggil mereka sebagai nabi, hingga muncullah tanda-tanda kenabian pada Muhammad putra Abdullah. Nama Muhammad dan Ahmad akhirnya ditetapkan untuk Nabi Muhammad putra Abdullah.

Nabi Muhammad juga dinamakan "Al-Mahi (penghapus)" karena baginda yang dipilih Allah untuk menghapus kekafiran. Baginda telah menghapus kekafiran dari Makkah dan tanah Arab lainnya, serta disebagian besar penjuru bumi. Secara terjaga, baginda telah melihat perbatasan berbagai negeri yang akan dibimbing dan disinari cahaya Islam, serta dijanjikan oleh Allah bahwa kelak umat baginda akan mencapai sejauh apa yang dilihat baginda. Secara umum, penghapusan kekafiran berarti kemenangan dan pengunggulan (dalam hal agama), sebagaimana Allah berfirman, "untuk mengunggulkannya diatas agama seluruhnya." (At-Taubah,9:33).

Baginda juga dinamakan Al-‘Aqib (terakhir dalam sukses kenabian), karena baginda mengiringi para nabi. Terdapat hadis sahih yang berbunyi, "Aku Al-Aqib, yang tidak ada nabi sesudahku." Ini berarti, nabi Muhammad adalah nabi terakhir sekaligus penutup para nabi.

Mengenai sabda baginda, "aku Al-Hasyir (penghimpun) yang manusia akan berhimpun diatas telapak kakiku." Ini berarti pada masa-masa baginda, orang-orang akan berkumpul dalam Islam, dan kelak di Kehidupan Abadi mereka akan akan bersatu dibawah panji-panji Islam. Tidak ada nabi lain sesudahnya, seperti terdapat dalam firman Allah, "dan penutup para nabi." (Al-Ahzab,33.40).

Makna "diatas telapak kakiku" yaitu semua manusia akan dikumpulkan dihadapan baginda, sebagaimana firman Allah, "Agar kamu menjadi saksi atas manusia, dan rasul menjadi saksi atasmu." (Al-Baqoroh,2:143).

"diatas telapak kakiku" juga indikasi bahwa baginda akan didahulukan dari semua orang. Allah berfirman, "bahwa bagi mereka tapak kaki ketulusan disisi Penguasa mereka." (Yunus,10:2).

"diatas telapak kakiku" juga bermakna: didepanku dan disekelilingku, dimana kelak pada hari kiamat umat manusia akan berkumpul kepada baginda.

"diatas telapak kakiku" juga berarti, diatas sunnahku (mencontoh perkataan dan perbuatan Nabi).

Tentang ucapan baginda, "aku mempunyai lima nama", sesungguhnya nama-nama ini terdapat didalam kitab-kitab suci terdahulu, dimana para ahli agama dikalangan umat para nabi sebelumnya telah mengetahuinya.

Abu Musa Al-Asy'ari berkata, "Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, memberitahu nama-nama baginda kepada kami seraya bersabda: Aku Muhammad, Ahmad, Al-Muqoffi (nabi yang datang terakhir), Al-Hasyir (Penghimpun), Nabi Pertobatan, dan Nabi Malhamah (Ksatria)." Riwayat lain berbunyi, "Nabi yang dirahmati" dan "Nabi Peristirahatan (batin)".

Insya Allah, nama-nama tersebut tepat.

Nama baginda "Muqoffi (nabi yang datang terakhir)" dan "Al-Aqib (terakhir dalam suksesi kenabian)" memiliki arti yang sama.

Sehubungan dengan nama: Nabi Rahmat, Pertobatan, Yang dirahmati, dan Peristirahatan (batin), Allah Yang Maha Tinggi berfirman, "dan Kami tidak mengutusmu melainkan sebagai rahmat bagi seluruh dunia." (Al-Anbiya',21:107).

Allah mensifatkan Nabi Muhammad dengan berfirman,

"membacakan atas mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, dan mengajari mereka Kitab dan Hikmah" (Al-Jumu'ah,62:2.)

"dan membimbing mereka kepada jalan yang lurus." (Al-Maidah,5:16)

"Terhadap orang-orang beriman, lemah lembut lagi penyayang." (At-Taubah,9:128)

Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, membicarakan umatnya seraya bersabda,

"Sungguh mereka adalah umat yang dikasihani." mengenai umat baginda, Allah berfirman,

"dan saling berwasiat dengan kesabaran, dan saling berwasiat dengan kasih sayang."(Al-Balad,90:17). Ini berarti, umat nabi Muhammad saling menyayangi satu sama lain.

Dalam kemurahan-Nya, Allah telah mengutus Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, tidak hanya untuk umat baginda, tetapi juga sebagai rahmat untuk seluruh dunia. Baginda amat menyayangi umatnya dan mencurahkan segenap kasih sayangnya serta memintakan ampunan bagi mereka. Allah menjadikan umat baginda saling mengasihi dan sebagai umat yang dikenal dengan belas kasih.

Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, memerintahkan para pengikutnya untuk saling mengasihi satu sama lain. Baginda menyanjung sifat belas kasih ini dan bersabda, "sungguh Allah mencintai mereka para penyembah-Nya yang saling mengasihi." Baginda mendorong para pengikutnya supaya berbelas kasih, dan bersabda,

"Yang Maha Pengasih akan mengasihi mereka yang berbelas kasih, berbelas kasihlah pada siapa yang dibumi, niscaya berbelas kasih pada kalian siapa yang di langit."

Salah satu nama baginda yaitu "Nabi Malhamah (Ksatria)" merupakan indikasi bahwa baginda akan menghadapi pertempuran.

Hudzaifah juga melaporkan hadis seperti yang dilaporkan Abu Musa. Hudzaifahh juga mengatakan bahwa baginda adalah, "Nabi Rahmat, Nabi Pertobatan, dan Nabi Ksatria."

Di dalam Al-Qur'an, Allah memanggil Nabi-Nya, pujian dan kesejahteraan atasnya, dengan banyak nama-nama yang diberkati, sebagian telah disebutkan diatas. Di antara yang belum disebutkan adalah: Cahaya, Lampu yang Menerangi, Pemberi Peringatan, Penjelas Peringatan, Pemberitahu Kabar Gembira, Penjelas Kabar gembira, Saksi, Pemberi Kesaksian, Kebenaran Nyata, Penutup Para Nabi, Baik Hati, Penyayang, Terpercaya, Rahmat bagi Seluruh Dunia, Nikmat Allah, Ikatan Kokoh, Jalur lurus, Pemurah, Nabi Buta Huruf, Pengajak kepada Allah, dsb.

(Sisipan Syeikh Darwish: Sebelum menerima Al-Qur'an, status baginda adalah buta huruf. Begitu menjadi penerima Al-Qur'an, status baginda terangkat dari peringkat ajaib buta huruf menjadi manusia paling berpengetahuan tentang Allah, Firman-Nya, agama, keimanan, kesempurnaan dan hal-hal yang berkaitan dengan alam jasmani)

Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, memiliki banyak sifat serta nama-nama yang agung. Beberapa diantaranya telah disebutkan didalam kitab-kitab suci terdahulu, juga didalam lembaran suci para nabi. Banyak pula hadis yang membahas nama dan sifat tersebut.

Banyak nama yang sering digunakan oleh para Sahabat dan para pengikut, untuk memanggil Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya. Berikut ini termasuk nama-nama baginda, yaitu: Terpilih, Pilihan, Abu Qosim, Kekasih, Utusan Penguasa Semesta Alam, Yang Mensyafaati, Yang Diterima Syafaatnya, Yang Takut kepada Allah, Yang Memperbaiki, Jujur, Pembenar, Pembimbing, Junjungan Anak Turun Adam, Junjungan Para Rasul, Pemimpin Orang-orang yang Takut kepada Allah, Pemimpin Mereka yang Bekas Wudhunya Memancar di dahi dan kaki, Kekasih Allah, Teman Yang Maha Pengasih, Pemilik Kausar yang Mengalir, Yang Naik, Penunggang Buroq, Musafir pada Kecepatan Cahaya, Pemilik unta betina dan unta yang bagus, Yang mempunyai bukti, Digdaya, Segel, Tanda Tangan dan Bukti, Empunya tongkat, dan Pemilik Terompah.

Sebagian nama baginda yang ditemukan di dalam kitab-kitab suci terdahulu adalah: Yang Diandalkan, Yang Terpilih, Penetap Sunnah, Tersucikan, dan Ruh Kebenaran. Didalam kitab Injil, baginda disebut sebagai "Parakletos". Tsa'lab menjelaskan makna Parakletos adalah orang yang memisahkan antara kebenaran dan kepalsuan.

Masih banyak sekali nama, gelar dan sifat baginda. Keterangan diatas hanyalah sekilas pandang pengetahuan tentang baginda. Hanya kepada Allah, kami memohon kesuksesan.

 

Allah menganugerahkan Nabi Muhammad beberapa Nama-Nya

Allah menganugerahkan kemuliaan kepada Nabi Muhammad dengan beberapa Nama Bagus milik-Nya, dan mensifatkan dengan beberapa Sifat Agung-Nya.

Semoga Allah melimpahkan belas kasih-Nya kepada kita semua.

Tampak didalam Kitab Suci Al-Qur'an, banyak dari para nabi yang diberi kemuliaan oleh Allah, dengan menganugerahkan Nama-nama-Nya kepada mereka. Misalnya, Dia memanggil Nabi Ishaq dan Ismail "Alim (Berpengetahuan) dan Halim (Penyantun)", sedangkan ayah mereka Nabi Ibrahim diberi nama "Halim (Penyantun)".

Nabi Nuh dinamai "Syakur (Yang bersyukur)".

Nabi Isa dan Yahya diberi nama "Barr (Pengabdi)",

Nabi Musa diberkati dengan nama "Karim dan Qowi (Mulia dan Kuat)",

Nabi Yusuf diberi nama "Hafidh Alim (Wali berpengetahuan)",

Nabi Ayub dinamai "Sobur (Penyabar).

Nabi Ismail juga diberi nama "Shodiq Al-Wa'd" yang berarti "Benar janjinya".

Nama-nama mereka telah disebutkan pada beberapa tempat didalam kitab suci Al-Qur'an yang agung. Kesejahteraan atas semua nabi Allah.

Allah mengutamakan dan menghiasi Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, dengan kelimpahan Nama-Nama Nya, dan baginda juga telah dikenal dengan nama-nama ini oleh para nabi sebelumnya.

Ada banyak nama yang dihadiahkan, diantaranya disebutkan oleh Hakim Iyad berikut ini:

- "Al Hamid (Terpuji)", maknanya adalah Allah memuji diri-Nya sendiri oleh diri-Nya sendiri, dan para penyembah-Nya memuji-Nya. Juga mengandung makna: Yang memuji diri-Nya sendiri, dan memuji amal-amal ketaatan.

Baginda diberi dua nama, yaitu Muhammad dan Ahmad. Muhammad artinya Terpuji, sedangkan Ahmad mempunyai makna paling agung diantara mereka yang memuji dan paling mulia diantara mereka yang dipuji.

Hassan bin Tsabit, penyair besar yang puisi-puisinya berisikan pujian kepada Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, mengisyaratkan hal ini ketika berucap,

"Demi baginda, Dia membelah dari Nama-Nya. Wahai Pemilik Tahta Terpuji, inilah Muhammad, yang Engkau beri kemuliaan."

- Ar Rouf (Yang Maha Baik, Maha Lemah lembut) Ar-Rohim (Yang Maha Penyayang).

Makna kedua kata tersebut hampir sama. Didalam Kitab-Nya, Allah menamai baginda dengan nama tersebut. Dia berfirman, "Terhadap orang orang beriman, lemah lembut lagi penyayang."(At-Taubah,9:128)

- Al-Haq Al-Mubin (Kebenaran nyata).

Al-Haq (Kebenaran) bermakna: Ada dan benar segala urusan-Nya.

Al-Mubin (nyata) bermakna: Jelas urusan-Nya dan Ketuhanan-Nya. Ini berarti, Allah membuat jelas bagi para hamba-Nya, urusan agama mereka maupun tempat kembali mereka. Didalam Al-Qur'an, baginda juga disebut dengan nama itu, tampak didalam firman Allah berikut ini:

"Sampai kebenaran dan seorang Rasul yang nyata datang kepada mereka." (Az-Zukhruf,43:29).

"Sungguh aku adalah pemberi peringatan yang nyata." (Al-Hijr,15:89).

"Sungguh telah datang kepadamu kebenaran dari Penguasamu." (Yunus,10:108).

"Mereka mendustakan kebenaran ketika datang kepada mereka." (Al-An'am,6:5).

Ulama mengatakan, ayat-ayat diatas merujuk kepada Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, sedang yang lainnya berkata, merujuk kepada Al-Qur'an. Ini berarti, Al-Qur'an dan Nabi Muhammad adalah suatu kebenaran, urusan yang terang, dan pelawan kepalsuan (kebatilan). Adapun "yang nyata" memiliki makna, yang memperjelas urusan dan Risalah-Nya, serta benar-benar jelas adanya apa yang telah diturunkan oleh Allah. Allah berfirman, "Agar menerangkan bagi manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka." (An-Nahl,16:44).

- "An Nur" bermakna "Pemilik Cahaya". Allah yang telah menciptakan dan menerangi langit dan bumi dengan cahaya, serta menerangi hati orang-orang beriman dengan bimbingan.

Tampak didalam Al-Qur'an, Allah telah menamai Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, 'Cahaya', "Sungguh telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan Kitab yang nyata." (Al-Maidah,5:15)

Ulama menjelaskan bahwa, 'cahaya' merujuk kepada Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya. Sementara yang lainnya bilang merujuk kepada Al-Qur'an.

Allah memanggil Nabi-Nya, pujian dan kesejahteraan atasnya, "Lampu yang menerangi" (Al-Ahzab,33:46). Baginda disebut dengan nama ini karena membuat terang dan gamblang urusannya, sekaligus menjelaskan kenabiannya, serta menerangi hati orang-orang beriman dan para kekasih Allah dengan apa yang dibawa olehnya.

- Asy Syahid, memiliki makna Yang Maha Mengetahui, dan Yang Bersaksi atas semua penyembah-Nya pada hari kiamat. Allah memberi nama 'saksi' kepada baginda. Dia berfirman, "Sungguh Kami mengutusmu sebagai saksi dan pembawa kabar gembira." (Al-Ahzab,33:45)

"dan bahwa Rasul menjadi saksi atasmu." (Al-Baqoroh,2:143)

- Al Karim (Yang Maha Mulia), bermakna: Yang banyak kebaikan-Nya, melimpah Kemurahan-Nya, Yang Maha Tinggi dan Maha Memaafkan. Allah memberi baginda nama 'Mulia'. Dalam sebuah hadis (kutipan kenabian) baginda bersabda, "Aku anak Adam yang paling mulia." Berbagai arti untuk nama-nama tersebut juga berlaku untuk Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya.

- Al Adhim (Yang Maha Agung) artinya adalah satu-satunya Yang Maha Luhur, yang segala sesuatu bergantung kepada-Nya. Dia berbicara tentang Nabi, dan berfirman, "Dan engkau benar-benar diatas budi pekerti yang luhur." (Al-Qolam,68:4).

- Asy Syakur (Yang Menerima Syukur), memiliki makna Yang memberi imbalan amal perbuatan meskipun sangat kecil nilainya, serta memuji mereka yang taat kepada-Nya. Dengan inilah, Allah mensifatkan Nabi Nuh dan berfirman, "Dia benar-benar penyembah yang bersyukur." (Al-Isro',17:3).

Sudah menjadi sifat Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, untuk selalu bersyukur kepada Allah. Suatu hari baginda bersabda, "Tidak bolehkah aku menjadi penyembah yang bersyukur?" ini berarti baginda mengakui segala kenikmatan yang telah dianugerahkan Allah kepada baginda, juga pengakuan betapa besar kenikmatan tersebut. Dalam rangka bersyukur, baginda memuji Allah dan menyebut-nyebut pemberian-Nya, serta berusaha keras meningkatkan pengabdian, karena Allah berfirman, "Jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambahkanmu." (Ibrohim,14:7).

- Al Alim (Yang Maha Mengetahui), Al-'Allam (Maha Mengetahui), Alim AlGoib Wa-Syahadah (Maha Mengetahui yang gaib maupun yang tampak).

Allah menganugerahkan ilmu pengetahuan yang istimewa kepada Nabi-Nya, tampak dalam firman-Nya, "Dan mengajarimu apa yang tidak kamu ketahui; dan anugerah Allah atasmu sangat besar." (An-Nisa',4:113). Didalam ayat yang lain, berfirman, "dan mengajarimu Kitab dan Hikmah serta mengajarimu apa yang tidak kamu ketahui." (Al-Baqoroh,2:151).

- Ash Sodiq (Yang Maha Benar).

Terdapat didalam hadis bahwa Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, juga mempunyai nama Ash-Shoodiq Al-Mashduq bermakna: orang yang benar dan membenarkan.

- Al-Wali (Wali), dan Al-Mawlaa (Tuan), keduanya bermakna Penolong. Allah memberitahu dalam firman-Nya, "Sesungguhnya, walimu adalah Allah, dan Rasul-Nya." (Al-Maidah,5:55).

dan berfirman, "Nabi lebih berhak terhadap orang-orang beriman." (Al-Ahzab,33:6).

Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, bersabda, "Aku wali setiap orang yang beriman."

Nabi juga bersabda, "barangsiapa yang aku adalah walinya, maka Ali walinya."

- Al 'Afuww (Yang Maha Pemaaf), terkandung makna pembebasan (memaafkan kesalahan dan dosa). Didalam Al-Qur'an dan Taurat, Allah mensifatkan Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, dengan sifat ini, serta menyuruh supaya bersikap pemaaf,

"Ambillah maaf." (Al-A'rof,7:199) "maka maafkanlah mereka dan ampunilah." (Al-Maidah,5:13).

Ketika Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, bertanya kepada Malaikat Jibril, kesejahteraan atasnya, tentang maksud ayat "Ambillah maaf", lalu dijawab olehnya, "Wahai Muhammad, Allah memerintahmu untuk memperbarui hubunganmu dengan mereka yang memutuskan diri darimu, dan supaya engkau memaafkan terhadap orang yang menzalimimu."

Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, bersabda, "Maafkanlah mereka yang melukaimu."

Didalam kitab Taurat juga telah dijelaskan beberapa sifat baginda, seperti, "Tidak kasar, tidak keras hati, tetapi memaafkan dan mengampuni."

- Al Hadi (Pemberi petunjuk), maksudnya: Allah menolong para hamba yang Dikehendaki-Nya, dengan mengajak dan membimbing kepada jalan-Nya. Allah berfirman, "dan Allah mengundang ke Rumah Kedamaian, serta memberi petunjuk siapa yang Dia kehendaki pada jalan yang lurus." (Yunus,10:25).

Mengenai Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, Allah berfirman,

"Dan sungguh engkau benar-benar mendapat bimbingan pada jalan yang lurus." (Asy-Syuro,42:52), dan juga berfirman, "pengajak kepada Allah dengan izin-Nya." (Al-Ahzab,33:46).

Kesimpulannya adalah, hanya Allah yang berkuasa mutlak memberi pertolongan dan bimbingan pada jalan yang lurus.

Allah berfirman, "Sungguh engkau tidak dapat membimbing siapa yang engkau sukai, akan tetapi Allah membimbing siapa yang Dia kehendaki." (Al-Qosos,28:56). Ada indikasi bahwa bimbingan dapat merujuk pada selain Allah, tentu dengan izin-Nya. Maka siapapun yang berucap bahwa ia dibimbing oleh Allah, juga boleh berucap bahwa Nabi Muhammad telah membimbingnya.

- Al Mukmin (Wali Keimanan) Al Muhaimin (Maha Pelindung)

Kedua nama tersebut mirip maknanya. Nama Al Mukmin merupakan hak Allah, yang berarti bahwa janji Allah kepada para penyembah-Nya adalah benar. Dia menegaskan kebenaran Firman dan Janji-Nya, kepada para rasul dan para penyembah-Nya yang beriman. Juga menegaskan keesaan diri-Nya. Dia melindungi para penyembah-Nya di dunia dari kezaliman, dan melindungi mereka yang beriman dari hukuman diakhirat.

Al Muhaimin juga bermakna "Terpercaya". Adapun kata "Amin" yang biasa diucapkan pada waktu berdoa, adalah termasuk diantara Nama-Nama Allah, dan mempunyai makna yang sama dengan kata Al Mukmin. Al-Muhaimin juga berarti Saksi dan Pelindung.

Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, mendapat gelar Al-Amin, Muhaimin dan Mukmin. Baginda dikenal sebagai Al-Amin (terpercaya), dan telah tenar dengan gelar tersebut bahkan sebelum diangkat sebagai nabi. Didalam bait syairnya, Abbas menyebut baginda dengan nama "Muhaimin (Pelindung)".

Allah berfirman, "Beriman kepada Allah dan mempercayai orang-orang beriman." (At-Taubah,9:61). Ini berarti Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, membenarkan kebenaran. Baginda bersabda, "Aku terpercaya bagi para sahabatku." Ini juga mempunyai makna bahwa Nabi adalah Al Mukmin (Saksi dan Pelindung).

- Al Qudduus (Maha Suci), berarti terlepas dari segala kekurangan, dan suci dari segala sifat makhluk. Masjid di Yerusalem, dinamakan 'Baitul Muqoddas' karena di sanalah orang-orang tersucikan dari dosa. "tersucikan" juga digunakan didalam "Dan engkau berada di Thuwa, lembah yang tersucikan." (Thoha,20:12), dan "Ruh Kudus (yaitu Malaikat Jibril)" (Al-Baqoroh,2:87)

Dalam kitab suci para nabi terdahulu, nama baginda telah tercatat dengan kalimat "Tersucikan" ini berarti baginda berada dalam status tersucikan dari segala dosa, sebagaimana Allah berfirman, "agar Allah mengampuni bagimu apa yang telah lalu dari dosamu dan apa yang akan datang." (Al-Fath,48:2); dan melalui baginda, umat baginda dibersihkan dari dosa.

Dengan mengikuti Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, mereka menjadi suci, sebab baginda berada dalam status tanpa dosa, sebagaimana firman Allah, "dan menyucikan mereka" (Al-Jumu'ah,62:2), serta berfirman, "dan mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya dengan izin-Nya." (Al-Maidah,5:16). "Muqoddas (tersucikan)" juga berarti status kesucian dari akhlak yang buruk dan sifat-sifat yang tercela dan hina.

- Al Aziz (Yang Maha Perkasa), maksudnya adalah mempunyai kekuatan mutlak dan kejayaan, Yang menaklukkan, dan tidak ada yang menyerupai-Nya, serta Yang memberi kekuatan untuk selain-Nya. Allah berfirman, "dan bagi Allah kekuasaan, dan bagi Rasul-Nya." (Al-Munafiqun,63:8).

Allah menjelaskan diri-Nya sendiri sebagai "Pembawa kabar gembira dan peringatan", tampak dalam firman-Nya,

"Penguasa mereka memberi mereka kabar gembira dengan belas kasih dari-Nya dan keridhaan." (At-Taubah,9:21),

"Bahwa Allah memberimu kabar gembira dengan Yahya." (Ali-Imron,3,39),

"Bahwa Allah memberimu kabar gembira dengan Kalimat (Jadilah) dari-Nya." (Ali-Imron,3:45).

Allah memberi nama Nabi-Nya, pujian dan kesejahteraan atasnya, "Pembawa kabar gembira", "Pemberi peringatan", dan "Penjelas kabar gembira", dengan kata lain, seseorang yang menyampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang taat kepada Allah, dan memperingatkan orang-orang yang tidak beriman dan durhaka.

 

SAHIH SHIFA

KESEMBUHAN

 

Seri ke-11

 

BUKTI BAHWA ALLAH

TIDAK SEPERTI CIPTAANNYA

 

 

Karya

Hakim Agung Abulfadl Iyad

wafat tahun 1123M / 544H

 

Periwayat Hadis

Muhaddis Agung Hafiz Abdullah Bin Siddiq

 

Perevisi

 Muhaddis Abdullah Talidi

 

Diadaptasikan oleh

Abdi Hadis Syekh Ahmad Darwish (Arab)

Anne Khadeijah (Inggris)

Siti Nadriyah (Indonesia)

 

 

Copyright © 1984-2013 Allah.com Muhammad.com. Hak Cipta dilindungi

Bukti bahwa Allah tidak seperti ciptaan-Nya

Allah, Yang Maha Tinggi, tidak seperti semua makhluk yang telah diciptakan-Nya.

Pada bagian ini, pembahasannya dibuat sedemikian rupa supaya tidak menimbulkan segala kesalahpahaman, dan untuk menghindari segala macam penyimpangan halus dalam keimanan. Lemahnya pemahaman dan kurangnya pengetahuan terkadang tanpa sadar membuat seseorang jadi tersesat ke jalan yang salah dan keliru.

Seluruh umat hendaknya meyakini kebesaran Allah, keagungan Nama-Nama, Kerajaan dan Sifat-Sifat-Nya, yang sama sekali tidak ada yang menyerupai-Nya, bahkan keserupaan yang sangat kecil sekalipun. Tidak ada sesuatu pun dari seluruh ciptaan-Nya yang menyerupai-Nya serta tidak dijadikan bisa menyerupai-Nya, meski di alam malaikat sekalipun.

Zat-Nya tidak seperti zat seluruh ciptaan-Nya, dan sifat-Nya berbeda dengan sifat para makhluk-Nya, karena sifat mereka mempunyai beraneka ragam perkembangan dan kebutuhan serta keinginan, sedang Allah Maha Suci dari kesemuanya tersebut. Dia Maha Abadi, maka Nama dan Sifat-Nya juga abadi. Cukup kiranya pemberitahuan dari Allah berikut ini, "Tidak ada sesuatu pun yang seperti-Nya." (Asy-Syuro,42:11).

(Segala produksi panca indera tidak dapat menggambarkan Allah, hanya Wahyu didalam Al Qur'an dan Hadis yang dapat menjelaskannya)

Al Washiti, semoga Allah merahmatinya, meringkas pembahasan perihal Allah, seraya berkata, "Tidak ada zat seperti Zat-Nya. Tidak ada nama seperti Nama-Nya. Tidak ada tindakan seperti tindakan-Nya. Tidak ada sifat seperti Sifat-Nya. Kesemuanya itu (untuk Allah dan selain Allah) hanya serupa dalam pengucapannya saja.  Zat dan Sifat-Nya adalah Terdahulu alias tak berawal, maka mustahil bagi zat yang baru (zat ciptaan-Nya) mempunyai nama dan sifat terdahulu."

Hakim Iyad mengungkapkan pendapatnya mengenai pernyataan Al Washiti:

Sungguh mengagumkan. Pernyataan Al Washiti benar-benar berdasarkan pengetahuan yang sebenarnya dan apa yang dikatakannya juga merupakan perwujudan dari "Pengesaan (Tauhid)" yaitu penegasan zat Allah tidak seperti zat lainnya yang Dia ciptakan, dan Sifat-sifat-Nya senantiasa hidup dan aktif.

Para pengikut Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, mempercayai bahwa Zat Allah tidak terikat waktu karena Dia yang telah menciptakan waktu, sedangkan zat ciptaan-Nya hidup dengan dibatasi waktu dan tidak bisa lari dari waktu. Ini adalah keyakinan orang-orang yang lurus di jalan kebenaran yang mengikuti jalan kenabian baginda (sunnah) dan jamaah para Sahabat serta generasi setelah Sahabat (ini sekaligus doktrin mazhab Sunni atau Ahlussunnah Wal Jamaah)

Imam Abul Qosim Al-Qusyairi berkomentar dan memperinci pernyataan sebelumnya seraya berkata, "Pernyataan diatas mengandung seluruh fakta yang berkenaan dengan Keesaan Allah. Sifat dan keberadaan-Nya adalah berbeda. Zat-Nya tidak seperti zat segala sesuatu yang diciptakan yang terikat dan dipengaruhi oleh waktu. Karena Zat-Nya bebas dari waktu, bebas dari lokasi, bebas dari dimensi, bebas dari imajinasi dan penalaran, serta bebas dari segala materi yang tercipta.

Perbuatan-Nya tidak menyerupai perbuatan semua makhluk yang telah diciptakan-Nya, karena perbuatan-Nya tidak datang dari pemikiran atau hawa nafsu. Perbuatan-Nya tidak datang melainkan dari diri-Nya sendiri dan tidak disebabkan perbuatan para makhluk ciptaan-Nya sebab Dia yang telah menciptakan-Nya." (Perbuatan para makhluk-Nya datang dari-Nya yang dipelihara oleh-Nya sampai diakhiri oleh-Nya).

Juga dikatakan, "Dia tidak seperti apapun yang dibayangkan atau dipikirkan para makhluk (ciptaan-Nya)."

Imam Al-Juwaini berkata:

"Barangsiapa menerapkan sifat-sifat makhluk kepada Allah, berarti menyerupakan-Nya dengan sesuatu, maka orang tersebut  telah salah dan keliru.

Barangsiapa merasa puas dengan menyangkal semua sifat Allah, sehingga membuat sifat Allah menjadi tak berarti, maka telah tersesat imannya / kepercayaannya.

Jika seseorang mempercayai keberadaan Allah dan mengakui dia tidak bisa mengenali hakikat dan sifat Allah maka bagus keimanannya untuk keesaan Allah."

Opini mengagumkan dipaparkan oleh Dzun Nuun Al-Mishriy yang berkata,

"Hakikat Tauhid (Pengesaan) adalah bahwa seseorang mengetahui kekuasaan Allah dalam segala sesuatu yang tanpa penanganan dan telah mencipta tanpa butuh. Ini penjelasan dari firman Allah, "Sesungguhnya Perkataan Kami pada sesuatu ketika menghendakinya Kami berkata padanya 'Jadilah' maka jadi." (An-Nahl,16:40).

Setiap pembuatan sesuatu mempunyai alasan, namun Allah menciptakan tanpa alasan kemanusiaan. Ini  realisasi dari firman-Nya, "Tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat dan mereka yang akan ditanya." (Al-Anbiya', 21:23)

Apapun yang ada dalam imajinasi dan bayangan, maka bukanlah Allah, sebagaimana firman-Nya, "Tidak ada sesuatu pun yang seperti-Nya." (Asy-Syuro',42:11)."

Hakim Iyad menyimpulkan dengan sebuah doa: Ya Allah, tetapkanlah kami sebagai orang-orang yang kokoh dalam meyakini Keesaan-Mu. Jadikanlah kami senantiasa membenarkan Sifat-sifat-Mu. Jauhkan kami dari segala kesesatan dan kesalahan, dan hindarkan dari membuat-buat alasan dan menyerupakan-Mu. Kami memohon kepada-Mu karunia dan belas kasih-Mu…Amin.

 

SAHIH SHIFA

KESEMBUHAN

 

Seri ke-12

 

MUKJIZAT YANG DIBERIKAN KEPADA

NABI MUHAMMAD

pujian dan kesejahteraan atasnya

 

Karya

Hakim Agung Abulfadl Iyad

wafat tahun 1123M / 544H

 

Periwayat Hadis

Muhaddis Agung Hafiz Abdullah Bin Siddiq

 

Perevisi

 Muhaddis Abdullah Talidi

 

Diadaptasikan oleh

Abdi Hadis Syekh Ahmad Darwish (Arab)

Anne Khadeijah (Inggris)

Siti Nadriyah (Indonesia)

 

Copyright © 1984-2013 Allah.com Muhammad.com. Hak Cipta dilindungi

 

Kemuliaan dan Keistimewaan Mukjizat Sebagai Tanda Kekuasaan Allah

yang Diberikan Kepada Nabi Muhammad

pujian dan kesejahteraan atasnya

 

Hakim Iyad, semoga Allah merahmatinya, membuka bab ini seraya berkata:

Materi ini disusun bukan untuk orang-orang yang mengingkari kenabian baginda Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, maupun orang-orang yang buta mata hatinya, yang meragukan dan menentang kebenaran mukjizat yang dikirim kepada baginda. Apabila terjadi penyangkalan mukjizat, yang perlu dihadirkan adalah lebih banyak bukti untuk membela kebenaran mukjizat, namun bukan hal itu yang dikupas kali ini.

Kami mempersembahkan tulisan ini untuk orang-orang yang mempercayai agama yang dibawa Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan menjawab ajakan baginda, serta membenarkan kenabian baginda, sehingga menjadi teguh kecintaan mereka kepada baginda, dan meningkat amal kebaikan mereka, "dan supaya menambahkan keimanan bersama keimanan mereka." (Al-Fath,48:4).

Niat penyusunan materi ini adalah untuk memperkokoh basis mukjizat Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, serta kemasyhuran tanda-tandanya, dan untuk menunjukkan keagungan kedudukan baginda disisi Penguasanya. Kami mengupas pembahasan mukjizat dan tanda-tandanya, berdasarkan hadis sahih yang diriwayatkan oleh sanad (rantai pelapor) yang sahih. Juga terdapat informasi tambahan yang diambil dari saripati karya para cendekiawan Islam yang terkenal.

Orang yang berpikiran jernih, tentu akan bercermin pada apa yang ada didalam diri Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya. Mereka akan menyampaikan hal-hal indah yang mereka catat tentang baginda, seperti riwayat hidup baginda yang patut dipuji, gaya hidup baginda yang menawan, keluasan ilmu, ketajaman akal, kesantunan, kesempurnaan fisik dan perilaku baginda yang sangat bagus. Semuanya membuktikan ketinggian pangkat baginda, kebenaran kenabian dan kebenaran dakwah baginda, dimana juga jadi penyebab banyak orang memeluk agama Islam dan mengikuti jejak baginda.

Abdullah, putra Sallaam, salah seorang Sahabat baginda, yang sebelumnya pernah menjadi Rabi (tokoh Yahudi) terkemuka berkata, "Ketika Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, datang ke Madinah, aku pergi untuk melihatnya. Saat aku menatap wajah baginda, aku mengenali bahwa wajahnya bukan wajah seorang pendusta."

Abu Rimtsah At-Taymi berkata, "Aku pergi menemui Nabi dengan anakku, ketika aku menatap baginda, aku lantas berkata, "Inilah Nabi Allah."

Imam Muslim dan lainnya meriwayatkan: Dhimaad adalah salah satu anggota delegasi yang datang mengunjungi Rasulullah, lalu baginda berkata kepadanya, "Sungguh pujian adalah bagi Allah, kami memuji-Nya dan memohon pertolongan-Nya. Barangsiapa yang dibimbing Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang tidak dibimbing, maka tidak memiliki bimbingan. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah sendirian tanpa ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah penyembah dan Rasul-Nya." Setelah mendengar ini, Dhimaad berkata: Ulangilah untukku kalimatmu. Kata-katamu benar-benar merasuk mendalam pada diriku, berikan tanganmu, aku akan bersumpah setia kepadamu.

Arti kenabian dan kerasulan

Pembaca yang budiman, Allah menciptakan pengetahuan tentang diri-Nya, Nama-Nama dan Sifat Sifat-Nya serta semua perintah-Nya, kedalam hati para hamba yang dikehendaki-Nya, secara langsung tanpa perantara, jika Dia berkehendak. Hal ini terjadi pada sebagian para nabi. Allah berfirman, "Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah hendak berbicara dengannya melainkan dengan Wahyu." (Asy-Syuro,42:51).

Pengetahuan tentang hal-hal tersebut, juga bisa sampai kepada para hamba melalui perantara yang mengirimkan kata-kata-Nya. Perantara tersebut mungkin bukan manusia, seperti para malaikat yang menyampaikan kata-kata Allah kepada para nabi, atau dari golongan manusia seperti para nabi dan umat-umat mereka. Bukti intelektual menyatakan hal tersebut diperbolehkan serta tidak mustahil.

Para rasul datang dengan membawa bukti-bukti kebenaran termasuk mukjizat mereka. Mukjizat mereka yang diluar jangkauan manusia benar-benar menunjukkan kebenaran mereka. Karena para nabi adalah orang-orang yang amanah dan jujur, maka wajib bagi umat membenarkan segala apa yang mereka bawa, sebab mukjizat disertai tantangan, dan tak seorangpun yang mampu menghadang tantangan. Allah telah berfirman, "Hamba-Ku telah mengucapkan kebenaran, maka patuhilah dia dan ikutilah dia." Apa yang dicontohkan ini menyadarkan kita bahwa Allah telah memberi kesaksian kebenaran Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya. Bagi yang berminat mengenal lebih jauh tentang pengetahuan keislaman, dapat melihat referensi keislaman lainnya.

Dalam bahasa arab, "kenabian" berasal dari kata "naba-a", bermakna "berita". Maksudnya adalah bahwa Allah memberikan pengetahuan perkara gaib kepada para nabi-Nya, dan mengajarkan setiap orang bahwa para nabi-Nya itu memang telah diutus menjadi seorang nabi. Para nabi telah diberi informasi pengetahuan perkara gaib, karena itu mereka mampu menyampaikan informasi tersebut dan memproklamirkan kepada orang lain apa yang telah Allah kirim kepada mereka. Bila kata "naba'a" dibaca tanpa huruf "Hamzah (a)" maka asal katanya mempunyai arti "yang tumbuh dari bumi", ini merupakan indikasi bahwa para nabi memiliki kedudukan dan derajat yang mulia disisi Penguasa mereka. Kedua makna diatas berlaku untuk semua nabi.

Kata bahasa arab untuk rasul adalah "ar-rasul" yaitu orang yang diutus. Dengan diutus, maka mereka diperintahkan oleh Allah untuk menyampaikan risalah yang dipercayakan kepada mereka kepada umat mereka. "ar-rasul" berasal dari kata suksesi, dengan kata lain, yang menggantikan orang lainnya. Seorang rasul menanggung kewajiban untuk menyampaikan Pesan (risalah) yang dipercayakan kepadanya, dan menjadi kewajiban umat untuk menerima dan mengikutinya, seperti telah diwajibkan atas para umat sebelumnya untuk mengikuti rasul mereka masing-masing.

Para ulama berbeda pendapat mengenai nabi dan rasul, apakah sama atau berbeda? Kedua kata tersebut memiliki kesamaan, yaitu berasal dari kata "berita", yang berarti "pemberitahuan".

Para ulama yang mengatakan sama, mendasarkan opini mereka pada ayat berikut, "Dan Kami tidak mengutus dari sebelummu baik seorang rasul maupun seorang nabi melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syetan memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syetan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (Al-Hajj,22:52)

Ayat tersebut menegaskan bahwa nabi dan rasul, sama-sama diutus. Karenanya, nabi adalah seorang rasul dan rasul adalah seorang nabi, maka mereka sama-sama mempunyai pangkat sebagai nabi. Mereka memberitahu hal-hal yang gaib serta mengajari orang-orang tentang derajat kenabian supaya orang-orang mengenali kedudukan agung mereka dan mengikuti mereka.

Disisi lain, ada perbedaan antara nabi dan rasul, diantaranya adalah seorang rasul diutus untuk menyampaikan risalah kepada umat, sedangkan seorang nabi diutus untuk dirinya sendiri.

Ulama lainnya menafsirkan kata-kata didalam surah Al Hajj diatas menjadi, "Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun pada umat maupun seorang nabi …"

Beberapa ulama mengatakan bahwa rasul adalah mereka yang membawa ajaran (syariat) baru, sedang yang tidak membawa syariat baru adalah nabi, bukan rasul, meskipun mereka diperintah untuk menyampaikan risalah dan memberi peringatan.

Para ulama telah bersepakat bahwa setiap rasul menempati posisi sebagai nabi, tetapi tidak setiap nabi adalah rasul. Rasul pertama adalah Nabi Adam sedang yang terakhir adalah Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atas semua nabi utusan Allah.

Abu Dzar memaparkan sabda Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, kepada para Sahabatnya, bahwa ada sekitar 124.000 nabi, dimana 313 diantaranya adalah rasul.

(Sisipan Syeikh Darwish: Kata bahasa Arab untuk wahyu adalah "wahy", dan asal katanya bermakna, "mempercepat". Ketika Allah mengirim kata-kata secara cepat untuk nabi-Nya, maka disebut dengan wahyu. Wahyu terdiri dari tiga jenis. Pertama: wahyu yang disertai tantangan, disebut Al Qur'an, yaitu Firman Allah tanpa suara dan huruf. Kedua: wahyu yang berisi makna dari Allah namun dinyatakan dalam kata-kata Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, disebut kutipan Ilahi (hadis Qudsi). Setiap kali menyebut hadis Qudsi, baginda selalu berkata, "Sebagaimana Allah berfirman." Ketiga: wahyu yang menginspirasi Nabi untuk berbicara dengan kata-kata yang fasih dan khas, disebut Kutipan Kenabian atau Hadis.)

"Wahyu" adalah berasal dari kata "al-waha" yang berarti "secara cepat". Juga bisa bermakna kerahasiaan, karena itulah, secara sederhana ilham dari Allah disebut Wahyu. Ilham inilah yang Dia cetak kedalam hati tanpa perantara. Allah berfirman, "Kami wahyukan kepada ibu Musa '" (Al-Qashash,28:7) - berarti Dia mencetak ilham kedalam hati ibu Musa. Dari firman Allah, "Ini bukan kepunyaan manusia manapun bahwa Allah hendak berbicara kepadanya melainkan dengan Wahyu" (Asy-Syuuro,42:52). Maka Wahyu juga bermakna apa yang Allah letakkan kedalam hati tanpa perantaraan apapun.

Arti Mukjizat

Keajaiban yang diberikan kepada seorang nabi digolongkan sebagai mukjizat, karena diluar jangkauan setiap usaha manusia dan tak ada seorangpun yang mampu menirunya. Ada dua macam kondisi didalam mukjizat:

Pertama: Sesuatu yang manusia memiliki potensi untuk melakukan, tetapi mereka menjadi lemah untuk bisa melakukannya. Lemahnya mereka adalah karena Allah mencegah mereka melakukannya, karena untuk menunjukkan kebenaran nabi-Nya. Misalnya, tidak ada manusia yang sanggup menyusun sesuatu yang sebanding dengan Al-Qur'an.

Kedua: Sesuatu yang di luar jangkauan seluruh manusia dan mereka tidak berdaya berbuat yang sepertinya. Contohnya adalah: menghidupkan orang mati, merubah tongkat menjadi ular raksasa, mengeluarkan unta betina dari batu besar, membuat pohon bisa berbicara, mengalirkan air dari jari-jari, dan membelah bulan. Tidak mungkin ada orang yang mampu melakukan semua itu. Hanya Allah yang berkuasa atas hal-hal ajaib tersebut, dimana merupakan mukjizat yang diberikan kepada para nabi-Nya dan dikirim ke tangan mereka.

Pada mukjizat ada tantangan untuk siapapun yang mendustakan dan menyangkalnya, yaitu dengan menantang mereka menghasilkan sesuatu yang serupa, meski ternyata tak ada yang mampu.

Hendaknya diketahui, berbagai mukjizat yang muncul didalam diri Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, merupakan bukti kenabian dan tanda kebenaran baginda. Ini karena baginda adalah rasul dan penutup para nabi yang diberi mukjizat paling banyak jumlahnya, serta tanda-tanda dan bukti-bukti yang paling jelas. Mukjizat baginda terlalu banyak untuk bisa dihitung. Jika ayat-ayat Al-Qur'an adalah mukjizat, dan Al-Qur'an sendiri juga mukjizat, maka mukjizat baginda menjadi tak terkira jumlahnya, seribu, dua ribu atau bahkan lebih banyak.

Pakar Ilmu Keislaman mengungkap bahwa baginda pernah menantang untuk membuat sebuah surah yang serupa Al-Qur'an, namun tak ada yang mampu memenuhi tantangan tersebut, meski untuk surah terpendek sekalipun seperti "Al Kausar", bahkan walaupun hanya satu ayat yang serupa Al-Qur'an. Surah AlKausar ini saja memiliki sejumlah keajaiban, belum surah-surah yang lainnya.

Dua kategori mukjizat yang diberikan kepada Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya:

Kategori pertama terdiri dari sesuatu yang diketahui oleh umum dan diriwayatkan melalui banyak orang. Contohnya yaitu Al-Quran. Semua orang meyakini dan mengakui bahwa Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, telah menyampaikannya. Melalui baginda, mukjizat Al-Qur'an bisa nampak, dan baginda juga telah menggunakannya sebagai dalil (bukti).

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, Al-Qur'an adalah mukjizat dan berisi banyak mukjizat. Fakta bahwa tak seorangpun mampu meniru Al-Qur’an tak bisa dibantah lagi, apalagi penyelidikan yang mendalam juga telah membuktikannya.

Seorang ulama Islam menjelaskan, Prinsip tersebut  relevan dengan tanda-tanda yang muncul, yang melampaui fenomena normal, dan telah terjadi di tangan Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, mencapai tingkat yang tidak perlu dipertanyakan lagi. Orang yang beriman maupun orang kafir tidak membantah berbagai hal-hal luar biasa yang terjadi ditangan baginda. Namun orang-orang kafir menuduh bahwa semua keajaiban tersebut bukan dari Allah, mereka hanya menganggapnya sebagai perkara yang tidak biasa terjadi.

Kategori kedua terdiri dari perkara-perkara yang tidak mencapai tingkatan Al-Qur'an. Kategori ini dibagi menjadi dua macam. Salah satunya terdiri dari mukjizat sangat terkenal, yang ditransmisikan dalam bentuk hadis, serta peristiwa-peristiwa kenabian (sirah), seperti mukjizat air memancar dari sela jari-jemari baginda, dan makanan yang sedikit menjadi berlimpah. Ada juga keajaiban yang hanya diketahui sedikit orang, akibatnya hanya sedikit yang meriwayatkannya dan tidak terlalu dikenal secara luas oleh banyak orang seperti halnya kategori pertama, namun ditemukan kesahihan dan kecocokannya sehingga kebenaran mukjizat menjadi terbukti.

Adapun tanda-tanda yang diberikan kepada Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, sudah dikenal dimana-mana. Misalnya peristiwa bulan terbelah dua, keajaiban besar ini telah tercatat dan diberitakan, baik didalam Al-Qur'an maupun Hadis (Perkataan Kenabian).

Tak bisa dipungkiri, kebenaran mukjizat baginda telah terbukti secara mutlak. Tak sepatutnya siapapun menganggap sebaliknya apa yang sudah dibuktikan secara mutlak. Apalagi kebenaran mukjizat baginda telah didukung laporan-laporan sah yang ditransmisikan dari berbagai sumber yang berbeda. Oleh karena itu, kebenaran mukjizat hendaknya ditegakkan bukannya malah ditinggalkan, hanya karena kebodohan orang yang berpikiran lemah dalam agama maupun mempertimbangkan pendapat salah satu ahli bid’ah yang melemparkan keragu-raguan di hati orang-orang beriman. Semestinya kita berpaling dari kebodohan semacam itu.

Hal yang sama juga berlaku untuk peristiwa menakjubkan air mengalir dari sela jari-jemari baginda, dan makanan yang sedikit menjadi melimpah, yang mana kedua peristiwa tersebut telah disaksikan dan dilaporkan oleh banyak sekali para Sahabat.

Banyak para Sahabat terdekat baginda yang telah menyaksikan dan meriwayatkan terjadinya aneka mukjizat, misalnya mereka yang berpartisipasi dalam peristiwa Hudaibiyah, peristiwa Tabuk, dan yang terlibat selama penggalian parit di Khondaq, juga peristiwa lainnya ketika berhadapan dengan orang-orang kafir.

Tak satupun para Sahabat bertentangan satu sama lain dalam meriwayatkan berbagai mukjizat, didalam apa yang baginda ucapkan maupun yang baginda lakukan. Para Sahabat juga tidak mengajukan keberatan pada pernyataan yang dikaitkan dengan mukjizat ketika diriwayatkan dimasa kemudian.

Masing-masing para Sahabat meriwayatkan mukjizat yang disaksikannya. Sudah menjadi karakter mereka untuk berani bicara benar, dan jika mereka mendengar sesuatu yang sudah diketahui umum maka mereka tidak takut untuk mengatakannya. Beberapa Sahabat telah melaporkan Sunnah (Jalan Nabi), Sirah (Riwayat Hidup Nabi), dan kata-kata Al-Quran, yang mempunyai kaitan dengan mukjizat baginda yang tak terbantahkan.

Untuk kutipan yang dihukumi lemah atau palsu yang dikatakan dari Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, padahal bukan, juga telah disusun secara rapi dan urut beserta nama-nama para pemalsunya.

(Sisipan Syeikh Darwish: Segala puji bagi Allah, saya (Darwish) telah diberkati untuk menyusun koleksi terbesar hadis palsu serta berisi daftar nama setiap pemalsunya. Hadis palsu jumlahnya kurang dari 1% dari total semua hadis sahih. Koleksi ini dapat didownload dari website Allah.com)

Ada beberapa tanda didalam kutipan kenabian yang mungkin muncul sebagai sesuatu yang mengaburkan makna ketika pertama kali diucapkan. Kutipan ini telah digunakan oleh orang-orang yang menentang Islam, untuk melemahkan kekuatan laporan. Namun, dengan berlalunya waktu, banyak pihak penentang yang kecewa, karena tanda-tanda akhirnya menjadi kenyataan. Hal yang sama berlaku untuk sabda Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, berkaitan dengan perkara gaib, dan nubuat baginda mengenai berbagai peristiwa yang ternyata kemudian terbukti benar, maka para penentang tidak dapat lagi menggunakannya sebagai alat untuk menyangkal.

Hakim Iyad memberitahu bahwa segala yang berkenaan dengan baginda telah dibuktikan kebenarannya. Kalau ada yang mengatakan riwayat-riwayat ini sampai kepada kita hanya melalui laporan dari satu orang saja, maka orang tersebut tidak mendalam pengetahuannya dalam bidang hadis dan ilmu keislaman lainnya.

Untuk bukti selanjutnya, hakim Iyad memberi informasi, bila seseorang telah mempelajari rantai (sanad) yang menghubungkan pelapor (perawi) yang satu dengan pelapor lainnya, entah kutipan kenabian atau sejarah Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, pasti akan membenarkan keabsahan mukjizat yang dilaporkan. Mungkin juga bagi seseorang untuk menerima pengetahuan dari berbagai sumber pelaporan.

Insya Allah lebih banyak mukjizat akan dibahas dan dijelaskan pada bagian selanjutnya.

 

Tantangan mukjizat Al-Qur'an

Syekh Darwish berkomentar: "Bagian berikut ini memperlihatkan tantangan Al-Qur'an dalam bahasa Arab. Untuk mempermudah masyarakat memahami Al-Qur'an, maka arti teks-teks Al-Quran disajikan dalam bahasa mereka masing-masing. Namun penting sekali disadari bahwa dari aspek manapun, seseorang tidak akan mampu mengalami kenikmatan sejati keindahan luar biasa Al-Qur'an sebagaimana yang ada dalam bahasa Arab, sebab kutipan selain bahasa Arab hanya bisa berusaha menyajikan dan memahami maknanya, karena susunan kata paling indah sekalipun, tidak akan mampu mengungkap keindahan Al-Qur’an dalam bahasa Arab."

Al-Qur'an versi bahasa Arab memiliki banyak segi yang tidak mungkin untuk ditiru. Segi tersebut merupakan tantangan unik yang gambarannya terbagi dalam beberapa aspek.

Aspek pertama menggambarkan keunggulan komposisi Al-Qur'an, gabungan struktur kata-katanya dan kefasihan serta keindahannya, yang jauh di luar jangkauan dan kemampuan orang Arab manapun bahkan yang paling ahli sekalipun.

Allah memberkati bangsa Arab dengan bakat alami dalam bidang bahasa. Pada saat Al-Qur'an diturunkan, bangsa Arab telah menguasai beraneka ekspresi dalam bahasa. Kefasihan mereka berbicara dan berkreasi dengan kata-kata yang indah telah melampaui bangsa manapun, yang pada saat itu tengah mencapai puncak kejayaannya, dan kecakapan mereka berbahasa mampu menyentuh kedalaman hati siapa saja. Untuk bangsa Arab, itu adalah fenomena alami dan bagian dari karakter mereka.

Orang-orang Arab menulis syair yang sangat kuat pengaruhnya dan bisa membangkitkan emosi seseorang, terkadang digunakan untuk memuji atau mencemarkan nama baik seseorang. Mereka juga menggunakan syair untuk mengungkapkan segala permintaan dan kesukaan mereka, serta untuk meninggikan atau menurunkan pangkat sesuatu. Penguasaan mereka telah mencapai tingkat yang tinggi, bahkan orang cerdas pun bisa tertipu. Mereka juga telah memanfaatkan syair sebagai alat untuk mengatasi perseteruan suku yang sudah berlangsung lama, menggugah hati para pengecut sehingga menjadi berani, membujuk si kikir menjadi pemurah, membuat yang tidak sempurna menjadi sempurna, dan merendahkan martabat golongan yang elit sehingga menjadi disepelekan.

Orang-orang Badui (mereka yang hidup di daerah pedalaman atau dipadang pasir) memakai bahasa Arab yang paling kaya ekspresi, karena mereka yang paling fasih dikalangan bangsa Arab. Orang Arab yang tinggal di daerah perkotaan juga mahir berbahasa yang fasih, dan mampu mengekspresikan diri secara mengagumkan hanya dengan beberapa kata. Kedua golongan masyarakat tersebut mampu berekspresi dalam segala perkara secara efektif dan meyakinkan, yang membuat mereka menjadi golongan yang unggul. Seringkali mereka mampu memecahkan permasalahan dengan kefasihan mereka berkata-kata.

Kefasihan adalah alat kepemimpinan mereka, dan mereka sanggup berbicara pada hal-hal yang penting maupun yang tidak penting. Mereka benar-benar jago berekspresi dan berolahkata menggunakan kata-kata yang langka. Banyak festival bernuansa syair yang mereka selenggarakan, dimana orang-orang dari segenap penjuru datang untuk berkompetisi, atau sekedar mendengarkan dan menikmati karya-karya mereka.

Masyarakat Arab yang terkenal kemahiran mereka dalam bidang bahasa, telah dibuat terkagum-kagum dan terpesona oleh kefasihan, kebenaran, dan struktur Al-Qur'an yang penuh arti. Hanya Utusan Allah saja yang diberi kekuasaan oleh-Nya, yang sanggup membuat mereka semua terpana. Allah berfirman, "Kepalsuan tidak mendatanginya dari depannya maupun dari belakangnya, diturunkan dari Yang Maha  Bijaksana lagi Maha Terpuji." (Fussilat,41:42). Ayat dan kata-kata ini benar-benar tepat dan fasih, beda dengan yang lainnya.

Kemurnian bahasa Arab Al-Quran, dengan isi yang padat dan ringkas serta aneka ekspresi baru, telah jauh melampaui setiap bentuk bahasa yang ada dalam masyarakat. Segala aspek yang terdapat didalam Al-Qur'an, saling berlomba-lomba satu sama lain dalam keindahan. Keunggulan strukturnya diimbangi ungkapan yang mengandung banyak arti.

Masyarakat Arab adalah orang-orang yang diberi bakat kemampuan berbahasa paling menawan. Mereka menelurkan orator-orator andal dan penyair-penyair hebat. Kontes terbesar yang mereka adakan adalah kontes yang bernuansa syair, sajak dan puisi. Ragam ekspresi dalam bahasa keseharian, cara berdebat yang khas dan penggunaan kata-kata langka tengah mencapai puncaknya. Kemahiran orang-orang ini telah ditantang oleh Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan baginda menegur mereka selama lebih dari dua puluh tahun.

Mengenai sikap keras kepala orang-orang kafir yang menolak mengakui Al-Qur'an, meskipun Al-Qur'an jauh lebih unggul dan melampaui komposisi semua pakar bahasa Arab, maka Allah menantang mereka seraya berfirman,

"Apakah mereka mengatakan, 'ia telah mengada-adakannya?' Katakan, 'hadirkan sebuah surah sepertinya, dan serulah siapa yang kamu anggap mampu dari selain Allah jika kamu adalah yang benar!'" (Yunus,10:38)

"Dan jika kamu dalam keraguan dari apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), hadirkan sebuah surah yang menyamainya, dan serulah para penolongmu dari selain Allah jika kamu adalah yang benar; Namun jika kalian tidak melakukan dan kalian (memang) tidak akan (mampu) melakukan, maka waspadailah neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, disediakan bagi yang tidak beriman." (Al-Baqoroh,2:23-24)

"Katakanlah, 'Andai manusia dan jin benar-benar bergabung untuk menghadirkan seperti Al Qur'an ini, tidak akan menghadirkan dengan sepertinya walaupun mereka saling membantu satu sama lain.'" (Al-Isro',17:88).

"Katakanlah 'Hadirkan sepuluh surah yang diada-adakan sepertinya dan serulah siapa yang kamu anggap mampu dari selain Allah." (Hud,11:13).

Jauh lebih mudah mengambil kata-kata atau ide orang lain, dan menghadirkannya sebagai karya sendiri daripada menghasilkan karya asli. Menulis sesuatu yang salah atau membuat kepalsuan memang jauh lebih mudah, namun menjadi lebih sulit ketika berjuang membuat karya yang asli, karenanya ada ucapan,

"Fulan akan menulis sebagaimana yang dikatakan kepadanya, dan

Fulan akan menulis sebagaimana yang dia inginkan."

 

Kalimat tersebut tampak sama namun sangat berbeda artinya. Kalimat yang pertama lebih baik daripada yang kedua.

 

Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, yang senantiasa peduli pada umat, telah mengetuk hati setiap orang agar beriman kepada Allah. Demi kebaikan umat manusia, baginda tidak pernah menyerah menegur orang-orang yang tak mau beriman. Baginda menegur dan memperingatkan mereka secara baik dan bijaksana. Baginda terus mengajak mereka beriman sambil menghadirkan bukti-bukti yang kuat. Orang-orang yang tetap menolak beriman jadi merasa terhina sendiri dengan kebenaran yang dipaparkan baginda, dan mereka memperparah kebodohan diri mereka sendiri.

 

Orang-orang tak beriman telah memperdayai diri mereka sendiri, dengan mengada-adakan masalah, kebohongan dan kepalsuan, hal ini tampak dalam ucapan-ucapan mereka:

Lalu dia berkata: "(Al Quran) Ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia". (Al-Muddatstsir,74:24-25)

"Sihir yang berkesinambungan." (Al-Qomar,54:2)

"Kebohongan yang di ada-adakan." (Al-Furqon,25:4).

"Dongengan kuno." (Al-An'am,6:25)

 

Mereka justru merasa bangga dan puas menipu diri sendiri, sebagaimana perkataan mereka:

 

"Hati kami tertutup." (Al-Baqoroh,2:88).

"Hati kami dalam tutupan dari apa yang kamu menyeru kami kepadanya, dan didalam telinga kami ada sumbatan, dan antara kami dan kamu ada selubung." (Fussilat,41:5).

Dan orang-orang yang kafir berkata: "Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Quran Ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka". (Fussilat,41:26).

 

Sikap arogan orang-orang tak beriman telah tercatat didalam Al-Qur’an, ketika mereka berucap, "Sekiranya menginginkan, kita bisa bicara seperti ini." (Al-Anfal,8:31).  Namun Allah telah berfirman, "dan tak akan melakukan." (Al-Baqoroh,2:24).

 

Para pembantah Al-Qur'an ternyata hanya beromong-kosong. Mereka benar-benar tidak berdaya dan tidak mampu menyaingi Al-Qur'an.

 

Pada masa hidup Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, ada seorang pembohong bernama Musailamah yang mengaku-ngaku sebagai nabi. Ia mencoba menyusun ayat-ayat untuk menyaingi Al-Qur'an, namun kesalahan fatal tampak jelas dan nyata. Kedok Musailamah sebagai nabi palsu lantas terbongkar dan diketahui semua orang, usaha Musailamah akhirnya menjadi sia-sia.

Orang-orang semakin menyadari bahwa keindahan bahasa Al-Qur'an jauh melampaui kefasihan ekspresi bahasa Arab mereka. Ketika mendengar lantunan Al-Qur'an, mereka jadi menyerah atau merasa terbimbing, atau setidak-tidaknya mereka merasa terpikat.

Karenanya, disaat Walid bin Mughirah mendengar Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, melantunankan ayat, "Sungguh Allah memerintah keadilan, perbuatan baik dan menyantuni sanak kerabat." (An-Nahl,16:90) Walid bin Mughirah lantas berujar, "Demi Allah, betapa merdu dan elegannya ayat ini. Melimpah ruah manfaat yang bisa dipetik dan penuh citarasa tingkat tinggi. Ini bukan perkataan seorang manusia."

Abu Ubed menceritakan kisah seorang Badui yang mendengar seorang lelaki melantunkan ayat, "Proklamirkanlah apa yang diperintahkan." (Al-Hijr,15:94) dimana menembus jantungnya hingga si Badui lantas bersujud dan berkata, "Aku bersujud karena keindahan bahasa Arabnya."

Badui yang lainnya mendengar seseorang melantunkan ayat, "Maka tatkala berputus asa daripadanya mereka menyendiri berunding bersama." (Yusuf,12:80) setelah mendengarnya, ia lantas berucap, "Aku bersaksi bahwa makhluk tidak mampu atas perkataan yang seperti itu!"

Ada seorang pelayan perempuan yang pandai berkata-kata. Asma'i yang mendengar keindahan perkataannya lantas berkata, "Demi Allah, alangkah fasih dan merdu perkataanmu!" si pelayan menjawab, "Apakah ini dianggap fasih setelah firman Allah, "dan Kami mewahyukan kepada ibu Musa 'susuilah dia lalu ketika kamu khawatir atasnya maka lemparkanlah dia kedalam air, dan janganlah kamu takut maupun susah. Sungguh Kami akan mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya di antara para rasul'." (Al-Qosos,28:7). Dalam satu ayat tersebut ada dua perintah, dua larangan, dua berita dan dua kabar baik yang terkumpul bersama. Perencanaan Allah terbukti jelas dalam ayat ini, dimana pelemparan Musa kedalam air berubah menjadi instrumen (perantara) penting untuk keselamatannya.

Benar-benar unik dan tak tertandingi tantangan Al-Qur'an. Fakta nyata bahwa Al-Qur'an telah diwahyukan kepada Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan baginda yang mengirimkannya kepada umat manusia.

Tidak ada yang sanggup menanggapi tantangan yang disampaikan Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, untuk meniru Al Qur'an. Orang-orang Arab yang terampil dalam ilmu kefasihan bahasa dan teknik-teknik retorika, mengetahui secara pasti bahwa Al Qur'an tidak lain adalah mukjizat yang agung. Sedang orang yang tidak pandai dalam seni bahasa Arab, menyadari bahwa Al Qur'an adalah sebuah mukjizat karena tidak ada para ahli bahasa Arab yang mampu menanggapi tantangan, serta tidak ada manusia yang bisa menirunya.

Tulisan sebanyak apapun hanya sanggup mengulas setitik dari segenap manfaat Al-Qur'an. Setiap kalimat Al-Qur'an mengandung banyak makna dan pengetahuan yang melimpah. Kisah generasi dan bangsa-bangsa terdahulu yang saling berpadu serasi satu sama lain, adalah satu diantara tanda yang mencerminkan keindahan kata-kata Al-Qur'an, dengan penyajian yang harmoni dan aspek-aspek yang seimbang.

Contohnya bisa ditemukan pada kisah nabi Yusuf. Kisah nabi Yusuf dan para nabi lainnya muncul pada surah-surah yang berbeda didalam Al Qur'an, meski demikian, banyak ungkapan bervariasi dan kisah yang hadir dengan wajah baru. Aspek ini juga bagian dari keindahan Al-Qur'an. Tidak ada yang pernah merasa bosan, jemu dan kesal meski melantunkan dan mendengarnya berkali-kali.

Keajaiban struktur dan gaya bahasa Al-Qur'an

Segi lain yang tidak mampu ditiru adalah komposisi dan gaya khas Al-Qur'an dalam bahasa Arab. Gaya bahasa Arab yang tersaji didalam Al-Qur'an sangat berbeda dengan bahasa keseharian bangsa Arab, juga berbeda dengan metode komposisi bahasa dan kesusastraan Arab, dimana ketika itu tengah berkembang pesat dan mencapai puncaknya. Didalam Al-Qur'an bisa ditemukan ada ayat-ayat yang membahas sesuatu dan telah selesai pembahasannya, namun kata-kata tersebut bertaburan menjadi hiasan pada bagian ayat yang lainnya. Hiasan semacam itu tidak pernah terjadi sebelum dan sesudah pengiriman Al-Qur'an, dan tidak pernah ada seorangpun mampu menghasilkan yang semacam itu.

Ketika orang-orang Arab mendengar lantunan Al-Qur'an, mereka tercengang dan terpaku dengan keindahannya, akal jadi tak berkutik dan mereka menyerah dalam pesona Al-Qur'an. Dengan kata lain, mereka belum pernah mendengar sesuatu yang begitu menggugah dalam bentuk bahasa Arab manapun, baik dalam prosa, puisi, sajak maupun syair.

Walid bin Mughiroh sangat berpengetahuan dalam bidang ilmu syair Arab. Ia telah mendengar Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, berbicara pada beberapa kesempatan, dan menjadi akrab dengan gaya bicara baginda, tetapi suatu hari ia kebetulan mendengar baginda melantunkan Al Qur'an, yang langsung meyakinkannya bahwa itu bukan kata-kata seorang manusia dan tidak akan pernah ada manusia yang mampu menyusun kata-kata seperti itu. Setelah Walid mendengar ayat-ayat tersebut, Abu Jahal, orang yang paling membenci baginda, datang dan mengingkari baginda, Walid lantas berkata, "Demi Allah! Tak seorang pun dari kalian yang lebih mengetahui syair daripada aku. Demi Allah! ucapan kesehariannya (yakni Rasul) sama sekali tidak mirip dengan Al-Quran!"

 

Setiap kali festival syair diadakan, manusia selalu datang berduyun-duyun. Ketika tiba waktunya bagi orang-orang Quraisy menyelenggarakan festival tahunan, mereka melakukan persiapan yang matang. Namun banyak yang mengkhawatirkan dampak lantunan Al-Qur'an pada para peserta festival. Maka orang-orang kafir berkumpul bersama dan berembuk serta bersepakat akan mengatakan hal yang sama tentang Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan tidak akan berkata yang bertentangan satu sama lainnya.

Walid adalah salah satu di antara mereka yang hadir, dan ketika seseorang menyarankan agar mereka berkata, "Muhammad adalah seorang dukun," Walid menyahut, "Demi Allah, ia bukanlah seorang dukun! baginda tidak pernah berkomat-kamit maupun berbicara dalam irama sajak." Yang lainnya memberi opini supaya menyebut baginda sebagai orang gila. Walid menimpali, "Dia tidak gila, juga tidak dipengaruhi oleh jin, karena dia tidak pernah menyerak maupun membisik dalam bersuara."

Kemudian mereka mengusulkan agar menyebut baginda sebagai penyair, lalu Walid menyangkal, "Dia bukanlah penyair, kita tahu seluruh bentuk syair dan puisi, dan dia tidak termasuk penyair." Kemudian mereka mengusulkan agar berkata, "Dia adalah seorang ahli sihir." Sekali lagi Walid berkata, "Dia bukan seorang tukang sihir, tidak ada buhul maupun tiupan." Mereka jadi frustrasi dan berseru, "Lalu kita akan bilang apa tentang dia!"

Walid memberitahu mereka, "Apa yang kalian bilang tentang dia sama sekali tidak benar. Aku sendiri tidak mengakui baginda sebagai pembawa kebenaran, dan kurasa yang paling tepat adalah menyebutnya sebagai penyihir, karena sihir dapat memisahkan orang tua dengan anaknya, juga memecah tali persaudaraan, menghancurkan hubungan suami istri, serta memisahkan seseorang dari lingkungannya."

Lalu mereka bubar tanpa menghasilkan keputusan. Mereka duduk di pinggir-pinggir jalan untuk memperingatkan orang-orang. Sesudah itu, Allah mewahyukan tentang Walid, "Biarkan Aku dan yang telah Aku ciptakan sendirian." (Al-Muddatstsir,74:11).

Pada kesempatan lain Utbah bin Rabi'ah, yang terpelajar dalam seni bahasa, ketika mendengar lantunan Al Qur'an lantas berkata, "Wahai masyarakat, kalian tentu tahu, tidak ada suatu ilmu melainkan telah kupelajari, kubaca dan kuucapkan. Demi Allah, aku telah mendengar suatu perkataan. Demi Allah, aku sama sekali belum pernah mendengar yang sepertinya, bukan syair, bukan pula mantra maupun ramalan."

Abu Dzar yang memiliki saudara seorang penyair bernama Anis berkata, "Demi Allah, aku tidak mendengar ada yang lebih mengenal syair daripada saudaraku Anis. Dia bersaing dengan dua belas penyair dizaman Jahiliyyah dan aku termasuk seorang diantara mereka." Suatu hari, Anis melakukan perjalanan ke Mekah, sementara itu, Abu Dzar yang belum masuk Islam telah mendengar berita tentang baginda dan ajaran-ajarannya.

Begitu Anis pulang dari Mekah, Abu Dzar langsung menanyainya tentang apa yang dikatakan orang-orang mengenai Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya. Anis menjawab, "Mereka bilang baginda seorang penyair, seorang peramal, dan seorang penyihir. Aku telah mendengar ucapan para peramal, namun baginda tidak berkata-kata seperti mereka. Aku membandingkan baginda dengan para penyair, baginda berbeda pula dengan mereka. Setelah apa yang kukatakan ini, tidaklah patut menyebut apa yang disampaikan baginda sebagai syair. Sungguh baginda adalah yang benar dan merekalah yang berdusta!."

Beragam kesaksian tersebut hanyalah sedikit diantara riwayat-riwayat yang sahih. Keunikan Al-Qur'an tidak hanya terletak pada kefasihan dan keringkasan yg padat isinya, tetapi juga gaya bahasanya yang luar biasa. Al-Qur'an merupakan jenis tantangan yang berbeda, dimana orang-orang Arab tidak mampu meniru karena jauh diluar kemampuan mereka untuk melakukannya. Bahasa Al-Qur'an tidak sama dengan bahasa Arab lainnya. Beberapa pemimpin Islam juga mengutarakan pendapat serupa.

Bermacam-macam pendapat yang mengatakan tentang ketidakmampuan orang-orang untuk meniru Al-Qur'an. Ada yang mengungkap bahwa manusia tidak memiliki kemampuan untuk melakukannya, disebabkan oleh kuatnya kejelasan, komposisi, gaya dan strukturnya yang unik serta kedalaman maknanya. Hal-hal tersebut adalah bagian dari keajaiban alami, yang melebihi kemampuan setiap manusia untuk bisa menirunya, sebagaimana menghidupkan kembali orang mati, mengubah tongkat menjadi ular besar, atau menyebabkan kerikil-kerikil bertasbih kepada Allah.

Syekh Abul Hasan berpendapat bahwa manusia mempunyai kemampuan meniru Al-Qur’an jika Allah menjadikan mereka berdaya melakukannya, namun faktanya, Allah mencegah mereka melakukannya sehingga menjadi mustahil untuk menirunya. Pendapat ini dipertahankan oleh beberapa ulama lainnya, yang mendasarkan pendapat mereka pada dua argumen.

Pendapat  pertama adalah bahwa sudah ditetapkan kalau tidak ada manusia yang sanggup meniru Al-Qur’an. Argumen ini tidak akan berlaku dan diadakan jika bukan karena ada kemungkinan bagi manusia untuk melakukannya.

Pendapat kedua adalah kenyataan bahwa mereka ditantang untuk mencoba dan meniru Al-Qur’an. Tantangan ini secara efektif telah membuktikan kelemahan mereka sekaligus faktor penting untuk menegur mereka. Tidak akan dibenarkan membuat tantangan jika si penantang tidak memiliki kapasitas melakukannya. Pendapat yang ini lebih tegas daripada yang pertama.

Orang-orang kafir tidak berdaya untuk meniru Al-Qur'an, mereka terpaksa menelan harga diri mereka sendiri. Jika kekuasaan ada di tangan mereka, tentu jauh lebih mudah bagi mereka untuk bangkit menghadapi tantangan dan menghasilkan sebuah ayat atau sebuah surah, sehingga mereka bisa meraih keberhasilan dan kemenangan. Namun hanya Allah Yang Maha berkuasa atas segala sesuatu. Ketika Dia menghendaki tak ada yang mampu menyaingi Al-Qur'an, maka tak akan ada yang bisa membuat yang sepertinya.

Tak peduli betapapun kerasnya orang-orang berusaha, meski bersatu bersama-sama mengerahkan segenap kemampuan dan keterampilan, dalam usaha memadamkan cahaya Al-Qur'an, mereka tetap tidak akan berdaya. Berbagai usaha yang mereka kerahkan, baik oleh individu maupun kelompok, tetap saja membuat mereka kebingungan, dan tak ada yang mampu mengucapkan sepatah kata pun. Panca indera mereka tumpul dan segala jalan menjadi buntu menghadapi tantangan Al Qur'an.

SAHIH SHIFA

KESEMBUHAN

 

Seri ke-13

 

MUKJIZAT YANG DIBERIKAN KEPADA

NABI MUHAMMAD

pujian dan kesejahteraan atasnya

 

Karya

Hakim Agung Abulfadl Iyad

wafat tahun 1123M / 544H

 

Periwayat Hadis

Muhaddis Agung Hafiz Abdullah Bin Siddiq

 

Perevisi

 Muhaddis Abdullah Talidi

 

Diadaptasikan oleh

Abdi Hadis Syekh Ahmad Darwish (Arab)

Anne Khadeijah (Inggris)

Siti Nadriyah (Indonesia)

 

Copyright © 1984-2013 Allah.com Muhammad.com. Hak Cipta dilindungi

Perkara Gaib didalam Al Qur’an

Sisi lain tantangan Al-Qur'an ditemukan didalam ayat yang berkaitan dengan perkara-perkara gaib dan peristiwa yang terwujud di masa depan. Banyak sekali ayat yang memberitahukan aneka peristiwa yang belum terjadi dan benar-benar menjadi kenyataan di kemudian hari.

Kabar baik bisa masuk Mekah secara aman telah disampaikan kepada Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, didalam ayat berikut, "Kamu benar-benar akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keamanan." (Al-Fath,48:27).

Peristiwa lain yang saat itu belum terjadi, namun kemudian menjadi nyata, adalah berita bahwa Persia akan dikalahkan oleh bangsa Romawi, "Dan mereka dari setelah kekalahan mereka kelak akan mengalahkan." (Ar-Rum,30:3).

Allah memberikan kabar baik bahwa kaum muslimin dimasa depan akan menundukkan orang-orang kafir, juga berita Pembukaan Mekah dan keunggulan agama Islam, dalam firman-Nya,

"Ketika kemenangan Allah dan Pembukaan tiba." (Al-Fath,110:1).

"Allah menjanjikan mereka yang beriman diantaramu dan mengerjakan amal saleh sungguh akan menjadikan mereka para pengganti di bumi." (An-Nur,24:55).

"untuk mengunggulkannya atas agama seluruhnya." (At-Taubah,9:33).

Semua peristiwa terwujud, sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah. Romawi mengalahkan Persia, dan orang-orang Persia berbondong-bondong memeluk Islam.

(Informasi lebih lanjut silakan baca buku kami yang berjudul "Heraclius, Kaisar Romawi, Mengakui dan Mendukung Nabi Muhammad")

Pada waktu wafatnya Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, Islam telah merambah di sepanjang semenanjung Arab. Allah menjadikan kaum mukminin sebagai khalifah dimuka bumi. Allah menegakkan agama Islam dan kerajaan orang-orang beriman dibumi dari ufuk timur hingga ke barat. Sebagaimana Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, telah bersabda, "Bumi terkumpul untukku, hingga aku bisa melihat ufuk timur dan baratnya, dan kerajaan umatku kelak mencapai apa yang terkumpul darinya."

Allah memberitahu didalam Al Qur'an, "Sungguh Kami telah menurunkan Adz-Dzikr (Al-Qur'an) dan Kami benar-benar menjaganya." (Al-Hijr,15:9).

Selama berabad-abad tak terhitung jumlahnya kelompok yang berusaha merubah dan memalsukan Al Qur'an. Meski mereka mengerahkan segala daya upaya dan tipu muslihat, misalnya kelompok Qoromitoh, dengan menambah atau mengurangi isinya, namun tetap sia-sia.

(Sisipan Syeikh Darwish: Dimasa Hakim Iyad, ada sebuah sekte yang dikenal dengan sebutan "Orang-orang Qoromithoh". Sekte ini bergerak sangat aktif berupaya untuk merubah Islam, tetapi seperti para pendahulunya, mereka tidak berhasil. Segala puji bagi Allah, tak ada satupun yang berhasil memadamkan cahaya Al-Quran maupun mengubah isinya walaupun hanya satu kata, dan tak ada pula yang mampu menimbulkan keraguan dalam benak kaum Muslimin)

Segala puji bagi Allah! Tak satupun yang berhasil memadamkan cahaya Al Qur'an maupun mengubah ayat-ayatnya walaupun hanya satu huruf, maupun menyebabkan timbulnya keraguan dalam pikiran umat Islam!

Allah memberitakan kepada Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan para pengikut baginda tentang adanya konflik dengan orang-orang kafir dimasa depan, dalam firman-Nya, “Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang.” (Al-Qomar,54:45).

Dia juga berfirman,

"Perangilah mereka, Allah akan menghukum mereka dengan tanganmu." (At-Taubah,9:14)

Mereka sekali-kali tidak akan dapat membuat mudharat kepada kamu, selain dari gangguan-gangguan celaan saja, dan jika mereka berperang dengan kamu, Pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang (kalah)…” (Ali-Imron,3:111).

 

Aneka peristiwa terjadi kemudian ketika waktu yang ditakdirkan telah tiba.

Didalam Al-Qur’an juga terdapat penyingkapan perkara gaib diantaranya ialah pembongkaran rahasia orang-orang munafik dan sebagian orang Yahudi yang memusuhi baginda serta kebohongan yang ada dibelakang mereka dan yang mereka sebar kepada masyarakat. Allah menyingkap pengkhianatan mereka, menegur mereka sekaligus memperlihatkan sifat sentimen mereka, seraya berfirman, "Dan berkata dalam diri mereka sendiri 'Mengapa Allah tidak menghukum kita atas apa yang kita katakan?'"(Al-Mujadilah,58:8).

Allah juga memberitahukan perilaku mereka kepada baginda dan orang-orang beriman, seraya berfirman, "Menyembunyikan dalam diri mereka apa yang tidak ditampakkan kepadamu." (Ali-Imron,3:154).

dan, "Dan diantara orang-orang Yahudi mendengarkan kebohongan." (Al-Maidah,5:42).

Mengenai kitab suci Yahudi, Allah telah memberi informasi kepada Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan para pengikut baginda, dalam firman-Nya, “Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya [yakni menambah atau mengurangi]. mereka berkata [dengan lisan] : "Kami mendengar", tetapi [dalam hati mereka berkata] kami tidak mau menurutinya. dan (mereka mengatakan pula dengan lisannya) : "Dengarlah" sedang [dalam hati mereka berkata: semoga] kamu tidak mendengar apa-apa. dan (mereka mengatakan): "Raa'ina"[305], dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama…. (An-Nisa',4:46).

[Raa 'ina berarti: sudilah kiranya kamu memperhatikan kami. di kala para sahabat menghadapkan kata Ini kepada Rasulullah, orang Yahudipun memakai kata Ini dengan digumam seakan-akan menyebut Raa'ina padahal yang mereka katakan ialah Ru'uunah yang berarti kebodohan yang sangat, sebagai ejekan kepada Rasulullah. Itulah sebabnya Tuhan menyuruh supaya sahabat-sahabat menukar perkataan Raa'ina dengan Unzhurna yang juga sama artinya dengan Raa'ina.]

 

Allah menjanjikan kemenangan kepada umat Islam, dan janji-Nya terpenuhi pada Peristiwa Badar, "dan (ingatlah) ketika Allah menjanjikanmu salah satu dari dua pihak (di Badar) dan kamu berharap untuk yang tidak kuat." (Al-Anfal,8:7).

Allah memberitahu Nabi Muhammad, pujian kesejahteraan atasnya, "Sungguh Kami mencukupimu menghadapi para pengejek." (Al-Hijr,15:95). Setelah ayat ini turun, baginda menyampaikan kepada para Sahabatnya bahwa Allah mencukupi baginda dan juga mereka.

Yang disebut sebagai "para pengejek" adalah sekelompok orang di Mekah yang berusaha memalingkan orang-orang dari baginda dan yang menyakiti baginda. Mereka akhirnya bubar. Ketika orang-orang kafir mencoba membunuh Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, Allah menurunkan ayat, "dan Allah melindungimu dari orang-orang." (Al-Maidah,5:67).

Bangsa-bangsa masa lampau yang disebutkan didalam Al Qur'an

Sisi lain ketidakmampuan manusia meniru Al Qur'an ditemukan dalam informasi yang berkaitan dengan generasi masa lampau dan bangsa-bangsa yang telah punah dari dunia beserta hukum-hukum mereka. Pada saat pengiriman Al-Qur'an, hanya sedikit orang yang berilmu dikalangan Ahli Kitab - Orang Kristen dan Yahudi - yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk meneliti aspek yang satu ini, orang-orang yang lainnya tidak cukup berilmu dibidang ini dan pengetahuan mereka tidak lengkap .

Kisah tentang umat terdahulu yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, merupakan tanda bagi orang-orang Ahli Kitab. Mereka tahu bahwa baginda buta huruf, tidak bisa baca tulis, dan tidak pernah berguru pada orang yang berilmu serta tidak memiliki akses mempelajari ilmu pengetahuan. Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, juga tidak pernah bepergian jauh dari umatnya.

(Sisipan Syeikh Darwish: Mereka tidak punya pilihan lain selain mengakui bahwa berita yang dibawa Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, memang berasal dari Yang Gaib. Karenanya mereka terpaksa mengakui kesahihan berita tersebut serta menyatakan kebenarannya tetapi banyak pula yang secara terbuka menolak mengakuinya)

Setiap kali beberapa pihak Ahli Kitab bertemu baginda, mereka mengetes dan menguji pengetahuan baginda, dimana baginda kemudian melantunkan kepada mereka ayat-ayat atau surah Al-Qur'an yang relevan dengan pertanyaan mereka, seperti kisah para nabi dengan kaumnya, kisah nabi Musa, nabi Khidir, nabi Yusuf dan saudara-saudaranya, para lelaki gua, Dzulqornain (Raja Cyrus, penguasa besar Persia, wafat tahun 600 SM-sebelum Masehi, nama Persia beliau Kurosh-e-Bozorg. Nama yang disebut didalam Bibel yaitu Koresh), Luqman dan putranya, serta kisah para nabi mulia lainnya.

Baginda juga memberi mereka informasi mengenai awal mula penciptaan, serta memberitahu apa yang ada didalam Taurat dan Injil asli yang diberikan kepada nabi Isa (yang telah hilang). Baginda juga memberitahu mereka Kitab Zabur nabi Daud, serta Naskah (Suhuf) nabi Ibrahim dan nabi Musa. Mereka yang berhati tulus mengakui dan membenarkan kebenaran berita yang dibawa baginda dan tidak mendustakannya. Mereka yang ditakdirkan meraih kesuksesan besar di Kehidupan Abadi mempercayai, sedangkan mereka yang keras kepala dan dengki kelak yang akan merugi.

(Sisipan Syeikh Darwish: Beberapa uskup dari Najran, menolak menerima kebenaran, contohnya adalah Ibnu Suriya dan Ibnu Akhtab, kepala rabi Madinah. Mereka tahu Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, membicarakan kebenaran, tetapi menolak mengakuinya. Mereka iri dan keras kepala, di kemudian hari mereka mati dalam keadaan tak beriman)

Mereka memperlihatkan permusuhan yang berapi-api terhadap baginda sekaligus mendorong para pengikut mereka agar tidak menerima ajaran baginda. Mereka juga menyimpangkan isi kitab mereka untuk mendukung kemauan mereka, bukannya menyampaikan keseluruhan ajaran yang ada didalam kitab mereka. Tidak ada bukti bahwa ada orang Ahli Kitab yang menyangkal kebenaran isi Al Qur'an, tetapi hanya sedikit dari mereka yang menerima Islam.

Orang Kristen dan Yahudi tidak pernah mengingkari kebenaran jawaban yang disampaikan Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, ketika mereka memberondong banyak pertanyaan tentang nabi mereka dan mengajukan aneka pertanyaan yang sulit.

Mereka menanyai baginda rahasia ilmu pengetahuan dan sejarah kehidupan mereka, serta informasi yang tersembunyi didalam hukum mereka dan kandungan kitab mereka. Contohnya adalah pertanyaan tentang ruh, tentang nabi Isa, hukum rajam, dan apa yang Israel (nabi Ya’kub) larang untuk dirinya sendiri, serta binatang-binatang apa yang halal dan haram bagi mereka, kemudian yang diharamkan sebab kekejian mereka.

Allah berfirman, "Itulah persamaan mereka didalam Taurat dan persamaan mereka didalam Injil." (Al-Fath,48:29).

Semua pertanyaan bertubi-tubi yang diarahkan kepada Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, dijawab baginda dengan apa yang telah diturunkan kepadanya. Namun sebagian mereka malah menciptakan kebohongan tentang risalah yang dibawa baginda dan mengatakan bahwa apa yang dibawa baginda berbeda dari kitab suci mereka. Karena itu, mereka dipanggil untuk membuktikan ucapan mereka. Tentang mereka, Allah berfirman, "Katakanlah, 'Hadirkan Taurat lalu lantunkanlah, jika kamu adalah yang benar'; Barangsiapa mengada-adakan kebohongan terhadap Allah dari sesudah itu maka merekalah yang zalim." (Ali-Imron,3:93-94).

Mereka yang berperilaku tak beradab dan memilih untuk mendustakan apa yang dibawa baginda telah dipermalukan oleh kitab suci mereka sendiri. Juga diperlihatkan kebobrokan mereka yang telah merubah kata-kata dari Kitab mereka. Tak ada kabar berita orang Yahudi dan Kristen mampu menghasilkan bukti yang bisa mendukung pernyataan mereka, meski dengan bukti paling lemah sekalipun dari kitab mereka.

Allah menarik perhatian pada kenakalan mereka seraya berfirman, "Wahai Ahli Kitab! Sungguh utusan Kami (Muhammad) telah datang kepadamu memperjelas untukmu banyak dari isi Kitab yang kamu sembunyikan." (Al-Maidah,5:15).

Tantangan Al Qur'an dan ketidakmampuan manusia menjawab tantangan

Tidak ada sengketa maupun keraguan bahwa Al-Qur'an tidak bisa ditiru. Mereka yang berkoar-koar ternyata tidak membuktikan ucapan mereka. Mereka tidak mampu meniru dan memenuhi tantangan Al Qur'an. Ambil contoh firman Allah tentang orang-orang Yahudi, "Katakanlah, 'jika ada bagimu tempat tinggal akhirat disisi Allah secara khusus dari manusia yang lain maka inginkanlah kematian jika kamu adalah yang benar'; dan tidak akan menginginkannya selama-lamanya.'" (Al-Baqoroh,2:94-95)

Ulama berkata, "Ayat tersebut mengandung bukti terbesar dan juga tanda terjelas kebenaran risalah dari Allah. Karena Allah mengatakan kepada orang-orang Yahudi "Maka inginkanlah kematian." dan kemudian memberitahu mereka, "dan tidak akan menginginkannya selama-lamanya." Tak seorang pun dari mereka secara tulus merindukan kematian.

Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, membicarakan hal tersebut seraya bersabda, "Sekiranya orang-orang Yahudi menginginkan kematian, niscaya mereka benar-benar mati dan melihat tempat duduk mereka di neraka." Allah mengubah hati orang-orang Yahudi, menjadi tidak mengharapkan kematian. Allah mencampakkan ketakutan yang luar biasa kedalam hati mereka, dengan demikian menandakan Utusan-Nya adalah orang yang benar serta menandakan kebenaran apa yang telah Dia turunkan kepada baginda.

Tak satu pun dari mereka secara tulus merindukan kematian. Mereka bahkan sangat menginginkan bisa lari dari kematian. Namun Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya, dan ayat diatas semakin menguatkan mukjizat yang dianugerahkan kepada Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya.

Ketika para uskup Kristen dari Najran datang kepada Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, kebanyakan mereka tetap bersikeras dalam penolakan mereka untuk menerima Islam. Saat itulah Allah menurunkan ayat yang menantang mereka agar memohon diturunkan laknat atas siapapun yang berdusta.

Allah berfirman, "Maka barangsiapa membantahmu tentangnya sesudah pengetahuan datang kepadamu, maka katakanlah, 'Marilah memanggil anak-anak kita dan anak-anakmu, kaum wanita kita dan kaum wanitamu, diri kita dan dirimu, kemudian marilah merendahkan hati berdoa, agar laknat Allah ditimpakan atas mereka yang berdusta." (Ali Imron,3:61)

Uskup tertinggi mereka, Al Aqib, memperingatkan rekannya sesama uskup sambil berkata, "Kalian mengetahui baginda adalah seorang nabi. Sama sekali tak ada seorang nabi pun yang melaknat suatu kaum dan mereka bisa bertahan hidup setelahnya, tak peduli yang besar maupun yang kecil." Mereka tidak menerima tantangan dan memilih membayar upeti (jizyah, yakni semacam retribusi / pajak untuk orang-orang yang menolak beriman) sebagai ganti perlindungan selama tinggal di negara Islam.

Adapun untuk orang-orang Arab yang tak mau beriman, Allah menantang mereka seraya berfirman, "Dan jika kamu dalam keraguan dari apa yang Kami turunkan kepada penyembah Kami (Muhammad), hadirkan sebuah surah yang menyamainya, dan serulah para penolongmu dari selain Allah jika kamu adalah yang benar; Namun jika tidak melakukan dan tidak akan melakukan, maka waspadailah neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, disediakan bagi yang tidak beriman." (Al-Baqoroh,2:23-24)

Meski ayat diatas termasuk berkenaan dengan perkara gaib, namun ada indikasi nyata bahwa mereka tidak akan mampu menjawab tantangan-Nya.

Rasa kagum dan takut yang menggugah hati saat mendengarkan Al Qur'an

Sisi lain keunikan Al Qur'an adalah timbulnya ketakutan dihati orang-orang tak beriman yang mendengarkannya, sekaligus merangsang telinga untuk mendengarnya. Al Qur'an juga bisa menghentakkan kekaguman apabila dilantunkan kepada mereka sebab kemegahan dan kehebatannya.

Al Qur'an merupakan hal besar bagi mereka yang menolak dan mendustakannya, sehingga mereka merasa berat ketika mendengarkannya. Tentang mereka, Allah berfirman, "Dan Kami letakkan tutupan diatas hati mereka dan sumbatan ditelinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan ketika engkau menyebut Penguasamu sendirian didalam Al Qur'an, mereka berpaling kebelakang dalam keengganan." (Al Isro', 17:46)

Ketika mendengar Keesaan Sang Pencipta didalam pelantunan AlQur’an, orang-orang kafir semakin ingin menjauhkan diri darinya dan berharap segera dihentikan lantunannya, sebab kebencian mereka yang mendalam.

Sedangkan orang-orang yang beriman, mengalami ketakutan karena besarnya wibawa Al Qur'an sekaligus terpesona mengaguminya. Ketika dilantunkan, mereka semakin tertarik, merasa bersuka cita dan gembira. Al Qur'an menjadi sumber kegembiraan mereka, yang menyebabkan hati condong kepadanya dan membenarkannya. Allah berfirman, "Gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Penguasa mereka kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka diwaktu mengingat Allah." (Az-Zumar,39:23).

Juga terdapat firman-Nya, "Seandainya Kami menurunkan AlQur'an ini diatas sebuah gunung, pasti kamu melihatnya merendah diri seraya hancur berkeping-keping disebabkan takut kepada Allah." (Al-Hasyr,59:21).

Ayat diatas menunjukkan ciri khas Al Qur'an, yakni mampu memikat seseorang meskipun tidak tahu artinya dan tidak paham maksudnya. Suatu hari seorang Nasrani (pengikut Nabi Isa) kebetulan melewati seseorang yang melantunkan Al Qur'an. Si Nasrani lantas berhenti dan menangis. Saat ditanya apa yang menyebabkannya menangis, ia menjawab, "Karena kefasihan dan kemerduannya meresap kedalam hatiku."

Banyak yang mengalami ketakutan sekaligus terpesona pada Al Qur'an. Seringkali ditemukan laporan tentang orang-orang yang memeluk Islam setelah pertama kali mendengar Firman Allah, namun ada pula yang malah mungkir dan berpaling.

Jubair bin Muth'im berkata, "Waktu magrib, aku mendengar Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, melantunkan surah "At-Thur (Gunung Thur)", saat sampai pada ayat, "Ataukah mereka diciptakan dari tanpa sesuatu? atau mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?; Atau, apakah mereka telah menciptakan langit dan bumi? Bahkan mereka tidak yakin; Atau, apakah harta karun Penguasamu dalam pemeliharaan mereka? ataukah mereka para pengendali?" (At-Thur,52:35-37). Begitu mendengarnya, hatiku jadi tergugah dan aku pun memeluk Islam.

Jubair juga berkata, "Itu pertama kalinya Islam menjadi penting dalam hatiku."

Suatu hari, Utbah bin Rabi'ah datang kepada Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, untuk membahas Wahyu terbaru yang berbicara menentang penyembahan berhala sukunya. Baginda lalu melantunkan surah (Fussilat-Pembeda, surah ke 41) yang dimulai dengan ayat,

"Haa Miim; (Al-Qur’an ini) diturunkan dari Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang; Kitab yang ayat-ayatnya dijelaskan, bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui; yang membawa kabar gembira dan peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling (darinya) serta tidak mendengarkan; Dan mereka berkata, 'Hati kami sudah tertutup dari apa yang engkau seru kami kepadanya, dan telinga kami sudah tersumbat, dan diantara kami dan engkau ada dinding, karena itu lakukanlah (sesuai kehendakmu), sesungguhnya kami akan melakukan (sesuai kehendak kami)';

Katakanlah (Nabi Muhammad), 'Aku hanyalah seorang manusia sepertimu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhanmu adalah Satu Tuhan. Oleh karenanya, luruslah kepada-Nya dan mohonlah ampunan-Nya. Celakalah mereka yang musyrik; yang tidak membayar zakat dan mereka tidak percaya (kafir) akhirat; Sungguh mereka yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka upah tanpa terputus; Katakanlah, 'Apakah kamu benar-benar kafir pada Yang menciptakan bumi dalam dua hari, dan kamu adakan pula bandingan-bandingan bagi-Nya? itulah Penguasa semesta alam.';

Dan Dia menjadikan gunung-gunung yang kokoh di atasnya dan memberkahinya serta menakdirkan persediaan-persediaannya dalam empat hari, memadai untuk (memenuhi kebutuhan) mereka yang memerlukannya; Kemudian Dia menghendaki langit dan (langit) itu masih berupa asap, lalu Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi, 'Datanglah kamu berdua menurut perintah-Ku dengan patuh atau terpaksa.' keduanya menjawab, 'Kami datang dengan patuh.'; Kemudian Dia menetapkan tujuh langit dalam dua hari dan mewahyukan urusan di tiap-tiap langit. Kami menghiasi langit yang terendah (yang dekat bumi) dengan lampu-lampu dan penjagaan. Itu adalah takdir Yang Maha Perkasa, Maha Berilmu; Maka jika mereka berpaling, katakanlah, 'Aku telah memperingatkanmu dengan petir seperti petir (yang menyambar kaum) Aad dan Tsamud." (Fushshilat,41:1-13)

Utbah tidak tahan mendengarnya. Utbah segera meletakkan tangannya diatas mulut baginda, dan memohon kepada baginda supaya berhenti.

Dalam riwayat lain disebutkan, pada waktu baginda melantunkan Al Qur'an, Utbah mendengarnya sambil meletakkan kedua tangan dibelakang punggung dan menyandari tangannya itu. Hingga baginda sampai pada ayat sajadah, lalu baginda bersujud. Utbah tidak tahan menghadapi keadaan tersebut dan segera bangkit berdiri pulang ke keluarganya. Utbah menolak pergi ke orang-orang sukunya, hingga mereka mendatanginya dan Utbah minta maaf kepada mereka sambil berkata, "Demi Allah, dia (baginda Rasul) melantunkan beberapa kata kepadaku. Demi Allah, telingaku sama sekali tidak pernah mendengar yang semacam itu, lidahku kelu tak tahu harus berkata apa kepada dia."

Beberapa orang Arab berusaha menjawab tantangan Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, untuk menyusun yang seperti Al-Qur'an, namun semuanya menjadi ketakutan, salah satunya adalah Bin Muqoffa', yang terkenal kefasihan lidahnya. Ketika memulai usaha penyusunannya, ia mendengar seorang anak laki-laki muslim melantunkan ayat Al Qur'an, "Dan dikatakan, 'Wahai Bumi, telanlah airmu, dan langit berhentilah!' air pun surut dan perkara telah terpenuhi." (Hud,11:44). Lantunan tersebut menimbulkan efek luar biasa dalam dirinya. Maka ia pulang dan menghancurkan apa yang telah disusunnya, sambil berkata, "Aku bersaksi bahwa Al Qur'an tidak untuk dipertentangkan, dan bukan merupakan kata-kata seorang makhluk!"

Di Andalusia, Spanyol, seorang pria bernama Yahya bin Hakam Al-Ghozzal, yang dikenal sebagai seorang penulis handal, berusaha mencoba menghasilkan sesuatu yang mirip dengan Al Qur'an. Dalam upaya melakukan niatnya, ia membaca surah "Al-Ikhlas (Keesaan - surah ke-112)" sebagai contoh bahan untuk ditandingi. Saat memulai penyusunan, tiba-tiba perasaan takut menyerangnya, dan ia pun menyatakan, "Ketakutan telah menghentikanku dan kelemahan telah membuatku menyesal dan bertobat."

Perlindungan Tuhan pada Al Qur'an

Termasuk kualitas Al Qur'an yang tak tertandingi adalah terjaga keasliannya hingga akhir zaman. Tidak seperti kitab suci lainnya, Allah telah menjamin untuk menjaganya. Allah berfirman, "Sungguh Kami yang telah menurunkan Adz-Dzikr (Al-Qur'an) dan Kami benar-benar menjaganya." (Al-Hijr,15:9). Mengenai keaslian Al Qur’an, Dia memberitahu,

"Kepalsuan tidak mendatanginya dari depannya maupun dari belakangnya, diturunkan dari Yang Maha Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji." (Fussilat,41:42).

Semua mukjizat para nabi tidak ada lagi seiring dengan berjalannya waktu. Cuma kabar berita dan riwayat tentang keajaibannya saja yang tetap ada. Hanya mukjizat Al Qur'an yang tetap eksis, yang bersinar terang ayat-ayatnya, dan tampak jelas keajaibannya. Meski abad-abad berlalu, tetap tak berubah isinya. Dalilnya mengalahkan dan tak ada yang mampu memenuhi tantangannya. Bukti menentukan yang tak diragukan orang-orang beriman.

Setiap zaman menelurkan banyak orang yang mahir dalam segala pengetahuan yang berkaitan dengan Al Qur'an. Pakar ilmu bahasa Arab dan cabang-cabangnya hadir dimana-mana. Adapun orang-orang yang berusaha merubah dan menyimpangkan isi Al Qur'an, terbukti tak berhasil dan sia-sia, dan mereka jatuh dalam kerugian.

Allah telah menggagalkan segala cara dan tipu daya yang mereka kerahkan untuk memalsukan Al Qur'an. Sehingga kemurnian Al Qur'an tetap terjaga, dan tak ada kata-kata dan huruf yang berubah.

Tantangan tambahan didalam Al Qur'an

Ilmuwan Islam menarik perhatian pada aspek lain ketidakmampuan manusia meniru Al Qur'an dalam bahasa Arab. Salah satunya adalah setelah diamati, para Qori’ (pelantun Al-Qur'an) tidak bosan meski melantunkannya berkali-kali dan para pendengarnya tak merasa jemu walaupun berulang-ulang kali mendengarnya.

Pengulangan lantunan AlQur'an hanya meningkatkan kemerduannya, yang pada akhirnya semakin menambah rasa kecintaan. Sedang kata-kata selain Al-Qur'an, walaupun tampak fasih, semakin hari semakin kehilangan daya tariknya dan lama lama menjadi kian membosankan.

Al Qur'an dalam bahasa Arab sangat menyenangkan untuk dilantunkan pada saat-saat sendirian, maupun bersama-sama, serta menjadi teman terbaik diwaktu senang dan susah. Tidak ada kitab / buku yang memiliki sifat-sifat ini. Dari waktu ke waktu, para pelantun telah mengembangkan berbagai irama dan metode pelantunan, yang menambah semarak pelantunan Al Qur'an.

Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, menggambarkan Al-Quran seraya bersabda, "Tidak membosankan meski dilantunkan berulang-ulang. Pelajarannya tak akan habis dipetik dan keajaibannya tidak pernah pudar. Merupakan Kriteria dan bukan senda gurau." Para Ulama tidak pernah kenyang mempelajarinya. Nafsu tidak akan dapat menyalahgunakannya dan lidah tidak akan salah melantunkannya. Bangsa jin tidak bisa tinggal diam begitu mendengarnya dan mereka berkata, "Sungguh Kami telah mendengar Al-Qur'an yang luar biasa; membimbing pada jalan yang benar." (Al-Jinn,72:1-2).

Aspek lain yang tidak dapat ditiru adalah bahwa Al Qur'an mengkombinasikan ilmu pengetahuan dan keimanan, yang sebagian besar orang Arab termasuk Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, sebelum diangkat jadi nabi, tidak terbiasa dengan kedua hal tersebut. Pada saat itu, pengetahuan bangsa Arab masih minim, dan hanya sedikit orang yang menumpahkan perhatian pada bidang keilmuan dan keimanan.

Sedangkan AlQur'an telah menghimpun dan memperjelas ilmu Hukum serta menginformasikan cara menghadirkan bukti-bukti secara intelektual. Ekspresi yang ringkas dan sederhana didalam AlQur’an telah sanggup menyanggah argumen-argumen kuat yang dimunculkan sekte-sekte sesat. Dari waktu ke waktu, usaha mereka selalu gagal untuk memunculkan bukti-bukti yang sebanding dengan yang ditetapkan didalam Al Qur'an, jadi mereka tak ada yang mampu mencapai tujuannya.

Ambil contoh, firman Allah, "Bukankah Yang menciptakan langit dan bumi berkuasa menciptakan yang seperti mereka? Ya Benar dan Dia Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui." (Yasin,36:81).

"Ia akan dihidupkan oleh yang menumbuhkannya pertama kali." (Yasin,36:79).

"Seandainya dilangit dan bumi ada tuhan-tuhan selain Allah, pastilah keduanya telah hancur." (Al-Anbiya’,21:22).

Didalam Al Qur'an bisa ditemukan ilmu peristiwa kenabian (siroh) serta sejarah bangsa-bangsa terdahulu. Terdapat juga peringatan-peringatan sekaligus menampilkan hikmah kebijaksanaan, menggambarkan etika dan kebajikan, serta memberikan informasi tentang kehidupan yang akan datang di akhirat (Kehidupan Abadi). Allah memberitahu,

"Kami tidak mengabaikan sesuatupun didalam Al-Kitab." (Al-An’am,6:38).

"Dan Kami menurunkan kepadamu Al Kitab untuk memperjelas segala sesuatu, sebagai bimbingan, rahmat dan kabar gembira bagi mereka yang berserah diri." (An-Nahl, 16:89)

"Dan sesungguhnya telah Kami hadirkan didalam Al Qur'an ini segala perumpamaan untuk manusia." (Ar-Rum,30:58).

Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, memberitahu para Sahabatnya,

"Al Qur'an ini telah diturunkan oleh Allah sebagai suatu perintah, langkah pencegahan, jalan untuk diikuti dan sebagai sebuah contoh. Di dalamnya ada kisah sejarah, berita-berita mengenai apa yang datang sebelum masa kalian dan sesudah masa kalian, dan sebagai dasar hukum untuk mengambil keputusan yang benar diantara kalian. Pengulangannya tidak melelahkan dan keajaibannya tidak pernah berakhir.

Sungguh, Al Qur’an adalah kebenaran dan bukan senda gurau. Barangsiapa melantunkannya maka mengucapkan kebenaran. Al Qur’an adalah hakim yang adil keputusannya. Barangsiapa menjadikannya sebagai dalil maka akan menjadi pemenang, dan barangsiapa menjadikannya sebagai patokan dalam membagi sesuatu maka akan adil pembagiannya. Barangsiapa yang hidup dengannya akan mendapat pahala, dan barangsiapa yang berpegangan dengannya akan terbimbing pada jalan yang lurus, tetapi siapa yang mencari bimbingan dari selainnya, Allah tidak akan memberinya bimbingan. Allah akan membinasakan siapapun yang menghakimi berbeda dengan Al Qur’an.

Al Qur’an adalah Peringatan yang Bijaksana, Cahaya yang Jelas, Jalan yang lurus, Tali Allah yang kokoh dan Penyembuhan yang menguntungkan. Ada perlindungan bagi siapapun yang berpegangan pada Al Qur’an, dan keselamatan untuk siapapun yang mengikutinya. Tidak mengandung kebengkokan, dan meluruskan segala perkara. Tidak memiliki penyimpangan dan karenanya tidak bercela."

Allah berfirman, "Sesungguhnya Al Qur'an ini mengisahkan kepada Bani Israil sebagian besar apa yang mereka perselisihkan." (An-Naml,27:76) dan berfirman, "Ini penerangan bagi manusia dan bimbingan serta wejangan bagi orang-orang yang bertakwa." (Ali Imron,3:138 ).

Susunan kata yang padat dan ringkas adalah sisi lain tantangan Al Quran. Kandungan isi Al Quran jauh lebih banyak dibandingkah naskah-naskah yang lebih panjang.

Keunggulan Al Qur'an lainnya didapati dalam komposisi, keindahan dan kefasihannya, yang sekali lagi membuktikan ketidakberdayaan manusia untuk menirunya. Didalam kefasihan Al-Qur’an, tidak hanya terletak perintah Allah, tetapi juga larangan, janji dan ancaman-Nya. Para pelantun Al Qur’an bisa mengambil dalil-dalil darinya.

Sekalipun mungkin untuk menyusun yang seperti Al Qur’an, namun tidak ditemui kata-kata yang seperti Al Qur’an dibuku manapun. Al-Qur'an tidak bisa dikatakan sebagai bentuk prosa sebab ayat-ayatnya terasa mudah bagi jiwa dan pendengaran serta terasa manis untuk dipahami. Seorang pendengar lebih mudah condong kepadanya dan nafsu cepat tergugah saat mendengarnya.

Allah menjadikan Al Qur’an mudah untuk dihafal dan berfirman, "Kami benar-benar telah memudahkan Al Qur'an untuk diingat." (Al-Qomar,54:17). Umat lain yang telah diberi Al Kitab tidak mampu menghafal Kitab mereka (sebelum mereka merubah isinya), sedangkan anak-anak Muslim diberkati dengan kemudahan menghafal Al Qur'an hanya dalam waktu yang singkat.

Termasuk keunikan Al Qur'an, beberapa bagian mempunyai kemiripan dengan bagian lainnya, ini adalah aspek lain yang tidak mampu ditiru manusia. Pada bagian-bagian yang berbeda, ada suatu keunggulan harmoni, sebagaimana keselarasan pada tiap-tiap bagiannya. Lalu keindahan mengalir dari satu cerita ke cerita berikutnya, dan materi yang satu ke materi lainnya dengan makna-makna yang berbeda. Surah yang sama bisa mencakup perintah, larangan, informasi, pertanyaan, janji dan ancaman, penegasan kenabian, penegasan Keesaan Allah, gugahan kerinduan dan ketakutan, serta hal-hal lainnya.

Ada yang mengatakan, bahasa Arab yang semacam Al Qur’an bisa ditemukan dibuku lainnya, namun gaya bahasa dan keindahan bahasa mereka tidak dapat dibandingkan dengan Al Qur'an, selain itu susunan kata mereka tidak konsisten.

Ambil contoh permulaan surah ke 38 (surah Sod) yang berisi informasi tentang orang-orang yang tidak beriman, jenis-jenisnya mereka dan kehancuran umat-umat sebelum mereka. Juga berbicara tentang penolakan orang-orang kafir untuk menerima Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, walaupun mereka kagum dengan apa yang dibawa baginda. Surah tersebut memberitahu bagaimana para pemimpin mereka sepakat untuk tidak percaya dan mengungkapkan kecemburuan serta ketidakmampuan dan kelemahan mereka, juga bencana yang akan menimpa mereka, tidak hanya dalam kehidupan ini, tetapi juga diakhirat (Kehidupan Abadi).

Surah Sod juga membicarakan tentang penolakan umat-umat sebelumnya pada nabi mereka masing-masing, yang kemudian dihancurkan oleh Allah, dan peringatan bahwa hal yang sama akan terjadi jika mereka tetap tak beriman. Berbicara pula mengenai kesabaran Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan hiburan bagi baginda atas segala yang terjadi.

"Shood, demi Al Qur'an yang mempunyai keagungan; Sebenarnya orang-orang kafir itu (berada) dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit; Betapa banyaknya umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, lalu mereka meminta tolong padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk lari melepaskan diri; Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata: "Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta"; Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan; Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata): "Pergilah kamu dan tetaplah (menyembah) tuhan-tuhanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki; Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir; ini (mengesakan Allah), tidak lain hanyalah (dusta) yang diada-adakan; mengapa Al Qur'an itu diturunkan kepadanya diantara kita?" Sebenarnya mereka ragu-ragu terhadap Al Qur'an-Ku, dan sebenarnya mereka belum merasakan azab-Ku; Atau apakah mereka itu mempunyai perbendaharaan rahmat Tuhanmu Yang Maha Perkasa lagi Maha Pemberi?; Atau apakah bagi mereka kerajaan langit dan bumi dan yang ada di antara keduanya? (Jika ada), maka hendaklah mereka menaiki tangga-tangga (ke langit); Suatu tentara yang besar yang berada di sana dari golongan-golongan yang berserikat, pasti akan dikalahkan; Telah mendustakan (rasul-rasul pula) sebelum mereka itu kaum Nuh, Aad, Firaun yang mempunyai tentara yang banyak; dan Tsamud, kaum Luth dan penduduk Aikah. Mereka itulah golongan-golongan yang bersekutu (menentang rasul-rasul); Mereka itu tidak lain adalah mendustakan rasul-rasul, maka pastilah (bagi mereka) azab-Ku; Tidaklah yang mereka tunggu melainkan hanya satu teriakan saja yang tidak ada baginya saat berselang; Dan mereka berkata: "Ya Tuhan kami, cepatkanlah untuk kami azab yang diperuntukkan bagi kami sebelum Hari Perhitungan"; Bersabarlah atas segala apa yang mereka katakan; dan ingatlah hamba Kami Daud yang mempunyai kekuatan; sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan)." (Shod,38:1-17).

Ayat-ayat selanjutnya berbicara tentang nabi Daud dan menceritakan kisah para nabi mulia lainnya, kesejahteraan atas mereka. Semua ini diturunkan dalam bentuk komposisi terbaik dengan memakai kata-kata yang singkat, beberapa di antaranya berisi kalimat-kalimat efektif yang hanya terdiri beberapa kata.

Apa yang dihadirkan kepada anda, hanyalah sedikit contoh ketidakmampuan manusia untuk meniru Al Qur'an. Dalam surah Shod itu saja, sudah memperlihatkan bahwa tidak akan ada manusia yang mampu meniru Al Quran.

Dari aneka uraian diatas, tampak sekilas pandang keistimewaan dan keajaiban Al Qur'an yang tak terbatas, dan realitas ketidakmampuan manusia untuk meniru Al Quran, karena itu andalkanlah Al Qur'an. Dan Allah, Dialah yang menganugerahi kesuksesan!

Mukjizat pembelahan bulan

(Sisipan Syeikh Darwish: Kami mendengar bahwa pada tahun 2006, siaran bergengsi BBC - British Broadcasting Company (Perusahaan Penyiaran Inggris) - menyiarkan berita ilmiah penting hasil laporan mengesankan yang dikeluarkan Badan Antariksa Amerika, NASA. Berita ilmiah yang cukup penting tersebut adalah bukti bahwa para astronot telah melihat tanda-tanda retakan yang melintang dibulan. Kami juga mendengar liputan tersebut telah dirilis oleh David Pidcock)

Al-Quran telah menceritakan peristiwa ajaib pembelahan bulan, tentang ini Allah berfirman, "Saat (Hari Kiamat) semakin dekat, dan bulan terbelah (dua); dan jika (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat) mereka berpaling dan berkata, "(Ini adalah) sihir yang berkesinambungan." (Al-Qomar, 54:1-2) 

Ayat pertama diturunkan pada saat mukjizat terjadi. Ibnu Mas’ud serta yang lainnya memberi informasi lebih lanjut peristiwa ajaib ini dengan memberitahu, "Pada masa Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, bulan terbelah menjadi dua. Salah satu bagian terlihat di atas gunung (Gunung Hiro'), sedangkan bagian yang lain terlihat di bawahnya, dan Rasulullah menyeru orang-orang untuk bersaksi." Bukhari dan Muslim.

Anas meriwayatkan, "Orang-orang Mekah meminta Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, supaya menunjukkan sebuah tanda lalu baginda memperlihatkan mereka terbelahnya bulan menjadi dua, dan mereka melihat Gunung Hiro’ diantara dua belahannya."

Tanda ajaib ini menjadi bukti yang jelas bagi orang-orang yang tak beriman, dan berita ini tidak tersembunyi dari siapapun.

Disamping terdapat ayat yang jelas, semua riwayat tentang pembelahan bulan adalah sahih yaitu tak diragukan kebenaran dan keasliannya. Mukjizat terjadi dalam suasana yang tenang dikesunyian malam. Hanya mereka yang biasa memantau ke angkasa dan tengah memandang langit yang menyadarinya. Sebagaimana yang terjadi pada peristiwa gerhana, terkadang awan menghalangi penampakannya. Tidak ada keraguan bahwa banyak orang melihatnya di berbagai belahan dunia, tetapi tidak menyadari peristiwa yang terjadi di Mekah, yaitu antara Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, beserta orang-orang yang diajak baginda untuk memeluk Islam.

Pembelahan bulan telah disaksikan oleh seorang raja.

(Syekh Ahmad Darwish menambahkan: Tercatat pada suatu malam, seorang raja di Kerala, India, yang bernama Raja Cheraman Perumal, saat tengah berjalan-jalan didampingi sang istri di luar istana mereka, menyaksikan bulan terbelah menjadi dua. Ketika para pedagang Arab melintas di Kerala, Raja memberitahu mereka kejadian aneh tersebut. Para pedagang Arab lalu menceritakan peristiwa sebenarnya yang terjadi di Mekah bahwa keajaiban bulan terbelah merupakan jawaban untuk doa seorang nabi Utusan Allah yang baru diutus.

Raja kemudian berangkat berlayar untuk mengunjungi Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya. Akhirnya Raja memeluk agama Islam, berikrar kesetiaan kepada baginda, dan berganti nama menjadi "Tajuddin" yang artinya ialah "Mahkota Agama".

Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, mengutus beberapa Sahabat di bawah kepemimpinan Malik bin Dinar dan saudaranya supaya ikut Raja pulang ke India untuk menyebarkan dan mensyiarkan Islam. Ditengah perjalanan, di Salala, Oman, Raja jatuh sakit dan meninggal dunia. Sebelum kematiannya, Raja menulis surat kepada para pembesar Malabar yang dikirim melalui para Sahabat agar menolong dan membantu para Sahabat. Maka kehadiran para Sahabat disambut hangat oleh pemerintahan setempat dan mulailah mereka berdakwah memperkenalkan Islam.

Di desa Rayangadi, dekat Payyannur, ada sebuah masjid yang dibangun kira-kira sebelum tahun ke-5 H (Hijriyah - tahun Hijriyah dimulai sejak Nabi Muhammad hijrah ke Madinah). Masjid tersebut menjadi saksi bersejarah prasasti bahasa Arab tanpa harokat dan titik. Dimasa selanjutnya, empat belas masjid dibangun, salah satunya berada di Kodungallur yang bernama "Masjid Cherman Malik" dimana tetap utuh bangunannya hingga sekarang, bahkan mimbar beserta atapnya yang terbuat dari kayu dan sumur yang airnya dipakai untuk berwudhu masih seperti semula.

Malik bin Dinar menikahi saudara perempuan Raja Cheraman. Dari hasil perkawinannya, mereka dikaruniai seorang anak lelaki yang bernama Muhammad Ali Raja. Malik meninggal dunia di Mangalore.

Didalam buku "Mustadrok" karya Al-Hakim, disebutkan bahwa saat mengunjungi Nabi Muhammad, Raja membawa hadiah sebotol madu dan jahe.

Di istana Arakkal, banyak terdapat artefak keislaman yang terkait masa-masa awal Islam di India. Diantara artefak tersebut terdapat bukti bahwa Muhammad Ali Raja, putra Sheree Devi, saudari Raja Cheraman, telah mendirikan dinasti raja-raja yang masih bertahan hingga masa imperialisme Inggris di India.

Kerala merupakan negeri tempat tinggal beberapa keturunan raja, sebagian dari mereka adalah orang-orang Islam, sedang yang lainnya bukan muslim. Mereka secara berkala telah diwawancarai oleh para sejarawan yang berhasrat mengetahui masa awal kedatangan Islam di India.

Meskipun bahasa resmi India adalah bahasa Urdu, namun Kerala memiliki bahasa daerah sendiri, dan populasi umat Islam mencapai 90% dari total keseluruhan penduduk negeri. Adapun kota-kota lainnya dinegara India, jumlah kaum Muslimin berkisar antara 20 sampai 25%.

Hingga saat ini, Kerala masih memiliki ciri khas Masa Keemasan Islam di Spanyol. Umat Islam hidup rukun berdampingan secara harmonis dengan orang-orang yang beragama lain, dimana kedamaian dan saling peduli satu sama lain adalah diantara cara hidup mereka)

SAHIH SHIFA

KESEMBUHAN

 

Seri ke-14

 

MUKJIZAT YANG DIBERIKAN KEPADA

NABI MUHAMMAD

pujian dan kesejahteraan atasnya

 

Karya

Hakim Agung Abulfadl Iyad

wafat tahun 1123M / 544H

 

Periwayat Hadis

Muhaddis Agung Hafiz Abdullah Bin Siddiq

 

Perevisi

 Muhaddis Abdullah Talidi

 

Diadaptasikan oleh

Abdi Hadis Syekh Ahmad Darwish (Arab)

Anne Khadeijah (Inggris)

Siti Nadriyah (Indonesia)

 

Copyright © 1984-2013 Allah.com Muhammad.com. Hak Cipta dilindungi

 

 

 

Mukjizat air memancar dari jari jemari Nabi

pujian dan kesejahteraan atasnya

 

Banyak para Sahabat yang meriwayatkan beragam kejadian ketika mereka menyaksikan air memancar dari jari-jemari Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya.

Anas memberitahu bahwa sudah waktunya mengerjakan solat Asar ketika beliau melihat Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya. Orang-orang mencari air untuk wudhu, tetapi tidak dapat menemukan apapun. Namun ada sedikit air yang tersedia, jadi dibawa kepada Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya.  Baginda lalu memasukkan tangan baginda kedalam wadah, dan air mulai mengalir dari ujung jari-jemari baginda. Baginda memberitahu para pengikutnya supaya berwudhu dengan air itu, lantas setiap orang pengikut mengambil wudhu dari air yang diberkati. Lebih dari 70 Sahabat yang berwudhu dari air tersebut pada kejadian itu.

‘Alqomah melaporkan kejadian ketika mereka sedang bersama Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan tidak ada air. Rasulullah memberitahu mereka, "Carilah seseorang yang memiliki kelebihan air." Sejumlah air dibawa kepada baginda, dan baginda menuangkannya kedalam sebuah wadah kemudian meletakkan tangan kedalamnya, lantas air mulai mengalir dari sela jari jemari Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya.

Jabir bin Abdullah berkata, "Pada Hari Hudaibiyah (setahun sebelum Pembukaan Mekah) orang-orang kehausan. Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, memiliki wadah air dan berwudhu darinya. Orang-orang datang kepada baginda sambil berkata, 'Kami tidak punya air, selain apa yang ada didalam wadah engkau." Setelah itu Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, memasukkan tangan ke dalam wadah, dan air mulai mengalir dari sela jari-jemari baginda, seolah-olah bagai sebuah mata air yang memancar." Jabir yang melaporkan kejadian ajaib ini ditanya, ada berapa banyak mereka, kemudian Jabir menjawab, "Kami ada seribu lima ratus orang. Andaikan jumlah kami lebih banyak, tetap akan terus mencukupi untuk kami."

Keajaiban yang sama terjadi ketika Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, meminta Jabir membawakan sejumlah air untuk berwudhu. Namun hanya terdapat beberapa tetes air didalam kantung kulit tempat air yang dibawa kepada baginda. Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, meremas kantung tersebut dan berdoa, lalu meminta sebuah mangkuk dibawa kepadanya. Baginda membentangkan jari jemarinya didalam mangkuk, kemudian Jabir menuang beberapa tetes air diatas jari-jemari baginda. Saat baginda mengucap, "Bismillah (Dengan nama Allah)", air mulai mengalir dari jari-jemari baginda dan menyembur kedalam mangkuk sampai penuh, lantas baginda memerintahkan para pengikutnya agar menggunakan air tersebut. Semua orang telah berwudhu dan baginda bertanya apakah masih ada orang yang membutuhkan air. Setelah kebutuhan mereka terpenuhi, Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, menarik tangan baginda dari mangkuk, dan masih penuh dengan air.

At-Tirmidzi menarik perhatian kita pada fakta bahwa aneka peristiwa ajaib diatas terjadi dihadapan banyak orang dan tak seorang pun dapat mencurigai atau meragukan kejadian itu. Bila tidak demikian, maka para Sahabat pasti menjadi kelompok pertama yang mengungkap kebenarannya, karena mereka tidak pernah berdiam diri jika ada ketidakbenaran. Tak seorangpun menyangsikan dan menyangkal dalam laporan mereka tentang aneka peristiwa ajaib. Mereka menyaksikan dan mengalaminya jadi bisa dikatakan masing-masing Sahabat membenarkan terjadinya mukjizat-mukjizat tersebut.

Mukjizat air penuh berkah mengalir dari Nabi

pujian dan kesejahteraan atasnya

 

Ada keajaiban yang mirip dengan sebelumnya dimana air mengalir dan bertambah banyak berkat sentuhan dan doa baginda.

 

Mu'adz bin Jabal menceritakan kejadian di Tabuk. Mu'adz memberitahu bahwa mereka tiba di sebuah mata air yang hampir tidak menetes airnya. Mereka menampung tetesan air yang ada dengan tangan mereka dan memasukkannya kedalam wadah. Lalu Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, membasuh wajah baginda sambil membiarkan air bekas basuhan baginda menetes kembali kedalam wadah, seketika air didalam wadah jadi meluap. Rasa haus semua orang akhirnya terpuaskan. Setelah itu, Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, mengungkap kepada Mu'adz, andaikan tinggal lebih lama ditempat tersebut, Mu'adz akan melihat air itu mengairi kebun-kebun.

 

Di Hudaibiyah, Al-Bara' mengatakan ada sekitar 14.000 orang, dan air sumur yang mereka temukan tidak mencukupi airnya meski untuk memberi minum lima puluh domba sekalipun. Para Sahabat berkerumun disekitar sumur hingga tak setitik pun air yang tersisa. Kemudian Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, datang dan duduk di samping sumur. Sebuah ember dibawa kepada baginda dimana baginda menghembuskan beberapa air ludah dan berdoa. Salamah melaporkan bahwa baginda berdoa dan sedikit meludah didalam sumur setelah itu air memancar keluar, terdapat air yang mencukupi untuk mereka semua serta cukup untuk mengisi wadah tempat minum mereka.

 

Ibnu Syihab meriwayatkan, Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, menarik anak panah dari tempat anak panahnya, dan meletakkannya di dasar lubang yang kering air, lalu air mulai menyembur mengalir tumpah ruah, begitu banyak sampai-sampai juga cukup untuk kebutuhan hewan-hewan.

 

Abu Qotadah berkata, "Orang-orang menyertai Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, dalam suatu perjalanan, dan datang mengeluhkan kehausan mereka kepada baginda. Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, meminta wadah yang habis baginda pakai berwudhu agar dibawa kepada baginda dan ditaruh dibawah lengan baginda, lantas baginda menutup penutupnya tapi saya tidak yakin apakah baginda meniup kedalamnya atau tidak, hanya Allah Yang Paling Mengetahui. Setelah itu orang-orang minum hingga hilang rasa dahaga mereka. Setiap orang mengisi kantung kulit tempat airnya masing-masing, dimana ada tujuh puluh dua orang lelaki.

Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, memberitahu Abu Qotadah, "Simpan wadah wudhu mu karena berita ini akan menyebar."

Contoh lebih lanjut ditemukan dalam jenis mukjizat berikut ini. Suatu hari para Sahabat merasa sangat kehausan, papar Imron bin Husein. Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, memberitahu dua Sahabatnya bahwa mereka akan menemukan seorang wanita di lokasi tertentu dengan seekor unta sedang membawa dua kantung kulit tempat air. Wanita tersebut memang berada di lokasi seperti yang telah disebutkan baginda, maka mereka membawanya kepada Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya,  baginda lalu mengisi sebuah wadah dengan air dari kantung kulit kemudian berdoa lantas baginda menuang kembali air kedalam kantung kulit. Kantung kulit dibuka tutupnya dan baginda berkata kepada para Sahabatnya agar mengisi wadah tempat air mereka dengan air tersebut. Mereka lalu melakukannya. Selanjutnya Imron berkomentar, "Terlihat olehku kalau sesudah itu kantung kulit bahkan berisi lebih banyak air." Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, sangat bersyukur dan menyuruh para Sahabatnya supaya memberi wanita tersebut beberapa perbekalan. Maka wanita itu mengisi jubahnya sampai penuh dengan perbekalan. Baginda kemudian berkata, "Anda boleh pergi, kami tidak mengambil sedikitpun air anda, Allah yang telah memberi kami air."

Umar menceritakan kejadian lainnya saat para Sahabat sedang dalam perjalanan ke ‘Usra (Tabuk), mereka menderita kehausan yang sangat mendalam, hingga seorang diantara mereka bersiap-siap membunuh untanya untuk meremas perut unta dan meminum isinya. Abu Bakar datang kepada Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan meminta baginda berdoa untuk menghilangkan rasa dahaga mereka. Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, mengangkat kedua tangan baginda. Belum pula baginda menurunkan tangan, mendung muncul dan menurunkan hujan. Masing-masing Sahabat dapat mengisi wadah mereka. Mendung tidak menurunkan hujan ditempat lain, hanya jatuh pada para Sahabat.

Ada banyak hadis serupa yang menggambarkan mukjizat air termasuk doa yang Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, panjatkan pada masa kekeringan dan peristiwa-peristiwa yang mengikutinya.

Mukjizat makanan yang bertambah banyak

Melimpah ruah riwayat yang membicarakan peningkatan jumlah makanan disebabkan berkah dan doa Nabi yang kita cintai, pujian dan kesejahteraan atasnya. Berikut ini hanya sekelumit diantaranya.

Jabir bin Abdullah mengungkap bahwa seorang lelaki datang kepada Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, meminta sesuap makanan. Baginda menghidangkan setengah takar (wasak) jewawut (gandum), maka lelaki tersebut dan istrinya serta para tamu memakan darinya terus menerus hingga lelaki itu memutuskan untuk menimbang makanan tersebut. Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, memberitahu lelaki itu bahwa jika tidak menimbangnya, ia bisa terus makan darinya, dan akan tetap ada sisanya.

Pada kejadian lain, Abu Thalhah menceritakan bahwa Anas datang kepada Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, dengan beberapa roti jewawut di bawah lengannya. Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, meminta agar roti tersebut diremuk-remuk, lalu baginda berdoa dengan apa yang dikehendaki Allah, dan roti jadi mencukupi untuk memberi makan tujuh puluh atau delapan puluh Sahabat baginda.

Sekitar seribu orang Sahabat yang tengah menggali parit pertahanan disekitar Madinah merasa sangat kelaparan. Jabir memberitahu bagaimana Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, secara ajaib memberi makan mereka semua setakaran kecil jewawut dan seekor domba muda. Saat adonan roti sedang dipersiapkan, Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, menghembuskan air ludah baginda kedalam wadah dan adonan, sehingga jadi penuh berkah. Jabir berkata, "Aku bersumpah demi Allah, semua Sahabat telah makan dan sesudah mereka pergi, wadah tetap penuh seperti semula." Bukhari

Laporan lain hadir dari Samuroh bin Jundub, berkisah tentang sebuah mangkuk berisi daging yang dibawa kepada Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, serta bagaimana orang-orang terus menerus berdatangan berturut-turut dari pagi sampai malam, dan mereka semua makan darinya. Begitu sekelompok orang bangkit setelah menyantap hidangan, kelompok yang lain duduk dan makan, demikian seterusnya sampai semuanya tercukupi.

Abdur Rahman bin Abu Bakar mengatakan, waktu Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, sedang bersama-sama dengan seratus tiga puluh lelaki, hanya ada sedikit tepung yang dibuat adonan, serta seekor domba yang dipersiapkan dan jeroannya dipanggang. Setiap orang mengambil sepotong jeroan, lalu dua piring makanan dihidangkan dan mereka semuanya makan bersama-sama. Ketika kebutuhan mereka terpuaskan, tetap tersisa dua piring, maka Abdur Rahman mengambilnya dan dibawa pulang diatas untanya.

Abu Hurairah bersama beberapa Sahabat lainnya, membicarakan masa ketika Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan para pengikut baginda pergi dalam suatu ekspedisi, dan menjadi sangat lapar. Hanya sedikit perbekalan mereka yang tersisa, lalu Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, meminta perbekalan mereka dibawa kepada baginda, dimana masing-masing orang membawa segenggam makanan atau lebih sedikit. Yang terbanyak dibawa seseorang yaitu dua genggam kurma. Semua perbekalan ditaruh diatas tikar, dan Salamah memperkirakan, jumlahnya sebanding dengan berat seekor kambing. Lalu Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, memberitahu para pengikutnya agar membawa wadah-wadah mereka, dan setiap wadah diisi sesuai dengan kapasitasnya, bahkan meski semua orang telah mengambil bagiannya, jumlahnya tetap sama seperti semula. Abu Hurairah bilang andaikan semua orang di dunia datang kepada baginda, itupun akan mencukupi mereka. Bukhari.

Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, berkata kepada Abu Hurairah supaya mengundang atas nama baginda, semua Sahabat tunawisma dianak lantai (Suffa) didalam masjid. Saat semua telah berkumpul, sepiring makanan disajikan didepan mereka. Masing-masing makan apa yang mereka inginkan, habis itu kemudian mereka pergi. Setelah semuanya makan, makanan yang tersisa dipiring tetap seperti ketika disajikan. Bedanya adalah ada bekas jari-jemari di atas piring.

Suatu ketika, sebanyak empat puluh orang dari suku Abdul Mutholib berkumpul bersama. Ali bin Abu Thalib memberitahu bahwa Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, meletakkan seukuran kecil makanan dihadapan mereka, lantas mereka semua makan sampai kenyang. Makanan yang tersisa masih tetap seperti semula. Kemudian baginda minta sebuah cangkir, dan mereka semua minum dari cangkir tersebut sampai rasa dahaga mereka terpuaskan. Yang tersisa didalam cangkir tetap sama isinya seolah tidak seorang pun minum darinya.

Sebuah bilik dibangun untuk Siti Zainab. Anas memberitahu bahwa Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, memintanya agar mengundang orang-orang tertentu kedalam bilik. Bilik jadi penuh, lalu sebuah wadah dengan beberapa kurma yang sudah dipersiapkan dibawa kepada baginda, dan baginda memasukkan tiga jari kedalam wadah. Para undangan mulai makan. Setelah itu mereka bubar. Didalam wadah tetap tersisa jumlah yang sama seperti semula, padahal ada tujuh puluh satu atau tujuh puluh dua orang yang menerima undangan.

Riwayat lain mengenai mukjizat diatas mengungkap bahwa ada sekitar tiga ratus orang. Anas yang disuruh membereskan mangkuk berkomentar, "Saya tidak tahu apakah isinya menjadi lebih banyak ketika saya menaruhnya atau ketika saya mengambilnya."

Abdullah, ayah Jabir meninggalkan hutang ketika wafat. Jabir menawarkan modalnya kepada orang-orang yang menghutangi ayahnya dimana mereka adalah orang-orang Yahudi, namun mereka menolak tawarannya padahal kurma hasil panennya belum cukup untuk melunasi hutang dua tahun. Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, berkata kepada Jabir supaya membagi para pemberi pinjaman menjadi beberapa kelompok, dimulai dari hutang utama, dan agar memberitahu ketika telah melakukannya. Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, berjalan diantara para pemberi pinjaman sementara Jabir membayar seluruh hutang ayahnya . Setelah semuanya terbayar, kurma yang tersisa sebanyak yang biasa dipanen tiap tahun. Juga dilaporkan kalau jumlah yang tersisa sama seperti yang digunakan membayar hutang. Para pemberi pinjaman tercengang!

Abu Hurairah menceritakan saat-saat ketika dirinya sedang bersama Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan merasa sangat lapar, kemudian baginda meminta Abu Hurairah mendampingi baginda. Secangkir susu diberikan kepada Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, maka baginda meminta orang-orang (ahli) Suffa supaya datang. Abu Hurairah yang lemah karena kelaparan bertanya, "Apakah susunya untuk mereka? saya lebih membutuhkan susu itu untuk memulihkan kekuatan saya." Abu Hurairah melakukan apa yang diminta baginda, dan memanggil orang-orang untuk datang dan minum. Masing-masing ahli Suffa minum susu tersebut sampai mereka puas, lalu Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, mengambil cangkir tersebut dan berkata, "Tinggal engkau dan aku, duduk dan minumlah." Abu Hurairah mulai minum sementara baginda terus berkata kepadanya agar minum lebih banyak, hingga Abu Hurairah berseru, 'Tidak, demi Yang mengutusmu dengan kebenaran, tidak ada ruang untuk yang berikutnya." Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, mengambil cangkir tersebut, memuji Allah serta berkata, "Bismillah (Dengan Nama Allah)", dan meminum sisanya.

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, semua riwayat diatas adalah sahih dan telah dikonfirmasi oleh para Sahabat Nabi, semoga Allah meridhai mereka, dimana mereka tidak pernah tinggal diam menghadapi ketidak benaran. Mukjizat semacam itu juga diriwayatkan oleh banyak para pengikut baginda sekaligus tercatat dalam referensi hadis sahih yang sudah diketahui khalayak umum.

 

Pepohonan yang berbicara dan menanggapi Nabi

pujian dan kesejahteraan atasnya

 

Ibnu Umar bercerita bahwa beliau dan Sahabat lainnya sedang menemani Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, dalam suatu perjalanan ketika seorang Badui mendekat kepada baginda, jadi baginda bertanya kemanakah ia hendak pergi. Badui menjawab ia akan pergi ke keluarganya. Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, kembali bertanya, "Apakah engkau menginginkan sesuatu yang baik?" Badui menimpali, "Apakah itu?", kemudian baginda menjawab, "Yaitu engkau bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah sendirian tidak ada sekutu bagi-Nya dan bahwa Muhammad adalah penyembah dan rasul-Nya." Si Badui menukas, "Siapa yang akan bersaksi untuk apa yang engkau katakan?" Baginda menjawab, "Pohon Mimosa itu!". Pohon tersebut lantas bergerak maju dari tepi sungai yang kering air sambil menggembur-gemburkan tanah hingga pohon itu berdiri dihadapan baginda. Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, meminta pohon itu supaya memberi kesaksian tiga kali, dan ia melakukannya, setelahnya pohon itu kembali ke tempatnya semula.

Sebuah riwayat panjang dari Jabir bin Abdullah yang berkata, suatu ketika Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, pergi untuk buang hajat, namun tak ada yang bisa dijadikan tabir penutup. Di tepi lembah ada dua buah pohon. Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, menuju salah satu dari dua pohon itu, kemudian memegang sebuah dahannya dan berkata, "Biarkan aku menuntunmu dengan izin Allah", lantas baginda menariknya secara lembut seperti halnya menarik unta. Baginda melakukan hal yang sama dengan pohon lainnya sampai pohon-pohon tersebut berdiri berdampingan, lalu baginda berkata kepada mereka, "Dengan izin Allah, merapatlah kalian untukku." lalu mereka saling merapat bersama.

Dalam versi lain, Jabir berkata pada pohon tersebut, "Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, memintamu saling bergabung bersama sehingga baginda bisa duduk dibelakangmu." Pohon bergerak maju dan bergabung satu sama lain, lalu baginda duduk dibelakang mereka. Jabir berkata, "Aku buru-buru dan duduk, lalu bicara sendiri, kemudian saat berbalik, aku melihat Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, datang. Pohon-pohon saling memisah satu sama lain, dan berdiri sendiri-sendiri sebagaimana awalnya mereka. Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, berhenti sejenak, memberi isyarat kanan dan kiri seraya menggerak-gerakkan kepala."

Ya'la bin Murroh berkata, "Saya bepergian dengan Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, ke Mekah dan saya melihat sebuah keajaiban. Saat kami tiba di suatu tempat, baginda berkata, 'Pergilah ke dua pohon ini dan kabari mereka bahwa Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, menyuruh mereka supaya bergabung bersama-sama'. Lantas aku melakukannya. Setiap pohon tercabut sendiri akarnya, bergabung satu sama lain untuk membentuk sekat, kemudian Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, menuju kebelakang pohon dan buang hajat. Setelah itu, baginda kembali dan baginda berkata, 'Kembalilah kalian ke tempatnya masing-masing.' Jadi aku bilang ke pohon-pohon itu agar melakukannya, masing-masing dari mereka lalu kembali ke tempatnya."

Ya'la bin Murroh yang juga dikenal sebagai Ibnu Siyyaba melaporkan keajaiban yang telah disaksikannya sewaktu sedang bersama baginda. Ya'la mengatakan kalau beliau melihat pohon palem atau pohon mimosa mengitari mereka, kemudian kembali ke tempatnya semula. Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, berkata pada orang-orang yang bersamanya, "Pohon itu meminta izin untuk mengucapkan salam kepadaku."

Abdullah bin Mas'ud meriwayatkan, "Sebuah pohon mengumumkan kehadiran jin kepada Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, bahwa mereka sedang mendengarkan baginda."

Sebuah hadis dilaporkan oleh Anas yang memberitahu, "Malaikat Jibril, ketika melihat Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, bersedih, berkata, 'Sukakah engkau bila kutunjukkan sebuah tanda?' Baginda menjawab, 'Ya' Lantas Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, memandang sebuah pohon diujung lembah dan berkata, 'Panggillah pohon itu'. Pohon tersebut datang sambil berjalan hingga berdiri di depan baginda. Lalu baginda menyuruhnya kembali, maka pohon itu kembali ke tempatnya." Juga terdapat riwayat serupa yang dilaporkan oleh Umar.

Ibnu Abbas bercerita tentang waktu ketika seorang Badui datang kepada Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan bertanya, "Bagaimana saya bisa yakin kalau engkau seorang Nabi?" Rasulullah berkata, "Jika aku memanggil dahan pohon ini untuk mematuhiku, akankah kamu bersaksi bahwa aku adalah Utusan Allah?" Lalu, Rasulullah memanggil dahan itu supaya turun. Dahan mulai turun kebawah dan jatuh didepan Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, setelah itu dahan kembali ke tempatnya. Si Badui akhirnya masuk Islam.

Ibnu Umar, Jabir, Ibnu Mas'ud, Ya'la bin Murroh, Anas, Ibnu Abbas, dan banyak Sahabat lainnya, menyepakati kebenaran mukjizat-mukjizat ini. Para ilmuwan Islam setelah generasi Sahabat (Tabi’in) juga telah melaporkannya serta menghimpun riwayat aneka mukjizat ini, sehingga menjadi periwayatan yang kokoh.

Kerinduan Batang Pohon Kurma kepada Nabi

pujian dan kesejahteraan atasnya

 

Peristiwa terkenal batang kurma menangis karena terpisah dari baginda telah diriwayatkan secara meluas dan menjadi hal yang sangat umum. Sedikitnya sepuluh Sahabat yang meriwayatkannya.

Jabir bin Abdullah mengatakan bahwa Masjid Nabi dibangun dari batang pohon kurma dengan sebuah atap yang terhampar diatas. Pada waktu khotbah, Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, bersandar pada salah satu batang pohon, tetapi ketika sebuah mimbar dibangun untuk baginda, mereka mendengar batang tersebut menjerit dengan suara yang menyerupai seekor unta.

Anas memberitahu bahwa masjid bergetar dengan ratapan batang itu, sedang Sahl memberitahu kalau para jamaah menangis tersedu-sedu ketika mereka melihat apa yang terjadi. Al-Mutholib dan Ubay berkata, "Batang itu hampir terbelah dan hancur berkeping-keping, maka baginda datang kepadanya dan meletakkan tangan diatasnya sehingga ia menjadi tenang."

Baginda memberitahu para pengikutnya, "Batang ini meratap sebab ia ingat apa yang hilang."

Yang lainnya menambahkan, "Demi Yang jiwaku ada ditangan-Nya, jika baginda tidak menghiburnya, batang itu akan tetap menangis seperti itu sampai Hari Kiamat disebabkan kesedihannya untuk Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya."

Anas dan Sahabat lainnya menginformasikan bahwa Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, memberi instruksi supaya batang tersebut dikubur dibawah mimbar. Sahl mengatakan bahwa batang itu dikubur di bawah mimbar atau ditaruh diatas atap Masjid.

Ubayy menyebutkan bahwa Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, selalu sholat menghadap ke arah batang tersebut, dan ketika Masjid Nabawiy direkonstruksi, Ubayy mengambilnya dan batang itu tetap dalam kepemilikannya sampai akhirnya di makan rayap dan menjadi debu.

Setiap kali Al-Hasan meriwayatkan kisah ini, beliau menangis dan berkata, "Para hamba Allah, kayu pun kangen dengan Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan merindukan baginda dikarenakan kedudukan baginda, harusnya kalian yang rindu berjumpa dengan baginda! "

Banyak Sahabat dekat baginda yang meriwayatkan kisah ini, dan banyak pula para pengikut baginda yang meriwayatkan dari mereka.

Semoga Allah menguatkan kita dijalan yang benar.

Mukjizat yang berkaitan dengan benda-benda mati

Ada banyak kejadian dimana benda mati yang ada ditangan Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, terdengar mengagungkan Allah. Ibnu Mas'ud menyebutkan, "Tatkala makanan sedang dimakan, kami mendengar makanan tersebut mengagungkan Penguasanya."

Di Madinah, Jabir bin Samuroh meriwayatkan perkataan Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, "Aku mengetahui sebuah batu di Mekah yang biasa menyalamiku."

Suatu hari, saat Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, ditemani Abu Bakar, Umar dan Usman, sedang mendaki gunung Uhud, gunung itu mulai bergemuruh. Anas memberitahu bahwa baginda berkata pada gunung Uhud, "Tenanglah wahai Uhud, sebab seorang nabi, seorang pria berhati tulus dan dua orang syuhada sedang ada diatasmu."

Abu Hurairah menceritakan kejadian serupa yang terjadi di Gunung Hiro', tetapi kali ini orang-orang yang bersama Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, adalah Ali, Tholhah dan Zubair. Baginda bicara pada gunung Hiro’ seraya berkata, "Seorang nabi, pria berhati tulus, dan seorang syuhada’ yang berada diatasmu."

Usman menyatakan kalau ada sepuluh Sahabat, dan beliau satu diantara mereka, serta menambahkan Abdur Rahman dan Sa'ad pada nama-namanya. Said bin Zaid meriwayatkan sesuatu yang sama, beliau juga menyebutkan ada sepuluh orang termasuk dirinya sendiri.

Ibnu Umar mengisahkan saat-saat ketika Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, berdiri di mimbar dan melantunkan, "Mereka tidak menilai Allah dengan nilai sejati-Nya." (Al-An'am,6:91). Lalu baginda berkata, "Yang Maha Pemaksa mengagungkan diri-Nya sendiri seraya berfirman, 'Aku Maha Pemaksa, Aku Maha Pemaksa, Yang Maha Hebat, Maha Mengagungkan Diri Sendiri." Pada waktu mendengar ini, mimbar berguncang begitu hebat hingga mereka berseru, "Baginda akan jatuh dari mimbar!"

Abdullah berkata, "Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, memasuki Mekah pada Hari Pembukaan Mekah, dan disekeliling Kabah ada 360 berhala. Lalu baginda merobohkan tiap-tiap berhala seraya berkata, 'Kebenaran telah datang dan kepalsuan tidak akan mulai serta tidak kembali lagi.'"

Ibnu Abbas mengatakan, ada tiga ratus enam puluh berhala berderet di sekitar Kabah, dan kaki berhala-berhala itu diganjal dengan logam berat supaya bisa berdiri tegak. Ketika Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, memasuki Masjid di Tahun Kemenangan, baginda menunjuk dengan tongkat yang dipegangnya ke arah berhala-berhala, tetapi tidak menyentuh mereka. Lalu baginda melantunkan ayat, "Kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap." (Al-Isro',17:81). Setiap kali baginda menunjuk ke muka sebuah berhala, berhala itu jatuh telentang, dan saat baginda menunjuk ke punggung berhala, berhala tersebut jatuh tengkurap. Demikian terus berlanjut hingga tak tersisa satu pun berhala yang masih berdiri." Bukhari.

Ibnu Mas'ud mengatakan hal yang sama dengan menambahkan, "Ketika Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, mulai menghancurkan mereka, baginda melantunkan ayat, "Kebenaran telah datang dan kebatilan tidak dimulai serta tidak kembali lagi." (Saba',34:49).

Ketika masih kanak-kanak, baginda bepergian dengan paman baginda dan orang-orang Quraisy lainnya untuk berdagang. Seorang rahib pertapa yang tidak pernah meninggalkan rumahnya bagi siapapun, keluar untuk menemui baginda. Saat melihat baginda, rahib memegang tangan baginda dan menyatakan, "Inilah junjungan seluruh dunia. Allah akan mengutusnya sebagai rahmat bagi semesta alam." Para pedagang Quraisy bertanya bagaimana ia mengetahui hal itu. Rahib menjawab bahwa ia tidak melihat satu pun batu atau pohon yang tidak membungkuk kepada baginda. Lalu rahib memberitahu bahwa bebatuan dan pepohonan itu hanya membungkuk pada seorang nabi. Rahib juga mengatakan kepada para pedagang Quraisy bahwa ia melihat awan mengayupi baginda, dan lagi, ketika Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, tiba, rahib menemukan beberapa orang berteduh di bawah naungan pohon, tetapi saat baginda duduk naungan itu pindah kepada baginda.

Mukjizat yang berkaitan dengan hewan

Siti Aisyah, semoga Allah meridhainya, menceritakan hewan peliharaan yang biasa mereka punyai seraya berkata, "Ketika Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, sedang bersama kami, hewan tersebut tinggal ditempatnya tanpa pindah-pindah. Hanya ketika baginda pergi keluar, hewan tersebut berpindah-pindah."

Abu Sa'id Al Khudri memberitahu kita kisah seekor serigala yang berbicara. Berikut ini adalah kutipannya. Seorang pengembala tengah mengembalakan domba-dombanya ketika seekor serigala menyambar salah satu hewan gembalaannya, namun si pengembala berhasil mendapatkannya kembali. Bukannya melarikan diri, serigala malah duduk tegak dan berkata, "Tidakkah kamu takut kepada Allah? kamu telah menjadi penghalang antara aku dan rizkiku!"

Pengembala berseru, "Betapa luar biasa, serigala berbicara seperti manusia!" serigala menjawab, "Dapatkah kukabari kamu sesuatu yang bahkan lebih luar biasa? Utusan Allah, pujian dan kesejahteraan atasnya, sekarang berada diantara dua lintasan itu memberitahu orang-orangnya berita kejadian masa lampau!" si penggembala pergi kepada baginda dan menceritakan apa yang terjadi, lantas Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, bertutur pada si pengembala, "Pergi dan beritahulah orang-orang." Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, berkata, "Serigala itu bicara benar."

Safinah adalah seorang pembantu Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya. Suatu hari Safina berangkat berlayar dengan sebuah perahu. Ia berlayar ke arah yang salah dan mendarat di sebuah pulau dimana ada singa disitu. Saat singa mendekat, Safina memberitahunya, "Aku adalah pembantu Rasulullah." lalu singa itu menyenggol-nyenggol Safinah dengan bahunya dan memandu Safinah kearah yang benar.

Ketika dalam perjalanan hijrah, baginda tinggal di sebuah gua di Gunung Tsur. Orang-orang kafir lewat didekat gua dan menemukan jaring laba-laba menutupi pintu masuk gua. Mereka berkata satu sama lain, "Jika baginda memasukinya, laba-laba tidak akan membuat jaring di pintu masuk."

Orang mati hidup kembali dan bayi yang bersaksi atas kenabian baginda

Setelah kemenangan di Khaibar, seorang wanita Yahudi menyiapkan daging domba panggang. Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan beberapa Sahabat baginda mulai memakan daging panggang tersebut. Kemudian, Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, menyuruh mereka tidak memakan daging itu karena daging panggang itu memberitahu baginda kalau ada racun didalamnya. Namun Bisyr bin Al-Baro sudah menelan beberapa suapan dan meninggal dunia. Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, bertanya pada wanita Yahudi itu mengapa melakukan hal itu lantas wanita itu menjawab, "Jika engkau adalah seorang nabi, apa yang aku lakukan tidak akan membahayakanmu, jika engkau seorang raja maka aku membebaskan orang-orang darimu."

Dalam versi lain yang dilaporkan Anas, wanita Yahudi itu berkata kepada Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, "Aku ingin membunuhmu." lalu baginda menjawab, "Allah tidak akan memberimu kekuatan untuk melakukannya." Para Sahabat berkata, "Kami akan membunuhnya," tetapi baginda mengatakan kepada mereka "Jangan!."

Ketika mengalami sakit untuk yang terakhir kali, baginda berkata, "Makanan Khaibar kembali kepadaku dan kadang-kadang membuatku tercekik." Anas mengatakan bahwa beliau mengenali efek keracunan di bibir bawah Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya.

Ibnu Ishak melaporkan pendapat kaum muslimin lainnya yang mengisyaratkan bahwa kemuliaan Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, semakin diangkat oleh Allah disebabkan keracunan, saat meninggal dunia baginda wafat sebagai syuhada’ (pahlawan Islam).

Wakii' bin Al Jarrooch memberitahu kita kisah seorang bayi yang belum pernah mengucapkan sepatah kata pun, tetapi ketika Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, bertanya, "Siapakah aku?" Bayi itu menjawab, "Utusan Allah."

Zaid bin Khorijah roboh dan meninggal dunia di salah satu lorong Madinah. Kata Nu'man bin Basyir, orang-orang menggotong Zaid dan kemudian mengkafaninya. Antara waktu solat Maghrib dan Isya, para perempuan mulai menangis di sekelilingnya lalu mereka mendengar mayat itu berkata, "Tenanglah, tenanglah!" jadi mereka membuka penutup di wajah mayat tersebut lalu mayat itu berucap, "Muhammad adalah Utusan Allah, Nabi buta huruf dan Penutup para nabi. Ini sebagaimana yang yang terkandung didalam Kitab Pertama." Kemudian mayat tersebut berkata, "Inilah kebenaran, inilah kebenaran." Mayat itu lantas menyebut-nyebut Abu Bakar, Umar dan Usman, serta berkata, "Salam bagimu Wahai Utusan Allah, dan rahmat Allah serta keberkatan-Nya." Selanjutnya jasad Zaid kembali pada status kematian seperti keadaan ia tak lama sebelumnya.

Keajaiban menyembuhkan orang sakit dan cacat

Banyak sekali riwayat yang mengungkap tentang penyembuhan ajaib oleh Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, dengan seizin Allah. Berikut ini sedikit diantara contohnya.

Seorang pria buta datang kepada Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya. Usman bin Hunayf memberitahu kata-kata yang diucapkan pria tersebut, "Wahai Rasulullah, mintalah kepada Allah supaya menghilangkan selubung dari mataku." Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, berkata kepadanya, "Pergi dan berwudhulah, kemudian kerjakan solat dua rakaat dan ucapkan, 'Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dan aku menghadap-Mu demi Nabi Muhammad, Nabi Rahmat. Wahai Muhammad, aku menghadap kepada Penguasamu supaya menghilangkan selubung dari mataku. Ya Allah, biarkan baginda memberi saya syafaat." Pria itu pun mengikuti segala petunjuk baginda kemudian ia pulang. Allah telah mengembalikan penglihatannya.

Pada Pertempuran Khaibar, kedua mata Ali terasa sangat perih, maka Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, meniup kedua mata beliau dan mata beliau sembuh seketika itu juga. Salamah bin Al-Akwa’ mengalami luka dipaha beliau selama pertempuran, keajaiban yang sama terjadi dimana beliau juga langsung sembuh.

Ada seorang wanita membawa anak laki-lakinya yang kerasukan makhluk halus kepada Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya. Ibnu Abbas mengatakan bahwa baginda mengelus dada anak tersebut dimana anak itu memuntahkan sesuatu yang menyerupai anak anjing hitam dan langsung sembuh.

Penerimaan doa Nabi

pujian dan kesejahteraan atasnya

 

Banyak riwayat yang membahas doa Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya. Berikut ini sekilas pandang doa baginda.

Ibu Anas datang kepada Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan berkata, "Anas melayani engkau, berdoalah kepada Allah untuknya." Baginda kemudian berdoa, "Ya Allah, berilah dia anak yang banyak dan kekayaan yang melimpah, serta berilah keberkahan di dalam apa yang Engkau berikan kepadanya." Di kemudian hari, ‘Ikrimah memberitahu bahwa Anas berkata, "Demi Allah, aku punya kekayaan yang melimpah dan aku mempunyai kurang lebih seratus anak cucu."

Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, memohon kepada Allah supaya mengabulkan doa Sa’ad bin Abi Waqqosh dan setelah itu setiap kali berdoa, doa Sa’ad terkabul.

Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, berdoa kepada Allah seraya berucap, "Ya Allah, kuatkanlah Islam melalui Umar bin Khattab atau ‘Amr bin Hisyam (Abu Jahal)." Umar yang mendapat berkah doa tersebut. Ibnu Mas'ud mengatakan, "Kami mulai menjadi kuat semenjak Umar masuk Islam."

Para Sahabat sedang dalam sebuah ekspedisi dan mengalami kehausan, jadi Umar pergi kepada Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan meminta baginda untuk berdoa. Maka baginda berdoa. Sebuah awan datang menyediakan air bagi mereka, lalu awan itu menghilang. Peristiwa lain terjadi selama masa kekeringan, Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, berdoa di dalam solat istisqo' (solat minta hujan). Hujan turun sangat deras, kemudian para Sahabat meminta baginda untuk berdoa supaya hujan reda. Hujan lalu berhenti.

Untuk Ibnu Abbas, baginda berdoa, "Ya Allah, dalamkanlah pengetahuan agamanya dan ajarilah dia ilmu tafsir." Sesudah itu, Ibnu Abbas dikenal sebagai 'Khobir' ahli ilmu dan Penafsir Al-Qur'an.

Ibu Abu Hurairah masuk Islam melalui doa Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya.

Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, berdoa melawan suku Mudhor dimana mereka dilanda kekeringan sampai mereka menyelesaikan suatu urusan. Setelah persoalan diselesaikan, baginda mendoakan suku tersebut, dan hujan mulai turun.

Kisra, raja Persia, mendapat surat dari Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan merobek-robek surat tersebut. Baginda berdoa melawan Kisra dengan memohon kepada Allah agar memecah kerajaannya. Hal ini terjadi, orang-orang Persia kehilangan tampuk kepemimpinan di dunia.

Baginda melihat seorang lelaki makan dengan tangan kiri, dan menasehatinya, "Makanlah dengan tangan kananmu." dengan angkuh lelaki itu menyahut, "Aku tidak bisa melakukannya." Maka Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, berkata, "Kamu tidak akan bisa melakukannya," Kemudian lelaki itu tidak pernah bisa mengangkat tangan kanannya ke mulutnya.

Ibnu Mas'ud bercerita, suatu ketika orang-orang kafir dari suku Quraisy menaruh jeroan (organ tubuh bagian dalam) unta yang penuh cairan dan darah di leher baginda pada waktu baginda sujud beribadah kepada Allah. Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, berdoa melawan setiap pelakunya dengan menyebut nama-nama mereka. Akhirnya mereka dijemput ajal saat perang badar.

(Syekh Ahmad Darwish menambahkan: Nabi Muhammad berdoa kepada Allah agar memberkati Yaman dan Syria, namun saat diminta memohon keberkatan untuk Najed, baginda tidak merespon dan berkata bahwa di Najed tanduk setan akan muncul. Tidak ada tanda apapun terjadi di Najed sampai kemudian muncul Muhammad bin Abdul Wahab, pendiri aliran Wahabi, yang memberontak melawan orang tua dan saudaranya serta membangkitkan pemikiran cacat Ibnu Taimiyah.

Merujuk pada aliran Wahabi, para syekh Al-Azhar masa kini berkata, "Pemikiran cacat Ibnu Taimiyah telah menghidupkan kembali penyembahan berhala dengan menyamakan sifat Tuhan seperti sifat makhluk. Wahabi menggunakan nama salaf (Salaf adalah nama terhormat untuk tiga generasi pertama Islam, yaitu para Sahabat, dan dua generasi setelahnya - Tabi'in dan Tabi' tabi'in - dimana Nabi Muhammad telah bersabda bahwa mereka adalah generasi terbaik) dan mengecoh dengan menambahkan orang-orang yang tidak termasuk tiga generasi pertama Islam, tujuannya adalah untuk membangun dan menyembunyikan identitas mereka yang merusak agama dan menyangkal mazhab Syafi'i serta tiga mazhab lainnya.

Sesuatu yang berubah melalui sentuhan atau pendekatan Nabi

pujian dan kesejahteraan atasnya

 

Penduduk Madinah berada dalam keadaan gempar dan Anas bin Malik memberitahu bahwa Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, berkendara keluar kota diatas kuda milik Abu Tholhah. Kuda Abu Tholhah dikenal sebagai hewan yang lambat, tetapi ketika telah kembali, Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, memberitahu Abu Tholhah, "Kami dapati kudamu menjadi sangat cepat." Setelah itu, kuda lainnya tidak pernah bisa menyalip kuda tersebut.

Jabir bin Abdullah mempunyai unta yang lemah. Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, menuding unta tersebut dan unta itu menjadi begitu bersemangat sampai Jabir harus mengerahkan seluruh tenaga untuk mengendalikannya.

Asma, putri Abu Bakar mengatakan bahwa dia memiliki jubah hitam yang pernah dipakai baginda, dan ketika orang-orang sedang sakit, mereka memasukkan jubah itu kedalam air kemudian menggunakan airnya sebagai obat, setelah itu mereka sembuh.

Kejadian lainnya, Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, membawa seember air Zamzam dan meniup ke dalamnya, lalu air menjadi lebih harum daripada kesturi.

Ibu Malik Al Ansoriyah memberi Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, sebuah kulit yang mengandung minyak sapi. Baginda menyerahkan kembali kepada Ibu Malik dan menyuruh agar tidak meremasnya. Ketika anak-anak beliau kehabisan minyak sapi, mereka pergi menemui beliau dan meminta minyak sapi, jadi beliau pergi ke kulit tersebut dan menemukan sejumlah minyak sapi di dalamnya. Hal ini berlangsung terus sampai suatu hari beliau meremas kulit tersebut.

Ketika para pemilik Salman Al Farisi setuju untuk membebaskannya, mereka menuntut tiga ratus pohon palem muda yang sudah ditanam dan berbuah banyak, dan sebagai tambahan mereka meminta empat puluh ons emas. Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, pergi membantu Salman dan menanam dengan tangan baginda sendiri pohon-pohon palem muda, kecuali satu yang sudah ditanam orang lain. Semua pohon tumbuh berkembang kecuali yang satu itu, sehingga baginda mencabutnya dan menanamnya kembali kemudian pohon itu berkembang.

Malam itu hujan mengguyur dan Qotadah bin Nu'man telah solat maghrib bersama Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya.  Lalu baginda memberi Qotadah dahan pohon kurma seraya berkata, "Ambillah ini denganmu. Dahan ini akan menjadi senter bagimu, yang cahayanya akan menerangimu sepanjang sepuluh lengan di depanmu dan sepuluh lengan di belakangmu. Ketika kamu masuk rumah, kamu akan melihat sesuatu yang gelap. Maka pukullah ia sampai pergi menghilang karena ia adalah setan." Qotadah pulang ke rumahnya dan dahan tersebut menerangi jalannya. Ketika memasuki rumah, Qotadah menemukan kegelapan tersebut dan memukulnya hingga kegelapan itu pergi.

Berkat sentuhan Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, domba betina yang tidak pernah kawin milik Abdullah bin Mas'ud dan domba milik Miqdad menghasilkan pasokan susu yang melimpah.

Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, mengusap wajah Qotadah bin Milhan dan wajah beliau jadi bersinar dengan sedemikian rupa sehingga ketika seseorang memandang wajah beliau maka bagaikan sedang melihat ke cermin.

Handzolah bin Hudzaim juga diberkati dengan disentuh kepalanya oleh Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya. Suatu hari seorang pria datang pada Handzolah dengan domba-dombanya. Wajah pria itu bengkak dan kelenjar susu dombanya juga bengkak. Bagian-bagian yang bengkak disentuhkan pada bagian tubuh Handzolah yang pernah disentuh tangan Nabi, kemudian bengkak-bengkak hilang.

Selama konflik Hunain, Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, mengambil segenggam debu dan melemparkannya ke wajah orang-orang kafir sambil berkata, "Semoga wajah mereka jadi buruk!" Mereka berbalik dan mengusap kotoran dari mata mereka.

Suatu ketika Abu Hurairah datang kepada Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan mengeluhkan sifatnya yang pelupa. Maka baginda memberitahu Abu Hurairah agar membentangkan jubahnya dan baginda menyekop tangan baginda ke dalamnya. Lalu baginda bilang kepada Abu Hurairah agar jubah tersebut digeser kepada baginda, dan ini dilakukannya. Setelah itu Abu Hurairah jadi tidak pelupa.

(Sisipan Syeikh Darwish: Abu Hurairah beserta banyak Sahabat lainnya telah meriwayatkan lebih dari 5000 Hadis (Perkataan Kenabian), dan ada 42 hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah secara khusus. Fakta ini membuktikan bahwa orang-orang yang meragukan kesahihan ilmu hadis serta meragukan kepribadian Abu Hurairah, maka mereka itu telah salah dan keliru. Tidak sepatutnya seorang muslim meragukan periwayatan para Sahabat yang telah terbukti kebenarannya)

Jarir bin Abdullah tidak stabil diatas kuda, lalu Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, menepuk dadanya dan berdoa untuknya. Setelah itu Jarir menjadi yang terbaik dan paling stabil dari semua penunggang kuda Arab.

Baginda mengetahui alam gaib dan masa depan

pujian dan kesejahteraan atasnya

 

Riwayat yang berkaitan dengan subjek ini sudah umum dan begitu banyak, bagaikan air dilautan luas yang tidak pernah berhenti meluap.

Mengenai tanda-tanda yang terkait peristiwa masa depan dan Hari Akhir, Hudzaifah memberitahu, "Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, memberi khotbah, dan semua peristiwa yang akan terjadi sampai Hari Kiamat telah baginda sampaikan. Sebagian Sahabat ingat semua yang telah baginda sampaikan, sedang sebagian yang lainnya lupa namun banyak Sahabatku yang telah mengetahuinya. Ketika salah satu peristiwa menjadi nyata, aku mengenalinya dan mengingat apa yang telah diberitahu Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, dengan cara yang sama saat seseorang mengingat wajah orang yang telah pergi tetapi mengenalinya saat ia kembali." Hudzaifah lalu berkata, "Aku tidak tahu apakah para Sahabatku memang lupa atau hanya pura-pura lupa tetapi Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, telah menyebutkan nama orang-orang yang mempelopori fitnah yang hendak terjadi sampai akhir zaman, yang mencapai lebih dari tiga ratus. Tidak hanya nama pemrakarsa, baginda juga menyebutkan nama ayah dan suku mereka."

Abu Dzar mengatakan, "Ketika Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, meninggal dunia, tidak ada satu pun burung terbang diangkasa yang belum pernah baginda informasikan tentangnya."

Para ulama ahli hadis dan para Imam Islam telah mentransmisikan apa yang Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, ajarkan kepada para Sahabatnya. Contohnya adalah janji kemenangan menghadapi para musuh, Pembukaan Mekah, Yerusalem, Yaman, Syria dan Irak. Baginda juga telah berbicara tentang terbentuknya keamanan hingga seorang wanita bisa bepergian didalam Haudaj (sebuah keranda kecil untuk tempat wanita diatas unta). dari Hira di Irak sampai ke Mekah, tidak ada yang ditakutkan kecuali Allah.

Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, memperingatkan bahwa kelak Madinah akan dikacaukan. Baginda juga memberitahu bahwa Ali akan menaklukkan Khaibar dimasa mendatang. Berbagai belahan dunia kelak akan dibuka Allah untuk umat baginda, dan perhiasan dunia akan mereka dapatkan, harta karun Kisra dan Kaisar juga akan mereka terima.

Baginda memperingatkan fitnah yang akan terjadi diantara umat, perselisihan dan munculnya berbagai golongan yang berperilaku seperti para pendahulu mereka, dan bahwa mereka akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, dimana hanya satu yang akan selamat. Baginda memberitahu penyebaran golongan tersebut di seantero dunia, dan bahwa orang-orang akan datang mengenakan sebuah pakaian bagus di pagi hari dan pakaian bagus lainnya di malam hari, dan hidangan demi hidangan akan ditata di hadapan mereka. Baginda juga berbicara tentang saat ketika rumah-rumah akan dihiasi dengan cara yang mirip Ka’bah. Baginda mengakhiri khotbah seraya bersabda, "Kalian hari ini lebih baik daripada kalian pada hari itu."

Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, mengatakan, kaum muslimin akan melawan orang-orang Turki, Persia dan Romawi. Baginda mengatakan, Kisra (Chosroes) dan kekuatan Persia akan tergilas. Kisra maupun kekuatan Persia, dikemudian hari tidak akan eksis lagi. Baginda bernubuat bahwa Kaisar (Caesar) akan pergi dan tidak akan ada kaisar setelahnya.

Baginda bernubuat bahwa keturunan orang-orang Romawi akan berlanjut dari generasi ke generasi hingga akhir zaman. Akan tiba waktu dimana orang-orang terbaik meninggal dunia. Juga bahwa pengetahuan akan ditarik saat waktu mendekati akhir zaman, fitnah dan pertumpahan darah akan muncul. Baginda berkata, "Celaka untuk orang-orang Arab karena semakin mendekat pada kejahatan!"

Bumi digulung untuk Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, sehingga baginda dapat melihat sepanjang ufuk timur dan barat dan daerah-daerah yang akan terjangkau risalahnya. Risalah yang dibawa baginda akan menyebar dari ufuk timur dan barat, dari Hindia dan timur jauh sampai ke lautan Tanjier - sedemikian rupa hingga tak ada umat lain yang berkembang pesat seperti umat baginda.

Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, juga mengatakan, "Orang-orang al-Ghorb akan terus nampak diatas kebenaran sampai Hari Kiamat tiba."

 Ibnu Al-Madiini berpendapat, kalimat tersebut merujuk pada orang-orang Arab, ini dapat dikenali melalui tempat minum mereka yang disebut al-Ghorb (semacam ember kulit). Sedang yang lainnya berpendapat kalau al-Ghorb merujuk pada orang-orang barat.

Abu Umamah, melaporkan perkataan Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, "Sebuah golongan umatku akan tetap teguh pada kebenaran. Dengan demikian mereka akan menaklukkan musuh mereka sampai datang perintah Allah."

(Sisipan Syeikh Darwish: Hadis ini terdapat didalam Sahih Muslim yaitu koleksi hadis yang tertinggi tingkat keasliannya. Golongan yang dimaksud dalam hadis tersebut, tersebar di berbagai bangsa, bukan pada daerah atau kawasan tertentu. Golongan ini mewakili umat Nabi Muhammad, dan terdiri dari para pelantun Al-Qur'an (Qori’), para ulama dalam bidang hadis, fiqih (hukum Islam), kehidupan kenabian (siroh), para khatib, orang-orang awam dan penyembah Allah lainya, dan akan terus berlanjut seperti demikian hingga datangnya Imam Mahdi dan turunnya Nabi Isa)

Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, membicarakan kemunculan anak-anak Abbas di bawah bendera hitam sekaligus mengatakan bahwa kerajaan mereka akan besar. Baginda telah berbicara tentang kedatangan Al Mahdi dan pembunuhan Ali.

Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, bernubuat mengenai kematian Imam Ali yang mati syahid, serta mengatakan bahwa para pembunuhnya adalah orang-orang yang paling celaka. Baginda juga menyebut bahwa Usman akan mati syahid.

Sejauh ini, fitnah yang memprihatinkan, kata Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, tidak akan muncul selagi Umar masih hidup. Baginda berkata, "Zubair akan berkelahi melawan Ali. Adapun anjing-anjing Chaw-ab akan menyalak pada salah satu istri Chaw-ab dan banyak pembunuhan disekitar wanita itu, dan wanita itu hanya bisa melarikan diri. Ketika Siti Aisyah, semoga Allah meridhainya, pergi ke Basrah, anjing-anjing Chaw-ab menyalak.

(Sisipan Syeikh Darwish: Gonggongan itu terjadi saat Siti Aisyah berkendara diatas unta dan berada didalam Haudaj (sebuah keranda kecil untuk tempat wanita diatas unta). Sewaktu mendengar gonggongan anjing, Siti Aisyah bertanya apakah beliau sedang berada di Chaw-ab tetapi orang-orang yang mempunyai niat untuk menipu, telah membohongi beliau dengan mengatakan kalau itu bukan Chaw-ab melainkan suatu tempat yang lain)

Nubuat Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, mengungkap bahwa kelompok yang curang akan melampaui batas dan mengambil nyawa Ammar, nubuat ini terwujud ketika tentara Muawiyah membunuh Ammar. Tentang Abdullah bin Zubair, baginda berkata, "Celaka orang-orang darimu dan celaka kamu dari orang-orang!"

Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, membicarakan orang munafik yang bernama Quzman seraya bersabda, "Ia akan diuji bersama dengan kaum muslimin, meskipun ia salah satu calon penghuni Api Neraka." Nubuat ini terpenuhi dan Quzman mati bunuh diri.

Baginda menyebut orang-orang tertentu diantara mereka adalah Abu Hurairah, Samuroh bin Jundub dan Hudzaifah, dan bersabda, "Yang terakhir diantaramu akan mati didalam Api." yang terakhir mati diantara mereka adalah Samuroh yang sudah tua dan pikun, beliau meninggal dunia saat mencoba menghangatkan diri di dekat api unggun, namun ternyata ia sendiri terbakar.

Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, berbicara tentang kekhalifahan Quraisy seraya bersabda, "Kekhalifahan adalah dengan Quraisy, dan akan tetap demikian selama mereka memelihara Agama."

Baginda bernubuat bahwa seorang pembohong dan oknum perusak akan muncul dari Tsaqif. Diperkirakan bahwa Al-Hajjaj bin Yusuf dan Al Mukhtar bin Ubaid yang dimaksud dalam nubuat baginda tersebut.

Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, membicarakan Musailamah si pembohong, yang mengaku sebagai nabi selama masa hidup baginda seraya mengatakan Musailamah akan hancur, dan ini terjadi.

Kepada Siti Fatimah, putri baginda, semoga Allah meridhainya, baginda memberi kabar gembira bahwasanya beliau akan menjadi orang pertama dari keluarga baginda, yang meninggal dunia setelah baginda.

Baginda memperingatkan kemurtadan yang akan muncul, serta bernubuat bahwa setelah baginda wafat, kekhalifahan hanya akan bertahan selama tiga puluh tahun, dan setelah itu akan menjadi kerajaan yang tamak. Ini terpenuhi selama masa Al Hasan bin Ali, semoga Allah meridhainya.

Baginda bernubuat mengenai keadaan orang-orang Islam ketika mereka kesasar. Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, bersabda, "Urusan ini dimulai dengan kenabian dan rahmat, kemudian rahmat dan kekhalifahan, diikuti dengan sebuah kerajaan yang tamak lalu diikuti dengan arogansi dan tirani." Baginda memperingatkan "Korupsi akan memasuki umat."

Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, telah memberitahu keberadaan Uwais Al-Qorni.

(Sisipan Syeikh Darwish: Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, memberi instruksi kepada Umar dan Ali agar meminta Uwais mendoakan mereka. Barulah setelah baginda wafat, para Sahabat mengetahui keberadaan Uwais, hamba Allah hebat dari generasi kedua (Tabi'in))

Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, juga mengabarkan, akan muncul orang-orang pemerintahan yang menunda-nunda waktu shalat.

Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, memperingatkan bahwa diantara umatnya akan muncul tiga puluh pembohong besar yang menipu, masing-masing mengaku sebagai nabi, empat di antaranya perempuan. Di waktu yang lain baginda menyebut kalau salah satu pembohong besar itu adalah Dajjal (orang Yahudi memanggilnya Moshiach) dan semuanya akan membuat kebohongan tentang Allah.

Baginda berbicara mengenai orang Ajam (non Arab) seraya bersabda, "Waktunya sudah dekat ketika akan banyak non-Arab diantaramu. Mereka akan memakan harta milikmu dan memukul lehermu. Zaman Akhir tidak akan muncul sampai seorang lelaki dari Qohton menggiring orang-orang dengan tongkatnya."

Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, memberitahu para Sahabat bahwa pengikut terbaiknya adalah orang-orang yang hidup dizamannya, kemudian generasi berikutnya (Tabi'in), diikuti oleh generasi berikutnya (Tabi'tabi'in). Baginda memperingatkan bahwa setelah mereka, orang-orang datang dan bersaksi tanpa diminta yang akan curang dan tidak dapat dipercaya. Baginda juga memperingatkan tentang orang-orang yang berjanji tetapi tidak memenuhinya, dan akan banyak orang mengalami kegemukan.

Baginda juga bersabda, "Waktu hanya diikuti dengan yang lebih buruk daripadanya."

Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, memperingatkan, "Umatku akan hancur di bawah tangan para pemuda dari Quraisy." Dalam riwayat lain, Abu Hurairah memberitahu bahwa baginda bersabda, "Jika menginginkan, aku bisa menyebut nama-nama mereka untuk kalian, anak dari fulan dan anak dari fulan."

Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, bernubuat kedatangan orang-orang Qodariyah (sekte Qodariyah), para penyangkal takdir.

(Sisipan Syeikh Darwish: Qodiani adalah sekte menyimpang yang didorong dan didukung oleh Inggris)

Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, juga mengatakan golongan Ansor akan berkurang jumlahnya sampai mereka menjadi bagaikan garam dalam makanan, dan kedudukan mereka terus menyusut sampai tak satu kelompokpun dari mereka tersisa dan bahwa mereka akan tertindas setelah baginda wafat.

Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, berbicara tentang orang-orang Khawarij (golongan Khawarij) sebuah sekte yang menyimpang, dan menggambarkan mereka semua bahkan sampai yang cacat sekalipun beserta jati diri mereka, dan bahwa mereka dikenal dengan dicukurnya kepala mereka.

(Sisipan Syeikh Darwish: Doktrin orang-orang Khawarij telah dihidupkan kembali oleh Ibnu Taimiyah dan selanjutnya diadopsi oleh para penganut Ibnu Taimiyah yaitu orang-orang Wahabi. Ibnu Taimiyah dan para pengikutnya telah menyerupakan Tuhan dengan makhluk-Nya, dengan membuat pernyataan bahwa Sang Pencipta mempunyai fisik seperti manusia makhluk yang telah diciptakan-Nya. Kepalsuan ini telah membentuk dasar keyakinan (aqidah) mereka. Jika diperhatikan, di antara cara manuver Wahabi adalah mendekati pihak-pihak pemerintahan, dan seiring berjalannya waktu, mereka menyusup serta mengubah kebijakan yang sekiranya menguntungkan mereka. Taktik fanatik mereka menghadapi para ulama moderat terlihat jelas di Afghanistan, Irak dan Afrika Timur)

Perihal keadaan menjelang akhir zaman, Nabi dan pujian dan kesejahteraan atasnya, bernubuat bahwa pengembala kambing akan mengepalai manusia, orang-orang yang telanjang dan yang tak beralas kaki akan bersaing dalam konstruksi bangunan-bangunan tinggi, (ini jadi kenyataan saat orang-orang Badui Najed mengambil alih wilayah Arab dengan bangunan-bangunan tingginya - paling terasa di Mekah dan Madinah. Mereka memonopoli kekayaan mereka dari akomodasi sewa bangunan selama haji dan umrah, yang digunakan untuk mempengaruhi dan menyebarkan doktrin Wahabi mereka), dan para ibu akan melahirkan majikan mereka.

Quraisy dan para sekutu mereka selama-lamanya tidak akan menaklukkan baginda, namun baginda yang akan menaklukkan mereka.

 

Baginda bersabda, "Akan terjadi dua wabah kematian setelah pembukaan Baitul Maqdis (penaklukan Yerusalem)" Selama masa kekhalifahan Umar, nubuat baginda menjadi kenyataan.

Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, bernubuat, "Para Sahabat akan menaklukkan lautan (diatas kapal) bagaikan para raja di atas singgasana, dan jika agama telah digantung di bintang Tsuroyyaa (planet Pleaides) orang-orang Persia akan memperolehnya." (Ini merujuk pada hijrahnya para ulama tradisional demi pengetahuan Islam yang lebih luas).

Ketika berada di sebuah ekspedisi, badai angin bertiup dan Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, memberitahu para Sahabatnya, "Badai ini berhembus untuk kematian seorang munafik." Sekembalinya ke Madinah, mereka menemukan perkataan nubuat baginda jadi kenyataan.

Baginda berbicara tentang seseorang yang mencuri jubah serta memberitahu para Sahabat di mana jubah tersebut.

Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, memberitahu para Sahabatnya mengenai sebuah surat yang ditulis Hatib dan diberikan kepada seorang wanita dari Muzainah agar disampaikan ke keluarganya di Mekah. Surat itu untuk memperingatkan keluarga Hatib maksud perjalanan mereka.

Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, bernubuat bahwa akan membunuh Ubay bin Kholaf.

Baginda juga memberitahukan lokasi dimana orang-orang kafir Badar akan mati dan ini jadi kenyataan.

Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, bersabda yang merujuk pada Al-Hasan, cucu baginda, "Anak lelaki milikku ini adalah seorang tuan, dan melalui dia, Allah akan mengantarkan perdamaian antara dua kelompok dikalangan umat Islam."

Untuk Sa'ad, Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, bersabda, "Mungkin kamu akan hidup cukup lama yang sebagian orang akan diuntungkan olehmu dan sebagian akan dirugikan."

Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, membicarakan sebagian sahabatnya yang mati syahid di Mu'tah pada hari mereka mati syahid, padahal lebih dari satu bulan perjalanan di antara mereka.

Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, memberitahukan kematian Negus dari Abyssinia (Ethiopia) kepada para Sahabatnya pada hari yang sama ketika Negus meninggal dunia.

Sebelum seorang kurir tiba, Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, telah memberitahu Fayruz, duta Persia, bahwa Kisra (raja Persia) meninggal dunia. Ketika kurir tiba dengan membawa berita tersebut, Fayruz membaca suratnya lantas memeluk Islam.

Suatu hari di Madinah, Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, menemukan Abu Dzar sedang tidur di Masjid, baginda memberitahu bahwa dia akan diasingkan, seraya berkata, "Apa yang akan terjadi bila engkau dikeluarkan dari sini?" Abu Dzar menjawab, "Saya akan tinggal di Masjidilharam." Kemudian Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, bertanya, "Dan bagaimana bila engkau diusir dari sana?"

Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, bernubuat bahwa yang pertama menyusul kepergian baginda diantara para istrinya adalah yang paling panjang tangan. Istri tersebut yaitu Siti Zainab putri Jahsh, semoga Allah meridhainya, yang dikenal sangat dermawan.

Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, mengatakan bahwa Al Husain, cucu baginda, akan mati syahid di Thoff (kemudian berganti nama menjadi Karbala). Baginda mengambil beberapa kotoran di tangannya dan berkata, "Makamnya adalah di dalamnya."

Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, berkata pada Gunung Hiro', "Kokohlah, diatasmu ada seorang nabi, seorang pria berhati tulus dan para syuhada." Ali, Umar, Usman, Tholhah dan Zubair mati syahid sedangkan Sa'ad diserang (ditusuk).

Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, memperingatkan, "Kiamat tidak akan datang sampai dua golongan saling berkelahi, dan satu sama lain saling mengklaim sesuatu yang sama."

Seorang Yahudi di Madinah yang bernama Labid bin A’shom adalah seorang penyihir. Labid bin A’shom telah didekati oleh rekan sesama Yahudi dari Khaibar yang memintanya membuat ramuan mantera mematikan melawan Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya. Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, telah menggambarkan sihir Labid bin A’shom dan apa saja yang digunakan. Baginda mengungkap kepada para Sahabatnya bahwa Labid memakai sebuah sisir dan beberapa helai rambut baginda serta seludang pohon palem jantan, dan Labid melemparkan semuanya itu ke dalam sumur Dzarwaan. Para Sahabat pergi ke sumur dan menemukan ramuan itu tepat seperti yang telah digambarkan oleh Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya.

Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, menggambarkan Yerusalem secara terperinci kepada orang-orang kafir ketika mereka tidak mempercayai perjalanan baginda selama Isro' Mi'roj.

Setiap nubuat baginda, tentang kejadian di masanya maupun di masa setelahnya, sudah terpenuhi sebagaimana yang telah baginda gambarkan. Di antara yang belum terpenuhi adalah sebagai berikut, "Kemakmuran Yerusalem adalah (tanda) kehancuran Madinah. Kehancuran Madinah akan menyalakan perkelahian sengit. Kemunculan perkelahian sengit akan (menandakan) penaklukan Konstantinopel (Istambul).

Pembahasan diatas hanyalah sekilas pandang rangkaian peristiwa yang mengiringi perjalanan waktu, termasuk juga berita seputar Kebangkitan manusia yang akan berkumpul di Padang Mahsyar, dan informasi apa yang akan terjadi pada mereka yang di Surga dan di Neraka, serta beragam kejadian pada Hari Kiamat.

Hadis yang dikutip pada materi ini, sekiranya telah mencukupi. Bagi yang ingin mempelajari lebih lanjut, bisa melihat didalam acuan utama Ilmu Hadis.

(Mukjizat Isro’ Mi’roj - Perjalanan Malam dan Pendakian ke Langit - akan dibahas tersendiri dalam materi “Isro’ Mi’roj”)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SAHIH SHIFA

KESEMBUHAN

 

Seri ke-15

 

MUKJIZAT YANG DIBERIKAN KEPADA

NABI MUHAMMAD

pujian dan kesejahteraan atasnya

 

Karya

Hakim Agung Abulfadl Iyad

wafat tahun 1123M / 544H

 

Periwayat Hadis

Muhaddis Agung Hafiz Abdullah Bin Siddiq

 

Perevisi

 Muhaddis Abdullah Talidi

 

Diadaptasikan oleh

Abdi Hadis Syekh Ahmad Darwish (Arab)

Anne Khadeijah (Inggris)

Siti Nadriyah (Indonesia)

 

Copyright © 1984-2013 Allah.com Muhammad.com. Hak Cipta dilindungi

 

 

Perlindungan untuk Nabi Muhammad

pujian dan kesejahteraan atasnya

 

Allah telah melindungi Nabi Muhammad serta mencukupkan baginda menghadapi orang-orang yang menyakitinya.

Allah mengatakan kepada Nabi-Nya, pujian dan kesejahteraan atasnya, "Allah melindungimu dari orang-orang." (Al-Maidah,5:67). Dia juga berfirman, "Dan bersabarlah dibawah Hukum Penguasamu, sungguh kamu dihadapan Mata Kami." (At-Tur,52:48). dan, "Bukankah Allah mencukupi para penyembah-Nya." (Az-Zumar,39:36).

Allah berfirman,

"Kami mencukupimu menghadapi para pengejek." (Al-Hijr,15:95).

"Dan ketika mereka yang kafir melakukan maker  melawanmu, untuk hendak menawanmu atau membunuhmu atau mengusirmu. Mereka hendak makar dan Allah (untuk menanggapi) juga makar. Dan Allah yang terbaik dalam makar." (Al-Anfal,8:30).

Bunda Siti Aisyah, semoga Allah meridhainya, memberitahu, "Sebelum ayat, 'Allah melindungimu dari orang-orang." (Al-Maidah-Hidangan,5:67) diturunkan, Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, memiliki para pengawal. Setelah wahyu ini turun, baginda memandang keluar tenda dan meminta para pengawal meninggalkannya seraya berkata, "Wahai orang-orang, kalian boleh pergi, Penguasaku, Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia, telah memberiku perlindungan."

Jabir bin Abdullah berkata, "Kami berangkat perang bersama baginda disekitar wilayah dekat Najed. Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, berhenti untuk istirahat siang di suatu tempat tertentu sedang para Sahabat memilihkan pohon yang teduh untuk baginda dimana baginda mungkin beristirahat dibawahnya. Jadi baginda pergi dibawah pohon, menggantung pedangnya dipohon kemudian tidur. Tatkala baginda sedang tidur seorang badui mendatangi baginda dan menghunuskan  pedangnya. Si Badui bertanya, "Siapa yang akan melindungimu dariku!" "Allah, Yang Maha Perkasa." jawab Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya. Setelah mendengar ini, tangan Badui mulai gemetar dan pedang jatuh dari tangannya.

Lalu Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, berkata, "Sekarang, siapa yang akan melindungimu dariku." Si Badui, Ghourots bin Harits, menjawab, "Ambillah dengan cara yang baik!" maka Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, bertanya, "Apakah kamu bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah." Badui menjawab, "Tidak, tapi aku janji tidak akan memerangimu dan tidak akan bersama dengan siapapun yang bertempur melawanmu." Kemudian baginda membiarkannya pergi dan si Badui pulang kepada temannya sambil berkata, "Aku datang kepadamu dari yang terbaik dari semua umat manusia."

Allah melindungi Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, sehingga baginda tak terlihat orang-orang kafir saat berada didalam gua, melalui tanda-tanda yang telah Dia siapkan untuk baginda dan melalui laba-laba yang membuat jaring untuk baginda. Peristiwa ini sudah umum di kalangan khalayak ramai.

Didalam hadis koleksi Abu Bakar yang ditemukan pada permulaan Musnad Imam Ahmad bin Hambal, dilaporkan bahwasanya Abu Bakar ditanya oleh Azib dan anak lelaki Azib yang bernama Al-Baroo’, tentang peristiwa yang terjadi antara Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, dan Suroqoh selama hijrah baginda ke Madinah.

Abu Bakar memberitahu keduanya:

"Banyak orang pergi keluar mencari kami, tetapi hanya Suroqoh bin Malik, yang mempunyai kuda cepat yang mencapai kami dan saat Suroqoh semakin dekat, saya berseru, 'Ya Rasulullah, ini pemburu hadiah telah mencapai kita!' kemudian Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, bersabda, 'Janganlah bersedih, sungguh Allah bersama kita.' padahal jarak diantara kami hanya sejarak dua atau tiga lemparan tombak.

Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, berkata kepadaku, 'Pemburu hadiah telah sampai kepada kita.' lalu aku mulai menangis. Baginda bertanya mengapa saya menangis, maka saya menjawab, 'Bukan untuk diriku aku menangis, sebaliknya aku menangis untuk engkau (karena akan datang bahaya).' Kemudian Rasulullah berdoa, 'Ya Allah, cukupilah kami sebagaimana Engkau menghendaki darinya.' lantas kaki kuda Suroqoh hingga perut kudanya jatuh terperosok kedalam batu. Suroqoh melompat dari kudanya dan berteriak, 'Wahai Muhammad, sungguh, aku tahu ini disebabkan olehmu. Berdoalah kepada Allah untuk menyelamatkanku dari keadaan ini, demi Allah, aku akan mengalihkan perhatian para pemburu hadiah dan mereka di belakangku yang sedang mencarimu. Ambil sarung tombak kepunyaanku ini. Engkau akan melewati unta-unta dan domba-dombaku ditempat ini dan ini. Ambillah apapun yang engkau butuhkan darinya.' Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, menolak secara halus tawaran tersebut seraya berkata, 'Aku tidak butuh itu semua.' Setelah itu, baginda mendoakan Suroqoh dan Suroqoh kemudian berkendara pulang ke teman-temannya.

Abu Hurairah memberitahu kita, Abu Jahal telah bersumpah kalau hendak menginjak leher Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, lain kali kalau melihat baginda sedang sujud, atau mengusapkan debu ke wajah baginda. Kawan-kawan Abu Jahal datang dan memberitahu Abu Jahal bahwa Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, sedang solat di dekat Kabah. Maka Abu Jahal mendekati baginda, lalu Abu Jahal berbalik ketakutan dan melindungi dirinya sendiri dengan kedua tangannya. Kawan-kawannya menanyakan apa yang telah terjadi, lalu Abu Jahal memberitahu mereka, "Tatkala telah mendekat, aku menatap kebawah dan melihat parit penuh dengan api didalamnya, aku hampir saja jatuh. Itu suatu pemandangan yang mengerikan, dan kepakan sayap-sayap memenuhi bumi." Dikemudian hari, Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, memberitahu para Sahabatnya bahwa kepakan sayap-sayap itu adalah para malaikat dan berkata, "Andai Abu Jahal datang lebih mendekat, mereka akan mengoyaknya sepenggal demi sepenggal." Saat itulah turun ayat, "Sungguh manusia itu benar-benar melampaui batas." (Al-Alaq,96:6).

Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, memberitahu bahwa baginda telah dibantu dengan pelontaran teror kedalam hati musuh-musuh baginda yang bahkan sejauh sebulan perjalanan dari baginda.

 

 

Ilmu Pengetahuan Nabi Muhammad

pujian dan kesejahteraan atasnya

 

Allah memberi Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, karunia ilmu pengetahuan yang luas dan melimpah, yang terkait dengan urusan duniawi maupun agama. Dia menganugerahkan kepada baginda pengetahuan syariat Islam, undang-undang agama, ilmu pemerintahan, dan segala ilmu pengetahuan yang membawa kebaikan dan kesejahteraan bagi umat.

Baginda telah diberi pengetahuan mengenai berbagai peristiwa bangsa-bangsa masa lampau, dan menjadi sangat ahli dalam kisah para nabi, para rasul, para tirani bengis, dan kisah setiap umat dari zaman nabi Adam sampai zaman baginda, ditambah dengan pengetahuan tentang hukum-hukum dan kitab suci mereka. Baginda memahami sejarah dan berita mereka, serta bagaimana Allah berurusan dengan mereka, sifat dan ciri-ciri mereka, perbedaan pendapat mereka, pengetahuan jangka waktu dan usia mereka, hikmah kaum bijak mereka dan bantahan orang-orang kafir disetiap umat.

Ketika orang-orang kafir datang kepada baginda, baginda mampu menjawab secara jelas dan tegas pertanyaan orang-orang Yahudi dan Kristen berdasarkan kitab suci mereka sendiri. Baginda juga memberitahu mereka rahasia kitab suci mereka dan membicarakan ilmu mereka yang tersembunyi serta mengungkap apa yang mereka pilih untuk disembunyikan dan bagaimana mereka telah merubah kitab suci mereka.

Baginda mahir dengan dialek suku-suku Arab, dan mengetahui kata-kata khas yang dipakai suku-suku tertentu. Baginda mengetahui gaya kefasihan bahasa Arab murni. Baginda juga mengetahui kabar berita pertempuran mereka, ilmu hikmah mereka, kiasan dan makna syair mereka, kosakata baginda mencakup semua kata-kata mereka dan baginda memakainya untuk memperjelas perumpamaan-perumpamaan ataupun peribahasa sehingga semua orang mampu memahami kedalaman sesuatu dan hal-hal yang kabur bisa menjadi terang.

Baginda membuat peraturan hukum jadi mudah dimengerti, tidak ketat dan tidak saling bertentangan. Hukum yang dibawa baginda mengajarkan perilaku yang baik, tata krama, dan segala macam karakteristik yang disukai, begitu terperinci bahkan orang kafir sekalipun tidak dapat menyatakan keberatan kecuali orang-orang yang menjadi frustrasi dan melampiaskan dengan berkata secara sembarangan. Orang-orang kafir di zaman jahiliyah (jaman kebodohan) yang menentang atau mengingkari baginda, tidak dapat menyangkal hal ini malahan mereka mengatakan apa yang dibawa baginda adalah benar dan tidak berusaha membuktikan hal itu menjadi sebaliknya.

Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, menghalalkan apa yang baik untuk semua orang dan mengharamkan segala yang tidak baik, melalui inilah baginda melindungi kehidupan, kehormatan dan harta benda dari bahaya, serta membuat mereka takut akan Api Kehidupan Abadi.

Pengetahuan Nabi telah melampaui setiap orang. Orang-orang yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk mempelajari ilmu pengetahuan, setelah bertahun-tahun studi hanya mampu memperoleh pemahaman yang tak lengkap, mungkin satu atau lebih kajian ilmiah, seperti ilmu pengobatan, arti mimpi, pembagian warisan, matematika, garis keturunan, dsb, sedangkan baginda memiliki semua pengetahuan tersebut. Pengetahuan baginda mencakup semua bidang keilmuan.

Mengenai mimpi, Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, memperingatkan, "Mimpi itu seolah-olah diangkut kaki burung (siap ditafsirkan)." Baginda juga bersabda, "Mimpi terbagi dalam tiga kategori, mimpi yang benar, mimpi seseorang bicara pada dirinya sendiri, dan mimpi menyusahkan dari setan." Baginda juga mengatakan, "Ketika zaman akhir sudah dekat, mimpi seorang mukmin tidak akan pernah bohong."

Baginda telah membahas banyak ilmu pengobatan, termasuk untuk telinga dan bagian dalam mulut, juga tentang cantuk dan obat pencahar. Baginda memberitahu para Sahabatnya bahwa waktu terbaik cantuk yaitu pada bulan Hijriyah tanggal tujuh belas, sembilan belas dan dua puluh satu.

 Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, menyebut keadaan perut manusia seraya bersabda, "Anak Adam tidak memenuhi wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Andai perut harus dipenuhi, maka sepertiga hendaknya untuk makanan, sepertiga lainnya untuk minuman dan sepertiga sisanya untuk napas."

 Baginda ditanya apakah "Sabi" adalah orang atau negara dimana baginda menjawab, "Ia adalah ayah dari sepuluh anak, enam di Yaman dan empat di Syria."

Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, membicarakan waktu seraya bersabda, "Waktu beredar dalam sebuah lingkaran dan seperti itu bentuknya pada hari Allah menciptakan langit dan bumi."

Baginda berbicara tentang Telaga yang berdekatan dengan Kautsar dan menjelaskannya seraya bersabda, "Sudut-sudutnya berbentuk persegi."

Adapun mengenai penyebutan Allah (zikir), Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, memberi kabar baik, "Perbuatan baik mempunyai sepuluh yang sepertinya, karenanya, seratus lima puluh di lisan sama dengan seribu lima ratus di Timbangan."

Rasulullah, pujian dan kesejahteraan atasnya, memberitahu para Sahabatnya bahwa dimana saja antara timur dan barat adalah arah solat (kiblat).

Pada uraian diatas telah disebutkan bahwa Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, memiliki pengetahuan beragam dialek Arab dan arti syair mereka.

Ilmu Nabi dalam bidang bahasa tidak hanya terbatas pada bahasa Arab. Pengetahuan baginda memungkinkan baginda bicara dalam berbagai bahasa. Baginda telah berbicara di Ethiopia dan Persia. Jika seseorang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mempelajari aneka bahasa hanyalah mampu menyamai beberapa prestasi baginda, meskipun baginda tidak bisa membaca maupun menulis, ini sebagaimana yang telah difirmankan Allah bahwa baginda adalah Nabi buta huruf. Baginda tidak mempunyai hubungan dengan orang-orang yang bisa membaca dan menulis, serta tidak dibesarkan dalam masyarakat yang pandai baca tulis, baginda juga tidak mampu membaca materi pelajaran. Tidak ada yang tahu bahwa baginda memiliki kemampuan baca tulis.

Allah berfirman tentang Nabi-Nya, pujian dan kesejahteraan atasnya, "Tidak pernah sebelumnya engkau melantunkan kitab manapun maupun menorehnya dengan tangan kananmu." (Al-Ankabut,29:48).

Orang-orang Arab sangat ahli dalam ilmu silsilah (garis keturunan), puisi kuno dan retorika, mereka sangat menguasai bidang ini dan telah mengabdikan diri untuk mempelajarinya serta mengkaji dan membahasnya. Bidang ini hanyalah segi lain samudera pengetahuan Nabi.

Tak ada ruang bagi siapapun bahkan yang tak beriman sekalipun, untuk menolak apa yang telah disebutkan diatas maupun menyangkalnya dengan menghadirkan sesuatu yang bertentangan, misalnya dengan menyatakan, "Dongengan orang-orang kuno." (Al-Furqon,25:5), atau "Makhluk hidup mengajarinya." (An-Nahl,16:103). Allah telah menjawab para penentang dengan berfirman, "Lisan yang dituduhkan kepadanya adalah Ajam (bukan-Arab), sedang ini adalah lisan bahasa Arab yang jelas." (An-Nahl,16:103)

Profil Nabi Muhammad dengan para Malaikat dan jin

Diantara mukjizat, tanda dan karunia besar yang dianugerahkan kepada baginda adalah kemampuan baginda berkomunikasi dengan para malaikat dan jin. Banyak laporan yang telah membicarakan hal ini. Allah telah memperkuat baginda dengan para Malaikat dan jin. Banyak juga Sahabat baginda yang telah melihat malaikat dan jin.

Allah memperingatkan, "Dan jika kamu saling gotong royong melawannya, maka (ketahuilah) sungguh Allah adalah Pelindungnya, dan Malaikat Jibril." (At-Tahrim,66:4).

Dia juga berfirman, "Ketika Penguasamu mewahyukan kepada para Malaikat, 'Sungguh Aku bersama kamu maka teguhkanlah mereka yang beriman." (Al-Anfal, 8:12). Juga, "(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Penguasamu, lalu diperkenankan-Nya bagimu, 'Sungguh Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut." (Al-Anfal,8:9).

Dan, "(ingatlah) ketika Kami hadapkan kepadamu serombongan jin yang mendengarkan Al Qur'an, maka tatkala menghadirinya mereka berkata satu sama lain, 'Diamlah'." (Al-Ahqof,46:29).

Mengenai Kata kata-Nya, "Sungguh dia telah melihat sebagian tanda-tanda terbesar Penguasanya." (An-Najm,53:18) Abdullah bin Mas'ud mengatakan kepada kita bahwa Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, telah melihat malaikat Jibril dalam rupa yang sebenarnya dimana malaikat Jibril memiliki enam ratus sayap.

Kutipan terkait peristiwa Isro' Mi'roj yang masyhur, membahas tentang pembicaraan baginda dengan malaikat Jibril, malaikat Isrofil, demikian pula dengan malaikat lainnya, dan juga menceritakan bagaimana baginda menyaksikan banyaknya jumlah mereka dan keagungan rupa sebagian dari mereka.

Sebagaimana yang diuraikan sebelumnya, beberapa Sahabat baginda juga diberkati bisa melihat para malaikat pada waktu dan tempat yang berbeda. Salah satu penglihatan yang termasyhur adalah saat para Sahabat melihat malaikat Jibril yang menjelma berbentuk seorang lelaki dan datang menanyai Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, tentang Islam, Iman (Kepercayaan) dan Ihsan (Kesempurnaan).

Ibnu Abbas, Usamah bin Zaid dan Sahabat lainnya melihat malaikat Jibril dalam bentuk Dihyah Al-Kalbi yaitu seorang pria yang sangat tampan. Sa'ad melihat malaikat Jibril di sebelah kanan Nabi sedangkan malaikat Mikail di sebelah kiri Nabi dalam rupa orang yang memakai jubah putih. Beberapa Sahabat mendengar para malaikat berteriak diatas kuda mereka sewaktu perang Badar.

Para malaikat telah memberi salam kepada Imron bin Husain.

Pada apa yang menjadi dikenal sebagai "Malam Jin", Abdullah bin Mas'ud telah melihat jin dan juga mendengar mereka berbicara. Abdullah bin Mas'ud menggambarkan mereka menyerupai orang-orang Azut (keturunan India).

Pada suatu waktu ketika Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, sedang khusyu’ beribadah, tiba-tiba setan yang terkutuk, bergegas mendekati baginda dan berupaya mengganggu solat baginda, namun Allah telah memberi Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, kekuasaan menghadapi setan. Setelah solat, baginda memberitahu para Sahabatnya bahwa baginda ingin mengikat setan pada salah satu pilar Masjid sehingga semua bisa melihatnya, tetapi kemudian Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, teringat pada saudaranya, Nabi Sulaiman yang telah berdoa, "Penguasa, ampunilah aku, dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak  untuk seorangpun sesudahku, sungguh Engkau Maha Pemberi." (Sad,38:35) dimana Allah telah menyebut setan sebagai pecundang. Maka Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, dengan tata krama yang baik, membiarkan setan itu pergi.

 

Berita kerasulan baginda telah diketahui para rabi, rahib dan cendekiawan

Kabar berita, gambaran dan tanda-tanda kerasulan baginda telah diketahui oleh para rabi, rahib dan cendekiawan pada masa itu

Ketika datang berita kenabian Nabi Muhammad sebagai nabi dan rasul, sepatutnya diketahui bahwa berita tersebut telah tercantum didalam kitab-kitab suci terdahulu, dimana para rahib, rabi dan para Ahli Kitab berpengetahuan yang telah meriwayatkannya. Gambaran, umat, nama-nama dan tanda-tanda baginda, bahkan cap yang terletak dibahu diantara tulang belikatnya, telah dikenal oleh mereka. Sebutan baginda juga ditemukan didalam syair-syair kaum Unitarian, sedang Zaid bin Amr yang kakeknya adalah Nufail, juga telah mengetahui dan menggambarkan ciri-ciri Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya. Gambaran dan berita kedatangan nabi juga telah diketahui Waroqoh bin Naufal, ‘Atskalaan Al Himyari dan para cendekiawan Yahudi.

Nama Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, telah disebut didalam Kitab Taurat dan Injil yang asli. Para cendekiawan telah mencatat segala berita tentang baginda dan membuatnya jelas serta telah diriwayatkan oleh orang-orang terpercaya yang masuk Islam. Diantara yang meriwayatkannya adalah Abdullah bin Sallaam, mantan kepala rabi Madinah, putra-putra Su'nah, Ibnu Yamiin, Mukhoyriiq, Ka'ab, dan tokoh Yahudi lainnya. Adapun dari kalangan orang-orang Kristen, ada Bachiiroo’ dari Syria, Nasthuuro dari Abyssinia (Ethiopia), gubernur Basra, Doghothiir, Uskup Syria, Al Jarud, Salman dari Persia, Negus (Najaasyi) dan orang-orang Kristen Abyssinia, beberapa uskup Najran serta tokoh Kristen lainnya.

Berita diutusnya Nabi juga telah diakui oleh Kaisar Heraclius, Paus Roma, yang mana keduanya adalah termasuk para cendekiawan dan petinggi Kristen, Muqowqis penguasa Mesir dan kawannya yaitu seorang tokoh Kristen Mesir, sedangkan dari tokoh terkemuka Yahudi: Ibnu Suriya, Ibn Akhthob dan saudaranya, Ka'ab bin Asad, Zubair bin Baathiyaa dan pemimpin Yahudi lainnya.

Banyak catatan asli yang berbicara tentang bagaimana orang-orang Yahudi dan Kristen tidak bisa berbuat apa-apa, melainkan mengakui bahwa nama dan sifat-sifat Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, memang telah tertulis didalam Kitab Suci mereka.

Setiap kali orang Ahli Kitab datang menantang Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, maka baginda mengutip isi kitab suci mereka sendiri sebagai argumen untuk menghadapi mereka. Baginda mencela mereka karena telah merubah kata-kata didalam kitab suci mereka dan menyembunyikan isinya serta memutarbalikkan kata-kata yang semestinya membuat urusan baginda jadi jelas.

Baginda mengajak para pemuka agama Yahudi dan Kristen berdoa agar laknat Allah jatuh pada orang-orang yang berbohong tetapi mereka menolak. Ketika mereka menyadari kebohongan mereka akan terbongkar, mereka menghindari konfrontasi dengan baginda, oleh karena itu mereka menghindari pemaparan kitab yang mereka palsukan.

Baginda membuat mereka tak bisa berkutik, karena apa yang baginda katakan ternyata sesuai dengan isi kitab mereka. Andai yang baginda katakan tidak benar, tentu lebih mudah bagi mereka untuk mempersembahkan kitab mereka sebagai bukti, daripada harta mereka menjadi sasaran penyitaan, dalam beberapa kasus bahkan status dan hidup mereka yang tersita. Baginda menantang orang-orang Yahudi dengan sebuah ayat Al-Quran yang berbunyi, "Datangkanlah Taurat kemudian lantunkanlah, jika kamu adalah yang benar; Barangsiapa dari sesudah itu mengada-adakan kebohongan terhadap Allah maka mereka itulah yang zalim." (Ali-Imron,3:93-94), namun mereka memilih tidak merespon.

 

Kelahiran Nabi Muhammad

pujian dan kesejahteraan atasnya

 

Tanda-tanda hebat telah muncul ketika Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, lahir. Diantaranya adalah sebuah pancaran cahaya menyertai baginda saat baginda sedang dilahirkan. Ibu baginda, Siti Aminah telah melihat cahaya baginda selama mengandung dan melahirkan baginda.

 

(Pada hari Senin, 12 Rabiul Awal - 571 tahun setelah nabi Isa naik ke langit untuk menunggu kembalinya beliau ke dunia sebelum akhir zaman - bunda Siti Aminah melahirkan anaknya yang diberkati di rumah Abu Thalib. Saat bunda Aminah melahirkan, cahaya diberkati datang dari diri beliau sehingga beliau dapat melihat istana-istana Syria yang jauh.

Bayi elok lahir secara bersih tanpa ada kotoran, tidak seperti bayi-bayi lainnya, dan aroma harum membelai tubuh kecilnya yang sempurna. Bunda Aminah teringat instruksi yang dialaminya dalam sebuah visi (melihat sesuatu yang nyata), maka dengan itulah bunda berdoa kepada Allah untuk putra kecilnya.

Berita bahwa bunda Aminah melahirkan anak laki-laki langsung disampaikan kepada Abdul Muthalib. Begitu mendengar kabar baik tersebut, Abdul Muthalib bergegas melihat cucu barunya. Ketika sampai di rumah Abu Thalib, hati Abdul Muthalib dipenuhi sukacita, kelembutan, dan kasih sayang. Abdul Muthalib menimang bayi manis yang diselimuti kain putih itu di lengannya, kemudian membawanya ke Kabah, beliau sangat bersyukur kepada Allah untuk keselamatan kelahiran cucunya.

Sebelum mengembalikan cucu barunya pada bunda Aminah, terlebih dahulu Abdul Muthalib pulang ke rumahnya untuk memperlihatkan bayi tersebut pada keluarganya. Abbas, anak laki-laki Abdul Muthalib yang masih berusia tiga tahun, tengah berdiri di pintu menunggu kedatangan ayahnya. Dengan lemah lembut, Abdul Muthalib memberitahu anaknya, "Abbas, ini saudaramu, berilah dia ciuman," lalu Abbas mencium saudara barunya itu. Abbas adalah saudara ayah baginda maka Abbas adalah paman baginda.

Bayi mungil itu telah dikagumi semua orang. Abdul Muthalib kembali Bunda Siti Aminah. Sesuai dengan visi Bunda Siti Aminah dan visi Abdul Muthalib yang telah dilihat, bayi elok itu dinamakan Muhammad. Ketika orang bertanya mengapa mereka menamainya Muhammad, mereka menjawab, "Agar dipuji di langit dan di bumi."

Setelah semua orang mengagumi bayi mungil itu, Abdul Muthalib lalu mengembalikannya pada bunda Aminah. Sesuai dengan visi yang dialami bunda Aminah dan Abdul Muthalib, bayi elok itu kemudian dinamakan Muhammad. Ketika orang-orang bertanya mengapa mereka menamakannya Muhammad, mereka menjawab, "Agar dipuji di langit dan di bumi."

Uraian diatas yang ditambahkan pada bab ini, diambil dari buku "A Journey of a lifetime with Prophet Muhammad (Perjalanan hidup Nabi Muhammad)" yang terdapat didalam website mosque.com.

(Sisipan Syekh Darwish:

Bunda Aminah melihat cahaya yang menyinari istana-istana Syam, keluar dari beliau, ketika melahirkan Nabi Muhammad

Irbadh bin Saariyah berkata bahwa Rasulullah, sollallahu alaihi wa alihi wasallam, bersabda, "Sungguh aku hamba Allah dan penutup para nabi ketika Adam masih berupa tanah liat. Aku akan memberitahu kalian mengenai hal ini. Aku adalah doa ayahku Ibrahim, kabar gembira Isa, dan penglihatan ibuku, dan begitulah ibu para nabi melihat, dan sesungguhnya ibu Rasulullah, sollallahu alaihi wa alihi wasallam, telah melihat ketika melahirkan baginda, sebuah cahaya memancar dari beliau yang menerangi istana-istana Syam, hingga beliau telah melihatnya."

Diriwayatkan Imam Ahmad bin Hambal, Al-Bazzaar dan Al-Bayhaqi, yang menilai kesahihannya adalah Al-Hafiz Ibnu Hibban dan Al Hakim, kesahihannya telah diakui oleh Hafiz Ibnu Hajar. Al Hafiz Abdullah bin Siddiq Al-Ghumari juga telah meriwayatkan di dalam karyanya "Hadis pilihan keutamaan Rasulullah". Semoga Allah merahmati mereka.

Hadis diatas menggugurkan pendapat orang-orang yang menganggap bunda Aminah termasuk Ahli Fitroh (orang-orang dengan keimanan yang lurus dan tidak menyembah berhala, yang hidup sebelum masa Nabi Muhammad dan sesudah masa Nabi Isma’il).

Terbukti bahwa bunda Aminah adalah wali pertama dalam Islam, dan nyonya besar sekaligus ibu termulia dalam keluarga rumah tangga Rasulullah, karena bunda Aminah telah melihat dengan mata wilayah atau mata auliya'.

Bagaimana para kekasih Allah (auliya') melihat, telah dinyatakan didalam Hadis Qudsi (Hadis yang diriwayatkan oleh Nabi dari Allah) "Aku menjadi penglihatannya yang dia melihat dengannya".

Jadi bunda Aminah melihat istana-istana Syam bukan dengan penglihatan mata biasa namun dengan cahaya baginda. Oleh karena itu, bunda Aminah menyuplai susu yang terbaik dan menimang baginda dengan kemuliaan, dan Rasulullah telah menerangi bunda Aminah (ketika didalam kandungan beliau) sebelum menerangi dunia.

Di permulaan hadis, baginda menyebut diri baginda dengan kata "aku", namun setelah menyebut sang ibu, demi untuk memuliakan beliau, baginda merubah penyebutan diri baginda menjadi "Rasulullah".

Baginda memberi kesaksian bahwa bunda Aminah telah menyaksikan cahaya secara lengkap dalam keadaan terjaga ketika melahirkan baginda, sedangkan orang-orang selain bunda Aminah hanya mendengar cahaya tersebut tanpa melihatnya.

Baginda sangat bangga dengan bunda Aminah dan menyebut beliau "Ibu Rasulullah".

Bunda Aminah mewariskan keutamaan, kemuliaan, cahaya dan kebahagiaan beliau kepada Sayyidah Khadijah Al-Kubro kemudian kepada Sayyidah Fatimah Az-Zahro’. Semoga Allah meridhai mereka.

Syekh Albani telah mengakui bahwa hadis tentang cahaya baginda Muhammad ketika didalam kandungan dan ketika dilahirkan adalah sahih. Syekh Albani menyebutkan hal itu didalam kitab Sahih Sirah karya Al Hafiz Ibnu Katsir yang telah beliau revisi. Dalam kitab yang sama, Syekh Albani juga mengakui berkah baginda Muhammad.

Syekh Albani mencap Tuwayjiriy dan Ibnu Baz telah menyerupakan Allah dengan makhluk ciptaan-Nya. Menyerupakan Allah dengan makhluk termasuk perbuatan kufur. Kata Syekh Albani, Tuwayjiriy dan Ibnu Baz belum memahami ilmu hadis secara mendalam. Syekh Albani memberitahu bahwa beliau telah mengajarkan ilmu kepada para muridnya namun tidak mengajari mereka adab.

Dalam ringkasan ini, Allah memberkati dengan menjadikan kami memahami hadis tersebut. Maka tak sepatutnya mempertimbangkan ucapan orang-orang yang mengatakan bahwa Jabir telah meriwayatkan sabda baginda yang berbunyi, "Wahai Jabir, pertama kali yang diciptakan Allah adalah cahaya Nabimu".

Mereka bilang perkataan itu adalah sabda baginda yang diriwayatkan Jabir dan terdapat didalam kitab Musonnaf Abdul Rozzaq padahal tidak demikian. Setelah melalui penelitian ilmiah yang mendalam dalam ilmu hadits, Al Hafiz Abdullah bin Siddiq Al Ghumari mengungkap didalam berbagai tulisannya bahwa perkataan tersebut adalah hadis palsu).

Tak lama setelah kelahiran baginda, Siti Aminah dan Abdul Mutholib memutuskan mengirim berita kelahiran bayi baru untuk dibesarkan di padang pasir, karena suku padang pasir terkenal dengan kemurnian bahasa arabnya.

Halimah, putri Abu Dzuaib dari suku bani Sa’ad, dan suaminya, Al Harits bin Abdul Uzza - dikenal dengan sebutan Abi Kabsyah - datang ke Mekah. Mereka berharap mendapatkan seorang bayi yang dapat mereka asuh. Mereka kemudian menjadi orang tua susu baginda.

Sejak Halimah menyusui baginda, mereka langsung menyadari keberkahan yang datang secara konstan kepada mereka disebabkan oleh baginda. Halimah jadi memiliki ASI (air susu ibu) yang melimpah untuk menyusui baginda. Selain itu, unta tua betina mereka jadi mengeluarkan susu dan domba-domba mereka menjadi subur (mudah hamil). Mereka telah memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan baginda yang ternyata melampaui anak-anak mereka.

Sebelum kedatangan Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, setan dan jin biasa bepergian ke langit dan menguping berbagai peristiwa yang ditakdirkan untuk manusia. Setelah Nabi Muhammad lahir, setan tidak bisa lagi naik ke langit untuk menguping aneka peristiwa dan kejadian yang ditakdirkan bagi manusia.

Kebencian pada berhala telah tumbuh didalam diri baginda, dan baginda tidak pernah ambil bagian pada segala keburukan yang terjadi selama Zaman Jahiliyah (Kebodohan).

Kesopanan baginda telah dilindungi oleh Allah. Perlindungan ini terlihat jelas pada suatu kejadian ketika Ka'bah dibangun kembali. Sudah menjadi kebiasaan orang-orang Quraisy saat sedang membangun, mengusung bebatuan dengan jubah mereka dan sering kali bagian pribadi (aurot) mereka tersingkap. Muhammad muda, hampir saja menyingkap jubah seperti yang lainnya, tetapi baginda dicegah oleh langit melakukan hal itu serta jatuh ke tanah dan tidak melanjutkan menyingkap jubahnya.

Banyak riwayat yang membicarakan tentang awan yang mengayupi (menaungi) baginda selama perjalanan.

Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, dicintakan mengasingkan diri (khalwat) sampai wahyu turun kepadanya.

Menjelang wafat, baginda memberitahu orang-orang yang dicintainya bahwa ajalnya sudah dekat, dan bahwa makam baginda adalah dikediaman baginda di Madinah. Kamar-kamar istri baginda terhubung ke dalam Masjid. Diantara tempat tinggal dan mimbar baginda adalah bagian dari Taman Surga.

Sekilas pandang kemuliaan baginda juga tampak pada momen kematian. Ketika ajal baginda telah dekat, Allah mengirim Malaikat Maut kepada baginda. Malaikat Maut meminta izin baginda untuk mencabut nyawa baginda, padahal sebelumnya Malaikat tersebut belum pernah meminta izin dari siapapun untuk melakukan hal itu. Tatkala telah tiba ajal baginda, para Malaikat mensolati jasad baginda. Sewaktu para Sahabat melakukan persiapan untuk memakamkan baginda, sebuah suara terdengar berbunyi, "Janganlah mengganti baju baginda ketika baginda dimandikan."

Kesimpulan mukjizat Nabi Muhammad

Mukjizat dan tanda-tanda kenabian baginda Muhammad tak terhitung jumlahnya. Meski hanya beberapa saja yang disajikan, kiranya telah mencukupi, karena jika semuanya disebutkan, tentu akan membutuhkan berjilid-jilid buku.

Mukjizat Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, lebih gemilang daripada nabi mulia lainnya dalam dua hal. Pertama, baginda diberi mukjizat yang terlalu banyak untuk bisa dihitung. Kedua, baginda telah diberi mukjizat yang serupa atau yang lebih hebat dari nabi lainnya. Banyak orang yang tertarik pada fakta ini. Anda akan mampu membuktikannya dengan mempelajari bagian ini, sekaligus mengetahui mukjizat yang diberikan kepada para nabi mulia.

Mengenai jumlah mukjizat baginda yang sangat banyak, hendaknya disadari bahwa semua bagian Al-Qur'an adalah mukjizat. Al-Quran berisi 6.236 ayat, dan setiap ayatnya adalah mukjizat. Allah menantang, "Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al Qur'an itu jika mereka orang-orang yang benar." (At-Thur,52:34) atau, "Datangkan sebuah surah yang sepertinya." (Al-Baqoroh,2:23).

Diantara keajaiban alami Al-Qur'an adalah susunan kata-katanya yang fasih dan sopan, sehingga masing-masing bagian mengandung keajaiban ganda.

Sisi lain keajaiban alami Al-Qur'an adalah bahwa Al-Qur'an melaporkan pengetahuan hal-hal yang gaib. Hanya dalam satu surah saja, dapat ditemukan banyak laporan, dan setiap laporan adalah suatu keajaiban tersendiri, sehingga jumlah mukjizat sekali lagi semakin meningkat. Tidak dapat dipastikan besarnya jumlah mukjizat yang terkandung didalam Al Qur'an, begitu agungnya sampai-sampai bukti-buktinya tidak dapat dicakup, terutama bila diamati ada ayat-ayat yang akan terealisasi pada abad kemudian sebagai tanda bagi orang-orang dimasa itu.

Kutipan kenabian mengandung rincian mukjizat Al-Quran serta aspek-aspek menakjubkan kehidupan Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya.

Aneka mukjizat yang diberikan kepada Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, benar-benar jelas dan tak bisa dibantah. Para rasul sebelumnya diberi mukjizat yang berkaitan dengan masa mereka yang melampaui ilmu unggulan umat mereka. Sebagai contoh, nabi Musa, kesejahteraan atasnya, diberi mukjizat yang mirip keahlian para tukang sulap dan ahli sihir pada zaman beliau. Nabi Musa menghadirkan mukjizatnya kepada (Fir’aun dan) mereka karena pada masa itu, ilmu sihir tengah mencapai puncaknya. Apa yang dibawa nabi Musa telah mengalahkan segala jenis sihir yang ada dan para ahli sihir tidak ada yang mampu menyainginya, dan mereka kemudian menyerah.

Hal yang sama berlaku untuk nabi Isa (Yesus), kesejahteraan atasnya. Orang-orang pada masa beliau unggul dalam ilmu kedokteran. Jadi, ketika dengan izin Allah, nabi Isa membawa mukjizat penyembuhan di luar jangkauan ilmu-obat-obatan mereka, seperti membangkitkan orang mati, menyembuhkan orang buta dan lepra tanpa menggunakan obat, ini adalah tanda bagi orang-orang bahwa apa yang dibawa nabi Isa memang dari Allah.

Keadaan yang sama berlaku untuk mukjizat para nabi mulia lainnya, kesejahteraan atas mereka. Dalam setiap kejadian, berbagai mukjizat ini adalah tanda bagi manusia bahwa orang yang berdiri dihadapan mereka dan yang diberi anugerah mukjizat adalah seorang nabi yang diutus oleh Allah untuk umat manusia yang sudah seharusnya diikuti.

Allah mengutus Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, pada masa ketika ilmu pengetahuan yang menonjol ada empat macam: ilmu retorika, ilmu syair, ilmu sejarah, dan ilmu prediksi. Seperti disebutkan sebelumnya, Al-Qur'an telah mengungguli segala bentuk bahasa Arab dan melesat diluar jangkauan empat kategori tersebut, yang tidak mungkin untuk ditiru, kefasihan Al-Qur'an jauh di luar kemampuan kebahasaan mereka, dengan komposisi yang unik dan gaya bahasa tak pernah terdengar sebelumnya. Orang-orang Arab tidak mampu membuat perbandingan segala aspek Al-Qur'an.

Al-Qur'an mengandung berita tentang makhluk hidup, beraneka peristiwa dan kejadian, pengungkapan hal-hal yang tersembunyi, rahasia batin manusia, yang semuanya terbukti benar, sehingga kritikus paling tajam sekalipun tidak bisa bersuara.

Aneka ramalan dan prediksi para peramal, dari sepuluh kali hanya satu yang ditemukan ketepatannya, dan Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, telah membuat mereka tak berkutik. Baginda telah memutus sumber-sumber praktek penyadapan setan melalui meteor yang merajam mereka dan penjagaan bintang-bintang.

Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, membawa ragam berita generasi terdahulu juga nabi-nabi sebelumnya. Baginda telah memberitahu bangsa-bangsa yang telah lenyap dan berbagai kejadian yang diluar jangkauan siapa saja, bahkan yang paling ahli sekalipun yang telah mengabdikan umurnya untuk mempelajari bangsa-bangsa masa lampau.

Al-Qur'an adalah sebuah mukjizat. Setiap bagian dari Al-Qur'an juga adalah mukjizat yang menakjubkan. Al-Qur'an tetap terjaga dan tidak akan ternoda hingga Hari Kiamat. Al-Qur'an menyediakan bukti yang jelas untuk setiap bangsa. Didalam Al-Qur’an telah tercatat perkara-perkara yang gaib, ini termasuk aspek Al-Qur’an yang tak tertandingi. Siapapun yang menyelidiki aneka hal yang didalam Al-Qur’an, tetap tak akan dapat menghentikan segala perkara yang hendak terjadi.

Belum pernah ada sebuah era yang berlalu tanpa kebenaran Al-Qur'an dijadikan nyata. Melalui pembacaan Al-Qur'an, keimanan semakin tebal dan bukti kebenaran Al-Qur’an semakin jelas. Mendengar dan melihat langsung dengan mata kepala tidak dapat dikatakan sama, karena dengan menyaksikan kebenaran Al-Qur’an, keyakinan jadi semakin meningkat.

Mukjizat para nabi sebelumnya telah lama memudar, mukjizat mereka hanya selama masa kenabian mereka saja, sedangkan mukjizat terbesar Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya, yaitu Al-Qur'an tidak akan pernah luntur. Tanda kebenaran Al-Qur'an terus-menerus muncul dan tidak akan pernah hilang.

Abu Hurairah mengatakan bahwa Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, bersabda, "Setiap nabi diberi suatu jenis mukjizat yang dipercayai umatnya. Aku telah diberi Wahyu yang dikirim Allah kepadaku, dan harapanku bahwa di hari kiamat aku akan menjadi yang terbanyak pengikutnya." Perkataan Kenabian ini jelas dan kuat. Seperti kita ketahui, Nabi, pujian dan kesejahteraan atasnya, adalah pamungkas semua nabi dan diutus sebagai rahmat bagi seluruh dunia. Dalam hadis ini ada indikasi bahwa baginda sedang berdoa agar menjadi nabi yang memiliki umat yang terbanyak, dan agar umatnya mendapatkan rahmat Allah dalam kehidupan ini serta meraih kebahagiaan di Kehidupan Abadi.

SAHIH SHIFA

KESEMBUHAN

 

Seri ke-16

 

HAK NABI MUHAMMAD

ATAS UMAT MANUSIA

 

Karya

Hakim Agung Abulfadl Iyad

wafat tahun 1123M / 544H

 

Periwayat Hadis

Muhaddis Agung Hafiz Abdullah Bin Siddiq

 

Perevisi

 Muhaddis Abdullah Talidi

 

Diadaptasikan oleh

Abdi Hadis Syekh Ahmad Darwish (Arab)

Anne Khadeijah (Inggris)

Siti Nadriyah (Indonesia)

 

 

Copyright © 1984-2013 Allah.com Muhammad.com. Hak Cipta dilindungi

 

 

HAK NABI MUHAMMAD ATAS UMAT MANUSIA

Kewajiban Percaya dan Mematuhi Nabi

serta Mengikuti Jalan Nabi (Sunnah)

 

Risalah yang dibawa Nabi Muhammad telah kukuh kebenarannya, maka wajib untuk beriman kepada baginda dan kebenaran risalahnya, serta menerima ajaran dan Wahyu yang dibawa oleh baginda untuk umat manusia.

Allah memberitahu kita untuk, "Berimanlah kepada Allah, dan Rasul-Nya, dan cahaya yang Kami turunkan." (At-Taghobun,64:8). Dia berbicara tentang Nabi seraya berfirman, "Sungguh Kami mengutus engkau (Muhammad) sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan; agar kamu semua beriman kepada Allah, dan Rasul-Nya serta mendukungnya, dan memujanya, dan bertasbih kepada-Nya (Allah) di waktu pagi dan petang." (Al-Fath,48:8-9). Dia juga berfirman, "Berimanlah kepada Allah, dan Rasul-Nya, Nabi buta huruf." (Al-A'raf,7:158).

Dari ayat-ayat diatas, setiap orang jadi mengetahui bahwa ada kewajiban mempercayai Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya. Keimanan tidak lengkap tanpanya karena keimanan hanya berlaku dengan beriman pada Keesaan Allah dan menerima serta beriman pada Nabi Muhammad, pujian dan kesejahteraan atasnya. Allah memperingatkan, "Dan barangsiapa tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh Kami telah menyediakan Api yang menyala-nyala untuk orang-orang kafir." (Al-fath,48:13).